mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rumah untuk Semua
Jakarta masih panas, tapi angin sore mulai terasa lebih sejuk. Di rumah Menteng, hiruk-pikuk sudah menjadi pemandangan biasa. Tiga anak—Rara (9 tahun), Melati (5 tahun), dan baby Asmara (4 bulan)—menjadikan rumah ini tak pernah sepi.
Pagi itu, Rara berlari-lari di halaman belakang, mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga melati. Melati duduk di ayunan, ditemani Lastri yang sedang menjahit. Baby Asmara digendong Kalara sambil berjalan pelan di teras.
"Ma, kok kupu-kupunya cepet banget?" keluh Rara.
"Karena kamu ngejarnya kencang. Coba duduk diam, nanti dia datang sendiri."
Rara menurut. Ia duduk di samping Melati, diam-diam memperhatikan kupu-kupu itu. Benar saja, beberapa saat kemudian kupu-kupu itu hinggap di bahunya.
"Ma! Lihat! Kupu-kupunya!" pekiknya pelan, takut si kupu terbang.
Kalara tersenyum. "Pintar, Nak."
Di dalam rumah, Arsya dan Nadia sedang berdiskusi dengan Raka di ruang keluarga. Topiknya serius: Eyang Kusuma.
"Kondisinya semakin turun," kata Arsya. "Tante Lastri bilang, semalam beliau jatuh di kamar mandi."
Raka menghela napas. "Kasihan. Kita harus bantu."
"Aku sudah bicara dengan Tante Lastri. Mungkin... mungkin lebih baik Eyang tinggal di sini."
Nadia terkejut. "Di sini? Maksudmu pindah ke rumah ini?"
"Iya. Rumah ini besar. Banyak kamar kosong. Dan kita punya Tante Lastri yang bisa bantu jaga. Juga ada kita semua."
Raka mengangguk pelan. "Ide bagus. Tapi bagaimana dengan Kalara? Apa dia setuju?"
"Kita harus tanya dia."
Sore harinya, saat anak-anak tidur siang, mereka berkumpul di ruang keluarga. Kalara mendengarkan usulan Arsya dengan saksama.
"Eyang pindah ke sini?" ulangnya.
"Iya. Kamar di lantai bawah masih kosong. Bisa kita renovasi sedikit, bikin kamar yang ramah lansia. Pegangan di dinding, lantai anti-slip, kursi roda kalau perlu."
Kalara diam. Pikirannya berkecamuk.
"Kara?" panggil Raka.
Gue... gue setuju, sih. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi... gue takut. Takut kehilangan lagi. Kalau Eyang tinggal di sini, kita makin dekat. Dan kalau nanti... kalau nanti beliau..." Kalara tidak bisa melanjutkan.
Arsya memeluknya. "Aku tahu. Tapi justru karena itu, kita harus memanfaatkan waktu yang ada. Biar Eyang merasakan hangatnya keluarga. Biar kita punya kenangan."
Nadia menambahkan, "Dan kita rawat dia bersama-sama. Tidak ada yang sendirian."
Kalara menghela napas. "Lo yakin ini keputusan tepat?"
"Aku yakin," kata Arsya. "Kalau lo ragu, kita tanya Eyang dulu. Tanya maunya apa."
Mereka sepakat. Besok, mereka akan ke Ciputat, bicara dengan Eyang Kusuma.
Eyang Kusuma sedang duduk di teras rumahnya ketika mereka datang. Wajahnya terlihat lebih kurus, matanya sayu. Tapi begitu melihat rombongan besar—Arsya, Kalara, Rara, Melati, dan baby Asmara di gendongan Nadia—matanya berbinar.
"Cucu-cucuku datang!" sambutnya riang.
Rara langsung berlari memeluk. "Eyang! Rara kangen!"
"Eyang juga kangen, Nak."
Melati menyodorkan gambar. "Ini buat Eyang. Gambar Eyang sama Melati."
"Wah, bagus sekali. Makasih, Sayang."
Setelah basa-basi dan camilan, Arsya memulai pembicaraan. Dengan lembut, ia menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Eyang, kami ingin Eyang pindah ke rumah Menteng. Tinggal bersama kami."
Eyang tertegun. "Pindah? Ke rumah kalian?"
"Iya, Eyang. Di sana ada kamar khusus buat Eyang. Ada Tante Lastri yang bisa jaga. Ada kami semua. Eyang nggak perlu sendirian lagi."
Eyang diam. Matanya berkaca-kaca.
"Nak... Eyang sudah tua. Merepotkan."
"Eyang tidak merepotkan," potong Kalara tegas. "Eyang keluarga kami. Dan keluarga harus saling menjaga."
Rara ikut nimbrung. "Eyang, di rumah Rara ada taman bunga. Ada ayunan. Eyang bisa lihat Rara main!"
Melati menambahkan, "Ada baby Asmara juga. Lucu!"
Eyang tersenyum, tapi air matanya jatuh. "Kalian... sungguh anak-anak baik."
"Jadi, Eyang mau?" tanya Arsya.
Eyang mengangguk pelan. "Eyang mau. Tapi... bagaimana dengan rumah ini?"
"Rumah ini tetap milik Eyang. Nanti ada yang jaga. Atau bisa disewakan. Yang penting Eyang sehat dan bahagia."
Eyang memeluk Arsya. "Makasih, Nak. Makasih banyak."
Minggu itu juga, persiapan dimulai. Kamar kosong di lantai bawah rumah Menteng direnovasi. Arsya, sebagai arsitek, mendesainnya dengan teliti. Pintu lebar untuk kursi roda. Pegangan di kamar mandi. Lantai anti-slip. Tempat tidur khusus yang mudah diatur ketinggiannya.
Kalara mengurus dekorasi. Warna-warna lembut, gorden tipis yang membiarkan cahaya masuk, banyak tanaman hias. Foto-foto keluarga dipajang di dinding—termasuk foto Asmara dan Rarasati.
Rara dan Melati "membantu" dengan cara mereka sendiri. Rara membuat lukisan untuk kamar Eyang. Melati memilihkan boneka-boneka favoritnya untuk menemani Eyang.
Baby Asmara, tentu saja, hanya tidur dan sesekali menangis. Tapi kehadirannya menjadi penghangat.
Dua minggu kemudian, Eyang Kusuma resmi pindah.
Prosesi pindahnya sederhana tapi haru. Lastri memandu dari Ciputat, sementara di rumah Menteng semua bersiap. Saat mobil berhenti di depan pagar, Rara dan Melati sudah berjajar dengan bunga.
"Selamat datang di rumah, Eyang!" teriak mereka bersamaan.
Eyang keluar dari mobil dengan bantuan Arsya dan Raka. Ia menatap rumah Menteng—rumah yang dulu hanya diceritakan Asmara—kini menjadi tempat tinggalnya.
"Asmara," bisiknya. "Ibu di sini, Nak. Di rumah yang dulu kau ceritakan."
Mereka masuk. Kamar Eyang sudah siap. Begitu melihatnya, Eyang terharu.
"Ini... ini kamar yang indah."
"Eyang suka?" tanya Kalara.
"Suka. Suka sekali. Seperti di rumah sendiri."
"Itu memang rumah Eyang sekarang."
Eyang menangis. Tapi kali ini tangis bahagia.
Hari-hari pertama, Eyang beradaptasi dengan lingkungan baru. Rara dan Melati menjadi pemandu wisata yang antusias.
"Eyang, ini taman belakang. Ada pohon beringin tua. Kata Om Arsya, pohonnya sudah seratus tahun!"
"Eyang, ini dapur. Tante Lastri suka masak di sini. Enak!"
"Eyang, ini kamar baby Asmara. Lucu, kan? Bonekanya banyak!"
Eyang tersenyum mengikuti mereka. Meskipun lelah, hatinya bahagia.
