NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Perempuan yang Tidak Diinginkan

Udara pagi yang tadi terasa tenang berubah menjadi tegang dalam hitungan detik. Ishani masih berdiri di dekat mobil dengan Iyan dalam pelukannya. Bayi itu tertidur, tidak menyadari apa pun. Namun tangan Ishani sedikit mengerat.

Tatapan wanita di depannya terlalu dingin.

Terlalu menilai. “Jadi ini perempuan itu.”

Suara Bu Lucy terdengar datar. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak nyaman.

Langit berdiri satu langkah di depan Ishani. Tanpa sadar. Seolah refleks. “Bu,” katanya pelan.

Bu Lucy menoleh sedikit ke arah Langit. “Kami mencarimu di apartemen, ternyata kamu di sini… bersama wanita ini.”

Langit tidak langsung menjawab. “Ini rumah saya. Saya bisa bersama dengan siapapun yang saya mau.”

Jawaban itu tenang. Tapi cukup membuat alis Bu Lucy sedikit terangkat.

Pak Rama yang berdiri di sampingnya akhirnya angkat bicara. “Kami datang untuk bicara.”

Langit menatap ayahnya. “Soal perusahaan?”

“Bukan hanya itu.”

Ishani menunduk sedikit. Ia bisa merasakan ini bukan tempatnya.

“Kamu Ishani, bukan?” tanya Bu Lucy dengan suara terhenti.

Ishani mengangkat kepalanya, menoleh perlahan. “Iya.”

Tatapan Bu Lucy kembali turun ke arah bayi di pelukannya. “Anakmu?”

“Iya.”

“Anak dari adiknya Langit.” Bu Lucy berkata tanpa ragu,

Kalimat itu tidak terdengar seperti pertanyaan. Lebih seperti penilaian.

Ishani tidak menjawab.

Langit langsung memotong, “Cukup, Bu.”

Bu Lucy menoleh padanya. “Aku hanya memastikan.”

Langit menatapnya lebih tajam. “Tidak perlu.”

Pak Rama menghela napas pelan. “Langit.” Nada suaranya lebih tenang. “Kami tidak datang untuk bertengkar di depan rumah.”

Langit tidak menjawab. Namun ia akhirnya membuka pintu. “Masuk.”

Keempatnya masuk ke dalam ruang tamu. Bu Maura keluar dari dapur begitu mendengar suara. Langkahnya terhenti saat melihat siapa yang datang. Wajahnya berubah. Namun ia tetap berdiri tegak.

“Sudah lama,” katanya pelan.

Bu Lucy tersenyum tipis. “Iya. Sudah sangat lama.”

Pak Rama terlihat sedikit canggung. “Maura…”

Namun wanita itu tidak menatapnya lama.

Hanya mengangguk kecil. “Silakan duduk.”

Mereka duduk berhadapan.

Ishani memilih berdiri sedikit di belakang.

Tidak ikut dalam lingkaran pembicaraan.

Namun tetap tidak benar-benar pergi.

Langit duduk di kursi utama. Tatapannya bergantian antara ayahnya dan wanita di sampingnya. “Apa yang ingin dibicarakan?” tanyanya langsung.

Pak Rama tidak berputar-putar. “Keputusan kemarin.”

Langit mengangguk kecil. “Tentang Wicaksana Insurance.”

“Ya.”

Pak Rama melanjutkan, “Zaka tidak menerima keputusan itu.”

Langit tersenyum tipis. “Itu bukan hal baru.”

Bu Lucy langsung menyela, “Tapi keluarga ini tidak bisa berjalan dengan konflik terus-menerus.”

Langit menoleh. “Konflik itu muncul karena keputusan yang salah.”

“Menurutmu.”

“Menurut data.”

Suasana kembali menegang. Pak Rama mengangkat tangan sedikit, mencoba menengahi. “Langit, ini bukan hanya soal angka.”

“Justru ini soal angka,” jawab Langit tegas. “Perusahaan hampir jatuh karena keputusan Zaka.”

Bu Lucy menatapnya tajam. “Dan kamu pikir kamu bisa memperbaiki semuanya sendirian?”

Langit tidak menjawab. Namun tatapannya cukup jelas. Dari sudut ruangan, Ishani memperhatikan. Ia tidak mengerti semua soal bisnis itu. Namun satu hal yang ia lihat, Langit tidak mundur.

“Masalahnya bukan hanya itu,” lanjut Bu Lucy.

Langit menoleh. “Lalu?”

Wanita itu menatap Ishani sekilas. Lalu kembali ke Langit. “Keputusan pribadi kamu juga mulai memengaruhi perusahaan.”

Langit langsung tahu arah pembicaraan itu. “Ini tidak ada hubungannya.”

“Semua ada hubungannya. Keputusanmu menikahi istri adikmu mengubah semuanya.”

Langit berdiri dari kursinya. “Tidak.”

Nada suaranya tetap rendah. Tapi tegas. “Jangan bawa dia ke dalam ini.”

Tatapan Bu Lucy tidak berubah. “Kalau kamu serius dengan perempuan itu… maka dia sudah ada di dalam ini.”

Ishani langsung menegang.

Bu Maura yang sedari tadi diam akhirnya berbicara. “Cukup!”

Semua menoleh.

Wanita itu berdiri perlahan. “Ini bukan tempat untuk membicarakan hal seperti itu.”

Bu Lucy tersenyum tipis. “Kenapa? Karena ini rumahmu?”

“Karena ini bukan urusanmu,” sahut Bu Maura menatap tajam ke arah istri dari mantan suaminya.

Kalimat itu membuat suasana semakin panas.

Pak Rama langsung berdiri. “Sudah.” Ia menatap Bu Lucy sebentar, lalu kembali ke Langit. “Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan cara ini.”

Langit tetap diam.

Pak Rama melanjutkan, “Kita semua hanya ingin kamu berpikir ulang.”

“Tidak.”

Jawaban itu keluar tanpa jeda.

Semua orang terdiam.

Langit menatap ayahnya lurus. “Keputusan ini sudah final.”

Pak Rama menghela napas panjang.

“Baik.” Ia berbalik. “Kita pergi.”

Namun sebelum melangkah keluar, Bu Lucy berhenti. Ia menoleh ke arah Ishani.

Tatapannya kembali tajam. “Kamu.”

Ishani sedikit terkejut. “Dunia yang kamu masuki sekarang… bukan dunia yang sederhana.”

Ishani tidak menjawab. Namun kali ini, ia tidak menunduk. Tatapannya tetap tenang.

Bu Lucy tersenyum tipis. “Semoga kamu cukup kuat.”

Setelah itu, ia benar-benar pergi. Suara mobil menjauh.

Ishani masih berdiri di tempatnya. Tangannya perlahan mengusap punggung Iyan. Langit berdiri beberapa langkah di depannya. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Akhirnya Ishani membuka suara. “Maaf.”

Langit langsung menoleh. “Untuk apa?”

“Karena aku… jadi masalah.”

Langit menghela napas pendek. Ia berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan Ishani. “Kamu bukan masalah.”

“Tapi–”

“Shani.” Nada suaranya lembut. Berbeda dari yang tadi. “Jangan pernah berpikir begitu.”

Ishani menatapnya.

Langit melanjutkan, “Masalahnya sudah ada jauh sebelum kamu datang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Ishani terdiam.

Bu Maura mendekat pelan. Ia menatap keduanya bergantian. Lalu tersenyum kecil. “Sudah,” katanya. “Kita tidak jadi pulang hari ini.”

Ishani menoleh. “Bu?”

“Kamu lihat sendiri kan tadi?” lanjutnya santai. “Perjalanan kita tidak akan tenang.”

Langit sedikit mengangguk. “Itu lebih baik.”

Ishani menghela napas pelan. Ia juga merasa belum siap kembali.

🥀🥀🥀🥀🥀

Sementara itu, di tempat lain…

Zaka berdiri di depan meja kerja dengan wajah penuh amarah.

“Jadi benar?” suaranya tajam.

Bu Shinta mengangguk. “Om-mu sudah setuju.”

Zaka tertawa pahit. “Hebat sekali.”

Pak Aksa duduk santai di kursi seberang.

Kakinya disilangkan. Seolah semua ini hanya permainan biasa.

“Kenapa Om terlihat begitu tenang?” tanya Zaka tajam.

Pak Aksa tersenyum tipis. “Karena ini belum selesai.”

Zaka menoleh. “Maksud Om?”

Pria itu berdiri perlahan. Melangkah mendekat. “Langit mungkin mendapatkan posisinya sekarang. Tapi mempertahankannya… itu cerita lain.”

Zaka menatapnya lebih fokus sekarang.

“Om punya rencana?”

Pak Aksa tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke meja. Mengambil sebuah map.

Meletakkannya di depan Zaka. “Buka.”

Zaka membuka map itu. Matanya bergerak cepat membaca isi di dalamnya. Lalu ekspresinya berubah. “Kapan ini terjadi?”

Pak Aksa tersenyum kecil. “Cukup lama untuk dijadikan masalah.”

Zaka menatapnya. “Kalau ini keluar…”

“Bukan hanya Wicaksana Insurance yang akan jatuh,” potong Pak Aksa tenang. “Tapi seluruh grup.”

Zaka terdiam. Lalu perlahan senyum muncul di wajahnya. Senyum yang dingin.

“Dan Langit akan ada di tengahnya.”

Pak Aksa mengangguk. “Direktur utama yang baru… langsung dihantam krisis besar.”

Zaka menutup map itu pelan. “Aku suka ini.”

Pak Aksa menatapnya. “Tapi kita tidak boleh terburu-buru.”

Zaka mengangguk. “Biarkan dia duduk di kursinya dulu.”

“Biarkan dia merasa menang.” Pak Aksa tersenyum tipis. “Lalu kita jatuhkan… di saat yang paling tidak dia duga.”

Keduanya saling menatap, tidak ada yang berbicara lagi. Namun, keduanya seolah memahami isi pikiran satu sama lain.

Kembali ke rumah Langit.

Ishani duduk di dekat jendela, menatap ke luar. Namun pikirannya tidak benar-benar di sana.

Langit datang dari arah kamar. Tadi dia menggendong Iyan yang rewel karena mengantuk.

“Iyan sudah tidur,” lapornya.

Ishani menoleh. “Terima kasih, Kak”

Langit berdiri di sampingnya. Mengikuti arah pandangannya.

 “Kak Langit.” Ishani berkata pelan,

“Iya?”

“Kalau nanti semuanya jadi lebih sulit…” Ia berhenti sebentar. “…apa Kak Langit akan menyesal?”

Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan. Lalu berkata pelan, “Aku sudah memilih.”

Ishani menunggu.

Langit melanjutkan, “Dan aku tidak pernah menyesal dengan pilihanku.”

Ishani tidak berkata apa-apa lagi.

Namun kali ini hatinya jauh lebih tenang.

Tanpa mereka sadari di luar sana, sesuatu sedang disiapkan. Sesuatu yang tidak hanya akan menguji posisi Langit tapi juga semua yang ia lindungi. Dan ketika itu datang, tidak semua orang akan tetap berdiri di tempat yang sama.

1
Aquarius97 🕊️
turut berduka cita ya ishnani... semoga diberi kesabaran 😭
@dadan_kusuma89
Justru ini yang akan menjadi kehangatan kehidupan kalian kedepan
Xlyzy
selama ini sosok langit di bentuk untuk ngejaga biru dan itu tampak nya terbawa hingga biru tiada , awal nya ia hanya ingin memenuhi janji nya pada biru untuk menjaga ishani namun tampak nya hatinya langit mulai menimbulkan perasaan lain namun doktrin identitas nya sebagai penjaga membuatnya menyangkal perasaan suka itu.

begitulah asumsi ku bekerja 😁🤭
Filan
Langit terlalu menjaga, Ishani terlalu sungkan.
Filan
selalu ga enakan
Three Flowers
mungkin Langit sudah terlanjur terbawa perasaan... karena dia adalah orang yang tulus dan mudah luluh
Three Flowers
jangan begitu, Biru... bukankah kamu yang menitipkan penjagaan mereka pada Langit?
Three Flowers
Padahal mereka seusia, tapi tanggung jawab yang harus dipikul Langit seolah jauh di atas usianya.
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
kopi buat otor. semangat ya. aku libur baca dulu buat pekan ini ya
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
sumpah ya ni orang baik banget. 😭 🤌
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
iya bener. kuat2 ya melanjutkan hidup 😭
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
dan pada akhirnya, dia tak ada saat di butuhkan /Cry/ gimana ishani gak terpukul, suaminya aja sesiaga ini
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
Mungkin biru punya firasat, kalo dia memang tak akan bisa melihat anaknya nanti /Scowl/
PrettyDuck
kalo aku liat2, kayaknya kamu tuh sebenernya sayang sama ishani
coba lebih jujur
mungkin pelan iahani bisa terima kamu 🥲
PrettyDuck
duh, ishani juga jangan mulai ungkit2 biru
makin insecure lah langit 😖
PrettyDuck
tau ih langit
bikin ishani serba salah kalo sikapnya begini
Miu Nuha.
kalo terus mengungkit biru rasany sedih ya 🥲,, mungkin sebagian hati kalian msh blm ikhlas akan kepergiannya...
-Thiea-
gak papa kok langit. kamu juga berhak untuk bahagia dan egois.
-Thiea-
langit dipaksa jadi anak kuat. padahal dia punya kehidupan sendiri, tapi dia seperti di larang untuk bahagia dan bertanggung jawab pada biru . sebenarnya gak adil sih.
Yani Sri
hari ini boom like, 1 vote dan secangkir kopi untukmua kak, semangat lanjut yaa.....
Nuri_cha: Terima kasih banyak untuk dukungannya kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!