Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian Para Tetua
Hawa membunuh yang sangat pekat membekukan udara di pelataran utama Keluarga Shen. Debu dari reruntuhan gerbang kayu ulin masih beterbangan, menempel pada jubah hitam Shen Yuan yang berkibar diterpa angin. Berdiri di atas patung Singa Perunggu raksasa, pemuda berusia lima belas tahun itu menatap puluhan pendekar pilihan di bawahnya dengan pandangan yang sama seperti saat ia menatap kawanan semut.
Wajah Tetua Agung Shen Cangqiu berkedut hebat. Kesombongan dan kebanggaannya sebagai penguasa mutlak Kota Debu Merah baru saja diinjak-injak hingga hancur.
"Lonceng kematian? Kau pikir kau siapa, Anak Haram?!" raung Shen Cangqiu, suaranya menggelegar membawa tekanan dari Ranah Pengumpulan Lautan Qi. "Kau hanyalah seekor anjing cacat yang kebetulan menemukan pusaka sesat! Tetua Dalam, bentuk Formasi Jaring Bintang Tiga! Cincang dagingnya menjadi sepuluh ribu keping!"
"Sesuai perintah Tetua Agung!"
Lima belas Tetua Dalam yang berdiri di belakang Shen Cangqiu mencabut senjata mereka secara serentak. Suara gesekan logam berdenging tajam. Mereka bukanlah penjaga gerbang murahan; masing-masing dari mereka setidaknya berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan, dan tiga di antaranya bahkan telah mencapai Lapisan Kesembilan!
Dalam sekejap mata, lima belas bayangan melesat mengelilingi patung Singa Perunggu tempat Shen Yuan berdiri. Hawa murni mereka saling bertautan di udara, membentuk sebuah formasi penekan yang bertujuan untuk mengunci pergerakan musuh.
"Mati kau, Iblis Kecil! Pedang Pemutus Sungai!" teriak salah satu Tetua Dalam di Lapisan Kedelapan. Ia melompat tinggi, memusatkan cahaya pedang berwarna biru pekat yang panjangnya mencapai dua tombak, menebas lurus ke arah ubun-ubun Shen Yuan.
Di saat yang sama, dua Tetua Dalam lainnya menyerang dari sisi kiri dan kanan menggunakan tombak baja, mengincar titik mematikan di pinggang dan jantung pemuda itu.
Menghadapi serangan dari tiga arah, Shen Yuan bahkan tidak menggeser kakinya dari atas patung perunggu tersebut.
"Barisan semut," gumam Shen Yuan sedingin es purbakala.
Saat pedang biru raksasa itu berjarak satu jengkal dari kepalanya, Shen Yuan hanya mengangkat tangan kanannya. Ia tidak menggunakan senjata, tidak memancarkan hawa murni pertahanan, melainkan menyongsong mata pedang fana tingkat tinggi itu dengan kulit telanjangnya!
Klaaangg!
Suara benturan yang memekakkan telinga meledak. Bunga api memercik dengan buas.
Mata Tetua Dalam yang memegang pedang itu membelalak hampir keluar dari rongganya. Pedang Pemutus Sungai miliknya yang selalu ia banggakan bisa membelah batu karang, kini tertahan dengan sempurna di telapak tangan Shen Yuan! Kulit pemuda itu hanya memancarkan kilau emas gelap yang sangat samar, namun kekerasannya melampaui baja yang ditempa ribuan kali!
"Mustahil! Tubuh ragawi macam apa ini?!" jerit Tetua itu dengan penuh kengerian.
"Tubuh yang akan mengubur kalian," bisik Shen Yuan.
Krek!
Dengan satu cengkeraman kuat, Shen Yuan meremukkan pedang baja itu menjadi serpihan beling. Tanpa memberikan waktu bagi sang Tetua untuk mundur, Shen Yuan menarik ujung pedang yang patah, merangsek maju menembus pertahanan Tetua tersebut, dan meninju dadanya dengan kekuatan penuh.
