Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Dunia Oliver Bernardo runtuh dalam kesunyian. Setelah meninggalkan bandara O’Hare dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia tidak pergi ke hotel atau menghilang ke pelukan ayahnya di pinggiran Chicago. Ia kembali pulang ke Mansion Cavanaugh, kediaman megah kakeknya, tempat di mana rencana besar pertunangannya pertama kali disusun.
Langkah kakinya menggema di lantai marmer yang dingin. Di ruang keluarga yang luas, seluruh petinggi keluarga Cavanaugh dan Bernardo telah berkumpul, termasuk ibunya, Betavie.
Mereka menanti kepulangan Oliver dan Archello dengan senyum kemenangan, bersiap merayakan hasil pertemuan dengan ayah Oliver yang dianggap sebagai langkah final menuju pernikahan.
Namun, Oliver datang sendirian. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan jari manisnya kosong.
"Kek, aku sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan itu," suara Oliver bergetar, namun tegas. "Archello tidak akan pernah bisa mencintaiku. Dia... dia sudah menemukan dunianya kembali."
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu, sebelum akhirnya atmosfer berubah menjadi mencekam. Sang kakek, kepala keluarga Cavanaugh yang dikenal tak kenal ampun, berdiri dari kursi kebesarannya. Ia berjalan perlahan mendekati Oliver.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Oliver, membuat wajah gadis itu terlempar ke samping. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga sudut bibir Oliver pecah dan mengeluarkan darah. Oliver tersungkur di atas lantai marmer, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut.
"Kau menyerah hanya karena dia tidak menatapmu, hah?!" raung kakeknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kita sudah sampai di tahap ini! Seluruh saham, aliansi, dan harga diri keluarga dipertaruhkan, dan kau ingin menyerah begitu saja?"
Ia meludah ke samping dengan jijik. "Cuiih! Kau benar-benar tidak berguna. Aku bahkan menyuruhmu untuk membuka kedua kakimu bila perlu, agar pria itu terikat padamu selamanya! Jika dia tidak memberikan hatinya, kau seharusnya mengambil raganya!"
Oliver mendongak dengan tatapan tidak percaya. Air mata kemarahan mulai mengalir. "Kek... apa maksudmu? Kau menyuruhku menjual diriku?"
Kakeknya tidak menjawab Oliver. Ia justru berbalik menatap Betavie, ibu Oliver, dengan tatapan tajam yang mematikan. "Betavie! Lihat anakmu ini. Kau tidak mengajarinya untuk menjadi licik. Ini pasti didikan dari mantan suamimu yang lemah itu. Dia tumbuh menjadi gadis cengeng yang memuja perasaan daripada kekuasaan!"
Betavie hanya tertunduk, tidak berani membela anaknya sendiri di hadapan sang tiran.
"Dengarkan aku baik-baik," kakeknya kembali menatap Oliver dengan mata menyipit. "Buat rumor malam ini juga. Katakan pada pers bahwa Oliver hamil, dan Archello Dominic harus bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya."
Deg. Jantung Oliver seolah berhenti. "Tidak, Kek! Archello bahkan tidak pernah menyentuhku! Dia pria terhormat, dia tidak akan percaya pada kebohongan serendah itu!"
"Dia tidak perlu percaya, dunia yang harus percaya!" kakeknya berteriak. "Begitu rumor ini meledak, Dominic Group tidak akan punya pilihan selain melangsungkan pernikahan untuk menyelamatkan nama baik mereka. Kurung dia, Betavie! Bawa dia ke kamarnya dan sita semua alat komunikasinya. Pastikan rumor ini menjadi berita utama di seluruh New York dan Chicago malam ini juga!"
"Baik, Ayah," sahut Betavie dengan suara dingin, seolah nurani keibuannya telah mati demi ambisi keluarga.
Oliver diseret paksa menuju kamarnya oleh para penjaga. Ia berteriak, memohon, namun suaranya tenggelam di balik dinding-dinding mansion yang tebal. Ia terjebak dalam sangkar emas, menjadi pion dalam permainan kotor kakeknya sendiri.
Di sudut lain Chicago, suasana jauh lebih emosional namun tulus. Di ruang tamu kediaman keluarga Taylor yang sederhana namun hangat, Archello Dominic bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki ayah Lyodra.
Pria yang biasanya angkuh dan tak tersentuh itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Paman, aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta apa pun setelah apa yang terjadi. Tapi aku bersumpah, demi nyawaku sendiri, aku hanya mencintai Lyodra. Selama empat tahun aku hidup dalam kegelapan karena mengira dia tiada. Tolong... jangan pisahkan kami lagi."
