Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Xiao Han tidak bergerak. Di kepalanya, semua analisis yang ia susun di babak pertama hancur berkeping-keping.
Ia membuka buku catatannya, menulis dengan tangan yang gemetar.
Gol ketiga. Pola: Lu Gacheng turun ke lini tengah, menarik bek keluar, umpan terobosan ke ruang kosong. Ini bukan sekadar individu. Ini sistem. Guangzhou sudah merancang ini sejak awal.
Dan aku tidak membaca itu. Aku terlalu fokus pada formasi, pada angka, pada pola yang bisa dihitung. Tapi sepak bola tidak sesederhana itu.
Atau mungkin aku yang terlalu sederhana.
Ia berhenti menulis. Di lapangan, Zhejiang terlihat hancur. Pemain-pemain berjalan dengan bahu tertunduk. Pelatih mereka berdiri di sisi lapangan, tidak ada instruksi. Hanya diam.
Ye Chen membanting tangan ke pangkuan. “Selesai sudah. 0-3. Tidak mungkin.”
Wei Ying diam. Wajahnya pucat. Bocah itu tidak lagi bertanya, tidak lagi bersorak.
Shen Yuexi menggenggam tangan Xiao Han. Hangat. Tapi Xiao Han tidak merasakannya.
Ding.
Sistem muncul di sudut mata.
[ Misi Analisis: Progress 45% ]
[ Deteksi: Host gagal membaca pola serangan Guangzhou. Analisis taktik tidak sinkron dengan perkembangan pertandingan ]
Xiao Han mengabaikannya. Ia sudah tahu.
Memasuki menit ke enam puluh lima. Skor masih 0-3.
Zhejiang melakukan pergantian. Keluar satu bek, nomor 2, bek sayap kanan yang sudah kelelahan sejak babak pertama, masuk satu gelandang serang. Formasi berubah. Dari 5-3-2 menjadi 4-4-2. Kembali ke formasi awal.
Xiao Han menulis.
Menit 65. Zhejiang kembali ke 4-4-2. Mungkin karena 5-3-2 gagal. Mungkin karena mereka sudah tidak punya pilihan. Ini keputusan yang terlambat. 25 menit tersisa. 3 gol tertinggal.
Jika ini terjadi di babak pertama, mungkin hasilnya berbeda. Tapi ini sudah menit 65. Waktu hampir habis.
Ia menutup buku catatannya. Tidak ada gunanya menulis prediksi lagi. Semua yang ia pikirkan salah.
Tapi sesuatu terjadi saat memasuki menit ke tujuh puluh satu..
Zhejiang mendapat tendangan bebas di sisi kanan lapangan. Posisi yang tidak terlalu berbahaya, terlalu jauh untuk tembakan langsung. Xiao Han hampir tidak memperhatikan.
Umpan bebas melambung ke kotak penalti. Bukan ke arah striker, tapi ke belakang, ke arah gelandang nomor 8 yang berlari dari luar kotak.
BAM.
Gelandang itu tidak berpikir. Ia langsung melepaskan tendangan voli kaki kanan—WHOSSSHHH—Bola melesat keras—TANG—Membentur tiang kanan gawang, dan masuk.
1-3.
“GOLLLL,” Stadion bersorak. Wei Ying melompat. Ye Chen berdiri.
Xiao Han tidak bergerak. Ia membuka buku catatan, menulis.
Gol pertama Zhejiang. Tendangan bebas, voli dari luar kotak. Ini bukan taktik. Ini individu. Gelandang nomor 8 mengambil risiko dan berhasil.
Tapi apakah ini awal dari sesuatu? Atau hanya kebetulan?
Ia tidak yakin.
Di lapangan, Guangzhou terlihat berbeda. Mereka yang tadi bermain dengan tenang, mulai goyah. Operan-operan pendek mereka mulai terputus. Bek nomor 4 yang tadi sempurna, untuk pertama kalinya, terlihat ragu.
Mereka lengah, pikir Xiao Han. Mereka mengira pertandingan sudah selesai. Dan sekarang, mereka panik.
Ia menulis.
Guangzhou kehilangan fokus. Mereka sudah merasa menang. Tapi ini sepak bola. Tidak ada yang selesai sampai peluit berbunyi.
Menit ke tujuh puluh delapan..
Zhejiang merebut bola di lini tengah. Gelandang nomor 10 tidak mengoper ke samping seperti biasanya. Ia membawa bola maju, melewati satu pemain Guangzhou yang terlalu lambat membaca.
Umpan ke sayap kiri. Gelandang sayap nomor 7 berlari, menerima bola di sisi lapangan yang terbuka. Bek kanan Guangzhou sudah naik terlalu tinggi, tidak bisa kembali.
Nomor 7 melepaskan umpan silang. Bola melengkung ke kotak penalti, ke arah tiang jauh.
Di sana, dua striker Zhejiang sudah siap. Tapi bukan mereka yang menyambar bola.
Dari belakang, bek tengah Zhejiang nomor 5 berlari, melompat lebih tinggi dari semua orang.
DUM.
Menyundul bola dengan kekuatan penuh. Bola memantul masuk ke pojok gawang.
2-3.
“IYAHHH ZHEJIANG.” Stadion bergetar. Xiao Han berdiri tanpa sadar.
