Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Karin mengira kunjungan Dr. Julian kemarin adalah insiden satu kali. Ia salah besar.
Pagi berikutnya, saat Karin sedang berjongkar di halaman belakang mencoba mengajari kucing liar cara bermain petak umpet, mobil sport berwarna perak milik Julian sudah terparkir rapi di halaman depan.
"Arlan mengizinkanku datang lagi," ucap Julian sambil menurunkan sebuah kanvas besar, beberapa cat akrilik, dan kuas dari bagasi mobilnya. Ia menatap Karin dengan senyum ramah yang bagi Karin terlihat seperti senyum ilmuwan yang baru saja menemukan spesies langka. "Aku bilang padanya, kita perlu melakukan terapi okupasi. Terapi seni. Untuk menstimulasi neuron otakmu yang... hmm, kurang terlatih."
Karin menelan ludah. Terapi seni? Di novel, Second Male Lead ini cuma ngasih obat penenang terus pergi! Kenapa dia malah mau ngajarin aku melukis?!
"Kalau melukis, aku cuma bisa gambar stickman, Dok," protes Karin, berdiri dan membersihkan debu dari roknya. "Nanti hasilnya jelek, Dok Julian malah sedih."
"Tidak apa-apa. Prosesnya yang penting, Karin. Ayo, kita ke ruang kaca di belakang. Cahaya matahari di sana bagus untuk suasana hati," Julian memandu Karin masuk ke dalam sunroom yang indah itu.
Arlan yang kebetulan turun dari lantai atas untuk mengambil dokumen, menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia menatap Julian yang sedang sibuk meracik cat, dan Karin yang duduk di atas bangku kayu dengan wajah cemberut.
"Julian," panggil Arlan, nadanya datar tapi ada nada peringatan yang samar. "Kau benar-benar akan melakukan ini?"
"Kau yang meneleponku kemarin malam, Arlan. Kau bilang kau khawatir dengan kondisi mental istrimu," balas Julian tanpa menoleh, tangannya masih mengaduk cat biru. "Duduklah. Jangan ganggu sesi terapi kami. Atau kau mau ikut melukis juga?"
Arlan menyipitkan matanya, tapi akhirnya memilih untuk duduk di kursi sudut ruangan, membuka laptopnya. Ia pura-pura bekerja, tapi matanya sesekali melirik ke arah istrinya.
"Baiklah, Karin," ucap Julian, menyerahkan sebuah kuas besar dan palet berisi cat warna-warni. "Aturan pertama dalam terapi seni: jangan berpikir. Biarkan tanganmu bergerak. Aku ingin kau melukiskan satu hal yaitu Orang atau tempat yang membuatmu merasa paling aman di dunia ini."
Karin memegang kuas itu seperti memegang tongkat sihir yang salah. Paling aman? Ya jelas Kak Arlanlah! Tapi kalau aku gambar Kak Arlan yang ganteng dan keren, Julian pasti curiga. Istri idiot mana yang bisa melukis potret realis suaminya?
Karin menatap kanvas kosong itu. Oke. Logika idiot. Logika idiot. Apa yang paling aman? Kak Arlan. Tapi Kak Arlan itu dingin. Dingin seperti es. Tapi dia melindungiku. Melindungi seperti... payung? Atau jas hujan?
Dengan wajah sangat serius, Karin mulai mencelupkan kuasnya ke dalam cat. Ia tidak mencampur warnanya. Ia langsung menggoreskan cat biru tua ke tengah kanvas, membentuk sebuah bongkahan besar yang tidak beraturan.
Julian mengamati dari belakang, matanya berbinar analitis. Bentuk abstrak. Warna dingin. Apakah ini representasi dari depresi atau isolasi?
Setelah bongkahan biru itu selesai, Karin mengambil cat kuning cerah. Ia mengecat bagian atas bongkahan biru itu, lalu menambahkan dua titik hitam besar di tengahnya. Lalu, ia mengambil cat merah, menggoreskannya di bawah titik hitam itu hingga membentuk seperti senyuman yang aneh.
Terakhir, di bagian paling bawah kanvas, di bawah bongkahan biru kuning itu, Karin melukis seekor bebek kecil berwarna putih. Bebek itu sedang menggigil, digambarkan dengan garis-garis getar yang berantakan, dan di atas bebek itu, ada sebuah payung merah muda yang dipegang oleh... bongkahan biru kuning tadi.
"Selesai!" announced Karin, meletakkan kuasnya dengan bangga. "Ini judulnya Kak Arlan dan Bebeknya yang Masuk Angin."
Julian melangkah maju, menatap lukisan itu dalam diam. Ruangan itu menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara kuas Arlan yang berhenti mengetik di laptopnya.
"Fascinasi..." gumam Julian, matanya menyipit menganalisis. "Sebuah gunung es. Warna biru tua melambangkan dingin, isolasi, dan ketidaktersediaan emosional. Tapi... ada elemen kuning di atasnya. Dan sebuah payung merah muda yang melindungi seekor bebek yang kedinginan. Karin, ini luar biasa. Kau merasa suamimu dingin dan menjauhkan diri, tapi di saat yang sama, kau merasa dia melindungimu dari dunia luar yang membuatmu takut. Kau menyadari kontras antara ketidaktertarikannya secara emosional dan tindakan protektifnya secara fisik!"
Karin berkedip. Hah? Apa yang sedang diceritakan dokter gila ini?
"Bukan, Dok Julian," potong Karin cepat, memasang wajah polos yang sangat meyakinkan. "Itu bukan gunung es. Itu Kak Arlan."
"Gunung es yang merepresentasikan Arlan?" Julian mengangkat alisnya.
"Iya! Soalnya kalau Kak Arlan marah, mukanya dingin banget kayak es batu di freezer. Terus aku gambar dia pakai topi kuning, karena kemarin aku lihat Kak Arlan pakai topi kuning waktu main golf. Terus bebeknya itu aku, Dok. Aku kan suka kedinginan kalau AC kamarnya disetel 16 derajat. Terus Kak Arlan kan sayang aku, jadi dia payungin aku pakai payung merah muda. Payung merah muda itu payung milikku yang tertinggal di mobil Kak Arlan. Jadi Kak Arlan pakai payungku buat nge-payungin aku. Romantis kan, Dok?"
Julian terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup kembali. Semua analisis psikologis mendalam yang baru saja ia bangun runtuh dalam satu detik oleh penjelasan harfial dan konyol dari Karin.
lanjut kn thor💪