Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: AYAH JATUH DARI BANGUNAN
---
Telepon. Dari tambang. Malam. Jam sepuluh. Atau sebelas. Mahesa tidak tahu pasti. Hanya tahu bahwa ibu menjawab. Dan ibu jatuh. Duduk. Di lantai. Dengan suara yang tidak keluar.
Mahesa melihat dari tikar di dapur. Ibu memegang gagang telepon—telepon tetangga yang dipinjam, satu-satunya di kampung. Wajah ibu berubah. Dari cemas, menjadi putih. Seperti kertas. Seperti mayat.
"Bu?" Mahesa memanggil. Suara kecil. Takut.
Ibu tidak menjawab. Telepon jatuh dari tangan. Bergantung. Suara dari gagang masih terdengar, "Halo? Halo, Bu Siti?"
Ibu jatuh. Duduk di lantai. Tubuh lemas. Seperti boneka yang kehilangan tali.
"Ayah..." Ibu berbisik. Suara tidak keluar. Hanya gerakan bibir. Tapi Mahesa membaca. Membaca kata yang akan mengubah segalanya.
"Ayah jatuh. Empat lantai."
---
Ayah jatuh. Empat lantai. Dari bangunan tambang yang sedang dibangun. Yang tidak selesai. Yang tidak aman. Yang mengambil.
Dunia Mahesa berhenti. Detak jantungnya berhenti. Napasnya berhenti. Hanya suara ibu yang terus bergema di kepala. Empat lantai. Ayah jatuh. Empat lantai.
Ia ingin berlari. Ke RS. Ke ayah. Tapi kaki kanan tidak bisa. Tidak mau. Hanya diam. Menjadi batu. Seperti selalu.
Ibu bangun. Gemetar. Mencari tas. Mencari uang. Mencari apa pun yang bisa dibawa.
"Kamu di rumah," ibu berkata. Suara datar. Suara yang dipaksakan keluar. "Jaga Bima. Aku ke RS."
"Bu, aku ikut..."
"Tidak!" bentak ibu. Keras. Pertama kalinya. "Kamu di rumah!"
Mahesa diam. Tidak berani membantah. Hanya melihat ibu pergi. Berlari ke jalan. Mencari ojek. Menghilang dalam gelap.
---
Bima bangun. Dari kasur gantung. Mendengar suara. Melihat ibu tidak ada. Hanya Mahesa.
"Ayah mana? Ibu mana?" tanyanya. Masih setengah sadar.
Mahesa tidak tahu harus menjawab apa. Hanya diam.
Bima mulai menangis. Bukan tangis biasa. Tangis yang tahu ada yang salah. Tangis yang takut.
"Ayah kenapa? Ibu kenapa?" teriaknya. Keras. Memenuhi rumah kosong.
Mahesa mendekat. Ingin memeluk. Ingin menenangkan.
Tapi Bima menjauh. "Jangan dekat-dekat! Kamu bau!"
Maaf. Maaf selalu. Maaf karena ada.
"Ayah kerja karena kamu!" Bima berteriak. Kalimat yang melesat. Kalimat yang mungkin tidak dimengerti anak lima tahun. Tapi keluar. Entah dari mana. "Ayah capek karena kamu! Ayah jatuh karena kamu!"
Mahesa terpaku. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.
Karena benar. Karena memang untuknya. Karena memang salahnya.
"Ayah di RS karena kamu! Kamu!" Bima terus berteriak. Sambil menangis. Sambil memukul-Mahesa dengan tangan kecilnya.
Mahesa diam. Menerima pukulan itu. Karena pantas. Karena memang pantas.
Bima akhirnya lelah. Menangis di lantai. Sendirian. Tidak mau didekati. Tidak mau disentuh.
Mahesa duduk di pojok. Menatap Bima. Menatap kaki sendiri. Yang besar. Yang menghancurkan. Yang memakan ayah.
---
Pagi. Ibu pulang. Sendirian. Wajah kosong. Mata merah. Tidak berkata apa-apa. Hanya duduk di kursi.
"Ayah..." Mahesa mencoba bertanya. Takut.
Ibu menatapnya. Lama. Lalu berkata, "Ayah koma. Di ICU."
Koma. ICU. Kata-kata yang tidak dimengerti Mahesa sepenuhnya. Tapi tahu itu buruk. Tahu itu dekat dengan... pergi.
"Aku boleh jenguk?" tanyanya pelan.
Ibu menggeleng. "Hanya keluarga inti. Kamu... tunggu di rumah."
Keluarga inti. Ibu dan Bima. Mahesa? Tidak. Tidak termasuk.
Ia ingin bertanya, "Aku bukan keluarga inti, Bu?" Tapi tidak berani. Hanya diam. Menerima.
---
Tiga hari. Ibu dan Bima bolak-balik RS. Mahesa di rumah. Sendirian. Dengan kaki yang semakin sakit. Dengan luka abses yang menganga. Dengan rasa bersalah yang membusuk.
Memasak sendiri. Nasi daun singkong. Sisa dari kemarin. Makan sendiri. Di tikar. Di pojok.
Membalut kaki sendiri. Nanah keluar lagi. Infeksi merambat. Tapi tidak peduli. Tidak penting. Tidak setara dengan ayah di ICU.
Hari ketiga. Malam. Ibu pulang. Bima di gendong—tidur. Wajah ibu berbeda. Lebih kosong. Lebih... hancur.
