NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, rumah mewah milik Tuan Tuqman tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Berbagai hiasan menghiasi setiap sudut, mulai dari gerbang hingga ke dalam rumah. Halaman depan hingga belakang dipenuhi lampu-lampu neon yang berkelap-kelip indah, berpadu dengan rangkaian bunga segar yang tertata rapi dan elegan. Suasana pesta terasa hangat sekaligus mewah.

Naya turun dari mobil, matanya langsung menyapu area sekitar. Perhatiannya tertuju pada sekelompok muda-mudi yang berdiri di dekat pintu masuk, teman-teman Rima. Saat Naya melangkah mendekat, mereka serempak menoleh dan menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai penampilannya malam itu.

Kali ini, Naya mengenakan gaun mewah edisi terbatas dari butik milik ibu Lucio. Gaun tanpa lengan berwarna peach itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan kesan anggun dan berkelas yang sulit diabaikan. Rambutnya ditata sederhana namun elegan, membuat penampilannya semakin memikat.

Tanpa memedulikan tatapan mereka, Naya melangkah melewati kumpulan itu dan masuk ke dalam rumah. Di dalam, suasana tidak kalah ramai. Para sosialita, teman-teman Irania berkumpul sambil bercengkrama, ditemani alunan musik lembut yang mengisi ruangan. Beberapa tamu lain juga terlihat menikmati hidangan yang tersaji di meja panjang.

Naya mengedarkan pandangannya, mencari sosok ayahnya. Namun ia tidak melihat Tuan Tuqman maupun Irania di antara kerumunan itu.

Di sisi lain ruangan, Rima tampak duduk bersama Ardan di sebuah sofa. Keduanya terlihat tengah berbincang serius. Mata Naya menyipit saat melihat tangan Ardan yang dibalut perban.

Apa dia kecelakaan?

Atau… itu akibat Lucio?

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, tatapannya bertemu dengan Rima. Gadis itu langsung berdiri, menjauh dari Ardan, lalu bergegas menghampiri Naya dengan senyum lebar.

“Terima kasih sudah datang, Kak Naya,” ucap Rima dengan wajah polos atau lebih tepatnya, kepolosan yang terasa dibuat-buat. Seperti biasa, sikapnya tampak ramah dan hangat.

“Selamat ulang tahun, Rima,” balas Naya dengan senyum manis, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Ia berpura-pura tidak mengetahui apapun yang terjadi di antara Rima dan Ardan.

Naya menyerahkan kado yang dibawanya ke tangan Rima, lalu memeluk gadis itu dengan erat. Pelukan yang tampak hangat di luar namun menyimpan banyak hal yang tak terucap di dalam.

“Terima kasih, Kak Naya,” ucap Rima dengan senyum cerah saat menerima kado itu. Matanya tampak berbinar, seolah benar-benar senang.

“Sama-sama,” balas Naya singkat.

Ia kembali mengedarkan pandangannya, mencoba mencari keberadaan ayahnya di antara para tamu. Namun bukannya menemukan sosok yang ia cari, justru matanya beradu dengan Ardan.

Pria itu menatapnya.

Tatapannya aneh, tidak penuh amarah seperti tadi, tapi juga tidak bisa disebut hangat. Tatapannya sulit Naya artikan, namun membuatnya merasa tidak nyaman.

Naya segera mengalihkan pandangannya, memilih fokus pada Rima yang berdiri di depannya daripada menatap Ardan lebih lama, karena ia masih takut setiap kali melihat pria itu.

“Papa mana?” tanyanya.

“Papa sebentar lagi bergabung,” jawab Rima santai. “Dia masih di ruang kerja, lagi mengurus sesuatu.”

Naya mengangguk pelan.

Ia memberi senyum tipis pada Rima, lalu mundur beberapa langkah, membiarkan gadis itu kembali menikmati pesta ulang tahunnya bersama para tamu.

Sementara itu, Naya memilih menjauh dari keramaian. Ia berjalan ke sudut ruangan yang lebih sepi, lalu mengambil segelas jus stroberi dari meja hidangan.

Ia duduk perlahan, memegang gelas itu tanpa benar-benar meminumnya.

Tak lama kemudian, Tuan Tuqman dan Irania akhirnya muncul dari arah tangga. Keduanya langsung menyapa para tamu dengan senyum ramah.

Beberapa saat setelah itu, seorang pelayan, Lice, masuk sambil membawa kue ulang tahun yang besar dan mewah. Lilin-lilin di atasnya sudah menyala, memancarkan cahaya hangat di tengah ruangan.

Perlahan, semua tamu mulai berkumpul.

Suasana semakin meriah…

Hanya Naya yang merasa kesepian ditengah keramaian itu, ia merasa seperti bukan sedang berada di rumah.

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you Rima." Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rima. Tuan Tuqman dan Irania tersenyum lembut.

Rima memejamkan mata untuk membuat wish, lalu meniup lilin dan semua orang bertepuk tangan.

“Potongan pertama untuk Mama dan Papa,” ujar Rima ceria. Ia mengambil potongan kue pertama, lalu dengan penuh perhatian menyuapkannya kepada Tuan Tuqman dan Irania.

