Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Yǐngfēng di Ujung Jari
Embun pagi di Kampung Daun Bayangan tidak jatuh ke tanah—ia menempel . Menempel di daun-daun talas yang lebar, di jerami atap yang menguning, di benang laba-laba yang meregang antar dinding kayu. Seolah-olah udara itu sendiri terlalu lelah untuk mengangkat air, membiarkannya menumpuk, menunggu matahari yang malas untuk mengusirnya.
Chen Xiaoyu—atau jiwa yang masih mengenal dirinya sebagai Fengyin—duduk di anjung rumah, kaki menjuntai di atas tanah yang belum sepenuhnya kering. Umurnya sepuluh tahun sekarang, tubuhnya tumbuh dua cun dalam dua tahun terakhir, tapi masih terlalu kecil untuk usianya. Atau mungkin terlalu ringan . Seolah-olah tulang-tulangnya bukan dari tanah, tapi dari angin.
"Xiaoyu! Bawakan ember ke sumur!"
Suara ibunya, Wang Cuilan, datang dari dapur—tempat asap mulai mengepul, menandakan mántóu sedang dikukus. Fengyin melompat turun, kakinya menyentuh tanah dengan bunyi plap yang ringan, terlalu ringan. Seolah-olah dia bisa melompat lebih tinggi kalau mau. Seolah-ilah dia bisa melayang .
Dia mengambil ember kayu di pojok—ember dengan pegangan yang sudah retak, diperbaiki dengan tali rami—dan berjalan ke sumur desa. Langkahnya cepat, hampir terburu-buru , meski tidak ada yang mengejar.
Ini yang dia pelajari dalam dua tahun: untuk tidak terlihat berbeda . Anak laki-laki berusia sepuluh tahun tidak berjalan seperti angin. Mereka berjalan seperti tanah. Berat. Pasti. Normal .
Sumur desa berada di tengah kampung, di dekat pohon beringin tua yang cabang-cabangnya dipenuhi tali-tali pengikat untuk menjemur pakaian. Pagi ini, sudah ada beberapa orang: Zhang Popo yang sedang mencuci sayur, Li Dage yang mengisi kendi untuk kebunnya, dan seorang gadis kecil yang tidak dikenalnya.
Gadis itu—tidak lebih dari sebelas tahun, dengan rambut diikat dua seperti telinga kelinci—sedang berusaha menarik timba sumur. Usaha yang gagal. Tali terlalu licin, beban terlalu berat, dan setiap kali timba hampir mencapai bibir sumur, ia tergelincir kembali ke dalam.
"Biar aku bantu," kata Fengyin, meletakkan embernya.
Gadis itu menoleh. Wajahnya bulat, dengan bintik-bintik hitam di hidung yang belum terbiasa dengan sinar matahari. Matanya—cokelat muda, hampir keemasan—menatap Fengyin dengan campuran malu dan curiga.
"Aku bisa sendiri," kata gadis itu, tapi suaranya tidak yakin. Tangan kecilnya yang basah terus mencoba, terus gagal.
Fengyin tidak berdebat. Dia hanya menunggu, berdiri di samping dengan tangan di belakang punggung—pose yang dipelajari dari Gu Yanqing, yang selalu sabar menunggu muridnya menyerah pada keangkuhan mereka sendiri.
Tiga kali lagi gadis itu mencoba. Tiga kali lagi timba tergelincir. Air di dalamnya—hanya setengah penuh—menciprat ke wajahnya, membuat bintik-bintik hitam di hidung menjadi garis-garis hitam yang lucu.
"Baiklah," kata gadis itu akhirnya, mundur setengah langkah. "Bantu."
Fengyin mengangguk, tidak tersenyum—tersenyum akan terlihat seperti mengejek. Dia meraih tali, merasakan berat timba, dan mengangkat . Bukan dengan otot—tangan sepuluh tahun terlalu lemah untuk itu. Tapi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berdenyut di ujung jarinya, di tempat yang tidak bisa dilihat.
Yǐng. Bayangan.
Sangat kecil, sangat tipis —hanya secuil kekuatan yang bisa diselipkan tanpa membuat Dàojiàn-nya yang rapuh retak lagi. Tapi cukup. Cukup untuk membuat tali terasa lebih ringan, timba terasa lebih kosong, angkat terasa seperti... mengayuh .
Timba mencapai bibir sumur dengan bunyi tek yang kering. Fengyin mengisinya ke ember gadis itu—ember yang lebih besar, lebih berat, dengan bunga-bunga ukiran yang sudah pudar.
"Terima kasih," kata gadis itu, suaranya lebih lembut sekarang. "Aku Lin Yuelan. Baru pindah dari desa utara. Ayahku... ayahku meninggal, jadi ibu dan aku tinggal dengan paman."
