Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Distorsi Frekuensi
Truk sampah itu menderu membelah jalanan pinggiran Jakarta yang masih remang di bawah lindungan fajar. Bau busuk yang menyengat dari sisa makanan dan limbah rumah tangga menjadi perlindungan terbaik bagi Arlan, Maya, dan Bara yang setengah sadar. Mereka terkubur di bawah tumpukan plastik hitam, bersembunyi dari sorot lampu patroli polisi yang mulai lalu-lalang dengan intensitas yang tidak wajar.
Arlan merasakan saku celananya. Buku catatan kulit milik kakeknya—benda yang ia sambar dari meja Johan—terasa lembap oleh keringat dan sisa air hujan. Ia tidak berani membukanya di sini, di bawah tatapan langit yang mungkin sudah dipenuhi oleh drone pengintai milik Konsorsium.
"Lan..." suara Maya bergetar, nyaris tertutup deru mesin truk. "Tangan kamu... berdarah."
Arlan melirik telapak tangannya. Serpihan kaca dari botol kimia tadi menancap di sana, namun rasa perihnya kalah oleh adrenalin yang masih memompa jantungnya. "Nggak apa-apa, May. Yang penting kita keluar dari zona merah ini dulu."
Bara perlahan membuka matanya. Ia mengerang, memegangi kepalanya yang bengkak akibat hantaman anak buah Johan. "Truk ini... menuju tempat pembuangan akhir di Bantar Gebang. Kita harus turun sebelum sampai di sana. Terlalu terbuka."
Mereka meloncat turun saat truk melambat di sebuah tikungan sepi dekat kawasan industri. Dengan tubuh kotor dan pakaian yang berantakan, mereka tampak seperti gelandangan yang tak kasatmata di mata dunia. Namun, saat Arlan melewati sebuah warung kopi yang memiliki televisi kecil yang menyala, langkahnya terhenti.
Di layar kaca, narasi yang ditakutkan Arlan mulai terbentuk.
"...Kepolisian Metro Jaya saat ini memburu seorang pemuda bernama Arlan Rayyan, yang diduga kuat sebagai otak di balik serangan siber dan sabotase sistem komunikasi nasional semalam. Arlan, yang merupakan cucu dari seorang terpidana kasus spionase masa lalu, diduga bekerja sama dengan kelompok radikal untuk menyebarkan dokumen palsu demi memicu kekacauan ekonomi..."
Wajah Arlan terpampang jelas di layar. Bukan foto dari kartu identitasnya, melainkan foto dirinya di JPO semalam, namun telah diedit sedemikian rupa sehingga ia tampak memegang sesuatu yang menyerupai pemicu peledak, bukan kamera.
"Johan bergerak cepat," bisik Bara, matanya menatap tajam ke arah televisi. "Dia tidak cuma membunuh karaktermu, Lan. Dia menghapus keberadaanmu sebagai warga sipil yang jujur. Sekarang, siapa pun yang melihatmu akan menganggapmu sebagai ancaman negara."
Arlan memalingkan wajah, menarik topi jaketnya lebih dalam. Rasa sesak menghimpit dadanya. Ia telah mempertaruhkan segalanya untuk menyebarkan kebenaran, namun dalam hitungan jam, kebenaran itu telah diputarbalikkan menjadi senjata untuk menyerangnya balik.
"Kita harus ke alamat ini," Arlan menunjukkan halaman pertama buku catatan kakeknya pada Bara. "Sancang. Pinggiran hutan di selatan Jawa Barat. Kakek menulis koordinat ini dengan tinta merah. Ada catatan kecil di bawahnya: 'Tempat di mana cahaya tidak bisa membohongi bayangan.'"
Bara mengernyitkan dahi. "Itu daerah terpencil. Aksesnya sulit. Tapi itu justru keuntungan kita. Di sana, sinyal seluler hampir tidak ada. Johan tidak bisa memburu kita lewat satelit jika kita masuk ke zona buta."
Mereka memulai perjalanan gerilya mereka. Dengan sisa uang tunai yang ada, mereka menghindari transportasi publik utama. Mereka menumpang mobil bak terbuka pengangkut sayur, berjalan kaki menyusuri pematang sawah, dan tidur di gudang-gudang tua yang terbengkalai. Selama perjalanan, Arlan terus mempelajari buku catatan kakeknya.
