NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Azzalia melangkah masuk ke apartemennya dengan gerakan mekanis. Tidak ada lagi air mata, yang tersisa hanyalah kelelahan yang luar biasa. Ia menarik koper besarnya dari atas lemari, lalu mulai memasukkan pakaian, buku-buku, dan mimpi-mimpinya yang baru saja dipatahkan di ruang rapat tadi.

Kali ini, tujuannya bukan lagi London yang dingin dan penuh ambisi. Matanya tertuju pada sebuah brosur tua tentang sebuah desa kecil di pesisir Bali. Sebuah tempat di mana deburan ombak lebih nyaring daripada suara penghakiman manusia, dan di mana aroma garam laut bisa menyamarkan bau luka masa lalu.

"Aku akan membuka sekolah sastra kecil di sana," bisiknya pada sunyi ruangan. "Anak-anak pesisir tidak akan peduli siapa orang tuaku atau siapa laki-laki yang kucintai. Mereka hanya butuh kata-kata untuk bermimpi."

Lia melepaskan kartu akses apartemennya dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di samping sebuah surat pengunduran diri yang sudah ia cetak. Ia hanya membawa barang-barang seperlunya. Baginya, apartemen ini—dan unit di sebelahnya—adalah museum penderitaan yang harus segera ia tinggalkan.

Saat ia menyeret kopernya menuju pintu, tangannya sempat ragu di gagang pintu. Ia menoleh ke arah dinding yang berbatasan dengan unit Regas. Ia tahu Regas mungkin sedang dalam perjalanan ke sini, memacu mobilnya dengan gila, atau sedang menghancurkan barang-barang di kantornya.

"Selamat tinggal, Regas. Jadilah ayah yang baik untuk bayi itu, dan jadilah pahlawan untuk Ghea. Tugasku sebagai 'puisi yang hidup' bagimu sudah selesai," gumam Lia pelan.

Lia keluar dari gedung apartemen melalui pintu belakang, menghindari lobi utama. Ia memesan kendaraan menuju bandara dengan satu tujuan pasti: Denpasar. Ia ingin menghilang sebelum matahari terbenam, sebelum aroma kayu cendana milik Regas sempat memaksanya untuk menoleh lagi.

Dua jam kemudian, Lia sudah duduk di ruang tunggu bandara, menatap tiket pesawat di tangannya. Ponselnya bergetar tanpa henti—puluhan panggilan tak terjawab dari Regas dan pesan-pesan singkat penuh permohonan. Dengan satu gerakan tegas, Lia mengeluarkan kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua.

Titik. Kali ini benar-benar titik.

Sementara itu di apartemen, Regas baru saja sampai. Ia mendobrak pintu unit Lia yang ternyata tidak dikunci, hanya untuk menemukan ruangan yang sudah kosong melongpong dan dingin. Di atas meja, ia menemukan sebuah buku catatan kecil milik Lia yang tertinggal, dengan satu halaman terakhir yang terbuka.

Kepada Sang Insinyur:

Struktur ini tidak bisa diperbaiki lagi.

Jangan mencariku. Biarkan aku menjadi sajak yang kau lupakan di rak buku tua.

Regas jatuh terduduk di lantai apartemen yang sepi itu, meremas buku tersebut di dadanya sambil meraung dalam diam.

Suara getar ponsel di saku celana Regas terasa seperti sengatan listrik di tengah kehampaan. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya, berharap ada keajaiban dari Abimana.

"Bi... Katakan padaku kamu sudah menemukannya. Katakan dia ada di terminal mana sekarang!" suara Regas serak, nyaris habis karena sesak yang menghimpit paru-parunya.

Hening sejenak di seberang telepon. Desah napas berat Abimana terdengar, sebuah pertanda yang sangat tidak ingin didengar Regas.

"Maaf, Gas. Aku sudah mengerahkan semua tim di Bandara Soekarno-Hatta, Halim, bahkan manifest keberangkatan kereta api dan bus eksekutif. Tidak ada nama Azzalia di penerbangan mana pun hari ini. Aku juga sudah memeriksa daftar keberangkatan internasional ke London... nihil."

Regas memejamkan mata rapat-rapat, punggungnya merosot menyentuh dinding dingin apartemen Lia. "Tidak mungkin, Bi. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Dia pasti pergi jauh."

"Dia pintar, Gas. Kamu tahu Lia," lanjut Abimana dengan nada prihatin. "Dia kemungkinan besar memesan tiket secara go-show dengan nama yang tidak terdaftar di sistem korporasi kita, atau dia menggunakan jalur darat yang tidak terlacak. Dia benar-benar memutus semua akses. Ponselnya... sudah tidak aktif sama sekali."

Regas menatap buku catatan kecil di tangannya. Tulisan tangan Lia yang rapi namun tegas seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Sebagai seorang insinyur, ia selalu bisa memetakan segala sesuatu, menghitung beban, dan memprediksi retakan. Namun kali ini, ia kehilangan koordinat wanita yang menjadi pusat dunianya.

"Cari lagi, Bi. Periksa CCTV di sekitar apartemen. Lihat taksi apa yang dia tumpangi. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, cari dia!" Regas mengakhiri panggilan itu dengan kasar.

Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lutut. Di ruangan yang dulu pernah ia bayangkan akan penuh dengan tawa dan sajak-sajak Lia, kini hanya ada bau sisa parfum yang mulai memudar. Lia tidak hanya meninggalkan titik, ia telah menghapus seluruh paragraf keberadaannya dari jangkauan Regas.

Lia memang benar-benar seorang ahli sastra; dia tahu bahwa cara terbaik untuk mengakhiri sebuah penderitaan bukan dengan berdebat, melainkan dengan menghilang di balik titik yang tak terlihat.

Sementara itu, di sebuah bus antar-provinsi yang melaju membelah kegelapan menuju pelabuhan, Azzalia menatap pantulan wajahnya di jendela. Ia tidak menggunakan pesawat. Ia tahu Regas punya kuasa di sana. Dengan nama samaran dan topi yang menutupi wajah, ia membiarkan Jakarta menjauh menjadi setitik lampu di kejauhan.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!