Fengyin mengangguk. Dia mengenal pola ini—keluarga yang hancur, yang berpindah, yang mencoba bertahan . Dia sendiri adalah pola ini, dalam kehidupan lain.
"Chen Xiaoyu," kata dia, memperkenalkan nama tubuh ini. "Tinggal di ujung desa, rumah dengan asap arang yang selalu hitam."
Yuelan tersenyum—senyum yang cepat, yang belum sepenuhnya yakin, tapi nyata . "Aku lihat rumahmu. Bapakmu pembuat arang, ya? Ibumu bilang arang dari desa ini bagus untuk memasak. Tidak berasap terlalu banyak."
"Ibu selalu bilang begitu pada orang," kata Fengyin, hampir tersenyum balik. "Padahal asapnya sama saja dengan desa lain."
Mereka tertawa bersama—tawa pendek, canggung, tapi koneksi . Sesuatu yang langka bagi Fengyin, yang selalu menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.
Minggu-minggu berikutnya, Yuelan menjadi hadir .
Bukan dengan cara yang direncanakan—tidak ada janji, tidak ada pertemuan yang disengaja. Tapi dengan cara desa kecil bekerja: di sumur pada pagi hari, di pasar pada siang hari, di jalan setapak yang sama pada sore hari ketika matahari mulai merah.
Fengyin belajar banyak tentang Yuelan tanpa bertanya. Belajar bahwa ibunya bekerja sebagai penenun, bahwa paman mereka adalah kepala desa yang ketakutan pada Sekte Naga Hitam, bahwa Yuelan sendiri punya masalah —dia sering terbangun di tengah malam, berteriak tentang air yang naik, tentang tenggelam, tentang sesuatu yang menariknya ke bawah.
"Mimpi buruk," kata Yuelan sekali, dengan tawa yang terlalu keras untuk menjadi nyata. "Dari kecil. Ayah bilang aku jatuh ke sumur saat bayi, hampir mati. Jadi aku takut air dalam. Lucu, ya? Anak desa yang takut sumur."
Fengyin tidak bilang itu lucu. Dia bilang: "Aku juga punya mimpi buruk. Tentang api. Tentang orang yang kucintai terbakar."
Mereka menatap satu sama lain—dua anak yang terlalu muda untuk mengenal kehilangan, tapi terlalu tua untuk melupakannya.
"Kita latihan bersama," kata Yuelan tiba-tiba, tidak bertanya. "Aku lihat kamu berlatih di hutan. Di belakang air terjun kecil. Kamu bergerak... aneh. Seolah-olah tidak menyentuh tanah. Aku mau belajar."
Fengyin membeku. Bukan karena ketakutan—tapi karena pengakuan . Seseorang melihat. Seseorang tahu .
"Aku tidak bisa mengajarkan," kata dia, suaranya lebih keras dari yang dimaksudkan. "Aku... aku sendiri masih belajar. Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya kalau salah."
Yuelan tidak mundur. Dia justru maju setengah langkah, matanya yang keemasan menatap lurus—tidak menantang, tapi memohon dengan cara yang aneh.
"Aku juga punya sesuatu," bisik Yuelan, suaranya sangat rendah, sangat rahasia . "Sesuatu yang tidak bisa kukendalikan. Sesuatu yang... keluar ketika aku ketakutan. Terutama ketika aku mimpi buruk tentang air."
Dia mengulurkan tangan—tangan kecil, dengan jari-jari kurus yang terlalu sering bekerja. Dan dari ujung jarinya, sesuatu muncul .
Bukan kristal—tapi air . Tetesan kecil, yang seharusnya tidak mungkin ada di sini, di tanah kering, di siang bolong. Tetesan yang berkilauan, yang berputar pelan, yang hidup sejenak sebelum jatuh dan menghilang di tanah.
"Shuǐ," bisik Fengyin, mengenali. "Elemen Air. Kamu... kamu punya Jingjie Interval."
Yuelan mengangguk, wajahnya pucat—bukan karena takut, tapi karena lega . Karena akhirnya ada yang mengerti. "Ibu bilang itu kutukan. Ayah bilang itu berkah. Aku hanya ingin... ingin bisa mengendalikannya. Supaya tidak lagi menakutiku."
Fengyin menatap tangan Yuelan. Tangan yang gemetar, yang basah, yang berbeda seperti tangannya sendiri. Dan dia merasakan sesuatu. Bukan dari kristal—kristalnya masih tersembunyi, masih tidur . Tapi dari hati . Dari ingatan akan Gu Yanqing, yang juga mengajarinya dengan sabar. Dari janji yang dibuat dua kehidupan lalu: melindungi .
