Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
"Kumohon, JANGAAAANNN !"
"Ag-,"
Melihat darah muncrat, kepala yang lepas dan menggelinding ke tanah. Membuat seorang Mafia tersenyum sinis, hatinya diliputi penuh rasa bangga karena telah berhasil memenggal kepala seorang penyusup didaerah kekuasaannya entah yang ke berapa kalinya.
Terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Mafia pun menoleh. Berdecak malas saat tahu siapa yang datang menghampirinya.
"Wah kamu hebat Maf, aku bangga sama kamu. Hihihi..."
"Seharusnya ini tugas kamu Ga, bukan tugas aku! Dasar !" Mafia menatap anak buah sekaligus sahabatnya dengan kesal luar biasa.
"Hehehe... Maafin aku sobat. Kamu kan tahu sendiri kalau aku ini, sifatnya tidak tegaan."
"Walau kamu tahu dia seorang penyusup sekalipun?!"
Liga meringis melihat tatapan Mafia yang tidak bersahabat. Lihatlah kedua matanya mendelik begitu besar nyaris saja keluar.
"Bereskan mayat itu, aku ingin istirahat." Setelah mengatakan itu Mafia pergi meninggalkan Liga yang wajahnya mendadak cemberut.
*
Liga menepuk nepuk kedua telapak tangannya setelah selesai mengubur mayat si penyusup ditempat khusus. Air keringat terlihat membanjiri seluruh wajahnya dan itu membuat Liga ingin segera membersihkan diri bahkan ingin berendam dengan air kembang tujuh rupa. Supaya bau darah si mayat tidak menempel dibadan serta bajunya.
"Aku berharap banyak nggak akan ada lagi seorang penyusup yang masuk kesini. Jujur saja aku nggak suka pekerjaan ini. Fyuhhh, sungguh kotor."
Liga berbalik. Namun, dia dikejutkan dengan seseorang yang tengah berdiri tepat didepan wajahnya. Liga meneguk ludah penuh kesulitan.
"Wanita cantik, siapa kamu? Kenapa kamu ada disini? Ini tempat rahasia,"
Ya memang, yang ada dihadapan Liga saat ini adalah seorang wanita cantik dengan pakain bak pendekar. Bukan hanya terlihat cantik tapi juga sangat keren. Membuat Liga harus lebih waspada.
Wanita itu menatap Liga dengan senyum remeh. Wanita itu sudah tahu jika Liga tidak ada apa apanya dibandingkan dirinya. Cuih! Tidak berguna.
"Ag, tolong jangaaan! Siapa kamu hah?! Berani beraninya kamu mencekik leherku!" Liga yang terkejut dengan aksi wanita itu pun segera melepas cecikan dilehernya tetapi entah kenapa sungguh begitu sulit. Liga sangat yakin jika wanita didepannya ini bukanlah sembarang wanita. Seketika nyali Liga menciut, badannya mendadak gemetar.
"Mafia tolong!"
"Mafia! Aku dicekik ora--"
"Dasar lemah!" Wanita itu menyeringai sinis setelah berhasil membuat Liga terjatuh ke tanah dan pingsan. Dengan entengnya si wanita ini pun membawa Liga pergi dari tempat itu setelah meninggalkan selembar daun tak biasa.
*
Di kamarnya, Mafia yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun setelah bermimpi. Jika ada seseorang yang menculik Liga. Mafia menyeka keringat yang ada di kening kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya supaya terasa jauh lebih segar.
"Bi! Bibi!" panggil Mafia setelah dia keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajah dengan handuk kesukaannya.
Bibi yang merasa di panggil oleh majikannya pun segera meninggalkan pekerjaannya demi menghadap si majikan kejamnya. Takut jika kelamaan datang si majikan akan memenggal kepalanya seperti yang sudah seringkali dia lihat di belakang rumah besar ini.
"Siap Tuan. Anda memanggil saya?" ucap Bibi setelah ada di depan majikannya yang kejam itu.
"Mana Liga?" tanya Mafia dia menatap Bibi. Tatapan Mafia hanya biasa saja. Tapi di mata Bibi tatapan itu seperti belati yang akan menusuknya saat itu juga.
