Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan suami
Jasmine masih berdiri mematung, meremas ujung celemeknya hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, lamunan pahit Jasmine buyar seketika saat sebuah teriakan menggelegar.
"JASMINE!"
Suara bariton itu terdengar sangat keras, menggema di langit-langit penthouse yang tinggi. Jasmine tersentak, bahunya menciut karena kaget.
"Kenapa kamu lama sekali?! Cepat. Siapkan air hangat untukku mandi!" teriak Aksa lagi.
Jasmine menggigit bibir bawahnya. Rasa kesal dan terhina bercampur aduk.
Saat sampai di depan pintu kamar utama yang terbuka lebar, ia melihat Aksa sedang berdiri di dekat jendela besar, membelakanginya sambil melepas kancing kemeja putihnya satu per satu.
Pemandangan punggung tegap itu sempat membuat Jasmine terpaku sejenak mengingatkannya pada masa lalu.
"Maaf, Tuan. Saya segera siapkan," ucap Jasmine ketus tanpa menatap ke arah Aksa.
Jasmine melangkah cepat menuju kamar mandi mewah yang luasnya hampir seluas kamar kosnya. Ia menyalakan keran bathtub, mengatur suhunya agar pas. Uap air hangat mulai memenuhi ruangan, membuat cermin besar di sana perlahan memburam.
Tiba-tiba, bayangan Aksa muncul di pantulan cermin yang buram itu. Pria itu sudah melepas kemejanya, menyisakan dada bidangnya yang terekspos. Ia berdiri tepat di belakang Jasmine, sangat dekat hingga Jasmine bisa merasakan hembusan napas hangat di tengkuknya.
"Kenapa tanganmu gemetar, Jasmine?" bisik Aksa.
"Apa kamu takut padaku... atau kamu sedang terpesona melihat mantan suamimu lagi?"
Jasmine memejamkan mata erat, mencoba menahan gejolak di dadanya. "Airnya sudah siap, Tuan. Silakan mandi. Saya permisi keluar."
Namun, saat Jasmine hendak berbalik untuk pergi, tangan Aksa sudah lebih dulu mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Klik.
"Siapa yang bilang kamu boleh keluar?" Aksa menyeringai kecil.
"Tunggu di sini. Siapkan handuk dan pakaianku. Aku ingin pelayananku sempurna pagi ini, mengerti?"
"Bagaimana saya bisa menyiapkan pakaian Anda, Tuan, sedangkan pintu kamarnya saja Anda kunci?" tanya Jasmine dengan nada menyindir yang halus.
"Baju Anda ada di walk-in closet di luar sana, bukan di dalam kamar mandi ini."
Aksa terdiam sejenak. Ia tampak baru menyadari kebodohannya sendiri karena terlalu asyik menjebak Jasmine. Pria itu berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang sedikit goyah. Ia melepaskan tangannya dari pintu dan memutar kunci tersebut dengan gerakan santai.
"Ya... ya... ya. Silakan keluar," ucap Aksa acuh tak acuh, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Cepat siapkan jas navy ku dan kemeja putih yang baru disetrika. Jangan sampai ada kerutan sedikit pun."
Jasmine tidak menjawab. Ia langsung menyelinap keluar begitu pintu terbuka, merasa seolah baru saja lolos dari terkaman harimau. Ia bergegas menuju walk-in closet yang sangat luas, tempat berderet setelan jas seharga ratusan juta rupiah milik Aksa.
Jasmine segera meletakkan setelan jas navy dan kemeja putih itu di atas tempat tidur dengan rapi. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan yang penuh dengan aura Aksa tersebut. Tanpa menoleh lagi, Jasmine bergegas keluar dari kamar utama, bernapas lega saat kakinya kembali menginjak lantai lorong.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari sepuluh detik.
"JASMINE! KEMBALI KE SINI!"
Teriakan itu kembali menggema, lebih menuntut dari sebelumnya. Jasmine menghentikan langkahnya, memejamkan mata sambil mengepalkan tangan.
