NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Marina seperti biasa memasang wajah datarnya.

Lalu ia mengangkat dua jarinya membentuk pose damai.

"Yaho."

Sapaan yang sangat santai.

Berbeda sekali dengan Cecil yang berdiri di sebelahnya.

Dari wajahnya saja sudah jelas dia masih kesal pada Kai.

Tatapannya tajam seperti ingin mengusirnya dari dunia ini.

Kai memijat pelipisnya.

"Kenapa aku selalu terlibat dengan orang-orang ini…"

gumamnya pelan.

Ia lalu berbicara dengan ragu.

"Anu…"

"Sepertinya aku akan menunggu petualang baru yang akan mendaftar saja."

Kai berbalik menuju pintu keluar guild.

"Kalau begitu… saya perm—"

Namun—

Langkahnya tiba-tiba terhenti.

Seluruh anggota White Snow berdiri menghalangi jalannya.

"..."

Kai membeku.

Amane melangkah sedikit maju.

Mata dan bibirnya tersenyum lembut.

Namun entah kenapa auranya terasa menekan.

"Kenapa memangnya?"

Ia memiringkan kepala sedikit.

"Atau jangan-jangan…"

"...Anda merasa tidak puas jika bersama kami?"

Kai langsung menegang.

"T-tidak!"

"Tentu saja tidak!"

Ia melambaikan tangan panik.

"Saya sama sekali tidak merasa begitu!"

Marina hanya menatap Kai tanpa berkedip.

Seolah sedang mengamati hewan langka.

Cecil mendengus pelan.

"Master terlalu baik…"

gumamnya.

Sementara itu—

Di tempat lain.

Sebuah bangunan gelap yang tampak seperti markas kelompok bayangan.

Pria besar yang sebelumnya menyerang Kai sedang berlutut di lantai.

Wajahnya penuh keringat.

Ia menjelaskan dengan panik.

"M-misi saya gagal…!"

Beberapa pria lain berdiri di sekitar ruangan.

Suasana sangat sunyi.

Langkah kaki terdengar.

Seseorang berjalan mendekati pria itu.

Suara langkahnya pelan.

Namun setiap langkah terasa berat.

"…Aku menyuruhmu menyelidiki anak itu."

Suaranya dingin.

"Kenapa kau malah melakukan hal yang tidak perlu?"

Orang itu berhenti tepat di depan pria besar tadi.

"Sudah sering kukatakan, bukan?"

"Pastikan kau membawa pulang buruan mu."

Pria itu langsung membungkuk lebih dalam.

"Mohon maafkan saya!"

"L-lain kali saya pasti akan—!"

"Saya berjanji akan berguna bagi Ronal-sama!"

Orang yang berdiri di depannya adalah Ronal.

Pemimpin kelompok itu.

Namun sebelum pria itu selesai bicara—

SLASH.

Sebuah tebasan singkat terdengar.

Kepala pria itu terlempar ke lantai.

Tubuhnya roboh tanpa suara.

Darah mengalir perlahan di lantai batu.

Ronal bahkan tidak terlihat berubah ekspresi.

Ia hanya mengibaskan pedangnya sedikit.

"Dasar bodoh."

"Bagi orang yang tidak berguna…"

"...tidak ada kata lain kali."

Ia lalu berbalik.

Menoleh sedikit pada anak buahnya.

"Hei."

"Bersihkan sampah itu."

"Dan sebarkan rumor buruk tentang anak itu di guild."

Ia menyipitkan matanya.

"Buat lebih parah dari sebelumnya."

"Kalau kita berhasil mengucilkannya…"

"Banyak hal akan jadi lebih mudah."

Seseorang dari belakang Ronal berbicara dengan nada menjilat.

"Seperti biasa, Ronal-sama memang luar biasa."

Ia tertawa kecil.

"Anda memang sangat suka menindas yang lemah."

"Dan berkat itu juga…"

Ia menyeringai lebar.

"Tidak ada orang yang bisa meniduri wanita sebanyak saya."

Ia menepuk dadanya bangga.

"Tentu saja… itu adalah saya, Giro."

Ronal berjalan menuju kursi besar di ruangan itu.

Ia duduk santai.

Pipinya disandarkan pada satu tangan.

"Kalau begitu seperti yang kukatakan…"

"Jangan terburu-buru."

"Kita pojokkan dia perlahan."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Akhirnya muncul juga tumbal yang bagus."

"Seseorang yang punya hubungan dengan White Snow."

Matanya berkilat.

"Jika dimanfaatkan dengan baik…"

Ia tertawa kecil.

"Tubuh para wanita kelas atas itu…"

Senyumnya semakin lebar.

