Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percepatan Ikatan
Liana mematung di persimpangan koridor yang lembap oleh embun pagi. Suara klakson mobil Morgan yang pendek namun tajam itu bagaikan bunyi pecutan yang mencambuk kesadarannya. Di satu sisi, bisikan Derby dari balik semak-semak adalah janji kebebasan yang liar. Namun di sisi lain, kehadiran mobil polisi dengan lampu rotator yang sesekali berkedip malas di gerbang belakang adalah ancaman nyata yang tidak bisa ia abaikan.
"Liana! Cepat ke sini!" bisik Derby lagi, wajahnya muncul sedikit dari balik dedaunan. Wajah itu tampak kuyu, dengan bekas luka memar di sudut bibir yang belum Liana lihat sebelumnya.
Liana baru saja hendak melangkah, namun ia melihat Morgan keluar dari mobilnya. Pria itu tidak menghampirinya. Ia hanya berdiri di samping pintu pengemudi, bersandar dengan satu tangan di atap mobil, sementara tangan lainnya memegang ponsel. Morgan menatap lurus ke arah semak-semak tempat Derby bersembunyi. Tatapan itu tidak mengandung kemarahan, hanya sebuah keyakinan mutlak bahwa ia sedang memegang kendali atas seluruh bidak catur di papan ini.
Liana tahu, jika ia melangkah satu senti saja ke arah Derby, Morgan akan menekan tombol panggil pada ponselnya, dan polisi itu akan menyergap Derby dalam hitungan detik.
"Jangan, Derby ... pergilah," bisik Liana parau, hampir tidak terdengar. Ia memberikan isyarat tangan agar Derby menjauh, lalu dengan langkah yang terasa seberat timah, ia berbalik arah menuju lobi fakultas, meninggalkan kekasihnya yang menggeram frustrasi di balik semak.
Morgan melihat Liana masuk ke gedung fakultas dengan patuh. Ia kemudian masuk kembali ke mobilnya, namun bukannya pergi, ia justru memutar arah menuju parkiran VIP dosen.
Dua jam kemudian, di tengah kuliah umum yang membosankan, seorang asisten dosen mengetuk pintu kelas dan membisikkan sesuatu kepada profesor yang sedang mengajar. Mata asisten itu kemudian tertuju pada Liana.
"Liana Shine? Anda diminta menghadap Pak Morgan di ruangannya sekarang juga," ucap asisten itu dengan nada formal.
Bisik-bisik seketika memenuhi ruangan. Liana menghela napas panjang, mengemasi tasnya dengan kasar hingga suara ritsletingnya memekakkan telinga. Ia berjalan keluar dengan dagu terangkat, mencoba menjaga sisa harga dirinya yang tersisa.
Sesampainya di depan pintu ruangan Morgan, Liana tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu itu hingga membentur dinding.
BRAK!
"Apa lagi? Kau mau mematikan listrik di kelasku juga?!" semprot Liana bahkan sebelum ia melihat siapa saja yang ada di dalam ruangan.
Liana membeku. Di dalam ruangan yang beraroma kopi dan kertas tua itu, tidak hanya ada Morgan. Di kursi tamu yang empuk, duduk seorang pria dengan setelan jas navy yang sangat ia kenali.
"Kak Liam?" bisik Liana, suaranya mendadak menciut.
Liam Shine berbalik, menatap adiknya dengan tatapan dingin yang jarang ia perlihatkan. Di atas meja Morgan, berserakan beberapa map cokelat dan dokumen dengan stempel resmi kenegaraan. Morgan sendiri duduk di balik meja besarnya, wajahnya sedatar papan tulis, namun auranya sangat mengintimidasi.
"Duduk, Liana," perintah Liam singkat.
Liana berjalan perlahan, melirik ke arah Morgan yang sama sekali tidak menatapnya. Morgan justru sedang merapikan beberapa lembar kertas, menyatukannya dengan klip perak dengan ketelitian yang menyakitkan untuk dilihat.
"Liana," suara Morgan memecah kesunyian, bariton dan tanpa cela. Ia meletakkan pulpennya di atas meja dengan posisi yang sejajar sempurna dengan tepian laptop. "Aku memintamu datang ke sini bukan untuk berdebat soal listrik. Ada urusan yang jauh lebih krusial menyangkut statusmu."
Morgan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju pintu dan menguncinya. Ia kemudian berdiri di hadapan Liana, menghalangi cahaya matahari yang masuk dari jendela, membuat bayangannya jatuh menutupi tubuh Liana.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Morgan, suaranya merendah namun tak terbantahkan. "Di dalam mobil, di apartemen, atau saat kita hanya berdua, kau mungkin bisa bertingkah seperti anak kucing yang mencakar-cakar karena tidak terima dengan statusmu. Tapi di luar sana, di koridor kampus ini, kau adalah mahasiswaku. Jangan pernah mencampuradukkan keduanya. Jika kau merusak citraku sebagai dosen dengan perilaku nakalmu, aku tidak akan segan menambah masa kontrakmu menjadi sepuluh tahun."
Liana mengepalkan tangannya. "Kau mengancamku di depan kakakku sendiri?"
"Dia tidak mengancammu, Liana. Dia sedang memperingatkanmu," potong Liam dengan suara berat. Liam kemudian menyerahkan sebuah dokumen pada Liana. "Lihat ini."
Liana membaca dokumen itu. Matanya membelalak. "Status Pernikahan: Legally Registered? Bukankah seharusnya masih minggu depan?"
