NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NERACA SANG KEPALA SEKTE

Gudang bawah tanah itu seketika terasa lebih sempit daripada makam tulang yang pernah Feng pijak. Di satu sisi, binatang buas kuno yang dirantai—sebuah Qilin hitam yang terdistorsi oleh energi korosif—mendengus uap beracun. Di sisi lain, Kepala Sekte, Mu Yun, berdiri dengan jubah putih yang seolah membiaskan cahaya rembulan, pedangnya tidak terhunus namun auranya telah mengunci seluruh jalur pelarian.

Xuelan segera berdiri di depan Feng, pedangnya bergetar pelan. "Kepala Sekte... ini tidak seperti yang Anda lihat. Klan Lu telah—"

"Aku tahu apa yang dilakukan Klan Lu, Xuelan," potong Mu Yun, suaranya halus namun mematikan. "Aku yang membiarkan mereka menumpuk batu roh ini. Aku yang memberi mereka Jam Pasir Pembalik Takdir itu. Karena di dunia ini, pertumbuhan sebuah sekte membutuhkan pupuk yang busuk."

Feng melangkah maju, menarik Xuelan ke belakang punggungnya. Ia menatap Mu Yun dengan mata yang kini tidak lagi menunjukkan kemalasan, melainkan perhitungan dingin. "Jadi, kau adalah bendahara sebenarnya di balik semua korupsi ini? Tetua Lu hanyalah bidak yang kau gunakan untuk menjaga tanganmu tetap bersih."

Mu Yun tersenyum tipis. "Sebut saja itu manajemen risiko, Tian Feng. Tapi kau... kau adalah variabel yang tidak masuk dalam pembukuanku. Kau menghancurkan jam pasir itu, memutus aliran waktu yang sudah aku atur dengan rapi. Sekarang, katakan padaku, bagaimana seorang pelayan medis bisa memiliki otoritas untuk menyita energi alam?"

“Feng, hati-hati,” suara Yue Er berdesis di dalam kepalanya. “Pria ini tidak bermain dengan karma. Dia bermain dengan esensi jiwa. Pedang di tangannya... itu adalah 'Pemutus Benang'. Jika dia menebasmu, ingatan masa depanmu bisa terputus dari jiwamu sekarang.”

Feng mengepalkan tinjunya. Ribuan batu roh di sekelilingnya mulai retak, energinya tersedot secara masal ke dalam Liontin Giok. Ia butuh kekuatan, dan ia butuh itu sekarang.

"Aku tidak datang untuk berdiskusi soal manajemen, Kepala Sekte," ucap Feng. "Aku datang untuk melakukan audit. Dan menurut catatanku, kau sudah bangkrut secara moral."

Feng menghentakkan kakinya ke lantai. Seni Transmutasi Sunyi bekerja dalam skala yang belum pernah ia coba di tubuh mudanya ini. Pusaran energi biru dari batu roh yang meledak membentuk badai kecil di sekelilingnya.

"Sita!" teriak Feng.

Bukan energi Mu Yun yang ia incar, melainkan rantai yang mengikat Qilin hitam di sudut ruangan.

PRANG!

Rantai-rantai yang terbuat dari besi meteorit itu hancur berkeping-keping. Binatang buas itu, yang selama ini ditekan oleh formasi Klan Lu, meraung dahsyat. Kebebasannya memicu insting membunuh yang liar. Namun, sebelum makhluk itu menyerang Feng, Feng menyentuhkan telapak tangannya ke dahi binatang itu.

"Aku membebaskan hutangmu pada sekte ini," bisik Feng. "Sekarang, tagihlah pada orang yang mengurungmu."

Qilin hitam itu berbalik, matanya yang merah menyala menatap Mu Yun. Dengan satu lompatan yang meruntuhkan langit-langit gudang, binatang itu melesat ke arah Kepala Sekte.

"Lancang!" Mu Yun akhirnya menghunus pedangnya. Kilatan cahaya putih membelah kegelapan, berbenturan dengan cakar hitam sang Qilin.

Ledakan energi itu melemparkan Xuelan ke dinding. Feng segera menangkapnya, melindunginya dengan perisai cahaya hijau yang tipis.

"Xuelan, ambil sisa batu roh yang sudah kusegel ini! Lari ke Paviliun Pengobatan, bawa Guru Lin pergi dari puncak ini sekarang juga!" perintah Feng.

"Tidak! Bagaimana denganmu?" Xuelan mencengkeram jubah Feng.

"Aku harus menutup buku di sini. Jika Mu Yun tidak tertahan, dia akan mengejar kita sampai ke ujung dunia." Feng menatap matanya dalam-dalam. "Percayalah padaku. Aku sudah pernah mati sekali, aku tidak berencana melakukannya lagi dalam waktu dekat."

