Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebenaran yang Mengejutkan
Rachel melangkah cepat menyusuri lorong panjang di lantai atas rumah itu. Lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer yang dingin. Tangannya mengepal ringan di sisi tubuh, bukan karena marah, tapi karena gugup. Ia sudah memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya pada Liam. Ia bahkan sudah menata keberanian sejak sore tadi. Dan malam ini, ia tidak ingin menundanya lagi.
Kamar Liam berada di ujung lorong. Pintu besar itu tertutup rapat, seperti biasa—tampak sunyi dan tak tersentuh. Rachel mempercepat langkahnya, hingga akhirnya sebuah suara menghentikannya.
“Maaf, Nona…”
Rachel pun menoleh. Seorang pelayan wanita berdiri beberapa langkah di belakangnya. Usianya tak muda lagi, rambutnya disanggul rapi, dan punggungnya sudah tidak begitu tegak. Sikapnya sopan, tapi ada ketegasan yang tidak dibuat-buat di sana.
“Tuan sedang tidak ada di rumah.”
Kalimat itu terlontar dengan nada sederhana, nyaris datar, tapi efeknya langsung terasa dan membuat Rachel menghentikan langkahnya. Napas yang sejak tadi ia jaga mendadak tertahan. Dan pandangannya kembali ke pintu kamar Liam, lalu turun ke lantai, seolah rencana yang ia susun rapi beberapa saat tadi mendadak runtuh tanpa suara.
“Oh,” gumamnya pelan. Bukan kecewa yang dramatis. Lebih seperti kehilangan arah.
Ia mengangguk singkat pada pelayan itu, lalu melangkah menjauh beberapa langkah sebelum berhenti lagi. Keraguan terasa hanya sepersekian detik, sebelum akhirnya ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.
Ia menelpon Liam. Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya diangkat.
“Ya?” Suara Liam terdengar tenang seperti biasa.
“Kapan Anda akan pulang?” tanya Rachel, langsung ke intinya. Ia tidak ingin berputar-putar.
“Aku sedang ada urusan,” jawab Liam, tidak defensif, juga tidak menjelaskan lebih jauh. “Aku tidak akan ada di rumah selama beberapa hari.”
Rachel menelan ludah. Ia menatap dinding di depannya, fokus agar suaranya tetap stabil. “Aku… ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Hening singkat pun terasa dari balik panggilan telepon itu. Bukan hening canggung, lebih seperti Liam sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Kalau begitu, tunggu aku pulang,” katanya akhirnya. “Paling cepat lusa.”, lanjutnya. Tidak ada janji di sana, tidak ada nada menenangkan, melainkan hanya pernyataan akan sebuah fakta.
Lalu sambungan telepon pun terputus setelah itu, dan Rachel menurunkan ponselnya perlahan. Ia berdiri di lorong itu beberapa detik, tampak tidak bergerak. Kini, rumah besar itu terasa berubah, dinding-dindingnya sama, lampunya sama, tapi kehadiran yang tadi ia cari, dan yang ia butuhkan malam ini tidak ada.
Ia tidak takut. Anehnya, bukan itu yang ia rasakan. Yang ada justru rasa kosong yang halus dan menyusup tanpa izin. Rasanya seperti baru menyadari bahwa ia sendirian, padahal sebelumnya ia tidak merasa demikian. Bahwa ada seseorang yang sedang ia tunggu, dan kenyataan itu sendiri membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Rachel menghela napas pelan, lalu berbalik arah. Langkahnya lebih lambat saat meninggalkan lorong itu, membawa serta niat yang belum sempat ia ucapkan, dan kesadaran baru bahwa menunggu pun bisa menjadi bentuk ketegangan tersendiri.
Ia masuk kembali ke dalam kamarnya. Namun keheningan dan kesunyian itu perlahan menenggelamkan dirinya. Padahal kedua matanya masih sangat segar. Ia belum ingin berbaring di atas tempat tidurnya.
Hingga akhirnya, Rachel keluar lagi dari kamarnya beberapa saat kemudian. Bukan karena ia lapar—setidaknya bukan itu alasan utamanya, melainkan karena ia tidak sanggup terus diam di ruang yang terlalu sunyi. Rumah ini terasa berbeda tanpa kehadiran Liam—rasanya jauh lebih kosong dan lebih bergema.