Bum!
Dada Tetua di Lapisan Kedelapan itu amblas ke dalam. Organ dalamnya hancur menjadi gumpalan darah hancur, dan tubuhnya terlempar sejauh belasan tombak bagaikan layang-layang putus, menabrak pilar aula utama hingga tewas seketika.
Tepat saat itu, dua tombak baja dari sisi kiri dan kanan berhasil menusuk pinggang Shen Yuan. Namun, bunyi Trang! Trang! kembali terdengar. Ujung tombak itu hanya mampu merobek jubah hitamnya, lalu berhenti total saat menabrak kulit Emas Gelap Shen Yuan.
"Giliranku," seringai buas terukir di wajah Shen Yuan.
Langkah Bayangan Hantu!
Sosok Shen Yuan mendadak kabur, meninggalkan dua bayangan hitam di atas patung perunggu. Kedua Tetua penombak itu kebingungan karena senjata mereka menusuk ke udara kosong. Di detik berikutnya, dua telapak tangan yang memancarkan hawa murni iblis berwarna merah kehitaman mendarat tepat di punggung mereka.
Tapak Penghancur Nadi!
Ledakan kekuatan iblis menyapu jalur nadi kedua Tetua Dalam tersebut. Mereka memuntahkan darah segar dan ambruk ke tanah dengan tulang belakang yang terputus.
Tiga ahli tingkat tinggi tewas dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas!
Sisa dua belas Tetua Dalam membeku. Formasi Jaring Bintang Tiga yang mereka banggakan hancur berantakan. Keringat dingin membasahi dahi mereka. Di mata mereka, pemuda berusia lima belas tahun ini bukanlah manusia, melainkan titisan dewa pembantaian.
"Kenapa kalian berhenti?" Shen Yuan memiringkan kepalanya, menjilat sisa darah musuh di sudut bibirnya. "Bukankah kalian ingin mencincangku menjadi sepuluh ribu keping?"
"Bocah sombong! Jangan mengira kau tidak terkalahkan hanya karena kulitmu keras!" Tiga Tetua Dalam di Lapisan Kesembilan akhirnya bergerak. Mereka adalah pilar terkuat keluarga setelah Tetua Agung.
Ketiganya menyelaraskan hawa murni mereka, membentuk gelombang tekanan yang membakar udara. "Tangan Besi Pembakar Jiwa!"
Ketiga Tetua itu menyerang secara serentak, telapak tangan mereka memerah layaknya besi yang baru diangkat dari tungku perapian. Hawa panas yang menyengat menyapu pelataran. Serangan gabungan dari tiga ahli Lapisan Kesembilan ini konon bahkan bisa membuat seorang ahli Lautan Qi harus mundur selangkah.
Namun Shen Yuan hanya tertawa keras. Tawa yang menggetarkan Sembilan Cakrawala.
"Hanya dengan api mainan ini kau ingin membakar jiwaku?! Biar kutunjukkan pada kalian apa itu penelanan mutlak!"
Shen Yuan tidak mundur. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan Sutra Penelan Surga berputar dengan kecepatan penuh di dalam Dantian-nya. Pusaran angin hitam bercampur merah darah meledak dari pori-pori tubuhnya, membentuk sebuah pusaran energi raksasa di sekelilingnya.
Saat ketiga Tangan Besi Pembakar Jiwa itu menghantam dada dan bahu Shen Yuan, mereka tidak merasakan benturan tulang. Sebaliknya, telapak tangan mereka seolah masuk ke dalam rawa tak berdasar!
"A-Apa yang terjadi?! Hawa murniku... tersedot!" teriak salah satu Tetua Lapisan Kesembilan dengan panik. Ia berusaha menarik tangannya, namun seolah ada ribuan lintah tak kasat mata yang mencengkeram nadinya dengan erat.
"Sutra Penelan Surga... berikan semua esensi darah kalian padaku!" raung Shen Yuan.
Daging ketiga Tetua Dalam itu mulai menyusut dengan kecepatan mata telanjang. Hawa murni, intisari darah, dan esensi kehidupan mereka disedot habis secara paksa oleh Nadi Iblis Penelan Surga. Jeritan melengking bergema di udara, namun jeritan itu perlahan berubah menjadi rintihan serak seiring dengan pita suara mereka yang mengering.
Hanya dalam waktu lima belas tarikan napas, tiga ahli puncak Lapisan Kesembilan Keluarga Shen berubah menjadi kerangka berlapis kulit layu yang jatuh berserakan di tanah!
"M-Monster..." sisa Tetua Dalam yang lain mundur dengan kaki bergetar, menjatuhkan senjata mereka. Keberanian mereka telah dihancurkan sepenuhnya.
"CUKUP!"
Sebuah raungan yang memecahkan gendang telinga akhirnya meletus. Tetua Agung Shen Cangqiu tidak bisa lagi menahan diri. Melihat pilar-pilar keluarga dihancurkan satu per satu di depan matanya membuat matanya memerah meneteskan darah.
"Aku sendiri yang akan menguliti dagingmu!"
Shen Cangqiu melompat ke udara bagaikan garuda raksasa. Hawa murni dari Ranah Pengumpulan Lautan Qi meledak tanpa ampun. Di belakang punggungnya, ilusi sebuah pusaran lautan berwarna emas pekat muncul, menyedot hawa murni langit dan bumi di sekitar Kota Debu Merah.
Ini adalah perwujudan sejati dari ahli Lautan Qi! Mereka tidak lagi mengandalkan hawa murni di dalam tubuh, melainkan meminjam kekuatan dari alam itu sendiri!
"Jurus Segel Lautan Qi: Harimau Emas Penelan Matahari!"
Shen Cangqiu menekan kedua telapak tangannya ke bawah. Pusaran lautan emas di punggungnya bergemuruh, lalu menjelma menjadi seekor harimau raksasa yang terbuat dari hawa murni emas yang sangat padat. Harimau itu mengaum, membuka rahangnya yang seukuran gerbang kota, dan menerkam lurus ke arah Shen Yuan.
Tekanan dari serangan ini membuat pelataran batu di sekitar Shen Yuan amblas sedalam setengah tombak! Sisa Tetua Dalam yang berada terlalu dekat terlempar memuntahkan darah hanya karena gelombang kejutnya.
Shen Yuan mendongak menatap harimau emas raksasa yang menutupi langit di atasnya. Di hadapan kekuatan yang mampu meratakan satu jalanan kota ini, matanya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan kegilaan yang mendidih.
"Bocah! Itu serangan penuh dari ahli Lautan Qi! Jangan menahannya secara langsung, atau Tubuh Emas Gelapmu akan hancur!" peringat Leluhur Darah dengan terburu-buru.
"Jika aku mundur sekarang, Iblis Penelan Surga di dalam hatiku tidak akan pernah bisa menundukkan langit!" balas Shen Yuan dalam batinnya.
Ia menggigit ujung lidahnya, menyemburkan seteguk intisari darah yang telah murni, dan menggunakan darah tersebut untuk menggambar sebuah susunan aksara tunggal di udara—aksara 'Telan'.
"Sutra Penelan Surga, Putaran Puncak Penelan Langit!"
Hawa murni merah darah dari Shen Yuan melesat ke atas, membentuk rahang naga iblis raksasa yang tak berwujud, langsung menyongsong harimau emas milik Tetua Agung!
Boooooooooom!
Ledakan dua kekuatan dahsyat yang saling bertabrakan menghasilkan cahaya menyilaukan yang membuat seluruh Kota Debu Merah seolah kehilangan warnanya sesaat. Badai hawa murni menyapu segalanya. Atap-atap paviliun beterbangan, dan patung Singa Perunggu di bawah kaki Shen Yuan hancur berkeping-keping.
