NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

luka yang tertinggal (awal kehidupan wulan dan melda)

Langit sore di kampung kecil itu selalu berwarna jingga keemasan setiap menjelang magrib. Cahaya matahari memantul di genteng-genteng tua, menyentuh rumah sederhana di ujung gang sempit yang catnya mulai mengelupas. Di sanalah Melda dan Wulan tumbuh di rumah yang tak besar, namun selalu dipenuhi suara tawa.

Melda masih berusia delapan tahun saat pertama kali menyadari bahwa kakaknya berbeda dari anak perempuan lain seusianya. Wulan, yang terpaut enam tahun darinya, tak pernah mengeluh meski harus membantu ibu mereka berjualan kue sejak subuh. Ia bangun lebih awal dari siapa pun, menanak nasi, menyapu halaman, lalu mengantar Melda berangkat sekolah sebelum dirinya sendiri berangkat.

“Kalau Melda pintar dan sukses nanti, Kakak pasti ikut bangga,” begitu selalu kata Wulan setiap kali Melda mengeluh tentang pelajaran matematika.

Rumah mereka sederhana. Dindingnya tipis, lantainya sebagian masih semen kasar. Namun di rumah itu, ada kehangatan yang tak bisa dibeli. Setelah ayah mereka meninggal karena sakit ketika Melda masih kecil, Wulan lah yang tanpa sadar mengambil peran sebagai tiang kedua keluarga.

Ia berhenti dari kuliahnya di semester tiga.

Ia tak pernah benar-benar menjelaskan alasannya, hanya mengatakan ingin membantu ibu lebih banyak. Namun Melda tahu, uang lah penyebabnya. Biaya rumah sakit yang menumpuk, kebutuhan hidup yang terus berjalan, dan dirinya yang masih sekolah.

“Melda nggak perlu tahu semuanya,” ucap Wulan suatu malam ketika Melda memergokinya menangis diam-diam di dapur. “Tugas kamu cuma satu belajar yang rajin.”

Wulan selalu tersenyum setelah mengatakan itu, seolah hidup tak pernah terlalu berat untuknya.

Padahal, Melda tahu beban itu nyata.

Waktu berjalan. Melda tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan penuh ambisi, sementara Wulan menjelma menjadi perempuan dewasa yang lembut dan menawan. Di usia dua puluh empat tahun, Wulan bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan distribusi kecil di kota.

Gajinya tak besar, tapi cukup untuk membantu kebutuhan rumah.

Wulan jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Baju barunya bisa dihitung dengan jari. Sepatunya sudah beberapa kali dijahit ulang. Namun setiap ulang tahun Melda, selalu ada hadiah kecil yang dibungkus rapi di atas meja belajar.

“Kenapa sih Kakak selalu ngalah?” tanya Melda suatu kali.

Wulan hanya tertawa. “Karena lihat kamu senang itu rasanya cukup.”

Wulan bukan tipe perempuan yang mengejar kemewahan. Ia hanya ingin hidup tenang. Ia pernah berkata ingin punya rumah kecil dengan halaman yang cukup untuk menanam bunga, suami yang pulang tepat waktu, dan anak-anak yang sehat.

“Bahagia itu sederhana, Mel,” katanya.

Melda percaya itu.

Sampai suatu hari, sesuatu berubah.

Perubahan itu dimulai dari hal kecil.

Wulan mulai pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Ia lebih sering menatap ponselnya dengan senyum tipis. Kadang ia terlihat melamun, lalu tiba-tiba tersipu sendiri.

Melda yang paling peka tentu menyadarinya.

“Siapa?” godanya suatu malam saat mereka sedang makan bersama.

“Siapa apanya?” Wulan pura-pura tak mengerti.

“Siapa yang bikin Kakak senyum-senyum sendiri kayak orang jatuh cinta?”

Pipi Wulan memerah. Ia menunduk, memainkan sendoknya.

“Ada seseorang,” akunya pelan.

Jantung Melda langsung berdebar penasaran. “Serius? Kakak pacaran?”

Wulan menggeleng. “Belum. Tapi dia… baik.”

Nama itu pertama kali Melda dengar malam itu.

Agung.

Hanya itu yang disebut Wulan.

“Agung siapa?” tanya Melda.

Wulan tampak ragu sejenak. “Teman kerja… bukan satu kantor sih. Dia dari perusahaan besar yang kerja sama dengan kantor Kakak.”

“Dia ganteng?”

Wulan tertawa kecil. “Lumayan.”

“Lumayan itu artinya ganteng banget.”