“Terima kasih, sayang. Papa doakan yang terbaik untuk kamu,” ucap Tuan Tuqman sambil tersenyum hangat. Ia kemudian menyerahkan sebuah kotak kado kecil.

Naya yang memperhatikan dari kejauhan tahu, isi kotak itu pasti bukan barang biasa. Jika bukan cincin berlian mahal, maka sesuatu yang nilainya tidak jauh dari itu.

“Makasih, Pa,” jawab Rima dengan senyum lebar, tampak begitu bahagia.

“Selamat ulang tahun, anak Mama,” giliran Irania yang berbicara. Ia memberikan kado lain dengan ekspresi penuh kasih. “Semoga semua yang kamu inginkan bisa tercapai.”

“Terima kasih, Ma,” balas Rima manja, memeluk ibu tirinya dengan hangat.

Semua orang tersenyum, suasana terasa penuh kehangatan dan kebahagiaan. Tawa kecil terdengar di sana-sini, seolah malam itu benar-benar sempurna.

Namun tidak bagi Naya.

Tanpa menarik perhatian, ia perlahan beranjak dari tempatnya. Langkahnya ringan, nyaris tak terdengar di tengah keramaian. Ia menyelinap menjauh dari kerumunan, menuju tangga, lalu naik ke lantai dua.

Sesampainya di atas, Naya langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu pelan di belakangnya.

Keramaian di bawah terasa begitu jauh.

Dan untuk saat ini, berada disini jauh lebih baik.

Pikirannya sedang terlalu kacau untuk berpura-pura tersenyum di tengah pesta yang terasa asing baginya.

*

Pesta ulang tahun Rima telah selesai sejak setengah jam yang lalu. Para tamu pun sudah pulang satu per satu, meninggalkan rumah yang kini kembali sunyi.

Naya sedang berbaring di kamarnya. Malam ini ia memutuskan untuk menginap, sesuai permintaan ayahnya. Namun meskipun tubuhnya terasa lelah, matanya tetap sulit terpejam.

“Haus banget,” gumamnya pelan.

Ia baru sadar belum minum sejak tadi. Dengan sedikit malas, Naya akhirnya bangkit dari kasur, merapikan rambutnya sekilas sebelum berjalan keluar kamar.

Tangga yang ia turuni hanya diterangi cahaya redup dari lampu malam. Suara langkahnya sendiri terdengar lebih jelas di tengah kesunyian malam.

Namun saat melewati ruang kerja ayahnya, langkah Naya melambat.

Entah kenapa, perasaannya terusik.

Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang memperlihatkan bagian dalam ruangan yang tidak terlalu gelap.

Naya berhenti tepat di depan pintu itu.

Niatnya untuk pergi ke dapur seketika menghilang.

Perlahan, dengan rasa penasaran yang sulit dijelaskan, ia melangkah mendekat ke arah pintu ruang kerja tersebut.

“Nona Naya sepertinya sudah tidur, Tuan.”

Tangan Naya yang hendak mendorong pintu seketika tertahan saat mendengar suara Lice dari dalam. Ia menajamkan telinga untuk mendengar lebih jelas pembicaraan di dalam.

Lice… sedang berbicara dengan Papa?

Ia berdiri diam di tempat, tidak berani bergerak sedikitpun.

“Kamu harus memberikannya malam ini.” Suara Tuan Tuqman terdengar dingin, nyaris tanpa emosi, berbeda jauh dari sosok ayah yang biasa ia kenal.

Memberikan apa?

Nafas Naya mulai terasa berat. Ia menarik tangannya dari gagang pintu, meremas cemas ujung baju tidurnya. Tidak mungkin kan apa yang dikatakan Lucio itu benar?

“Kita tidak perlu terburu-buru, Om—”

Suara lain menyela.

Ardan.

Mata Naya melebar, jantungnya berdetak semakin kencang. Kenapa Ardan juga ada di dalam?

“Kita sudah tidak punya waktu, Ardan,” potong Tuan Tuqman tegas. “Naya sudah berusia dua puluh lima tahun lima belas hari.”

Alis Naya bertaut bingung.

Usianya?

Kenapa mereka membahas usianya dengan nada seperti itu?

Ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Namun ada dua hal yang berhasil ia tangkap dengan jelas, pertama, ayahnya ingin Lice memberikan sesuatu kepadanya. Dan kedua, sesuatu itu berkaitan langsung dengan usianya.

Perasaan tidak nyaman semakin menguat.

“Baik, Tuan. Saya akan memberikannya malam ini… atau setidaknya besok pagi,” jawab Lice patuh. “Kalau begitu, saya permisi.”

Langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu.

Panik, Naya segera mundur. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menjauh dari sana, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Ia langsung menuju dapur, seperti tujuan sejak awalnya.

Sesampainya di sana, Naya menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan yang agak gemetar. Air itu sedikit tumpah, namun ia tidak peduli.

Pikirannya kacau.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Dan apa yang sedang direncanakan oleh ayahnya hingga ia tidak boleh mengetahuinya?

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!