Liam menghela napas, ia bangkit dan berdiri di samping Morgan, dua pria itu tampak seperti benteng yang tak tertembus. "Aku sudah mengurus percepatannya. Dengan koneksiku dan bantuan Morgan, semua data pernikahan kalian sudah masuk ke sistem pusat pagi ini. Kalian sudah resmi sebagai suami istri di mata hukum negara, meski tanpa resepsi."
"Tapi kenapa?! Kenapa harus dipercepat?!" Liana berdiri, suaranya melengking karena panik.
"Karena Derby Neeson sedang melakukan sesuatu yang gila," sahut Morgan dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan rekaman suara percakapan Derby dengan seorang bandar taruhan yang berhasil ia sadap. "Aku akan membawa kabur adik keluarga Shine malam ini. Aku akan menjadikannya jaminan agar hutangku lunas."
Darah Liana serasa membeku. Ia menatap layar itu dengan nanar.
"Itu sebabnya, Liana," Liam memegang bahu adiknya, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Aku tidak bisa menunggu seminggu lagi. Kau harus sepenuhnya berada di bawah perlindungan hukum Morgan. Dan sore ini, aku sudah menyiapkan segalanya."
"Segalanya apa?" tanya Liana dengan suara gemetar.
Liam melirik ke arah Morgan. "Aku sudah memanggil seorang pendeta ke kapel privasi di pinggiran kota. Hanya ada aku, kalian berdua, dan dua saksi terpercaya. Aku meminta Morgan membawamu besok sore untuk melakukan upacara pemberkatan pernikahan secara privasi. Aku ingin kau bersumpah di depan Tuhan agar kau sadar bahwa ikatan ini bukan sekadar kertas kontrak."
Liana menggelengkan kepalanya. "Tidak ... Kak, tolong. Jangan besok. Aku belum siap."
Morgan melangkah maju, tangannya yang hangat namun kaku menyentuh bahu Liana, memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Siap atau tidak, realitanya sudah di depan mata. Kau tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti skenario ini jika kau ingin tetap aman."
"Pilih, Liana," Liam menambahkan, "Pemberkatan besok sore dengan tenang, atau aku akan membawamu pulang dan mengurungmu di ruang bawah tanah rumah kita sampai kau berusia dua puluh satu tahun."
Liana menatap Morgan, berharap menemukan sedikit celah belas kasihan di wajah dosen es itu. Namun, Morgan justru menunjukkan ekspresi yang paling kaku yang pernah ia lihat. Morgan merapikan kerah baju Liana yang sedikit miring, gerakannya begitu lambat namun penuh dominasi.
"Aku akan menjemputmu tepat pukul empat sore di lobi belakang," ucap Morgan, suaranya terdengar seperti vonis hakim. "Pakailah pakaian yang layak. Aku tidak ingin memberkati pernikahan dengan wanita yang berpenampilan seperti preman jalanan."
Liana terjatuh kembali ke kursinya, merasa dunianya benar-benar telah dirampas. Skenario pelariannya dengan Derby sore nanti kini berubah menjadi upacara pemakaman bagi masa mudanya.
"Liam," Morgan berbalik ke arah sahabatnya setelah Liana hanya diam mematung. "Aku akan pastikan dia sampai di kapel tepat waktu. Kau bisa mengurus dokumen saksi sekarang."
Liam mengangguk, lalu menatap Liana sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. "Ini demi kebaikanmu, Liana. Suatu hari kau akan berterima kasih pada Morgan."
Setelah Liam keluar, ruangan itu kembali jatuh dalam kesunyian. Morgan kembali ke kursinya, seolah-olah percakapan barusan hanyalah diskusi akademik biasa. Ia mengambil pulpennya dan kembali menulis di atas jurnalnya, mengabaikan Liana yang sedang terisak pelan di depannya.
"Kenapa kau begitu kejam?" bisik Liana di sela isaknya.
Morgan berhenti menulis. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi tek yang rapi. "Kejam adalah membiarkanmu dibawa kabur oleh pria yang akan menjualmu demi hutang judi. Jika kau menyebut perlindungan ini sebagai kekejaman, maka aku akan menjadi monster paling kejam yang pernah kau temui, demi memastikan kau tetap hidup."
Morgan melirik jam dinding. "Kau punya waktu empat jam untuk bersiap secara mental. Sekarang, kembali ke kelasmu. Dan Liana ..."
Liana mendongak.
"Jangan coba-kali berpikir untuk lari lewat gerbang belakang. Polisi yang kau lihat tadi pagi? Mereka bukan di sana untuk berpatroli. Mereka di sana untuk menunggu instruksiku untuk menangkap siapa pun yang mencoba membawamu keluar dari area kampus ini tanpa izin dariku."
Liana berdiri, ia menatap Morgan dengan tatapan kebencian yang paling murni. "Aku akan membencimu selamanya, Morgan Bruggman. Sampai kontrak ini selesai, aku akan memastikan kau menyesal telah memasukkan cincin itu ke jariku."
Morgan hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang tak sampai ke mata. "Aku sudah terbiasa dengan penyesalan, Liana. Itu adalah salah satu variabel yang selalu bisa kucari solusinya. Sampai jumpa jam empat."
Liana berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai. Saat ia melewati koridor, ia melihat Derby sedang ditarik paksa oleh dua pria berpakaian preman menuju sebuah mobil hitam di kejauhan. Derby mencoba berontak, namun matanya bertemu dengan mata Liana. Derby berteriak, tapi suaranya teredam oleh kaca mobil yang ditutup paksa. Liana menyadari, Morgan tidak hanya mempercepat pernikahan, ia baru saja melenyapkan Derby dari jangkauannya secara total sebelum janji suci itu diucapkan.