Di ujung koridor, pelayan senior yang tadi menghentikannya masih berada di sana. Wanita itu menoleh begitu melihat Rachel mendekat, lalu menunduk sopan.
“Apakah Nona ingin saya siapkan makan malam?” tanyanya dengan nada hati-hati, seolah setiap kata harus diucapkan dengan tepat dan tertata.
Rachel tampak ragu sejenak. Ia tidak ingin merepotkan, juga tidak ingin terasa seperti memerintah. Apalagi setelah seharian penuh emosi yang bercampur di dalam dirinya.
“Tidak perlu repot-repot,” jawabnya pelan. “Aku… aku bisa menyiapkannya sendiri.”
Kalimat itu langsung membuat wajah pelayan itu berubah. Matanya membesar sedikit dan tubuhnya menegang.
“Nona, jangan,” katanya cepat. “Itu bukan—itu pekerjaan saya. Kalau Tuan tahu—”
Rachel mengangkat tangan, menghentikannya dengan gerakan kecil tapi tegas. “Tidak apa-apa. Sungguh,” ujarnya. “Kalau Tuan Smith marah, aku yang akan menanggungnya.”, nada suaranya tidak menantang. Justru tenang dan meyakinkan.
Pelayan itu tampak semakin gelisah. Ia menoleh ke arah dapur, lalu kembali ke Rachel, seolah mencari jalan keluar yang aman. “Tuan tidak suka aturannya dilanggar,” katanya lirih.
“Aku tahu,” balas Rachel jujur. “Tapi malam ini… aku hanya tidak ingin makan sendirian tanpa melakukan apa-apa.”
Keheningan singkat pun perlahan menyusul. Akhirnya, pelayan itu menghela napas panjang, bahunya sedikit mengendur, dan ia pun menyerah pada situasi yang tidak biasa.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Saya akan menemani.”
Dapur itu tampak bersih, tertata rapi, dan terlalu sempurna untuk terasa hidup. Rachel membantu memotong sayuran, memanggang roti, dan melakukan hal-hal sederhana yang selama ini menjadi rutinitasnya sebelum semua kekacauan ini terjadi. Pelayan itu—yang kini ia tahu bernama Sarah Cassel, mengawasinya dengan rasa cemas di awal, lalu perlahan mulai membantu tanpa terlalu banyak berkomentar.
Saat makanan siap, Rachel tidak langsung membawa piringnya ke ruang makan besar. Ia memilih meja kecil di sisi dapur, yang lebih hangat dan lebih manusiawi.
“Silahkan duduk, Mrs. Cassel” kata Rachel tiba-tiba, menoleh pada Mrs. Cassel. “Temani aku.”
Wanita itu tampak terkejut. “Nona, saya—”
“Rachel,” potongnya lembut. “Panggil aku Rachel saja.”
Mrs. Cassel ragu, lalu duduk dengan hati-hati di kursi seberang. Jarak mereka tidak jauh. Di sana, dua orang asing yang sama-sama terbiasa berada di balik peran masing-masing sedang duduk di meja makan yang sama.
Rachel mulai menikmati makan malamnya. Suara sendok menyentuh piring terdengar lebih jelas dari biasanya. Dan rumah ini terlalu sunyi untuk menyamarkannya.
"Anda tidak makan, Mrs. Cassel?", tanya Rachel, penuh perhatian. Sebab sosoknya mengingatkannya pada Mrs. Portman.
"Tidak, Nona—"
"Rachel." koreksi Rachel, cepat.
"Tidak, Rachel. Saya sudah makan tadi.", jawab Mrs. Cassel, agak gugup.
“Apakah Anda sudah lama bekerja di sini?” tanya Rachel akhirnya. Nada suaranya ringan, tidak ada nada menyelidik.
“Hampir tujuh tahun,” jawab Mrs. Cassel. “Sejak rumah ini masih jarang dihuni.”
Rachel mengangguk pelan. “Tuan Smith… orang seperti apa dia?”
Pertanyaan itu membuat Mrs. Cassel terdiam. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Beliau pria yang baik,” katanya akhirnya. “Tidak banyak bicara, memang. Tegas. Kadang juga dingin.” Ia tersenyum tipis. “Tapi beliau sangat perhatian.”
Rachel mendengarkan tanpa menyela.
“Kesepian membuat orang menjaga jarak,” lanjut Mrs. Cassel. “Dan Tuan… sudah lama sendiri.”
