"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rumah Tangga Bukan Dongeng
...GAMON...
...Bab 21: Rumah Tangga Bukan Dongeng...
...POV Bima...
---
Enam Bulan Setelah Pertemuan di Mal
Tiga Bulan Bima dan Rina Resmi Tinggal Satu Atap
Seminggu Rina Mulai Bicarakan Masa Depan
---
Sabtu – 17.30 WIB
Apartemen Rina – Lantai 12
Matahari sore masuk lewat jendela. Persegi-persegi panjang cahaya jingga jatuh di lantai keramik, bikin ruang tamu itu keliatan kayak lukisan abstrak. Debu-debu kecil menari-nari di udara, kena sinar.
Bima duduk di sofa. Posisi sama kayak sejam lalu. Nggak berubah.
Di depannya, meja kayu penuh bekas makan. Piring-piring kotor, gelas-gelas sisa minuman, dan satu mangkuk besar—bekas sop iga yang tadi dimasak Rina. Masih ada sisa dikit di dasar mangkuk. Kuahnya udah beku jadi lapisan tipis.
Bau masakan masih mengambang di udara. Bawang putih, jahe, sedikit pala. Wangi yang familiar. Wangi rumah.
Tapi Bima nggak benar-benar nyium.
Pandangannya kosong ke arah jendela. Matanya nggak kedip. Tangannya di pangkuan, satu megang ponsel yang layarnya udah mati, satu lagi di atas paha—jemari nggak bergerak.
Dari dapur, suara air mengalir. Rina lagi cuci piring. Sesekali kedengeran suara piring benturan kecil, suara sendok jatuh ke wastafel, suara Rina bersenandung pelan—lagu lama yang nggak Bima kenal.
Dia seneng? Mungkin.
Tapi kenapa perutnya mules? Kenapa dadanya sesekali berdebar kayak ada yang salah?
"Bim!"
Suara Rina dari dapur. Nyaring, tapi tetap lembut.
"Hmm?"
"Lo mau kopi lagi? Aku bikin."
"Nggak usah."
Diam. Suara air berhenti.
Beberapa detik kemudian, Rina muncul di ambang pintu dapur. Kaus putih longgar, rambut diikat asal, beberapa helai lepas nempel di pelipis—basah keringat. Tangannya megang lap, ngelap-ngelap jari.
"Lo kok di situ terus? Dari tadi nggak gerak."
Bima nengok. Senyum tipis. "Lagi mikir."
Rina jalan mendekat. Duduk di ujung sofa—agak jauh. Bukan sengaja jaga jarak, tapi emang sofa panjang.
"Mikir apa?"
"Banyak."
Rina nunggu. Tapi Bima diem. Matanya balik ke jendela.
Rina tatap dia. Beberapa detik. Lalu dia geser, duduk lebih deket. Ambil tangan Bima. Jemari Rina—hangat, agak basah—menyelip di sela jari Bima.
"Lo tahu, kadang aku bingung sama lo."
Bima nengok. "Bingung kenapa?"
"Lo bisa diem berjam-jam. Diem kayak patung. Aku suka tebak, di dalam kepala lo itu apa. Siapa."
Kata terakhir itu—siapa—diucapin pelan. Tapi berat.
Bima nahan napas sejenak.
"Nggak ada siapa-siapa."
Rina senyum. Senyum yang sama sekali nggak nyampe ke mata.
"Bohong."
Diam.
---
18.15 WIB
Ruang Tamu – Masih di Sofa yang Sama
Matahari makin turun. Jingga mulai bergeser jadi ungu di ufuk. Lampu-lampu apartemen di seberang mulai nyala satu per satu. Kotak-kotak cahaya kuning di gedung tinggi.
Bima dan Rina masih di sofa. Posisi udah berubah: Rina nyender di pundak Bima, kaki dilipat, tangan di dadanya. Bima duduk tegak, satu tangan melingkar di pinggang Rina—otomatis, kayak refleks.
"Bim."
"Hmm?"
"Aku mau nanya sesuatu."
"Apa?"
Rina angkat kepala. Tatap Bima. Matanya—bulat, cokelat, dengan sedikit bintik-bintik emas kena sisa cahaya—nggak kedip.
"Lo udah kepikiran... masa depan?"
Bima diem. Tangannya di pinggang Rina agak kaku.
"Maksud lo?"
"Kita." Rina nunjuk Bima, nunjuk diri sendiri. "Kita berdua. Udah hampir setahun. Lo nggak pernah bahas. Aku juga nggak pernah nanya. Tapi aku rasa... kita harus mulai."
Bima telan ludah. Tenggorokannya kering.
"Maksud lo... nikah?"
Rina senyum tipis. Tapi senyum yang tegang. Bibirnya aga bergetar.