Wulan melemparkan tisu ke arah adiknya sambil tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Melda melihat cahaya berbeda di mata kakaknya cahaya harapan.

Dan diam-diam, ia ikut bahagia.

Pertemuan pertama Wulan dan Agung terjadi tanpa sengaja.

Hari itu kantor Wulan kedatangan klien penting dari perusahaan mitra yang jauh lebih besar. Semua staf diminta bersikap profesional. Wulan yang biasanya santai bahkan sampai menyetrika ulang blusnya pagi itu.

Agung datang bersama dua orang stafnya.

Tinggi, rapi, dengan jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Tatapannya tajam namun tenang. Ia berbeda dari pria-pria yang biasa Wulan lihat di sekitarnya.

Saat rapat berlangsung, Wulan bertugas menyiapkan dokumen tambahan yang diminta mendadak. Karena gugup, ia tak sengaja menjatuhkan map tepat di depan Agung.

Kertas-kertas berhamburan.

Wulan panik. Ia berjongkok cepat, meminta maaf berulang kali.

Namun yang terjadi di luar dugaannya Agung ikut berjongkok membantunya.

“Tidak apa-apa,” katanya dengan suara rendah dan hangat. “Semua orang bisa melakukan kesalahan.”

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Wulan tak tahu kenapa, tapi detik itu terasa lebih lama dari seharusnya.

Setelah rapat selesai, Agung kembali menghampirinya.

“Terima kasih sudah membantu tadi,” katanya sopan. “Nama saya Agung.”

“Wulan,” jawabnya gugup.

Sejak hari itu, pesan singkat mulai datang.

Awalnya hanya soal pekerjaan. Lalu berkembang menjadi obrolan ringan. Tentang hobi, tentang makanan favorit, tentang mimpi masa depan.

Agung berbeda dari pria lain.

Ia tak pernah menggoda secara berlebihan. Ia mendengarkan. Ia bertanya tentang keluarga Wulan. Ia bahkan pernah mengirim pesan hanya untuk memastikan Wulan sudah sampai rumah dengan selamat.

Perhatian kecil itu perlahan menumbuhkan sesuatu di hati Wulan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Wulan merasa dirinya bukan hanya tulang punggung keluarga melainkan seorang perempuan yang pantas dicintai.

Melda menyaksikan perubahan itu setiap hari.

Wulan jadi lebih ceria. Ia lebih bersemangat bangun pagi. Ia bahkan membeli satu gaun baru sesuatu yang hampir tak pernah ia lakukan.

“Dia ngajak Kakak makan malam,” kata Wulan suatu sore dengan mata berbinar.

Melda memekik pelan. “Akhirnya!”

Namun ada sesuatu yang belum Wulan ceritakan sepenuhnya.

Suatu malam, setelah makan malam itu, Wulan pulang dengan wajah campuran antara bahagia dan terkejut.

“Ada apa?” tanya Melda.

Wulan duduk di tepi ranjang, menatap kosong beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mel… ternyata dia bukan orang biasa.”

“Memangnya siapa?”

Wulan menelan ludah. “Agung Perdana Kusuma.”

Nama itu terdengar asing bagi Melda.

“Terus?”

“Dia anak pemilik perusahaan besar. Perusahaan yang sering masuk berita itu.”

Melda terdiam.

“Kenapa dia mau sama Kakak?” pertanyaannya meluncur tanpa sadar.

Wulan tersenyum kecil, tapi ada keraguan di sana. “Kakak juga nggak tahu. Dia bilang dia suka karena Kakak apa adanya.”

Hati Melda sedikit terusik.

Dunia orang seperti itu berbeda dari dunia mereka.

Namun melihat kakaknya begitu bahagia, ia memilih untuk tak merusak momen.

“Asal dia baik sama Kakak, Melda nggak peduli dia siapa.”

Wulan tersenyum, lalu memeluk adiknya erat.

Saat itu, mereka tak tahu bahwa kebahagiaan sering kali datang sebelum badai.

Hari-hari berikutnya dipenuhi cerita.

Agung menjemput Wulan beberapa kali. Mobilnya mewah, terlalu mencolok untuk gang sempit mereka, sehingga beberapa tetangga mulai berbisik-bisik.

Namun Agung selalu bersikap sopan. Ia pernah turun dari mobil hanya untuk menyapa ibu mereka dan memperkenalkan diri dengan santun.

Melda mengamati pria itu dari balik pintu.

Tatapannya sulit dibaca.

Namun senyumnya meyakinkan.