Lastri mengambil peran sebagai perawat utama. Ia tinggal di kamar sebelah Eyang, siap sedia kapan pun dibutuhkan. Tapi semua orang bergantian membantu. Arsya dan Raka mengantar Eyang kontrol ke dokter. Kalara dan Nadia bergantian memasakkan makanan lunak. Rara dan Melati "menghibur" dengan pertunjukan dadakan.
Baby Asmara menjadi obat terbaik. Setiap kali Eyang terlihat lelah atau murung, cukup menggendong bayi itu, wajahnya langsung cerah.
"Dia tahu ini buyutnya," kata Arsya suatu hari. "Lihat, dia selalu tenang di gendongan Eyang."
"Iya. Darah tidak pernah berbohong."
Oktober tiba. Eyang sudah sebulan tinggal di rumah Menteng. Kesehatannya membaik. Ia bisa berjalan pelan dengan bantuan tongkat, tidak perlu kursi roda terus-menerus.
Suatu sore, saat duduk di beranda belakang bersama Lastri, Eyang berkata, "Lastri, aku ingin berterima kasih."
Lastri terkejut. "Untuk apa, Tante?"
"Untuk mempertemukan aku dengan mereka. Tanpa kamu, aku tidak akan punya keluarga sehangat ini."
Lastri tersenyum. "Tante, saya juga berterima kasih. Mereka menerima saya juga. Padahal saya bukan siapa-siapa."
"Kamu adiknya Rarasati. Itu sudah cukup."
Mereka berpelukan. Dua wanita paruh baya yang menemukan keluarga di usia senja.
Malam harinya, setelah anak-anak tidur, mereka berkumpul di ruang keluarga. Eyang ikut, duduk di kursi malas yang nyaman.
"Eyang mau cerita," katanya.
Semua diam, siap mendengar.
"Dulu, waktu Asmara masih kecil, dia sering bertanya tentang ayahnya. Aku selalu bilang, ayahmu di surga, menjaga kita. Tapi Asmara tidak pernah sedih. Ia justru berkata, 'Bu, kalau ayah di surga, berarti kita punya malaikat penjaga.'"
Arsya tersenyum. "Ayah orang yang positif."
"Iya. Ia selalu melihat sisi baik dari segala sesuatu. Mungkin itu yang membuatnya berani memperjuangkan cintanya pada Rarasati."
Kalara memegang liontin di dadanya—pemberian Asmara. "Ayah pasti bangga lihat kita sekarang."
"Pasti. Ia tersenyum dari sana."
Malam itu, Eyang bercerita panjang lebar. Tentang Asmara kecil, tentang masa-masa sulit, tentang harapan-harapannya. Semua mendengarkan dengan takjub, seolah menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
Baby Asmara terbangun dan mulai rewel. Kalara menggendongnya, menyusuinya. Eyang menatap mereka dengan pandangan sayang.
"Eyang ingin titip sesuatu," katanya tiba-tiba.
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya.
"Ini surat wasiatku. Rumah di Ciputat dan sebidang tanah di kampung, semuanya untuk kalian berdua." Ia menunjuk Arsya dan Kalara. "Bagi rata. Untuk anak-anak kalian nanti."
Arsya terkejut. "Eyang... ini terlalu..."
"Jangan tolak, Nak. Ini dari Eyang. Harta yang tidak seberapa, tapi tulus."
Kalara menangis. "Eyang... makasih."
"Eyang juga mau titip pesan." Eyang menatap mereka semua. "Jaga kebersamaan ini. Jangan sampai terulang apa yang terjadi pada orang tua kalian. Cinta itu anugerah, jaga dengan baik."
Mereka mengangguk, berjanji dalam hati.
November tiba. Baby Asmara genap enam bulan. Sudah bisa tengkurap sendiri, sudah mulai merangkak. Rara dan Melati sibuk "mengawasi" agar adiknya tidak merangkak ke tempat berbahaya.