"Jika dipimpin olehku…"

"Kalian mungkin bisa melakukan apa saja pada mereka."

Ruangan itu dipenuhi tawa rendah para anak buahnya.

Kembali ke Guild Petualang.

Pembicaraan antara Kai dan anggota White Snow masih belum selesai.

Amane sedikit memiringkan kepalanya.

"Atau jangan-jangan…"

"Jika bersama kami…"

"...Anda merasa tidak puas?"

Wajah Kai langsung menegang.

Keringat kecil muncul di pelipisnya.

"T-tidak!"

"Mana mungkin saya tidak merasa puas…!"

Di dalam hati, Kai mengeluh.

"White Snow menemani aku melakukan misi kenaikan rank…"

"Ini malah bakal bikin aku makin jadi pusat perhatian."

Ia melambaikan tangannya ke depan, mencoba menolak dengan halus.

"Tapi kan…"

"Aku tidak mungkin merepotkan White Snow."

Amane melipat tangannya.

"Tenang saja."

"Justru sebaliknya."

Ia menatap Kai lurus.

"Ada banyak sekali rumor tidak baik yang beredar tentang Anda."

Kai langsung membeku.

Amane melanjutkan dengan nada tenang.

"Kami menawarkan diri menemani Anda…"

"...demi memastikan kebenaran dari semua rumor itu."

Wajah Kai langsung panik.

"Eh?"

"Ada banyak rumor aneh tentangku?"

Amane lalu menambahkan dengan ekspresi serius.

"Supaya jelas…"

"Saya tidak percaya pada Anda, Kai-san."

Kai yang tadinya ingin menjelaskan langsung terdiam.

Wajahnya makin tegang.

Sementara itu—

Para petualang lain di guild yang mendengar ucapan Amane langsung bersorak.

"NAH! Gitu dong!"

"Siapa juga yang mau percaya sama orang kayak dia!"

"Tampangnya saja kayak orang hilang arah!"

"Sudah kuduga White Snow memang panutan!"

"Amane-san hajar dia habis-habisan!"

"Woi bocah Kai! Jangan coba-coba kabur ya!"

Kai memegang kepalanya.

"Ah gawat…"

"Ini sih… fix aku bakal pergi bareng mereka."

--Berpetualang sambil makan dan tidur bersama Sword Princess--

Beberapa waktu kemudian.

Kelompok itu sudah berkumpul di gerbang kota.

Misi pengawalan kali ini adalah mengawal seorang wanita muda.

Usianya kurang lebih sama dengan mereka.

Wanita itu terlihat gelisah.

"Aku Febriana dari Plain…"

"Tapi sekarang aku adalah buronan yang sedang bersembunyi."

Suaranya terdengar tegang.

"Apa yang akan terjadi padaku…"

Nia langsung menggenggam kedua tangan Febriana dengan dramatis.

"Nona, tenang saja!"

"Kami akan mempertaruhkan nyawa untuk mengantarmu sampai tujuan!"

Nada suaranya bahkan sedikit histeris.

Cecil yang biasanya galak sekarang terlihat jauh lebih kalem.

"Betul sekali."

"Kami pasti akan melindungi Anda."

Febriana menatap Nia dan Cecil dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih…"

"Demi kalian juga… aku pasti akan sampai di kota sebelah."

Nia menatapnya dengan penuh emosi.

"Nona…"

"Anda sudah tumbuh menjadi begitu hebat."

Kai yang dari tadi menonton adegan itu hanya memasang wajah datar.

Akhirnya ia membuka suara.

"Anu…"

"Bisa tidak kita berhenti sandiwara dan cepat berangkat?"

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Nia mengerutkan dahi.

"Apaan sih merusak suasana aja."

Amane kemudian menjelaskan.

"Misi kita sebenarnya adalah mengawal seseorang VIP dari kota ini menuju kota sebelah."

"Itulah skenario misi kenaikan rank kali ini."

Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Dan saya berperan sebagai VIP tersebut."

"Jadi tolong jangan bercanda."

Nia tertawa kecil.

"Oh begitu ya."

"Kami tadi setengah bercanda."

"Tapi pada dasarnya super serius loh."

Febriana memiringkan kepalanya.

"Oh gitu?"

"Jadi benar-benar setengahnya bercanda dong?"

Kai memijat pelipisnya.

"Party macam apa ini…"

Amane lalu berbalik ke arah Kai.

"Pokoknya…mohon bantuannya selama perjalanan empat hari ke depan."

Kai menjawab dengan sedikit terbata.

"Ah… i-iya."

"Saya juga mohon bantuannya."

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!