Wulan terlihat begitu percaya.

Dan mungkin itulah yang membuat Melda akhirnya ikut menurunkan pertahanannya.

Suatu malam, Wulan duduk di samping Melda di teras rumah.

“Mel,” katanya pelan, “kalau suatu hari Kakak benar-benar punya kehidupan baru… kamu nggak akan merasa ditinggalkan, kan?”

Melda menggeleng cepat. “Bahagia Kakak itu bahagia Melda juga.”

Wulan tersenyum, lalu berkata kalimat yang kelak akan terus terngiang dalam ingatan Melda.

“Aku rasa… aku jatuh cinta.”

Angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan.

Di bawah langit yang tampak tenang, dua saudari itu duduk berdampingan, berbagi mimpi tentang masa depan yang terlihat cerah.

Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan sederhana di ruang rapat itu akan menjadi titik awal dari segalanya.

Bahwa nama Agung Perdana Kusuma bukan hanya akan menjadi bagian dari kisah cinta Wulan...

Tetapi juga awal dari luka yang suatu hari nanti akan tertinggal begitu dalam.

Dan saat luka itu benar-benar datang, tak seorang pun dari mereka akan siap menghadapinya.Namun sejak malam pengakuan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah begitu halus hingga hampir tak terasa.

Awalnya, semuanya tetap tampak indah.

Agung semakin sering datang. Ia menjemput Wulan selepas kerja, mengajaknya makan di tempat-tempat yang bahkan tak pernah mereka dengar namanya. Sesekali, ia membawakan buah tangan untuk ibu roti mahal, teh impor, atau sekadar sekotak cokelat.

Tetangga mulai berbisik lebih keras.

“Anaknya Bu Rini dapat laki-laki tajir, ya?”

“Semoga serius, bukan cuma main-main.”

Melda menangkap bisik-bisik itu setiap kali lewat. Ia tak suka cara orang-orang memandang kakaknya setengah iri, setengah meragukan. Tapi Wulan selalu menanggapi dengan senyum sabar.

“Orang mau ngomong apa pun itu hak mereka,” katanya ringan. “Yang penting kita tahu kebenarannya.”

Melda ingin percaya.

Suatu sore, Wulan pulang dengan wajah pucat.

Biasanya ia akan langsung bercerita panjang lebar tentang apa yang Agung katakan hari itu, tentang rencana akhir pekan, atau tentang candaan kecil mereka. Tapi hari itu ia langsung masuk kamar tanpa sepatah kata.

Melda mengikutinya.

“Kak, kamu kenapa?”

Wulan duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Ponselnya tergeletak di sampingnya, layar masih menyala.

“Mel… menurut kamu, dua orang dari dunia yang berbeda bisa benar-benar bersama nggak?”

Pertanyaan itu terasa berat.

“Maksudnya?”

“Agung bilang keluarganya sangat menjaga reputasi. Semua keputusan hidupnya hampir selalu diawasi. Dia bilang… dia nggak pernah bebas milih.”

Melda mengerutkan kening. “Terus?”

“Dia bilang dia capek hidup diatur.” Wulan tersenyum tipis, tapi matanya tak ikut tersenyum. “Dan dia merasa nyaman sama Kakak karena Kakak beda dari perempuan-perempuan yang dikenalkan keluarganya.”

Ada kebanggaan di sana. Tapi juga ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

“Dia serius kan, Kak?” tanya Melda pelan.

Wulan terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Dia bilang serius.”

Kata “bilang” menggantung di udara.

Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin dalam. Agung mulai lebih terbuka tentang hidupnya. Tentang ayahnya yang keras. Tentang tekanan menjadi pewaris tunggal perusahaan keluarga. Tentang pertunangan yang pernah hampir dijodohkan namun ia tolak.

“Kamu bikin aku merasa jadi diri sendiri,” katanya suatu malam pada Wulan.

Kalimat itu membuat hati Wulan menghangat.

Dan Melda bisa melihatnya cara kakaknya menatap ponsel dengan mata berbinar, cara ia tersenyum tanpa sadar, cara namanya disebut dengan lembut.

Namun perlahan, perubahan lain ikut menyusul.

Agung mulai jarang bisa dihubungi pada jam-jam tertentu.

“Meeting keluarga,” begitu alasannya.

Kadang pesan Wulan baru dibalas berjam-jam kemudian. Kadang nada bicaranya terdengar lebih tegang dari biasanya.

“Dia lagi banyak tekanan,” bela Wulan saat Melda mulai menunjukkan kekhawatirannya.