Eyang Kusuma semakin sehat. Ia bahkan ikut membantu Lastri memasak di dapur—tentu dengan duduk, tidak berdiri terlalu lama. Resep-resep turun-temurun diajarkan pada Kalara dan Nadia.
Suatu sore, saat hujan deras mengguyur, listrik padam. Rumah Menteng gelap gulita.
"Tenang, tenang," kata Arsya, menyalakan lilin-lilin yang sudah disiapkan. "Kita nyalakan lilin aja."
Rara dan Melati justru senang. "Seru! Kayak zaman dulu!"
Mereka berkumpul di ruang keluarga, dikelilingi lilin. Bayangan-bayangan menari di dinding. Suasana hangat justru tercipta.
"Ayo, Eyang cerita lagi!" pinta Rara.
Eyang tersenyum. "Mau cerita apa?"
"Cerita tentang Kakek Asmara waktu kecil!"
Eyang memulai cerita. Tentang Asmara yang suka memanjat pohon, tentang Asmara yang pernah jatuh ke sungai, tentang Asmara yang pertama kali jatuh cinta—bukan pada Rarasati, tapi pada teman sekelasnya di SD.
Semua tertawa. Cerita-cerita kecil yang menghangatkan.
Listrik padam selama dua jam. Tapi tidak ada yang merasa terganggu. Mereka justru menikmati kebersamaan, ditemani lilin dan cerita.
Saat listrik menyala kembali, Rara protes. "Yah, nyala lagi. Padahal seru gelap-gelapan."
"Nanti listrik padam lagi, kita kumpul lagi," janji Raka.
"Janji?"
"Janji."
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan hangat. Rumah Menteng, dengan segala cerita suka dukanya, terus bernyanyi.
Desember, akhir tahun.
Tahun baru hampir tiba. Rumah Menteng bersiap merayakan pergantian tahun dengan cara sederhana: makan malam bersama, bakar jagung di halaman belakang, dan tentu saja, kembang api kecil-kecilan untuk anak-anak.
Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, dikelilingi keluarga. Rara dan Melati berlarian dengan bunga api (dengan pengawasan ketat Raka). Baby Asmara tidur nyenyak di pangkuan Nadia, tidak terganggu oleh suara riuh.
"Eyang, lihat! Rara bisa bikin lingkaran!" teriak Rara, memutar-mutar bunga api.
"Cantik, Nak."
Lastri duduk di samping Eyang, memegang tangannya. "Tante, setahun ini luar biasa, ya."
"Iya. Tahun terbaik dalam hidupku." Eyang menatap semua orang. "Dapat keluarga baru, dapat cicit-cicit, dapat rumah yang hangat. Apa lagi yang kurang?"
Arsya mendekat, membawakan teh hangat. "Eyang, ini teh favorit Eyang."
"Makasih, Nak. Kamu baik sekali."
"Nggak, Eyang. Kami yang berterima kasih. Eyang datang dan melengkapi keluarga kami."
Kalara ikut mendekat, duduk di sisi lain Eyang. "Eyang, tahun depan kita rayakan lagi, ya. Dengan baby Asmara yang sudah bisa jalan."
"Iya. Dan Rara yang makin besar, Melati yang makin lucu."
Melati yang mendengar langsung protes. "Melati nggak lucu! Melati cantik!"
Semua tertawa. Polosnya anak-anak selalu jadi hiburan.
Menjelang tengah malam, Rara dan Melati sudah mulai mengantuk. Tapi mereka bersikeras tidak tidur sebelum kembang api.
"Ayo, Kak. Sebentar lagi," bujuk Raka.
Pukul 00.00, kembang api kecil dinyalakan. Bukan yang besar, cukup warna-warni di langit gelap. Rara dan Melati berteriak kegirangan. Baby Asmara terbangun, tapi tidak menangis—ia malah menatap kembang api dengan mata takjub.
"Selamat tahun baru!" teriak mereka bersamaan.