Ia melihat lapangan dengan mata terbuka lebar. Ini bukan sekadar gol. Ini perubahan. Guangzhou yang tadi tenang, kini kacau. Bek-bek mereka kehilangan posisi. Gelandang mereka tidak lagi menemukan ruang operan.
Mengapa? pikir Xiao Han. Mengapa mereka bisa runtuh secepat ini?
Ia menulis, cepat.
Gol kedua Zhejiang. Sundulan bek nomor 5. Guangzhou kehilangan struktur pertahanan. Mereka yang tadi disiplin, kini panik. Ini bukan taktik. Ini mental.
Tapi mengapa? Apa yang terjadi di kepala pemain Guangzhou?
Ia tidak tahu. Ia hanya bisa mencatat apa yang ia lihat.
Menit ke delapan puluh empat.
Guangzhou coba membangun serangan. Kiper mengirim bola pendek ke bek nomor 4, yang selama ini menjadi tembok pertahanan. Tapi nomor 4 terlihat gelisah. Ia menerima bola dengan posisi tubuh kurang ideal, terlalu menghadap ke depan, tidak melihat ancaman dari belakang.
Striker Zhejiang membaca itu. Ia berlari dari belakang, menekan nomor 4 tanpa peringatan.
Nomor 4 panik. Ia mengirim umpan balik ke kiper, tapi bolanya terlalu pendek. Striker Zhejiang sudah di depan bola, menyambarnya, melewati kiper yang keluar dari sarangnya, dan dengan tenang menendang ke gawang kosong.
“GOOOOLLLL.” Stadion runtuh. Bukan hanya sebuah metafora klasik.
3-3.
“ZHEJIANG!” Stadion benar-benar runtuh dengan teriakan satu nama dan tepuk tangan, para supporter kini berdiri gagah kembali dengan antusias yang sama seperti sebelum babak pertama dimulai.
Xiao Han merasakan tribun bergetar. 40 ribu orang kira-kira, melompat bersamaan. Wei Ying menangis di bahu Shen Yuexi. Ye Chen memeluk Xiao Han dari samping.
Tapi Xiao Han tidak merayakan. Ia menulis.
Gol ketiga. Kesalahan individu bek nomor 4 Guangzhou. Tekanan striker Zhejiang menyebabkan panik. Umpan balik terlalu pendek.
Ini bukan taktik yang indah. Ini kekacauan. Tapi Zhejiang memanfaatkannya.
Guangzhou yang tadi sempurna, sekarang hancur. Hanya karena mereka lengah. Hanya karena mereka merasa sudah menang.
Ia meletakkan pulpen sebentar. Menatap lapangan. Lu Gacheng berdiri di tengah, tangan di pinggul, menatap papan skor. Wajahnya tidak bisa dibaca.
Dia sudah mencetak hattrick, pikir Xiao Han. Tapi timnya runtuh. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu normal hampir habis. Wasit memberi tambahan 5 menit.
Menit ke sembilan puluh tambahan seratus delapan puluh detik.
Zhejiang mendapat sepak pojok. Semua pemain besar naik ke kotak penalti. Kiper Zhejiang ikut maju. Di sisi lain, Guangzhou bertahan dengan 10 orang di belakang bola, berusaha mempertahankan hasil imbang.
Tapi mereka sudah tidak lagi terorganisir. Bek sayap berdiri di posisi yang salah. Gelandang tidak tahu harus menjaga siapa.
Umpan sudut melambung ke kotak penalti. Bukan ke arah kiper, bukan ke arah striker. Bola melengkung ke titik penalti, ke area yang paling padat.
Bek Guangzhou nomor 4 melompat, menyundul bola keluar. Tapi sundulannya tidak bersih. Bola hanya terdefleksi, masih di udara, jatuh di tepi kotak penalti.
Di sana, berdiri gelandang Zhejiang nomor 8, pemain yang sama yang mencetak gol pertama.
Bola jatuh setinggi dada. Nomor 8 tidak menunggu bola menyentuh tanah. Ia memutar tubuh, menghadap gawang, dan dengan kaki kirinya, kaki yang bukan kaki terkuatnya.
BAAAAM.
Melepaskan tendangan voli.
Bola melesat. Lurus. Tanpa putaran. Melewati pemain-pemain yang berusaha menghadang.
Kiper Guangzhou terbang, tangan kanan terentang, ujung jari nyaris menyentuh bola.
Tapi tidak cukup.
Seluruh lautan hijau menahan napas mereka, waktu seakan berputar lambat di stadion.
“GOOOOOLLLLLLLLLLLL.” Stadion meledak. Suara 40 ribu orang menjadi satu gelombang yang memekakkan telinga. Spanduk hijau berkibar. Asap suporter membumbung ke langit.
Bola bersarang di pojok kanan atas gawang.
4-3.
Wei Ying menangis. Ye Chen berteriak. Shen Yuexi menggenggam tangan Xiao Han.
Xiao Han tidak bergerak.
Ia hanya berdiri, menatap lapangan, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam dua bulan terakhir.
Bukan kebahagiaan. Bukan kemenangan.
Tapi rasa kosong yang berkata.
Aku tidak mengerti apa-apa.