“Tekanan bukan alasan buat berubah sikap,” sahut Melda hati-hati.

Wulan terdiam.

Ia tak ingin melihat sisi buruk dari pria yang ia cintai.

Suatu malam, Agung datang lebih larut dari biasanya. Ia tak turun dari mobil seperti biasa. Wulan yang menghampiri lebih dulu.

Dari balik tirai jendela, Melda mengamati.

Percakapan mereka tampak serius. Wajah Agung terlihat tegang. Wulan beberapa kali menggeleng, lalu menggenggam tangan pria itu seolah meyakinkan.

Beberapa menit kemudian, mobil itu pergi.

Wulan masuk dengan langkah lambat.

“Ada apa?” tanya Melda tanpa basa-basi.

Wulan memaksakan senyum. “Nggak apa-apa.”

Tapi air matanya jatuh sesaat kemudian.

Melda langsung memeluknya.

“Dia bilang keluarganya mulai curiga,” bisik Wulan. “Mereka nggak suka dia dekat sama perempuan yang nggak jelas latar belakangnya.”

“‘Nggak jelas’?” suara Melda meninggi. “Maksudnya apa?”

Wulan menggeleng cepat. “Bukan gitu maksudnya. Mereka cuma… punya standar sendiri.”

Melda merasakan sesuatu mengeras di dadanya.

Dunia mereka memang berbeda. Tapi apakah itu berarti perasaan Wulan tak layak dihargai?

Beberapa hari kemudian, Agung mengajak Wulan menghadiri sebuah acara makan malam formal. Wulan ragu, tapi Agung meyakinkannya.

“Anggap saja sebagai tamu,” katanya. “Aku cuma mau kamu ada di sana.”

Wulan berdiri lama di depan cermin malam itu. Gaun sederhana yang ia beli beberapa minggu lalu kini terasa terlalu biasa. Namun Agung pernah berkata ia menyukai Wulan apa adanya.

“Doakan Kakak ya,” katanya pada Melda sebelum berangkat.

Melda tersenyum, walau hatinya tak sepenuhnya tenang.

Malam itu terasa panjang.

Wulan baru pulang hampir tengah malam.

Riasannya masih rapi, tapi matanya sembab.

“Apa yang terjadi?” Melda langsung mendekat.

Wulan menutup pintu pelan sebelum menjawab.

“Ayahnya Agung ada di sana.”

Nadanya berubah lebih pelan, lebih berat.

“Beliau nggak bilang apa-apa langsung. Tapi cara dia lihat Kakak… seperti Kakak ini kesalahan.”

Melda menggenggam tangan kakaknya erat.

“Agung bilang dia akan berjuang,” lanjut Wulan, suaranya gemetar. “Dia bilang dia nggak peduli apa kata keluarganya.”

“Kamu percaya?”

Wulan menatap kosong beberapa detik.

“Aku ingin percaya.”

Jawaban itu lebih menyedihkan dari apa pun.

Sejak malam itu, hubungan mereka terasa seperti berdiri di atas benang tipis.

Agung tetap datang. Ia tetap bersikap lembut. Ia tetap mengatakan bahwa Wulan penting baginya.

Namun bayangan keluarganya selalu ada di antara mereka.

Suatu sore, Wulan duduk sendirian di teras, memandangi langit yang mendung.

“Mel,” katanya tanpa menoleh, “kalau suatu hari semuanya nggak berjalan sesuai harapan… kamu akan tetap di samping Kakak, kan?”

Pertanyaan itu membuat dada Melda sesak.

“Apa pun yang terjadi, Kakak nggak sendirian.”

Wulan tersenyum kecil.

Hujan mulai turun perlahan, membasahi tanah di depan rumah mereka.

Dan di bawah suara rintiknya yang lembut, Wulan berbisik hampir tak terdengar,

“Aku harap cinta cukup kuat untuk melawan semuanya.”

Melda tak tahu harus menjawab apa.

Karena di sudut hatinya yang paling dalam, untuk pertama kalinya, ia merasa takut.

Takut bahwa dunia Agung terlalu besar.

Terlalu kejam.

Dan terlalu kuat untuk dilawan oleh gadis sederhana seperti Wulan.

Hujan turun semakin deras, menutupi langit sore yang tadi masih terang.

Tak ada yang tahu bahwa awan kelabu itu bukan sekadar pertanda cuaca.

Melainkan bayangan masa depan yang perlahan mendekat.

Membawa ujian yang akan mengubah hidup mereka selamanya....

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!