"Sabar, Jasmine..."
Ia berbalik dan kembali masuk ke ambang pintu kamar. Di sana, Aksa berdiri di depan cermin besar. Ia sudah mengenakan celana kainnya, namun kemeja putihnya masih tersampir tidak beraturan di bahunya, memperlihatkan sebagian dada dan perutnya yang atletis.
"Ada apa lagi, Tuan? Saya sudah menyiapkan pakaian Anda di sana," ucap Jasmine berusaha tetap formal.
Aksa menatap pantulan Jasmine di cermin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bantu aku mengenakan pakaianku,"
Jasmine tertegun. "Apa? Tuan, Anda punya dua tangan yang sehat. Anda bisa mengancingkan kemeja Anda sendiri."
Aksa berbalik sepenuhnya, menghadap Jasmine dengan tatapan menantang. "Tanganku sedang kaku karena terlalu banyak mengetik semalam. Dan bukankah tugasmu adalah melayaniku agar aku puas? Cepat kemari, atau aku akan menganggap pelayananmu buruk dan melaporkannya pada Bu Mayang."
Jasmine mendengus pelan, namun ia tidak punya pilihan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Aksa. Jarak mereka sangat dekat hingga Jasmine bisa mencium aroma sabun mandi yang segar bercampur aroma alami tubuh Aksa yang maskulin.
"Kenapa diam saja?" bisik Aksa, suaranya kini rendah dan serak tepat di atas kepala Jasmine.
"Dulu kamu sangat ahli melakukan ini setiap pagi. Apa kamu sudah lupa cara melayani suamimu?"
Jasmine tersentak. Ia mendongak, matanya berkilat marah. "Saya tidak punya suami, Tuan Aksa. Suami saya sudah mati tiga tahun lalu."
Bukannya marah, Aksa justru menyeringai tipis. Ia tiba-tiba mencengkeram pinggang Jasmine, menariknya hingga tubuh mereka benar-benar menempel.
"Kalau begitu, biarkan aku menghidupkan kembali ingatanmu tentang suami itu, Jasmine."
Jasmine segera mendorong dada bidang Aksa dengan sekuat tenaga. Napasnya memburu, wajahnya merah padam antara rasa malu dan amarah yang meledak di dadanya.
"Lepaskan!" desis Jasmine tajam. Matanya berkilat, menatap Aksa dengan tatapan penuh kebencian.
"Jangan pernah sentuh saya lagi seperti itu!"
Aksa sempat terkejut dengan dorongan kuat Jasmine, namun dengan cepat ia kembali menguasai keadaan. Ia menarik tangannya dari pinggang Jasmine, lalu menyugar rambutnya yang masih setengah basah dengan gerakan santai.
Aksa terkekeh pendek, suara tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Jasmine.
"Ohh... tenanglah. Aku hanya mengetesmu saja," ucap Aksa enteng sembari melanjutkan mengancingkan sisa kemejanya sendiri.
"Tuan Aksa yang terhormat, saya sarankan Anda fokus pada pekerjaan Anda dan biarkan saya melakukan pekerjaan saya. Saya di sini karena kontrak, bukan karena saya ingin melihat wajah Anda lagi."
Jasmine berbalik dengan cepat, hendak keluar dari kamar itu secepat mungkin sebelum ia benar-benar kehilangan kendali dan menampar mantan suaminya tersebut.
"Siapkan kopiku di meja makan. Aku berangkat sepuluh menit lagi,"
Jasmine tidak menjawab. Ia melangkah lebar keluar kamar, menutup pintu dengan sedikit hentakan yang menunjukkan kekesalannya. Di lorong, Jasmine menyandarkan tubuhnya ke dinding sejenak, memegang dadanya yang masih berdebar kencang.
"Tarik napas, Jasmine. Dia hanya sedang bermain-main. Jangan biarkan dia menang," gumamnya pada diri sendiri sebelum bergegas menuju dapur.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....