Kata-kata itu menetap di kepala Rachel. Ia teringat sorot mata Liam, caranya menarik diri, dan caranya mengendalikan ruang di sekitarnya.
Mrs. Cassel lalu menarik napas dalam, seolah telah membuka pintu yang jarang ia buka. “Suami saya meninggal beberapa tahun lalu,” katanya. “Saya hampir tidak punya apa-apa waktu itu. Dan, anak saya yang terakhir masih berusia sepuluh tahun.”
Rachel menatapnya penuh perhatian.
“Sejak saat itu Tuan Smith yang menanggung semuanya,” lanjutnya. “Biaya hidup, sekolah, dan bahkan sampai sekarang.” Ia tersenyum, kali ini lebih hangat. “Tanpa pernah meminta ucapan terima kasih. Beliau melakukannya dengan niat yang tulus.”
Rachel merasakan dadanya mengencang. Ada getaran halus yang sulit ia jelaskan. Ini bukan cerita yang benar-benar menjelaskan sosok Liam seperti yang ia lihat selama ini. Dan ini juga bukan citra yang ia lihat secara langsung. Justru karena itu, cerita ini terasa lebih jujur.
Setelah makan malam selesai, Rachel tidak langsung beranjak dari kursinya. Ia mengumpulkan piring-piring kosong dan berdiri, bergerak menuju wastafel sebelum Mrs. Cassel sempat bereaksi.
“Nona—Rachel, biar saya saja,” kata wanita itu cepat, ikut berdiri. Nadanya refleks, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup dengan aturan yang tak boleh dilanggar. “Itu tugas saya.”
Rachel menoleh sambil tetap memegang piring. Senyumnya kecil, tapi tegas. “Aku tahu. Tapi aku ingin melakukannya.” Ia tidak mengucapkannya sebagai permintaan. Lebih seperti keputusan yang tenang.
Mrs. Cassel tampak ragu. Tangannya terangkat setengah, lalu jatuh kembali ke sisi tubuhnya. “Tuan tidak suka—”
“Aku tahu,” potong Rachel lembut, tanpa nada menentang. “Dan aku akan bertanggung jawab kalau ada masalah.”
Rachel mulai mencuci piring. Air keran pun mengalir pelan, dengan suara gesekan spons terdengar jelas di dapur yang kembali sunyi. Gerakan Rachel tidak terburu-buru, ia melakukan semuanya dengan penuh perhatian, seolah setiap piring yang bersih adalah cara kecil untuk menenangkan dirinya sendiri.
Mrs. Cassel akhirnya duduk kembali, memperhatikan dari jarak aman. Tidak lagi panik, hanya bingung dan sedikit tersentuh.
Bagi Rachel, ini bukan soal pekerjaan rumah, tapi ini tentang melakukan sesuatu yang nyata—sesuatu yang berada sepenuhnya dalam kendalinya. Di rumah ini, di hidupnya belakangan ini, terlalu banyak hal yang diputuskan orang lain. Membersihkan piring mungkin tampak sepele, tapi malam ini, itu adalah caranya merasa lebih bebas.
Setelah semuanya rapi, Rachel mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, lalu menoleh. “Terima kasih,” katanya tulus. “Sudah mau menemaniku makan malam ini, Mrs. Cassel.”
Mrs. Cassel tersenyum tipis. “Sama-sama, Rachel.”
Rachel mengangguk, lalu berpamitan. Langkahnya menuju kamar terasa lebih lambat dari sebelumnya. Bukan karena lelah, tapi karena pikirannya sedang penuh.
Di dalam kamar, ia menutup pintu dan bersandar sebentar, lalu menghela napas panjang. Rencana negosiasi masih ada di kepalanya—tawaran yang sudah ia siapkan dengan hati-hati. Tapi kini, ada hal lain yang ikut menyertainya, yakni potongan-potongan fakta kecil tentang Tuan Smith yang tidak ia dapatkan darinya secara langsung.
Ia bukan sekadar pria asing yang tiba-tiba hadir dan memberikan bantuan dalam hidupnya. Bukan juga sekadar pria asing yang terlibat kesepakatan dengannya tentang harga yang tidak bisa Rachel penuhi. Ia adalah sesuatu di antara keduanya. Dan kesadaran itu membuat Rachel paham akan satu hal, bahwa apa pun yang akan ia hadapi setelah ini, mungkin tidak akan sesederhana yang ia harapkan.