Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Mainaka 'seenaknya' Rajendra
Shanum
Iya inget.
Mainaka
Hari ini Vero sama yang lain mau ke apartemen. Jadi, pergi langsung dari apartemen.
Bukan penawaran, tapi itu sebuah keputusan--yang mau tak mau harus diiyakan Shanum.
Kembali, disaat Jemima dan Canza saling lempar cibiran, Shanum justru melempar tatapannya pada Naka di sebrang sana, tepatnya di samping Vero. Cowok itu ! Bibirnya sudah berdecak malas. Yang benar saja....selalu begitu, sesuka hatinya.
Refleks Shanum menaruh kasar ponselnya dan menyedot teh kotak miliknya sampai tandas. Sikap itu ternotice oleh teman-temannya, "nah kan, suka tiba-tiba banting hape begitu sih, Num...udah dibilangin jangan mainan Omi! Tantrum kan tuh kalo cowoknya ngga sesuai ekspektasi." Pandu bersua asal nyablak.
"Siapa yang mainan begituan! Dibilangin gue ngga mainan aplikasi begituan!" sembur Shanum membuat mereka tertawa, termasuk Naka.
"Asli sih Num? Kok gue jadi penasaran sih?" Kini Frizka yang menganggap asbunnya Pandu itu serius.
Wajah Shanum semakin mengernyit tajam, "bo do!" umpat Shanum melotot semakin membuat mereka tergelak.
"Ya elah Num, mau cari cowok bayangan begitu, yang nyata banyak disini juga..." Canza bicara sambil menepuk-nepuk dadanya, "Juna ada. Gue ada..." ia langsung dihadiahi toyoran dari Lutfi yang terkekeh.
Bahkan Jemima melemparnya dengan bungkus teh kotak kosong, "situ oke?"
"Oke." angguk pemuda dengan perawakan atletis dan hitam manis itu, "i'm fine....thank you lohhh..." jawab Canza membuat Chika tergelak, "dodol ihhh..Mima bukan lagi nanyain kabar Lo!"
Diantara mereka, Naka sudah berdiri duluan dari duduknya, "lah mau kemana, Ka?" tanya Vero.
"Masuk." Jawabnya sekenanya mengepal-ngepal sampah miliknya dan menenteng botol air mineral yang tersisa seperempatnya.
"Belum denger kali, Ka..." kini sahur Pandu dan tak lama, hanya berselang 5 detik, bel masuk memang berbunyi.
"Denger?" tanya Naka yang langsung memancing wajah-wajah kecewa teman-temannya, Naka memang tak pernah gagal membuat teman-temannya mendung, seolah Naka itu diciptakan Tuhan untuk mengakhiri hari santai dan asik setiap orang-orang yang ada di sekitarnya.
Dan seperti yang dijanjikan oleh si pemilik hari, Shanum yang harus repot-repot mendatangi apartemen Mainaka. Begini jika harus memiliki urusan dengan Naka. Tidak ada kata simbiosis mutualisme. Namun ia seolah-olah membuat orang lain merasa sangat membutuhkannya.
Diantara puluhan lantai gedung pencakar langit, ada satu unit yang didiami Naka yang katanya unit itu turun temurun dari om Ganesha.
Gadis dengan sweater biru langit bergambar kucing tanpa hoodie itu menekan tombol lift dengan malas. Naka bilang jika teman-temannya sudah pulang sejak pukul 5 sore. Sementara para orangtua mengajak mereka makan malam selepas isya dengan permintaan yang membuat Shanum merasa harus menenggak sianida saat ini juga.
/
Tok...tok..tok...
Tidak harus menunggu sampai jamuran, Naka langsung melebarkan daun pintu unit untuk gadis dengan rok rempel di atas lutut ini--yang kemudian Shanum masuk begitu saja melewati Naka di gawang, membuka sepatu slip on nya dan mengganti itu dengan sandal rumah.
"Ya ampun, abis pesta soda ya?" Cibir Shanum melihat sampah yang masih berserakan di space depan televisi.
Kemudian Naka menutup pintu unitnya terlebih dahulu untuk selanjutnya ia yang membereskan kekacauan itu.
"Biasa lah kalo ngumpul-ngumpul, kaya yang engga aja." Ia meraup sampah memasukannya ke dalam keresek hitam lalu merapikannya dengan sapu.