"Baiklah," kata Fengyin. "Kita latihan bersama. Tapi bukan di sini. Di tempat yang aman. Di tempat di mana tidak ada yang bisa melihat kalau kita... kalau kita salah ."
Tempat itu adalah di balik air terjun kecil—Yínliú nama yang diberikan penduduk desa, sama seperti di Gunung Puncak Angin dulu, seolah-olah air selalu membawa nama yang sama ke mana pun mengalir.
Air terjun ini kecil, tidak lebih dari tiga zhang tingginya, menciptakan kolam yang dangkal dan kabut yang lebat. Pohon-pohon di sekitarnya lebat, dedaunannya menutupi langit, menciptakan ruang tersembunyi yang hampir seperti gua—tapi terbuka, tapi bebas .
Di sini, Fengyin bisa melepaskan sedikit. Bisa membiarkan Yǐng dan Fēng mengalir di ujung-ujung jarinya, bukan untuk bertarung, tapi untuk bermain . Membuat daun melayang dalam spiral aneh. Membuat bayangannya sendiri bergerak sedikit lebih lambat dari tubuhnya, menciptakan ilusi ganda yang lucu.
Yuelan menatap dengan mata lebar. "Itu... itu seperti sihir. Tapi bukan sihir, ya? Sihir tidak ada. Ini..."
"Ini adalah elemen," kata Fengyin, duduk di batu basah, tidak peduli celana basah. "Angin dan Bayangan. Aku... aku punya keduanya. Tapi aku tidak boleh memakainya terlalu banyak. Tubuhku belum siap."
"Kenapa?" Yuelan duduk di seberang, membiarkan air terjun membasahi punggungnya—sesuatu yang tidak akan dia lakukan dua tahun lalu, sesuatu yang menunjukkan pertumbuhan . *"Kenapa tubuh belum siap?"
Fengyin ragu. Bukan karena tidak percaya—dia sudah memutuskan untuk percaya pada Yuelan, dengan risiko apapun. Tapi karena ceritanya terlalu panjang . Terlalu aneh . Terlalu... tidak mungkin .
"Aku bukan Chen Xiaoyu yang asli," kata akhirnya, suaranya pelan, hampir tertutup gemuruh air. "Tubuh ini miliknya, tapi jiwaku... jiwaku datang dari tempat lain. Dari orang lain. Dari seseorang yang mati dan menunggu, dan sekarang kembali."
Dia menatap Yuelan, mencari ejekan, mencari ketakutan . Tapi yang ditemukan adalah... pengertian . Yuelan mengangguk, lambat, seolah-olah baru saja mengerti teka-teki yang lama mengganggunya.
"Itu menjelaskan banyak hal," kata Yuelan. "Cara kamu berjalan. Cara kamu menatap orang—seolah-olah kamu sudah kenal mereka selama bertahun-tahun. Cara kamu..." dia berhenti, tersenyum kecil, "...cara kamu menolongku di sumur. Bukan seperti anak sepuluh tahun. Seperti orang yang sudah sering menolong."
Fengyin tertawa—tawa pendek, getir, tapi nyata . "Aku berusia dua puluh delapan tahun, kalau dihitung. Delapan belas tahun hidup pertama. Sepuluh tahun... menunggu. Menunggu tubuh ini cukup besar, cukup kuat, untuk menampungku lagi."
"Dan sekarang?" tanya Yuelan. *"Sekarang kamu sudah cukup kuat?"
"Belum," kata Fengyin, mengangkat tangan, melihat ujung-ujung jari yang berdenyut pelan dengan kekuatan yang tidak bisa disalurkan sepenuhnya. "Tapi semakin dekat. Setiap hari, semakin dekat. Dan denganmu... denganmu membantu, mungkin lebih cepat."
Mereka berlatih. Bukan dengan instruksi yang jelas—Fengyin bukan guru, tidak terlatih untuk mengajar. Tapi dengan eksplorasi . Dengan mencoba, gagal, mencoba lagi.
Yuelan belajar bahwa Shuǐ bukan untuk melawan ketakutannya, tapi untuk mengalirkannya . Bahwa air yang dia takuti bisa menjadi teman, bisa menjadi pelindung , kalau dia berhenti berjuang dan mulai mengikuti .
Fengyin belajar bahwa mengajarkan adalah cara terbaik untuk belajar. Bahwa dengan mencoba menjelaskan Yǐng dan Fēng pada orang lain, dia sendiri mengerti lebih baik. Bahwa kekuatannya bukan hanya untuk menghancurkan , tapi untuk membantu .
Dan pada suatu sore, ketika matahari merah menembus celah-celah dedaunan, sesuatu terjadi.