Xuelan ragu sejenak, namun melihat keseriusan di mata Feng dan kegilaan pertempuran antara Mu Yun dan Qilin di depan mereka, ia mengangguk. Ia menyambar kantong spasial yang sudah diisi Feng dengan energi batu roh dan menghilang melalui celah dinding yang runtuh.

Kini tinggal Feng, Mu Yun, dan Qilin yang mengamuk.

Mu Yun berhasil menebas salah satu tanduk sang Qilin, namun binatang itu berhasil menggigit bahu sang Kepala Sekte. Darah emas menetes ke lantai.

"Kau pikir binatang ini bisa membunuhku?" Mu Yun menepis Qilin itu dengan ledakan energi jiwa. Ia menatap Feng dengan kebencian yang murni. "Kau baru saja memberikan alasan bagiku untuk memusnahkan seluruh garis keturunan pelayan medis di sekte ini!"

"Kau tidak akan punya kesempatan," sahut Feng.

Ia mengangkat Kitab Hukum Karma yang kini bercahaya hitam pekat. Penyerapan ribuan batu roh tadi memberinya modal yang cukup untuk melakukan satu teknik terlarang yang ia pelajari di Menara Penagihan.

"Hukum Karma: Kebangkrutan Masal!"

Feng menghantamkan kitab itu ke lantai. Seketika, seluruh energi Chi yang ada di dalam gudang—termasuk energi di dalam tubuh Mu Yun—mulai tertarik keluar secara paksa. Ini adalah teknik penyitaan area yang sangat ekstrem.

Wajah Mu Yun memucat. Ia merasa fondasi kultivasinya bergetar. "Apa... apa yang kau lakukan?! Kau menghisap energi seluruh tempat ini!"

"Bukan hanya menghisap," Feng berjalan mendekat di tengah badai energi yang menderu. "Aku sedang mengembalikan energi ini ke bumi. Kau meminjamnya dari alam melalui cara yang salah, Mu Yun. Sekarang, alam meminta bayarannya."

Seluruh gudang mulai runtuh. Tanah di bawah mereka amblas. Di tengah kekacauan itu, bayangan Yue Er muncul di samping Feng, wujudnya kini hampir menyerupai manusia asli berkat limpahan energi dari batu roh.

"Feng, cukup!" teriak Yue Er. "Jika kau terus menariknya, tubuh mudamu akan hancur karena beban transmisi ini!"

Feng tidak berhenti. Darah mulai keluar dari telinga dan hidungnya. "Satu... langkah... lagi..."

Tepat saat Mu Yun akan kehilangan seluruh kultivasinya, sebuah cahaya merah turun dari langit-langit yang runtuh. Seorang pria berjubah merah darah dengan topeng perak mendarat di antara mereka.

Ia hanya melambaikan tangan, dan teknik Feng seketika terputus.

"Cukup untuk hari ini, Bendahara Kecil," ucap pria bertopeng itu. Suaranya dingin dan membawa otoritas yang jauh melampaui Mu Yun. "Istana Karma Terlarang tidak mengizinkanmu menghancurkan aset sepenting Mu Yun sebelum waktunya."

Pria itu memegang bahu Mu Yun dan dalam sekejap mata, keduanya menghilang ke dalam pusaran ruang hitam, meninggalkan Feng yang jatuh berlutut di tengah reruntuhan gudang yang kini kosong melompong.

Feng terengah-engah, tubuhnya terasa seolah terbakar. Ia melihat ke tangannya; garis-garis emas itu kini tertanam lebih dalam di kulitnya.

“Mereka datang lebih cepat dari yang kita duga,” bisik Yue Er, berlutut di samping Feng dan menyandarkan kepala pemuda itu di bahunya yang dingin. “Istana Karma sudah menyadari bahwa kau adalah pemain yang berbahaya di papan catur ini.”

Feng menatap langit malam yang terlihat dari lubang reruntuhan. Ia tahu, mulai malam ini, masa tenang di Paviliun Pengobatan telah berakhir sepenuhnya.

Di kejauhan, ia bisa melihat api mulai berkobar di beberapa bagian sekte. Penyerangan Istana Karma telah dimulai secara resmi, jauh sebelum jadwal turnamen yang ia ingat.

"Yah," Feng bergumam sambil mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar. "Setidaknya kali ini aku tidak perlu menunggu wasit untuk memulai pertandingan."

Ia mulai berjalan menuju Paviliun Pengobatan, di mana ia tahu Xuelan dan Guru Lin sedang menunggunya di tengah badai yang baru saja pecah.

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!