Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kamar mandi akhirnya sunyi.
Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka perlahan.
Tessa melangkah keluar dengan langkah ragu.
Gaun tidur putih polos itu jatuh ringan di tubuhnya.
Bahannya lembut, mengikuti garis tubuh tanpa benar-benar membentuknya. Panjangnya sedikit di atas lutut, membuatnya refleks menarik ujung kain itu ke bawah, seolah berharap bisa menambah beberapa sentimeter lagi.
Lengannya terbuka. Bahunya terekspos. Rambutnya masih sedikit lembap, jatuh acak di punggung.
Ia merasa… terlalu terlihat.
Nick sedang duduk di sofa dekat jendela, membaca sesuatu di ponselnya. Cahaya layar memantul samar di wajahnya yang tetap tenang.
Tessa berdiri beberapa langkah dari kamar mandi.
Menunggu.
Entah menunggu komentar. Tatapan. Reaksi.
Apa pun.
Nick mengangkat wajahnya sekilas.
Tatapan mereka bertemu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu pria itu kembali menunduk ke ponselnya.
“Lampu di sisi kiri tempat tidur bisa kau matikan sendiri,” ucapnya datar. “Kalau terlalu dingin, suhu AC bisa diatur dari panel dekat meja.”
Itu saja.
Tidak ada perubahan nada.
Tidak ada senyum tipis.
Tidak ada tatapan menilai.
Tessa berkedip pelan.
Ia tidak tahu harus merasa lega… atau tersinggung.
Jantungnya yang tadi berdebar karena gugup perlahan berubah menjadi rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Ia sudah mempersiapkan diri untuk tatapan tajam. Atau komentar dingin. Bahkan mungkin sindiran.
Tapi tidak sama sekali.
Seolah ia hanya… bagian normal dari ruangan itu sekarang.
Tessa berjalan menuju tempat tidur, berusaha terlihat tenang meski langkahnya sedikit kaku. Ia naik ke atas kasur besar itu dengan hati-hati, menarik selimut sampai hampir menutupi bahunya.
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Nick masih di sofa.
Tidak menoleh.
Tidak mendekat.
Dan justru itu yang membuat suasana terasa semakin canggung.
Karena dalam diamnya, Tessa mulai bertanya-tanya
Apakah ia memang tidak menarik perhatian pria itu sama sekali?
Atau… Nick sengaja tidak bereaksi?
Dan entah kenapa, pertanyaan itu lebih mengganggu daripada jika Nick benar-benar menatapnya tadi.
Lampu kamar akhirnya dimatikan.
Hanya cahaya redup dari luar jendela yang tersisa, memantulkan bayangan samar di langit-langit tinggi itu.
Tessa memejamkan mata.
Tapi ia tidak benar-benar tidur.
Kasur itu terlalu empuk. Terlalu luas. Terlalu asing.
Ia bisa mendengar suara halus kain sofa saat Nick mengubah posisi. Suara napasnya pelan, stabil, seolah pria itu benar-benar tenang.
Bagaimana bisa dia setenang itu?
Tessa membuka matanya sedikit.
Dari balik selimut yang ia tarik hampir sampai dagu, ia melirik ke arah sofa.
Nick duduk bersandar, lengan terlipat, mata terpejam.
Tapi rahangnya tegang.
Ia tidak terlihat seperti pria yang benar-benar beristirahat.
Tessa menelan pelan.
Gaun tidur itu terasa makin tipis di kulitnya. Ia menggeser tubuh sedikit, mencoba mencari posisi yang nyaman, tapi setiap gerakan kecil terasa terlalu besar di dalam keheningan kamar itu.
“Kalau kau terus bergerak seperti itu, kasurnya tidak akan tiba-tiba berubah jadi lebih kecil.”
Suara Nick tiba-tiba terdengar.
Tessa tersentak.
“Kau belum tidur?” tanyanya refleks.
“Mendengar suara orang gelisah bukan hal yang mudah untuk diabaikan.”
Nada suaranya tetap datar. Tanpa emosi.
Tessa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak terbiasa.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu cepat. Terlalu cepat.
Ia memutar tubuhnya sedikit, kini menghadap ke arah sofa meski dalam cahaya temaram ia hanya bisa melihat siluet Nick.
“Kenapa kau setenang itu?” pertanyaannya meluncur sebelum ia sempat menahannya.
Hening beberapa saat.
“Aku tidak pernah setenang yang kau kira,” jawab Nick akhirnya.
Kalimat itu pelan. Nyaris seperti pengakuan yang tidak sengaja terlepas.
Tessa terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, jarak di antara mereka tidak terasa sejauh tadi.
Tidak dekat.
Tapi tidak sepenuhnya asing.
“Kalau kau merasa tidak nyaman,” lanjut Nick tanpa membuka mata, “pintu kamar itu tidak dikunci.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi maknanya jelas.
Ia tidak akan menahannya.
Tidak akan memaksanya.
Tessa menatap langit-langit.
Ia bisa pergi.
Bisa pindah ke kamar tamu. Atau menjauh dari semua ini.
Namun entah kenapa… ia tetap di sana.
“Aku tidak akan pergi,” gumamnya pelan.
Nick tidak menjawab.
Tapi rahangnya yang tadi tegang perlahan mengendur.
"Emm nick, aku tidak mengatakan ini untuk merendahkan harga diriku," Tessa sempat ragu untuk berucap,
"Katakan," Nick menjawab tanpa membuka matanya,
"Tidurlah disampingku," Kata-kata itu meluncur begitu saja,
Nick membuka matanya dan menatap tessa intens,
Cahaya redup dari luar jendela membuat sorot matanya tampak lebih dalam, lebih sulit dibaca.
“Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan?” tanyanya pelan.
Tessa menelan ludah.
Ia hampir menarik kembali ucapannya. Hampir bersembunyi lagi di balik selimut dan harga diri yang sejak tadi ia pertahankan.
Tapi kali ini ia tidak ingin terlihat lemah.
“Aku hanya…” ia menarik napas pelan, “aku tidak ingin merasa seperti orang asing di kamarmu sendiri.”
Nick tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berdiri dari sofa.
Langkahnya tenang. Tidak tergesa. Tidak juga ragu.
Tessa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat saat pria itu mendekat ke sisi tempat tidur.
Kasur sedikit bergeser saat Nick duduk di tepinya.
Ia tidak langsung berbaring.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” ucapnya tegas. “Jangan salah paham.”
Tessa mengangguk pelan, meski napasnya masih terasa tidak teratur.
Nick akhirnya berbaring di sisi lain tempat tidur, menjaga jarak yang cukup di antara mereka. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
"Apa kau tidak akan memakai bajumu?" Tessa sebenarnya terganggu dengan penampilan polos pria itu,
"Aku terbiasa seperti ini," Nick menjawab tanpa menatapnya,
Sunyi kembali turun.
Namun kali ini, sunyinya berbeda.
Bukan lagi sunyi yang penuh jarak.
Melainkan sunyi yang canggung… tapi hangat.
Tessa bisa merasakan keberadaan Nick di sampingnya, hangat tubuhnya yang samar melalui selimut, suara napasnya yang kini lebih dekat.
Ia memunggungi pria itu, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.
“Aku tidak memintamu melakukan ini,” kata Nick tiba-tiba.
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak akan memaksamu untuk bertahan.”
Tessa terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Aku tidak sedang dipaksa.”
Hening.
Beberapa saat kemudian, tanpa ia sadari, ketegangan di tubuhnya perlahan mengendur.
Entah karena lelah. Entah karena untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa tidak sendirian sepenuhnya.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna