NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Antara Musuh dan Penyelamat

Heras tertegun hebat dengan ucapan Liang yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu. Hening sejenak menyelimuti mereka berdua, sementara pikiran Heras melayang jauh ke masa lalu. Ia yakin sepenuhnya bahwa jika ia tidak dipilih oleh Luminar sebagai penyatu, maka nasibnya pasti akan sama dengan teman-teman sebayanya yang lain—masuk ke dalam pasukan pertahanan manusia, berjuang di garis depan setiap hari dengan nyawa yang terus-menerus terancam. Namun, kenyataan adalah kenyataan yang tidak bisa diubah. Takdir berkata lain, ia dipilih oleh Luminar untuk menanggung beban berat yang jauh lebih besar, yaitu nasib dan keselamatan seluruh umat manusia. Dengan hati yang penuh campur aduk antara rasa bangga dan tanggung jawab yang menekan dada, ia tersenyum tipis menanggapi ucapan tulus dan penuh dukungan dari Liang. Liang kemudian melanjutkan ceritanya, menceritakan pengalaman-pengalaman berharga, suka duka, dan pelajaran hidup yang ia dapatkan selama ini, membuat waktu berlalu begitu cepat hingga hari pun akhirnya berganti menjadi malam, lalu kembali menyingsing pagi.

Beberapa waktu kemudian, Heras kini tengah duduk bersandar di tempat tidur ruang rawatnya, menyantap makanan yang diantarkan oleh perawat yang ramah. Piring-piring di depannya penuh sesak dengan berbagai jenis makanan yang sangat banyak, mengingat perutnya yang masih terasa sangat lapar setelah kejadian sebelumnya. Tanpa ragu, ia melahap makanan itu dengan lahap, memesan tambahan beberapa kali hingga perutnya benar-benar terasa kenyang dan bertenaga kembali. Ketika ia telah menghabiskan semua makanan di piring-piring itu, ia meraih sebuah kemasan besar berisi air susu dan meminumnya hingga tandas, merasakan segarnya cairan itu mengalir di tenggorokannya.

Baru saja ia meletakkan kemasan kosong itu di meja samping tempat tidur, tiba-tiba ia mendengar suara alarm yang keras dan mendesak keluar dari jam tangan yang ia kenakan—jam pemberian spesial dari Liang. Suara itu bergema jelas di ruangan yang sunyi: "Muncul serangan monster, diulangi, muncul serangan monster. Lokasi di perumahan 4A. Seluruh pasukan yang bertugas, segera bergerak untuk bertempur. Utamakan keselamatan para penduduk! Ulangi, utamakan penduduk!"

Jantung Heras berdegup kencang seketika. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia bergegas bersiap untuk berubah menjadi Luminar. Saat ia menekan dadanya dengan telapak tangan untuk memicu transformasi, ia tak sengaja mengaktifkan jendela status yang biasanya tersembunyi. Cahaya biru yang lembut namun terang tiba-tiba muncul di hadapannya, menampilkan data dirinya secara rinci:

[Jendela Status Luminar- Level 6]

Penyatu: Heras

Exp: 35/40

Energi: 10015/10015

Daya Hidup: 2015/2015

Kekuatan Fisik: 25 + 5

Kecepatan: 25 + 15

Mental: - + 25

Pertahanan: 25 + 3

Kemampuan:

-Transformasi Ukuran: Penyatu sampai 20 meter (Aktif)

-Meta Field: Radius 1 km (Aktif)

-Luapan Energi (Aktif)

"Wah, sebentar lagi aku naik level 7. Hampir saja," gumam Heras dalam hati, matanya sejenak terpaku pada angka Exp yang hampir penuh. Namun, ia segera tersadar dan menggelengkan kepalanya. "Eh, bukan saatnya untuk memikirkan itu sekarang! Ada orang yang butuh pertolongan!" heras yang sempat teralihkan itu segera mengusap layar jendela status di depannya, dan cahaya biru itu perlahan menghilang seiring dengan tubuhnya yang mulai diselimuti cahaya putih yang menyilaukan.

Dalam sekejap, sosok Luminar kini telah muncul sepenuhnya di ruangan itu. Warna putih pada tubuhnya terlihat begitu bersih dan berkilau seperti biasa, kontras dengan dinding ruangan yang berwarna pucat. Tubuhnya yang kekar dan kuat terlihat sangat kokoh, memancarkan aura kekuatan yang luar biasa. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian—warna emas yang indah di punggungnya tetap terlihat bersinar walaupun ia belum mengenakan skill Luapan Energi, seolah-olah itu adalah tanda khas yang melekat padanya.

Tanpa menunggu lagi, Luminar—atau Heras—bergegas melesat keluar dari ruangan itu, menembus jendela dan terbang menuju arah yang dimaksud oleh pesan di jam tangan itu. Angin berhembus kencang menerpa tubuhnya saat ia melaju dengan kecepatan tinggi di udara. Ketika ia akhirnya sampai di tempat yang dimaksud, pemandangan yang menyambutnya membuat matanya membelalak. Ia melihat segerombolan pasukan manusia yang telah tiba lebih dulu, sedang berusaha sekuat tenaga menyerang sebuah monster besar yang mengerikan. Itu adalah seekor monster hiu yang sangat besar dan kuat, tubuhnya yang licin dan berwarna gelap tampak menakutkan, dengan ukuran yang bahkan mencapai lebih dari 20 meter—lebih besar dari apa yang pernah ia bayangkan.

Heras bisa melihat dengan jelas bahwa pasukan manusia sedang kewalahan. Mereka terbagi menjadi dua tugas: mengevakuasi warga yang panik dan terluka, serta menahan serangan ganas dari monster hiu raksasa itu. Formasi mereka mulai goyah, dan teriakan-teriakan perintah serta jeritan ketakutan terdengar bersahutan di udara yang berdebu.

Melihat situasi yang genting itu, Heras tidak bisa diam lagi. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya, melesat bagai kilat ke arah warga-warga yang terlihat kesulitan dan terjebak di tengah kekacauan.

Luminar melesat bagai kilat, matanya yang tajam memindai setiap sudut perumahan 4A yang sudah hancur lebur dan berantakan. Asap hitam mengepul dari beberapa bangunan yang terbakar, dan puing-puing beton berserakan di mana-mana. Di depannya, sebuah bangunan apartemen yang tinggi runtuh sebagian, menimpa beberapa warga yang terperangkap di bawahnya dan terjerit meminta tolong dengan suara yang parau. Tanpa ragu sedikitpun, Luminar mengulurkan tangannya yang besar namun terlihat sangat lembut. Dengan mudah, ia mengangkat balok beton tebal dan berat seolah itu hanyalah selembar kertas tipis. Di bawah reruntuhan itu, seorang ibu yang memeluk erat dua anaknya terlihat terguncang dan ketakutan, namun untungnya mereka selamat dari luka parah. "Pegang erat-erat pada saya," suaranya bergema lembut namun tegas, mampu terdengar jelas di tengah kegaduhan di sekitarnya. Ia menggendong mereka bertiga dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti mereka sedikitpun, lalu bergerak secepat angin menuju zona aman yang sudah ditandai oleh pasukan di pinggiran perumahan.

Di perjalanan menuju zona aman, ia hampir bertabrakan dengan sekelompok prajurit yang sedang berlari kencang membawa peralatan evakuasi dan senjata. Mereka ternganga lebar, mata mereka terbelalak kaget melihat sosok raksasa berwarna putih bersih itu datang mendekat dengan kecepatan tinggi. "Monster! Ada monster lagi! Serang!" teriak salah satu prajurit yang panik, langsung mengangkat senjatanya dan bersiap menembak. Namun, mereka semua tertegun seketika saat melihat sosok raksasa itu justru menurunkan keluarga yang selamat itu dengan lembut di tempat yang aman, lalu tanpa berkata apa-apa, langsung berbalik arah dan melesat kembali menuju pusat bahaya untuk menolong orang lain.

"Tunggu... dia bukan menyerang kita," gumam seorang prajurit senior yang lebih berpengalaman, perlahan menurunkan senjatanya sambil masih terlihat tidak percaya. "Dia... dia benar-benar menyelamatkan orang-orang itu?"

Luminar sama sekali tidak mempedulikan kebingungan dan tatapan heran dari para prajurit itu. Pikiran dan fokusnya hanya satu: menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Ia sudah bergerak masuk ke dalam sebuah rumah yang dindingnya retak parah dan hampir rubuh. Di dalamnya, seorang kakek tua terlihat terjebak di kamar tidurnya karena pintu keluar terhalang oleh tumpukan puing-puing kayu dan batu bata. Dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran tubuhnya yang besar, Luminar dengan cekatan menembus celah dinding yang sempit, menghindari benda-benda yang jatuh, lalu dengan lembut mengangkat kakek tua itu yang tampak lemah dan gemetar. Dalam sekejap mata, ia sudah membawanya keluar dari tempat yang berbahaya itu menuju tempat yang lebih aman.

Sesekali, saat ia bergerak dengan sangat cepat dari satu tempat ke tempat lain, ia "bertabrakan" secara tidak sengaja dengan pasukan yang sedang bergerak—bukan bermaksud menyerang atau menyakiti, melainkan hanya lewat dengan sangat cepat hingga angin kencang yang dihasilkan dari gerakannya membuat para prajurit-prajurit itu terhuyung-huyung dan hampir jatuh. Setiap kali ia lewat di hadapan mereka, bisik-bisik kaget dan pertanyaan-pertanyaan terdengar di antara barisan pasukan. "Itu apa sebenarnya? Makhluk apa itu?" tanya seorang prajurit muda dengan nada takut namun penasaran. "Dia putih bersih sekali, tidak seperti monster lain yang menjijikkan dan berbau busuk," komentar yang lain. "Tapi ukurannya sebesar monster... tapi kenapa dia justru menolong warga kita?" tanya seorang lagi, masih bingung dengan situasi yang terjadi di depannya.

Kericuhan dan kebingungan itu akhirnya terdengar di seluruh saluran komunikasi pasukan lewat jam tangan mereka. Para komandan yang berada di markas dan para prajurit yang berada di lapangan saling berdebat dengan nada yang emosional.

— "Itu pasti monster! Tembak saja sekarang sebelum dia berbalik menyerang kita! Kita tidak bisa mengambil risiko!" teriak seorang komandan dari markas.

— "Gila ya apa? Kamu lihat tidak apa yang dia lakukan? Dia baru saja menyelamatkan tiga orang dari reruntuhan apartemen! Dia bukan musuh!" bantah seorang prajurit di lapangan dengan nada kesal.

— "Tapi kita tidak tahu apa itu makhluk! Protokol keamanan mengatakan kita harus menembak semua makhluk asing yang berukuran besar dan tidak teridentifikasi!" seru yang lain, tetap memegang aturan.

— "Lihat lagi layar pengawasan atau lihat langsung di depan matamu! Dia sedang menggendong seorang anak kecil sekarang dan membawanya ke tempat aman! Jangan bodoh dan bertindak gegabah!" hardik prajurit senior itu, berusaha menenangkan situasi.

Perdebatan yang tak kunjung usai itu akhirnya membuat konsentrasi seluruh pasukan menjadi pecah dan berantakan. Formasi pertahanan yang seharusnya rapi dan solid untuk menahan serangan monster hiu menjadi kacau balau, muncul celah-celah kosong yang tidak terisi oleh prajurit, menciptakan peluang besar bagi monster untuk menyerang.

Melihat celah yang menguntungkan itu, monster hiu raksasa itu seolah menyadari kelemahan pasukan manusia. Ia mengaum sangat keras—suaranya bukan sekadar raungan marah biasa, melainkan erangan yang memekikkan telinga, begitu tajam dan menusuk hingga membuat para prajurit yang mendengarnya langsung menutup telinga mereka dengan kesakitan, beberapa bahkan sampai jatuh berlutut. Segera setelah mengeluarkan suara yang mengerikan itu, dengan ekornya yang kuat dan besar, ia menyapu segala sesuatu yang ada di sekitarnya—puing-puing bangunan, mobil-mobil yang sudah hancur dan terbalik, bahkan tiang listrik yang tinggi—dan melempar semuanya dengan ganas dan cepat ke arah pasukan yang berada di sisi timur.

"Waspada! Serangan samping! Hindari benda terbang!" teriak seorang komandan di lapangan dengan suara yang keras, namun sayangnya itu terlambat. Benda-benda berat itu meluncur deras bagai hujan batu menuju barisan pasukan yang berada di sisi timur, yang kini masih bingung antara harus memerangi monster hiu atau memahami sosok misterius Luminar yang justru menolong mereka. Situasi di perumahan 4A menjadi semakin kacau dan berbahaya.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!