Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Mobil sedan mewah Damian meluncur mulus membelah jalanan menuju gerbang utama Universitas Arthemis. Valerie duduk di kursi belakang dengan perasaan waswas, matanya terus memantau situasi di luar jendela.
Tepat saat mobil itu hampir mencapai gerbang, jantung Valerie berdegup kencang. Beberapa puluh meter di depan sana, ia menangkap sosok yang sangat ia kenali: Aiden.
Pemuda itu, dengan motor sport hitamnya yang gagah, baru saja membelok masuk melewati gerbang kampus.
Sontak, Valerie menoleh ke samping dan menarik lengan jas Damian yang sedang fokus menatap layar tabletnya. "Berhenti! Turunkan aku di sini saja!" seru Valerie dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan. "Turunkan aku sebelum gerbang itu, Damian."
Damian sedikit terkejut dengan tarikan tiba-tiba itu. Ia mengangkat wajahnya dari tablet, alisnya bertaut heran. Namun, hanya butuh satu detik bagi pria secerdas Damian untuk memahami situasi.
Ia melirik ke arah gerbang dan melihat punggung pengendara motor yang dimaksud Valerie. Seringai tipis yang dingin muncul di wajahnya.
Damian memberikan isyarat kecil pada sopirnya untuk menepi dan berhenti, namun ia tidak segera membiarkan Valerie keluar. Ia justru bersandar santai, menatap Valerie yang tampak pucat.
"Kenapa terburu-buru, Penipu Kecil?" tanya Damian dengan nada suara yang menggoda namun berbahaya. "Apa kau begitu takut ketahuan pacarmu kalau saat ini kau sedang bersamaku?"
Valerie mengepalkan tangannya, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Tentu saja aku tidak mau dia tahu! Sejauh ini aku sudah mematuhimu, Damian. Aku sudah melakukan semua yang kau minta, Jadi sekarang, kau juga harus menepati janjimu," tegas Valerie, menatap tajam ke arah mata gelap Damian.
Damian terdiam sejenak, menikmati ketakutan yang terpancar dari mata gadis di depannya.
Ia tahu ia memegang kendali penuh, namun ada kepuasan aneh saat melihat Valerie memohon demi pria lain—pria yang menurut Damian tidak akan pernah bisa melindungi Valerie seperti yang bisa ia lakukan.
Damian melepaskan tabletnya, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah senyum datar terukir di bibirnya.
"Entahlah," gumam Damian rendah. "Tiba-tiba saja aku merasa sedikit tidak rela melihatmu kembali ke pelukan pria lain setelah apa yang kita lalui pagi ini."
Napas Valerie tercekat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena waswas. Apalagi yang diinginkan pria gila ini? batinnya kalut.
Ia tidak mau kalah begitu saja. Dengan sisa keberaniannya, ia menatap mata Damian dalam-dalam, sementara tangannya tanpa sadar meremas kain jas mahal pria itu hingga berkerut.
"Damian! Kau sudah berjanji padaku!" seru Valerie kesal, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang meluap.
Damian tertegun sejenak. Di matanya, ekspresi Valerie saat ini terlihat sangat menggemaskan—dengan matanya yang membulat karena marah dan bibir ranumnya yang gemetar menahan dongkol.
Pemandangan itu tanpa sadar membuat pertahanan dingin Damian runtuh sejenak hingga ia terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah yang jarang sekali didengar oleh siapa pun.
"Ok, baiklah. Turunlah sekarang sebelum aku berubah pikiran dan membawamu kembali ke penthouse," ucap Damian sambil memberikan isyarat kunci pintu mobil terbuka.
Valerie mendengus keras, menyipitkan matanya tajam seolah ingin menusuk pria di hadapannya itu Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia segera membuka pintu dan keluar dari mobil mewah itu, membiarkan debu jalanan menyambut langkah kakinya yang terburu-buru menuju gerbang Arthemis.