Di tengah pusat ledakan, Shen Yuan mengerang keras. Kulit Emas Gelap-nya mulai retak, darah merembes keluar dari pori-porinya. Perbedaan ranah yang mutlak antara Penempaan Raga dan Lautan Qi memang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Namun, rahang naga iblis yang dibentuk dari Sutra Penelan Surga tidak hancur! Alih-alih membentur, rahang itu menempel pada harimau emas dan mulai menggerogoti, memakan, dan menghisap hawa murni emas itu secara gila-gilaan!
"A-Apa-apaan teknik iblis ini?!" wajah Shen Cangqiu memucat drastis saat ia merasakan hubungan antara dirinya dan serangan Lautan Qi-nya perlahan terputus. Hawa murninya sedang dimakan!
"Terima kasih atas hidangannya, Tetua Agung!" tawa Shen Yuan bergema di tengah badai.
Menyerap hawa murni murni dari ahli Lautan Qi memberikan lonjakan kekuatan yang luar biasa pada tubuh Shen Yuan. Luka-luka retak di kulitnya sembuh seketika. Dengan kecepatan yang meningkat sepuluh kali lipat berkat energi yang ia telan, Shen Yuan menerobos sisa-sisa ledakan harimau emas itu.
Langkah Bayangan Hantu!
Sembilan bayangan hitam muncul serentak di udara, mengepung Shen Cangqiu yang sedang dalam kondisi terkejut dan kehilangan keseimbangan akibat serangan pamungkasnya ditelan.
"Ini untuk ibuku!"
Satu bayangan menyatu dengan sosok asli. Telapak tangan Shen Yuan menghantam bahu kiri Shen Cangqiu. Krek! Tulang selangka pria tua itu hancur.
"Ini untuk ayahku yang kau singkirkan!"
Pukulan kedua menghantam tulang rusuk kanannya.
"Dan ini... untuk kehinaanku selama sepuluh tahun!"
Shen Yuan muncul tepat di depan wajah Shen Cangqiu. Tangan kanannya yang diselimuti oleh api hawa murni merah kehitaman menusuk lurus bagai pedang, menghantam tepat di pusar pria tua tersebut.
Tapak Penghancur Nadi, Menghancurkan Lautan Qi!
Bum!
Hawa murni iblis menembus masuk, langsung menuju Dantian Shen Cangqiu. Terdengar suara seperti gelas kaca raksasa yang pecah berkeping-keping dari dalam tubuh sang Tetua Agung. Pusaran Lautan Qi yang telah ia bangun selama puluhan tahun hancur lebur, menguap ke segala arah bagaikan balon yang meletus.
"TIDAAAAAK!"
Jeritan putus asa dan penuh penderitaan merobek langit. Shen Cangqiu memuntahkan darah kotor berwarna hitam pekat bercampur serpihan organ dalam. Tubuh rentanya kehilangan seluruh kekuatan, jatuh dari udara, dan menghantam tanah berbatu dengan keras.
Tetua Agung Keluarga Shen, penguasa Lautan Qi yang sangat ditakuti di Kota Debu Merah, kini tergeletak di atas lumpur dan darah, Dantian-nya hancur total, menjadi manusia cacat yang tidak lebih dari sampah!
Sisa-sisa Tetua Dalam yang masih hidup menjatuhkan lutut mereka ke tanah. Mereka tidak lagi memiliki niat untuk melarikan diri, karena jiwa mereka telah sepenuhnya dihancurkan oleh teror yang berdiri di tengah pelataran.
Shen Yuan mendarat dengan perlahan di samping tubuh Shen Cangqiu yang sedang kejang-kejang. Ia tidak langsung membunuhnya. Ada satu pertanyaan terakhir yang harus dijawab oleh rubah tua ini sebelum nyawanya dicabut.