Buku itu bukan sekadar buku harian. Itu adalah manual teknis tentang "Ruang Gelap"—sebuah bunker penyimpanan arsip fisik yang dibangun secara rahasia pada tahun 80-an. Di dalamnya, kakek Arlan menyimpan klise asli dari seluruh skandal Sinyal Langit, termasuk bukti keterlibatan Johan dalam pembersihan berdarah para jurnalis masa itu.
"May," panggil Arlan saat mereka beristirahat di bawah pohon besar di perbatasan Sukabumi. "Kamu menyesal ikut aku?"
Maya menatap hamparan lembah di depan mereka. Wajahnya yang dulu ceria kini tampak lebih tirus, matanya menyimpan keletihan yang dalam. Namun, ia menggeleng pelan. "Dulu aku cuma motret buat estetik, Lan. Aku suka fokus yang cantik, warna yang pas. Tapi sekarang aku sadar, lensa itu punya tanggung jawab. Kalau aku pergi sekarang, aku cuma bakal hidup dalam ketakutan. Aku lebih milih lari bareng kamu sambil bawa kebenaran, daripada hidup tenang tapi di atas kebohongan."
Arlan menggenggam tangan Maya. Di tengah situasi yang paling gelap dalam hidupnya, keberadaan Maya adalah satu-satunya fokus yang tidak pernah pecah.
Namun, kedamaian sesaat itu hancur ketika Bara yang sedang memantau radio panggil kecil milik petugas hutan—yang ia "pinjam" secara diam-diam—memberi tanda bahaya.
"Mereka sudah di dekat sini," bisik Bara. "Aku mendengar transmisi terenkripsi. Johan tidak menggunakan polisi biasa. Dia mengirim 'Unit Pemotong'—tentara bayaran swasta yang biasa melakukan operasi senyap di hutan."
Arlan segera mengemasi barang-barangnya. "Kita hampir sampai di koordinat kakek. Hanya dua kilometer lagi menembus hutan jati di depan."
Mereka bergerak masuk ke dalam hutan. Suara burung-burung yang tadinya riuh mendadak sunyi, pertanda ada predator yang sedang mendekat. Arlan bisa merasakan kehadiran mereka—bukan lewat suara, tapi lewat insting seorang fotografer yang terbiasa merasakan perubahan cahaya dan gerakan di sekitarnya.
Di sebuah lereng curam yang tertutup semak berduri, mereka menemukan sebuah pintu beton tua yang menyatu dengan dinding bukit. Pintu itu nyaris tak terlihat karena tertutup lumut dan akar pohon beringin yang menjuntai.
"Ini tempatnya," Arlan meraba permukaan beton, mencari lubang kunci yang dijelaskan dalam buku. Ia menemukan sebuah celah kecil di balik relief batu yang tampak seperti hiasan belaka. Ia memasukkan kunci kecil yang selama ini tersimpan di dalam bodi kamera analognya—kunci yang dikira semua orang hanyalah bagian dari mekanisme shutter.
KLEK.
Pintu beton itu bergeser berat, mengeluarkan aroma udara dingin dan bau bahan kimia kuno yang sangat kuat. Mereka segera masuk ke dalam, dan Bara dengan cepat menutup kembali pintu itu dari dalam.
Ruangan itu gelap gulita sampai Arlan menyalakan lampu senter kecilnya. Cahaya senter itu menyapu ruangan yang luasnya tak lebih dari garasi mobil, namun dinding-dindingnya dipenuhi oleh lemari besi yang berderet rapi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu besar dengan peralatan cuci cetak yang jauh lebih lengkap dari apa yang pernah dilihat Arlan.
"Ini bukan cuma tempat sembunyi," bisik Arlan kagum. "Ini adalah pusat data fisik. Di sini, sejarah nggak bisa dihapus dengan sekali tekan tombol delete."
Arlan membuka salah satu laci lemari besi yang bertanda tahun 1995. Di dalamnya, terdapat ribuan amplop klise yang tersusun rapi berdasarkan abjad. Ia mencari nama "Johan" atau "Konsorsium", namun yang ia temukan justru lebih mengejutkan.