Valerie berjalan setengah berlari menyusuri koridor kampus yang mulai ramai. Pikirannya masih tertinggal di dalam mobil mewah Damian, membuatnya tidak fokus pada jalan di depannya.
Karena terlalu terburu-buru, ia tidak menyadari ada seorang pria yang sedang berjalan lambat di depannya.
Bugh!
Valerie menabrak punggung kokoh pria itu dengan cukup keras. Ia meringis pelan sambil memegangi jidatnya yang terasa senut-senut.
Menyadari seseorang baru saja menabraknya, pria itu pun berbalik dengan tenang.
Sosok di hadapan Valerie adalah seorang pria berpakaian sangat rapi, memancarkan aura karismatik yang tenang. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan intelektual.
Dari gaya berpakaiannya yang formal namun modis, ia terlihat seperti seorang dosen muda atau staf ahli di Arthemis.
Melihat Valerie yang masih meringis kesakitan, pria itu mengulurkan tangan dan menyentuh lembut lengan Valerie untuk menyeimbangkannya. "Apa kamu baik-baik saja? Maaf, saya tidak melihat ada orang di belakang," ucapnya dengan suara bariton yang lembut.
Valerie terpaku sejenak, menatap wajah pria asing itu. Ada sesuatu yang janggal; Valerie merasa tidak pernah melihat pria ini sebelumnya di lingkungan kampus Arthemis, padahal ia cukup mengenali wajah-wajah pengajar di sana.
"Ah, iya... saya baik-baik saja. Maaf, saya yang kurang hati-hati karena sedang melamun," jawab Valerie sambil mengernyit, mencoba mengingat-ingat apakah pria ini adalah dosen baru.
Tepat saat suasana canggung itu menyelimuti mereka, sebuah tepukan di pundak membuat Valerie tersentak kaget. Ia menoleh cepat ke belakang dan menemukan Aiden sudah berdiri di sana dengan napas yang sedikit tidak beraturan, seolah baru saja habis berlari.
"Ternyata kau di sini, Valerie! Aku sudah mencarimu dari tadi," ujar Aiden.
Tatapannya kemudian beralih pada pria berkacamata yang masih berdiri di depan Valerie, membuat suasana di koridor itu mendadak terasa dingin.
Aiden menatap pria asing itu sekilas dengan tatapan menyelidik, seolah sedang menilai ancaman, sebelum akhirnya ia merangkul pundak Valerie secara posesif.
Pelukan Aiden terasa hangat, sebuah perlindungan yang selama ini selalu menjadi zona nyaman bagi Valerie.
"Ayo, Valerie. kita pergi." ujar Aiden lembut namun tegas, seolah ingin segera menjauhkan kekasihnya dari pria asing tersebut.
"Tunggu aku di markas, ya? Aku akan ke ruangan senat sebentar."
Valerie mengangguk pelan, mencoba mengulas senyum tipis untuk menenangkan Aiden. "Iya, baiklah, aku akan menunggu disana."
Aiden membawa valerie melangkah pergi menuju gedung rektorat. Valerie pun mengikuti langkah kekasihnya lalu kemudian mengambil arah berlawanan menuju tempat berkumpul rahasia mereka.
Namun, Sebelum gadis itu menghilang di tikungan koridor, Valerie sempat menoleh ke belakang, sekali lagi menatap ke arah pria asing berkacamata tadi.
Pria itu masih berdiri di posisi yang sama. Ia tidak bergerak sedikit pun, matanya yang tajam di balik lensa tipis itu terus mengikuti setiap gerak-gerik Valerie dengan intensitas yang tidak biasa.
Begitu sosok Valerie menghilang dari pandangannya, ketenangan di wajah pria itu berubah. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya.
Ia menyesuaikan letak kacamatanya dengan ujung jari, lalu bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar namun penuh arti.
"Akhirnya... aku menemukanmu, Valerie."