"Sa-saya nggak tahu, Tuan. So-soalnya dari tadi saya sibuk di dapur, em, bikin menu makan siang."
"Suruh dia ke sini, cepat!"
Bibi mengangguk. "Siap Tuan, permisi,"
Bibi segera keluar dari kamar tuannya. Dia mencari Liga ke seluruh ruangan rumah besar ini. Tapi sampai dia hampir kehabisan napas pun Bibi sama sekali tidak menemukan batang hidung Liga.
"Di mana dia? Kenapa dia menyusahkan banget?" si Bibi mengambil napas perlahan supaya napasnya jauh lebih teratur. Tapi dia di buat terkejut saat melihat tuannya berjalan ke arahnya. Jujur saja saat ini lutut Bibi terasa lemas dan gemetar. Sungguh Bibi takut sekali.
"Sudah ketemu?" tanya Liga, dia berdiri di depan Bibi dengan tatapan seperti biasa. Tanpa di sadarinya jika yang di tatap merasa ketakutan.
Bibi menggeleng pelan tanpa berani untuk bersuara. Bahkan kepalanya semakin menunduk dalam.
"Ck! Ya sudah, aku cari sendiri saja. Selesaikan tugas kamu. Aku sudah laper." Setelah mengatakan itu Mafia meninggalkan Bibi untuk mencari Liga.
Sambil berjalan mencari Liga. Mafia teringat dengan mimpinya. Apa mimpi itu nyata adanya? Atau?
"Ah! Aku tahu! Terakhir kali aku ninggalin Liga sama mayat penyusup itu dibelakang rumah. Jangan jangan mayat itu hidup lagi dan membawa Liga pergi. Astagaaa,"
Mafia mempercepat langkahnya untuk cepat sampai di belakang rumah. Begitu sampai di sana, yang pertama Mafia lihat adalah gundukan tanah yang masih baru. Itu artinya Liga sudah berhasil mengubur mayat penyusup itu. Tapi, di mana Liga sekarang?
"Woy, Ga! Kamu di mana?!"
Suara Mafia menggema tapi anehnya sampai beberapa kali dia berteriak Liga tidak kunjung muncul juga. Sampai pada akhirnya sendalnya tak sengaja menginjak selembar daun yang aneh dan tak biasa.
Jika anak buah mu yang tak berguna ini ingin selamat. Temui aku.
"Woaaah, rupanya ada yang berani main main sama aku ya. Kurang ajar kalian!" Mafia menginjak daun itu yang ternyata berisi pesan. Wajahnya menggeram marah tapi masih bisa terkondisikan.
*
Sementara itu, di sebuah gedung gelap dan berdebu. Dua orang laki laki berbadan kekar tengah memberikan hukuman pada laki laki yang tidak lain adalah Liga.
Liga berulangkali menjerit ketakutan. Liga berulangkali juga memohon untuk di lepaskan. Liga juga meminta mereka untuk menghentikan hukuman untuknya. Tetapi, mereka berdua sama sekali tidak mendengarkannya. Mereka berdua terlihat sengaja menulikan pendengarannya.
"Stop!"
Mendengar suara dari arah lain membuat Liga dan kedua laki laki yang sedang memberi hukuman untuk Liga pun menoleh. Kedua laki laki itu pun segera berhenti menghukum Liga karena tuannya yang memintanya. Sedangkan Liga, dia merasa beruntung karena kehadiran wanita itu membuatnya berhenti di hukum.
"Tinggalkan kami berdua!" kata si wanita dengan tegas.
"Baik, Tuan putri," Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan tempat itu, menyisakan Liga dan si wanita yang tadi menculiknya.
Setelah kepergian kedua anak buahnya, wanita yang bernama Vair ini mendekati Liga. Tanpa rasa takut Vair mencengkram rahang tegas Liga.
"Hai, lepasin aku! Kamu siapa hah?!" Liga memberontak, tapi percuma, Liga tidak bisa berbuat banyak karena dia terduduk dikursi kayu dengan keadaan sekujur tubuh terikat kuat.
"Tidak penting aku siapa. Yang terpenting adalah, dimana sahabatmu itu hah? Apa dia tidak merasa kehilanganmu?"