Ayah Lyodra menatap pria muda di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia teringat bagaimana hancurnya Archello di lokasi kecelakaan dulu, dan bagaimana keluarga Taylor dengan sengaja menutup semua akses karena dendam pada keluarga Dominic yang kolot.
"Archello, berdirilah," ucap ayah Lyodra pelan. "Keluargamu mungkin tidak akan pernah menyukai kami. Mereka menginginkan wanita dari kasta yang sama denganmu. Aku tidak mau kau menjadi pembangkang dan merusak hubunganmu dengan orang tuamu hanya karena putriku."
"Aku tidak peduli pada kasta atau warisan, Paman," Archello mendongak, matanya merah namun penuh tekad. "Aku sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya saat Lyodra 'mati'. Jika aku harus kehilangan gelar Dominic untuk mendapatkannya kembali, maka aku akan melakukannya tanpa ragu."
Ayah Lyodra terdiam lama, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan meletakkan tangannya di bahu Archello. Ia melihat ketulusan yang murni, jenis cinta yang sanggup melampaui kematian. Ia mengangguk perlahan, memberikan restu yang selama ini terpendam oleh kebencian.
Archello melangkah masuk ke kamar Lyodra. Kamar itu tidak luas, sangat berbeda dari kemewahan mansionnya, namun di sini ia merasa benar-benar pulang. Lyodra sedang duduk di tepi ranjang, menatap jendela. Saat melihat Archello masuk, Lyodra langsung berdiri dan menghambur ke pelukannya.
Mereka berpelukan erat, seolah mencoba menyatukan kembali potongan-potongan jiwa yang sempat berserakan. Archello menghirup aroma rambut Lyodra, aroma yang ia rindukan setiap malam selama empat tahun.
"Kita akan baik-baik saja, Ay," bisik Archello di telinganya. "Ayahmu sudah mengizinkan. Kita akan memulai semuanya dari awal."
Lyodra memejamkan mata, merasakan detak jantung Archello yang tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Bzzz! Bzzz! Bzzz!
Ponsel Archello di atas meja nakas bergetar hebat. Tidak hanya satu, tapi puluhan notifikasi masuk secara beruntun. Archello melepaskan pelukannya dengan kening berkerut. Ia meraih ponselnya dan seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
Grup pesan keluarganya meledak. Panggilan tak terjawab dari ibunya, Beatrice, memenuhi layar. Dan yang paling mengejutkan adalah berita utama dari media sosial dan portal berita online yang dikirimkan oleh asisten pribadinya.
[BREAKING NEWS: PEWARIS DOMINIC GROUP DIDUGA HAMILI TUNANGANNYA, OLIVER BERNARDO, SEBELUM PERNIKAHAN!]
Skandal Besar: Oliver Bernardo Mengaku Hamil, Keluarga Cavanaugh Tuntut Pertanggungjawaban Archello Dominic!
Lyodra melihat perubahan ekspresi Archello dan ikut mengintip layar ponsel tersebut. Tubuhnya mendadak lemas. Foto Oliver yang tampak pucat, foto yang diambil secara paksa oleh kakeknya terpampang jelas sebagai ilustrasi berita.
"Ello... apa ini?" suara Lyodra bergetar.
Archello mengepalkan tangannya hingga gemetar, kemarahan yang luar biasa meluap di matanya. "Ini bohong, Ly! Aku bersumpah, aku tidak pernah menyentuhnya! Ini pasti permainan kotor keluarga nya!"
Belum sempat Archello menjelaskan lebih lanjut, sebuah panggilan masuk dari ibunya kembali muncul. Begitu Archello mengangkatnya, suara Beatrice yang histeris langsung terdengar.
"Archello! Apa yang kau lakukan?! Kau menghamili Oliver dan sekarang kau malah menghilang dengan wanita itu?! Pulang sekarang juga! Keluarga Cavanaugh sedang menuju mansion kita dengan pengacara! Kau telah menghancurkan nama baik Dominic!"
Archello mematikan teleponnya dengan kasar. Ia menatap Lyodra yang kini kembali menangis, ketakutan bahwa kebahagiaan yang baru saja ia genggam akan kembali direnggut oleh skandal yang menjijikkan.
"Mereka tidak akan membiarkan kita, Ello," isak Lyodra.
"Tidak, Ly. Aku tidak akan membiarkan mereka menang kali ini," Archello menarik Lyodra ke dalam pelukannya lagi, namun kali ini dengan perasaan was-was yang mencekam.
Di luar sana, badai fitnah baru saja dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan lagi kematian, melainkan kelicikan manusia yang haus akan kekuasaan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