Sebuah amplop besar berwarna merah dengan tulisan tangan kakeknya: "Untuk Arlan—Saat fokusmu sudah siap melihat yang tak terlihat."
Dengan tangan bergetar, Arlan membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto cetak ukuran besar. Foto itu memperlihatkan kakek Arlan, Rayyan, sedang berdiri di depan gedung yang sama dengan gedung tempat Arlan melakukan konferensi pers semalam. Namun, di samping kakeknya, berdiri seorang pria muda yang wajahnya sangat familiar.
Pria itu adalah Bara. Versi tiga puluh tahun yang lalu.
Arlan menoleh ke arah Bara yang berdiri di sudut ruangan dengan senjata yang masih siaga. "Bara... kamu bukan cuma pengawal kakek, kan?"
Bara terdiam. Ia menurunkan senjatanya perlahan, cahaya senter Arlan mengenai luka parut di pipinya. "Rayyan adalah ayah angkatku, Arlan. Aku adalah alasan kenapa kakekmu tertangkap dulu. Aku melakukan kesalahan, dan kakekmu mengorbankan dirinya agar aku bisa tetap hidup untuk menjagamu suatu hari nanti."
Keheningan menyergap ruangan itu. Maya menatap mereka berdua dengan bingung, sementara Arlan merasa dunianya kembali berputar. Segala sesuatu yang ia anggap kebetulan—kehadiran Bara yang selalu tepat waktu, bantuannya yang tak terbatas—ternyata berakar pada penebusan dosa masa lalu.
"Jadi, semua ini sudah direncanakan?" tanya Arlan lirih.
"Kakekmu tahu bahwa suatu saat Johan akan datang mencari dokumen ini. Dia tahu bahwa hanya seseorang dengan 'mata' yang sama dengannya yang bisa menyelesaikan apa yang dia mulai. Dia menunggumu tumbuh besar, Arlan. Dia menunggumu memiliki 'fokus' yang cukup kuat untuk menanggung beban ini."
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu beton di atas. Unit Pemotong milik Johan telah menemukan tempat itu. Suara bor mesin mulai mengoyak keheningan bunker.
"Mereka nggak akan bisa masuk lewat pintu depan dalam waktu singkat," ucap Bara, wajahnya kembali keras dan profesional. "Tapi kita terjebak di sini. Tidak ada jalan keluar lain."
Arlan menatap meja cuci cetak di depannya. Matanya tertuju pada sebuah botol besar berisi cairan acid yang sangat pekat dan sebuah pemancar radio tua yang tampak masih berfungsi. Sebuah ide gila muncul di kepalanya—sebuah teknik yang ia pelajari dari eksperimen fotografi ekstrimnya.
"Ada satu cara buat ngirim bukti fisik ini keluar tanpa harus kita bawa lewat pintu depan," Arlan menatap Maya dan Bara. "Kita bakal pakai metode 'Sinyal Cahaya Tersembunyi'. Kita akan mengubah data visual dari klise-klise ini menjadi gelombang cahaya yang bisa ditangkap oleh satelit cuaca yang melintas di atas hutan ini dalam sepuluh menit lagi."
Maya terbelalak. "Itu mungkin?"
"Secara teori, iya. Kalau kita punya cukup tenaga buat nembakin laser ke atmosfer," Arlan menunjuk ke arah lubang ventilasi kecil di langit-langit bunker yang mengarah langsung ke pucuk pohon beringin. "Kakek sudah menyiapkan alatnya. Dia cuma butuh seseorang buat menyalakannya."
Arlan mulai bekerja dengan gila-gilaan. Ia bukan lagi sedang memotret; ia sedang merakit sebuah senjata komunikasi masa lalu untuk melawan teknologi masa depan. Di luar, suara pintu beton yang mulai retak terdengar semakin nyata.
Johan ada di atas sana, selangkah lagi untuk memusnahkan sejarah. Namun di dalam ruang gelap ini, Arlan sedang bersiap untuk meledakkan cahaya yang paling terang yang pernah dilihat Jakarta.