Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Antara hidup dan mati
Dalam ruang yang sangat terbatas itu, Ye Chan tidak memiliki celah untuk menghindar secara keseluruhan.
Ia terpaksa memicu sedikit Qi untuk dialirkan ke kakinya guna mempercepat gerakannya. Rasa panas seperti ditusuk jarum kembali menyengat meridiannya yang hancur, tetapi ia mengabaikan rasa sakit itu demi bertahan hidup.
Ia menggeser tubuhnya sedikit ke arah kiri.
Cakar tajam serigala menyapu bahunya, merobek pakaiannya dan meninggalkan goresan dalam yang langsung mengalirkan darah segar.
Pada saat yang bersamaan, Ye Chan menyodorkan senjatanya yang beracun itu langsung ke arah mulut monster yang sedang terbuka lebar.
Serigala itu secara refleks menggigit senjata tersebut hingga hancur berkeping-keping. Gusi dan bagian dalam tenggorokannya yang lunak langsung tertusuk serpihan senjata yang telah berlumuran racun pekat.
Ye Chan segera melompat mundur sejauh mungkin, menekan luka di bahunya yang terasa sangat perih.
Beberapa napas berlalu dengan sangat lambat.
Serigala itu masih berdiri tegak di depannya, menatap Ye Chan dengan tatapan penuh dendam yang sangat pekat. Namun, monster itu tidak langsung meluncurkan serangan berikutnya.
Ye Chan diam di tempatnya, menunggu dengan sangat sabar sambil terus mengamati perubahan fisik pada lawannya.
Perlahan, kaki depan serigala itu mulai bergetar hebat. Embusan napasnya menjadi sangat berat dan tidak teratur lagi.
Lapisan batu hitam di punggungnya mulai retak dan kehilangan kilaunya karena aliran Qi di dalam tubuhnya telah terganggu oleh racun tersebut.
Ye Chan tersenyum tipis melihat kondisi monster itu.
"Ternyata masih bekerja," bisiknya pelan.
Meskipun monster itu tampak sangat melemah, Ye Chan tetap tidak terburu-buru untuk mendekat. Satu gerakan ceroboh bisa berakibat sangat fatal jika monster itu melakukan serangan balik terakhir yang putus asa.
Benar saja, serigala itu mengaum untuk terakhir kalinya, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk satu terkaman maut ke arah Ye Chan.
Ye Chan dengan tenang melangkah ke samping, membiarkan tubuh besar yang tidak seimbang itu melewatinya begitu saja tanpa hambatan.
Tanpa kendali arah, monster itu menghantam pilar retak yang berada tepat di belakang posisi Ye Chan tadi.
Boom!
Benturan keras itu menjadi pemicu kehancuran total pilar tersebut. Seluruh struktur batu di atasnya runtuh, menjatuhkan bongkahan batu raksasa yang langsung menimbun tubuh serigala tersebut hingga tidak bisa bergerak lagi.
Monster itu meronta sangat lemah di bawah timbunan batu besar, tidak lagi memiliki kekuatan untuk meloloskan diri dari sana.
Ye Chan mendekat dengan langkah kaki yang sangat mantap. Ia memungut sebuah pecahan batu tajam dari lantai yang berhamburan.
Tanpa ragu sedikit pun, ia menusukkan batu tajam itu berulang kali ke bagian perut belakang monster yang sangat lunak, memastikan setiap tusukannya menembus organ vital di dalamnya.
Gerakan serigala itu perlahan-lahan melambat, hingga akhirnya benar-benar berhenti bergerak sepenuhnya.
Ye Chan terengah-engah dengan dada naik turun. Ia menjatuhkan pecahan batu yang telah berlumuran darah kental itu dari genggamannya.
Tubuhnya bergetar sangat hebat karena kelelahan fisik yang luar biasa. Rasa sakit di bahunya kini menjalar ke seluruh dada, memberikan peringatan keras bahwa meridiannya telah mencapai batas maksimal akibat penggunaan Qi singkat tadi.
Satu kesalahan kecil saja hari ini, dan ia dipastikan akan berakhir mati di tempat ini.
Ia duduk bersandar pada salah satu batu besar yang runtuh, menarik napas panjang untuk menstabilkan kondisi fisiknya yang memburuk.
Meskipun kondisinya melemah dan persediaan racunnya kini telah habis, ia berhasil mendapatkan bahan-bahan berharga dari tubuh Serigala Batu Kelam ini. Daging dan material tubuh monster ini akan menjadi modal yang sangat besar untuk proses pemulihannya nanti.
Ia menatap bangkai monster itu dengan tatapan yang sangat tenang.
"Pengumpulan Qi Menengah... dan aku bahkan belum bisa dianggap Pengumpulan Qi," gumamnya dengan senyum dingin.
Ia menarik napas dalam-dalam, menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sangat pucat.
"Aku beruntung."
Tatapannya kembali mengeras, dipenuhi keyakinan yang sangat dingin.
"Aku menang karena dia tidak tahu medan ini."
Ia mengulurkan tangan kanannya untuk memeriksa bagian dalam tubuh monster itu, bersiap untuk mengambil inti energinya secara langsung. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti di udara.
Sebuah sensasi hangat yang sangat asing menjalar dari ujung jarinya saat menyentuh kulit monster itu.
Di dalam tubuh serigala itu, terdapat gumpalan energi abu-abu yang sangat aneh. Energi itu bergejolak dengan sangat lambat, sangat berbeda dengan Qi murni yang biasa dimiliki oleh monster liar pada umumnya.
Di dalam batinnya, Giok Kehampaan tiba-tiba saja bergetar dengan sangat pelan, seolah-olah memberikan reaksi terhadap keberadaan gumpalan energi misterius tersebut.
Pusaka itu tidak mencoba menyerapnya, melainkan hanya memberikan denyutan peringatan yang sangat halus ke seluruh tubuhnya.
Ye Chan menyipitkan matanya dengan sangat rapat, mengamati gumpalan energi yang perlahan-lahan mulai menguap di udara dingin reruntuhan itu.
"Energi ini... apa?" bisiknya penuh tanya.