"Tunggu dulu deh, gue belum mandi." Ujar Naka.
Shanum yang bersandar di sandaran sofa sambil memperhatikan tunangannya ini beres-beres tanpa mau repot-repot membantu berdecak, "ngapain aja sih dari tadi?"
"Ya kali ada tamu terus ditinggal mandi. Bentar, lagian acaranya abis isya kan?"
Lagi-lagi, Shanum hanya bisa pasrah mengiyakan, "kebiasaan."
Naka tersenyum tipis mengambil handuk sementara Shanum, gadis itu sudah pasti langsung mengotak-atik saluran televisi berbayar.
Gadis itu mengarahkan remote, tapi kemudian ia tersenyum geli, "Ka, Lo nonton dracin ya?!" ia berseru tertawa melihat riwayat pencarian.
"Vero sama Canza!" Jawab Naka bersamaan dengan suara gemericik air dari belakang.
*Nyamperin* Naka, nungguin Naka mandi dan berpakaian atau bahkan pernah pula Shanum menunggu Naka rapat hanya demi kepentingan bersama sudah biasa.
Melihat cowok itu melintas dengan kaos putihnya yang baru dan rambut basahnya, Shanum melirik lalu ikut beranjak ke kamar, saat Naka tak menutup pintunya.
Benar, yang dilakukannya jika ada Shanum memang tak pernah bertelan jank dada, sebisa mungkin ia mengurangi sikap memalukan seperti itu.
Naka sudah menyisir rambutnya, tapi kemudian ia mengacak ya kembali sesuai yang ia mau. Lalu Shanum, berdiri di samping Naka, sedikit menggeser posisi cowok jangkung itu.
Sama-sama bersolek di depan cermin.
"Dimana-mana tuh ngga ada cewek nyamperin sampe nungguin cowok, Ka..." omel Shanum menatap Naka yang ada di sampingnya dari pantulan cermin.
"Aturan dari mana?" tanya Naka.
"Umumnya, lumrahnya...ini kita malah kebalik. Sekali-kali Lo yang nunggu gue sampe jamuran." Lagi, dumelnya. Sementara Naka tersenyum, "udah pernah gue coba kan? Tapi rapat MPK ternyata sesingkat itu."
"Lagian ngapain sih OSIS ngadain rapat sering banget, bawahan Lo tuh udah sering pada ngeluh tau ngga, Ka...kasian."
"Temen-temen Lo yang ngadu?" kini Naka sudah siap menyemprotkan parfumnya di leher dan pakaian.
Shanum menggeleng, "kayanya bukan cuma geng ceriwis doang deh yang ngeluh."
Namun dia Mainaka, mana mau peduli, "banyak lah yang dibahas. MPK kan cuma tau jalannya doang, suksesnya program, sementara otak, pelaksana, eksekutor lapangan, yang punya hajat OSIS..."
Memang tak akan menang berdebat dengan Mainaka, meski Shanum akui, setiap acara yang diadakan OSIS memang selalu all out dan membuat puas pihak sekolah, agenda rutin harian, mingguan, bulanan sampai tahunan mereka terencana dan tertata rapi, bahkan mereka sering menjadi perbincangan hangat di sekolah lain terlebih karena gerakan OSIS SMA Budi Pekerti X yang menginspirasi.
Shanum mengurai rambutnya lalu memasang jepitan di sampingnya satu kembali touch up.
"Cincin Lo mana?" tanya Naka melihat jemari Shanum belum terpasangi cincin pengikat mereka.
"Ada." Shanum mengeluarkannya dari lipatan rempel yang ternyata ada sakunya.
"Lo naro cincin emas kaya naro duit receh?" Naka menggeleng.
"Ya engga. Tadi gue masukin ke tas lah..."
Naka mengangguk dan berlalu duluan dari kamar sambil menerima telfon.
Dan ketika baru saja selesai menyematkan cincin itu, bersamaan dengan Naka yang baru saja selesai bertelfon ria dengan seseorang, bang Handi, "oke siap bang. Thanks ya, besok gue ke kantor."
Shanum tau, jika Naka adalah seorang pengusaha muda, ia merintis bisnis start-up nya sejak dua tahun lalu atau sejak tahun akhirnya di smp, dan ia mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuanya.
.
.
.
.
.
klo keblabasan ya bablas num,,😄
bablas angin e trz kembung,,🤣🤣