Mahesa tahu. Tahu tanpa diberi tahu. Tahu dari cara ibu berjalan. Dari cara ibu meletakkan Bima. Dari cara ibu duduk di kursi dan diam.
"Ayah..." Mahesa memulai. Suara bergetar.
Ibu menatapnya. Mata kosong. Lalu berkata, "Ayah pergi. Satu jam lalu."
Dunia runtuh. Langit jatuh. Bumi terbuka.
Mahesa tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Tidak bisa menangis. Hanya diam. Membeku. Menjadi batu.
Ibu berdiri. Mendekat. Perlahan. Meletakkan tangan di kepala Mahesa. Pertama kalinya dalam... entah berapa lama.
"Dia sempat bilang," ibu berkata. Suara serak. "Pesan untukmu."
Mahesa mendongak. Mata bertanya.
"Dia bilang, 'Bilang ke Mahesa, Ayah sayang. Ayah bangga. Jangan menyerah'."
Air mata. Akhirnya. Keluar. Deras. Tidak bisa ditahan.
Ibu memeluknya. Untuk pertama kalinya. Memeluk erat. Seperti takut lepas.
Mahesa menangis di pelukan ibu. Tangis yang tertahan selama ini. Tangis untuk ayah. Tangis untuk kaki. Tangis untuk semua.
---
Pemakaman. Dua hari kemudian. Hujan. Seperti ikut menangis.
Mahesa berdiri di depan kuburan. Tanah basah. Batu nisan sederhana. Nama ayah terukir. Tanggal lahir. Tanggal mati. Jaraknya terlalu dekat.
Orang-orang datang. Tetangga. Kerabat. Beberapa teman ayah dari tambang. Mereka bicara pelan. Melihat Mahesa. Melihat kakinya. Berbisik.
"Itu anaknya. Kakinya..."
"Kasihan. Bapaknya kerja keras buat dia, malah..."
"Ya Allah, semoga diterima amalnya."
Mahesa mendengar. Semua mendengar. Tapi tidak bisa marah. Tidak bisa protes. Karena benar. Ayah kerja keras untuknya. Ayah jatuh untuknya. Ayah mati untuknya.
Bima di samping ibu. Menangis. Tersedu-sedu. Ibu memeluknya. Menghiburnya.
Mahesa sendiri. Tidak ada yang memeluk. Tidak ada yang menghibur. Hanya berdiri. Di hujan. Dengan kaki sakit. Dengan hati hancur.
Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Bima melepas pelukan ibu. Berjalan ke arah Mahesa. Perlahan. Melewati lumpur. Melewati hujan.
Berdiri di depan Mahesa. Menatapnya. Mata merah. Basah. Tapi bukan benci. Bukan jijik. Hanya... sedih.
"Mahesa," panggilnya. Suara kecil.
Mahesa menatapnya. Tidak tahu harus berkata apa.
Bima meraih tangan Mahesa. Tangan kecil itu menggenggam. Erat.
"Aku takut," bisik Bima. "Aku takut sendirian."
Mahesa terdiam. Lalu, perlahan, tangannya yang lain mengelus kepala Bima. Seperti ayah dulu mengelusnya.
"Kamu tidak sendirian," Mahesa berkata. Suara serak. "Aku ada."
Bima menangis lagi. Tapi kali ini di pelukan Mahesa. Di dada yang kurus. Di tempat yang selama ini ia jauhi.
Ibu melihat dari jauh. Air mata mengalir di pipinya. Tapi juga senyum. Tipis. Tapi senyum.
---
Pulang dari pemakaman. Rumah terasa kosong. Lebih kosong dari biasanya. Sepatu ayah masih di pintu. Baju ayah masih tergantung. Bau ayah masih tersisa.
Mahesa duduk di tikar. Kaki kanan sakit. Tapi tidak peduli. Bima duduk di sampingnya. Tidak pergi. Tidak menjauh.
Ibu masuk. Membawa teh hangat. Tiga gelas. Diletakkan di lantai. Lalu duduk di samping mereka.
Mereka minum teh bersama. Diam. Tidak bicara. Tapi bersama.
Malam turun. Gelap. Sunyi. Tapi tidak sepi.
Mahesa berbaring. Kaki kanan di atas bantal. Bima tidur di sampingnya—tidak di kasur gantung, tapi di lantai, di tikar yang sama. Ibu di sisi lain.
Untuk pertama kalinya, mereka tidur bertiga. Seperti keluarga. Seperti yang dulu—sebelum ayah terlalu lelah, sebelum ibu terlalu jauh, sebelum Bima terlalu benci.
Mahesa menatap langit-langit. Berlubang. Seperti biasa. Tapi malam ini, lubang-lubang itu tidak menakutkan. Hanya... ada.
Ayah pergi. Tapi pesannya masih ada. Jangan menyerah.
Dan di sampingnya, ada Bima yang menggenggam tangannya dalam tidur. Ada ibu yang napasnya terdengar tenang.
Mereka hancur. Mereka rapuh. Mereka tidak sempurna.
Tapi mereka masih bersama. Masih berusaha. Masih ada.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk kehilangan ayah. Untuk duka yang tak terperi.
Itu cukup.
Karena ada yang tersisa. Ada yang menggenggam. Ada yang... berusaha.
Malam ini, itu cukup.
---