Yuelan sedang mencoba teknik baru—mengalirkan Shuǐ dari telapak tangannya, membuatnya berputar dalam spiral kecil. Tapi spiral itu kacau, tidak stabil, dan Yuelan frustrasi, matanya berkaca-kaca oleh kegagalan yang terlalu sering dialami.
"Aku tidak bisa," katanya, suaranya pecah. "Aku tidak akan pernah bisa. Aku terlalu lemah, terlalu takut, terlalu—"
"Hirup napas," kata Fengyin, suaranya tenang, suara Gu Yanqing yang kini menjadi miliknya. "Tahan. Tiga detik. Keluarkan. Seperti yang kaujarkan padaku."
Yuelan menatapnya. Dan melakukan. Masuk. Tahan. Keluar.
Spiral Shuǐ di tangannya stabil. Bukan sempurna—tapi ada . Berputar pelan, berkilauan, hidup .
Dan Fengyin, dalam momen itu, merasakan sesuatu di dalamnya. Resonansi. Bukan dengan kristal—tapi dengan Yuelan . Dengan seseorang yang juga berbeda, yang juga menunggu , yang juga berusaha menjadi lebih.
Dia mengangkat tangannya sendiri, tanpa berpikir, dan membiarkan Yǐng dan Fēng mengalir. Sangat kecil, sangat kontrol —takut akan retakan Dàojiàn yang masih ada. Tapi cukup untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Bayangan dari tangannya—bayangan yang seharusnya diam—bergerak mengikuti spiral Shuǐ Yuelan. Angin dari mulutnya—angin yang seharusnya tak terlihat—mendorong spiral itu berputar lebih cepat, lebih indah .
Yǐngfēng Quán. Pukulan Bayangan Angin.
Bukan pukulan yang menghancurkan—tapi pukulan yang mengalir . Yang menggabungkan kekosongan Yǐng dengan kebebasan Fēng, menciptakan sesuatu yang tidak sepenuhnya elemen, tidak sepenuhnya teknik, tapi seni .
Yuelan menatap dengan mata yang berkaca-kaca—bukan karena frustrasi, tapi karena indah . Karena untuk pertama kalinya, bedanya, anehnya, ketakutannya —menjadi sesuatu yang indah.
"Lagi," bisiknya. "Lagi, Xiaoyu. Lagi."
Dan mereka berlatih. Sampai matahari tenggelam. Sampai kabut malam turun. Sampai ibu-ibu mulai meneriakkan nama mereka dari kejauhan, marah-marah tapi juga khawatir .
Sampai dua anak yang terlalu muda untuk beban mereka, tapi terlalu kuat untuk menyerah, menemukan sesuatu yang langka di dunia yang kejam.
Teman.
Malam itu, Fengyin pulang dengan tangan yang lelah tapi hati yang... ringan . Dia melewati rumah-rumah yang gelap, melewati anjing yang menggeram pelan, melewati Pak Suhu—tukang pos desa yang sedang minum sendirian di beranda—tanpa menyapa, terlalu asyik dalam pikirannya sendiri.
"Xiaoyu," panggil Pak Suhu, suaranya serak oleh arak. "Kemana saja kamu? Ibumu khawatir."
"Maaf, Pak," kata Fengyin, berhenti sejenak. "Latihan. Di hutan."
Pak Suhu menatapnya—tatapan yang terlalu tajam untuk mata orang mabuk. "Hati-hati. Hutan punya mata. Desa punya telinga. Dan Sekte Naga Hitam..." dia berhenti, menggigit bibir, "...Sekte Naga Hitam punya tangan di mana-mana."
Fengyin mengangguk, tidak bertanya lebih. Sudah tahu. Sudah merasakannya —ketegangan di udara, ketakutan di mata warga, keheningan yang salah di malam hari.
Tapi malam ini, dia tidak peduli. Malam ini, dia punya sesuatu yang baru. Sesuatu yang hidup .
Yǐngfēng Quán. Dan Yuelan.
Dia masuk rumah, disambut omelan ibu yang dipotong oleh senyuman ayahnya, dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, dia tertidur dengan senyum .
Bukan karena lupa. Bukan karena maaf.
Tapi karena, untuk sesaat, dia diizinkan menjadi anak .
Di suatu tempat di hutan, di balik air terjun yang kini hanya gemuruh tanpa penonton, seekor burung biru duduk di dahan rendah. Menatap ke arah desa. Menatap ke arah rumah dengan asap arang yang hitam.
Dan berkicau sekali—satu nada yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tapi terasa oleh mereka yang punya telinga untuk mendengar.
Nada yang berkata: Pertumbuhan. Perubahan. Persiapan.
Nada yang berkata: Masa depan sedang datang.
[bersambung...]