"Iya. Lo keberatan?"
Jeda.
Dua detik.
Dalam dua detik itu, Bima nggak ngomong apa-apa. Matanya lurus ke depan, ke jendela, ke langit yang mulai gelap. Pikirannya muter cepat. Terlalu cepat. Kayak video yang di-fast forward.
· Flashback angkringan.
· Flashback kata "predictable".
· Flashback Keana.
· Flashback hancur.
· Flashback Rina dateng jam 11 malam.
· Flashback Rina bersihin kost.
· Flashback Rina bilang "lo nggak sendirian".
Dua detik. Tapi di dalem kepala Bima, udah lewat lima tahun.
Dan di dua detik itu, Rina lihat semuanya.
Dia lihat ragu di mata Bima. Dia lihat Bima pergi—nggak secara fisik, tapi secara mental. Dia lihat dirinya sendiri, lagi duduk di sofa, nunggu jawaban, dengan dada yang mulai sesak.
"Lo... nggak mau?"
Suara Rina pecah di ujung.
Bima kaget. Cepet-cepet pegang tangannya.
"Bukan gitu, Rin. Gue mau. Tapi—"
"Tapi?"
Bima nyari kata-kata. Susah. Kayak nyari jarum di tumpukan jerami.
"Gue cuma... nggak mau kita buru-buru."
Rina diem. Matanya turun ke tangan mereka yang saling genggam.
"Ini udah setahun, Bim."
"Aku tahu."
"Dan kita udah tinggal bareng. Udah kayak suami istri. Tidur bareng. Masak bareng. Berantem bareng. Baikan bareng." Rina ngomong pelan. Setiap kata kayak ditimbang. "Tapi lo nggak pernah bahas masa depan. Lo nggak pernah bilang, 'Rin, aku lihat kita lima tahun lagi.' Lo nggak pernah."
Bima diem.
"Aku mulai... bertanya-tanya."
Rina angkat muka. Matanya basah. Tapi air mata belum jatuh. Dia tahan.
"Lo takut?"
Pertanyaan itu. Sama persis kayak yang Bima tanyain ke diri sendiri tiap malem.
"Takut?"
"Iya. Takut nikah. Takut... ulang sejarah."
Bima kaget. Matanya melebar dikit.
"Gue—"
"Aku tahu, Bim." Rina potong. Lembut. "Aku tahu lo masih berproses. Aku tahu lo punya luka. Aku tahu... ada bayangan."
Bima nggak bisa ngomong.
"Aku nggak buta." Rina senyum pahit. "Aku lihat cara lo melamun. Aku lihat cara lo diem pas malem. Aku lihat cara lo pegang ponsel, buka galeri, terus tutup cepet-cepet."
Diam.
"Aku tahu itu bukan aku."
Udara di ruangan itu berubah. Jadi berat. Jadi susah dihirup.
Bima buka mulut. Mau ngomong sesuatu. Tapi nggak ada yang keluar.
Rina maju. Lebih deket. Tangannya masih di tangan Bima. Digenggam erat.
"Bim, lo boleh jujur."
Suaranya bergetar. Tapi matanya lurus. Nggak mingkem.
"Aku nggak akan marah. Aku cuma mau tahu."
Bima tatap dia. Lama.
Di mata Rina, dia lihat kelelahan. Kelelahan yang selama ini disembunyiin. Kelelahan yang muncul setiap kali dia diem, setiap kali dia nggak nanya, setiap kali dia milih buat sabar.
Dan tiba-tiba, Bima sadar.
Rina bukan cuma kuat. Rina juga capek. Dan selama ini, dia nggak pernah lihat itu.
"Gue takut."
Suara Bima keluar. Serak. Kayak orang baru bangun tidur.
Rina nggak nyela.
"Gue takut kalau kita nikah, nanti... gue jadi orang yang sama. Yang lupa cara mencintai. Yang lupa cara hadir. Yang bikin lo ngerasa sendiri."
"Lo bukan orang itu lagi, Bim."
"Tapi bayangannya masih ada." Bima tatap Rina. Matanya mulai basah. "Di kepala gue. Setiap kali gue lihat lo bahagia, gue takut. Takut itu ilusi. Takut suatu hari lo bangun dan sadar lo salah milih."
Rina diem. Tapi matanya—matanya berkaca-kaca.
"Gue takut lo pergi."
Kata terakhir itu keluar bareng air mata. Jatuh satu. Nggak banyak. Tapi cukup.
Rina lihat itu. Dan dia—buat pertama kalinya—ngeliat Bima yang beneran. Bukan Bima yang kuat. Bukan Bima yang selalu bisa diandelin. Tapi Bima yang ketakutan. Yang masih luka. Yang masih belajar.
Rina angkat tangan. Usap air mata di pipi Bima. Pelan.
"Makasih."
Bima bingung. "Makasih buat apa?"
"Makasih udah jujur." Rina senyum. Senyum yang lemes. Tapi nyata. "Lo nggak tahu, udah berapa lama aku nunggu lo ngomong kayak gini."
Bima diem.
"Aku tahu lo punya masa lalu. Aku tahu lo pernah luka. Aku nggak minta lo lupain semuanya dalam sehari."
Rina pegang tangannya. Lebih erat.
"Tapi aku cuma minta... lo mau jalan bareng. Nggak perlu cepet. Nggak perlu sempurna. Tapi jalan."
Bima tatap dia. Lama.
"Lo nggak capek nunggu gue?"
"Capek." Rina jujur. Nggak ditutupin. "Capek banget, Bim. Kadang aku nangis di kamar mandi. Kadang aku pengen teriak. Kadang aku pengen pergi."
Bima nahan napas.
"Tapi lebih capek kalau nggak ada kepastian. Dan sekarang, pas lo jujur kayak gini... aku lega."
Rina tarik napas. Dalam.
"Karena aku tahu, lo masih berusaha. Dan selama lo masih berusaha, aku akan tetap di sini."
Bima nggak bisa nahan lagi. Dia tarik Rina ke pelukan. Erat. Kayak orang tenggelam yang nemu pelampung.
Rina balas peluk. Tangannya usap-usap punggung Bima. Lambat. Nenangin.
Di pelukan itu, Bima nangis. Nangis kayak anak kecil. Nggak malu. Nggak ditahan.
Dan Rina cuma gendong. Nggak ngomong apa-apa. Cuma ada.
---
21.00 WIB
Balkon Apartemen – Lantai 12
Rina udah tidur. Kecapean. Mungkin juga nangis.
Bima di balkon. Sendirian. Kopi di tangan—udah dingin dari tadi. Nggak diminum. Cuma dipegang.
Dia lihat ke bawah. Lampu-lampu Jakarta. Macet di jalan tol. Orang-orang pulang. Hidup terus jalan.
Dia ingat obrolan tadi malam.
"Lo takut nikah?"
"Iya."
"Lo takut gue pergi?"
"Iya."
"Lo masih sayang dia?"
Itu yang nggak ditanya Rina. Tapi Bima tahu, di dalam hati Rina, pertanyaan itu ada. Terus ada. Dan mungkin nggak akan pernah bener-bener ilang.
Bima tutup mata. Angin malem sepoi. Dingin.
Di dalem kepala, muncul wajah Keana. Bukan Keana yang nyakitin. Tapi Keana yang dulu. Yang masak sop iga. Yang tidur di pangkuannya di kereta. Yang bilang "aku sayang kamu" dengan mata beneran.
Itu dulu. Udah lewat.
Tapi kenapa masih ada?
Bima buka mata. Tatap langit. Gelap. Nggak ada bintang.
"Maaf, Rin." bisiknya. "Maaf gue masih kayak gini."
Dari dalam kamar, Rina buka mata. Dia dengar Bima ngomong sesuatu. Nggak jelas. Tapi dia tahu Bima di luar.
Dia nggak bangun. Nggak nanya.
Dia cuma tatap langit-langit. Dan air matanya jatuh pelan, tanpa suara.
---
22.30 WIB
Kamar Tidur
Bima masuk. Gelap. Rina tidur—atau pura-pura tidur. Bima tahu. Dari napasnya. Tapi dia diem.
Dia buka selimut. Masuk. Jarak mereka beberapa senti.
Bima pejam mata. Capek. Tapi susah tidur.
Dari belakang, tangan Rina melingkar di pinggangnya. Pelan.
"Bim."
Suara Rina sayup. Kayak orang setengah tidur.
"Hmm?"
"Aku sayang lo."
Bima diem sebentar. Lalu tangannya pegang tangan Rina yang melingkar di pinggang.
"Aku juga."
Diam. Tapi kali ini, diam yang hangat.
---
Bersambung ke Bab 22: Cincin di Jari, Tanda Tanya di Hati
---
...📝 Preview Bab 22:...
Bima akhirnya beli cincin. Dia nggak tahu harus gimana caranya. Tapi dia tahu, dia harus maju.
Lamarannya sederhana. Nggak mewah. Tapi Rina nangis bahagia.
Malemnya, Bima mimpiin Keana. Bangun keringetan. Rina di sampingnya tidur pulas—nggak tahu apa-apa.
Bima duduk di kamar mandi. Ngeliat diri sendiri di cermin. Dan nanya: "Lo bahagia nggak, Bim?"
Dia nggak bisa jawab.
Bab 22: Cincin di Jari, Tanda Tanya di Hati—segera!
---