Eyang Kusuma menangis haru. Ini tahun baru pertamanya bersama keluarga besar. Tahun baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Makasih, Tuhan," bisiknya. "Makasih sudah memberi aku kesempatan."
Januari, awal tahun baru.
Tahun baru membawa kabar gembira. Pak Willem, yang sudah lama sakit-sakitan, tiba-tiba membaik. Ia bisa duduk dan bahkan berjalan pelan-pelan.
Arsya dan Nadia sering mengunjunginya. Hubungan mereka seperti ayak dan anak sendiri. Pak Willem bangga melihat perkembangan Arsya—arsitek sukses, suami baik, ayah yang penyayang.
"Kamu berubah banyak," kata Pak Willem suatu hari.
"Karena keluarga, Pak. Mereka mengubah saya."
"Itu bagus. Perubahan karena cinta adalah perubahan sejati."
Pak Willem juga bertemu Eyang Kusuma. Mereka ternyata sebaya, punya banyak kesamaan. Sering terlihat duduk bersama, ngobrol tentang masa muda, tentang perjuangan hidup.
"Senang lihat mereka," kata Nadia pada Arsya. "Tua-tua tapi tetap semangat."
"Iya. Mereka memberi contoh bahwa hidup tidak berhenti di usia."
Februari tiba. Baby Asmara sudah delapan bulan, sudah bisa duduk sendiri. Rara dan Melati bergantian "mengajari" adiknya berbicara.
"Om, lihat! Adek ngomong 'ma-ma'!" seru Rara bangga.
"Bukan, dia bilang 'Ra-ra'," sergah Melati.
"Dia bilang 'ma-ma'!"
"'Ra-ra'!"
Arsya tertawa. "Dia bilang dua-duanya. Untuk kalian berdua."
Rara dan Melati senang. Mereka berdua merasa jadi favorit adik.
Eyang Kusuma duduk di samping baby Asmara. Ia menatap bayi itu dengan sayang.
"Nak, kau tumbuh besar. Kau akan lihat dunia yang indah. Dan kau punya keluarga yang luar biasa."
Baby Asmara tersenyum, memperlihatkan dua gigi mungilnya.
Malam harinya, saat anak-anak sudah tidur, Arsya dan Kalara duduk di beranda belakang. Sendirian, seperti dulu.
"Kak," panggil Kalara.
"Hm?"
"Lo tahu nggak, dulu gue sering bermimpi punya keluarga besar. Tapi gue nggak pernah yakin bisa."
"Sekarang?"
"Sekarang gue punya. Bahkan lebih dari yang gue minta." Kalara tersenyum. "Suami, anak-anak, kakak, ipar, bibi, nenek. Lengkap."
Arsya mengangguk. "Aku juga. Dulu hidupku kosong. Sekarang penuh."
Mereka diam, menikmati keheningan malam. Bintang-bintang bertaburan di langit.
"Kak, lo pikir Ibu dan Ayah lihat kita dari sana?"
"Pasti. Mereka pasti tersenyum."
"Lo pikir mereka bangga?"
"Bangga sekali."
Kalara memeluk Arsya. "Makasih, Kak. Makasih sudah jadi kakak terbaik."
Arsya membalas pelukannya. "Makasih sudah jadi adik yang selalu bikin hidupku berwarna."
Mereka berpelukan lama. Dua saudara yang dulu terpisah rahasia kelam, kini bersatu dalam cinta.
Di dalam rumah, di kamar Eyang Kusuma, wanita tua itu berdoa.
"Tuhan, terima kasih sudah memberi aku kesempatan. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan mereka. Jaga mereka selalu. Beri mereka kebahagiaan. Aamiin."
Angin malam berhembus lembut, membawa wangi melati dari taman.
Rumah Menteng sunyi.
Tapi tidak sepi.
Karena rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara cinta.
Bernyanyi dengan suara generasi baru.
Bernyanyi dengan suara harapan.
Selamanya.
Bersambung