Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalihan Sang Bayangan
Lucien melesat secepat kilat meninggalkan Vivienne dan Daefiel. Ia tidak menuju asrama, melainkan berlari ke area terbuka yang masih berada dalam jangkauan pandang para penjaga. Dengan gerakan terkendali, ia menghunus pedang peraknya. Sring! Bilah logam itu berkilau tertimpa cahaya bulan.
Lucien mulai mengayunkan pedangnya menggunakan teknik tingkat tinggi dari Crimson Crest. Setiap tebasan membelah udara dengan suara tajam, menciptakan ilusi latihan intens di tengah malam. Meski gerakannya terlihat fokus, pikirannya tetap waspada. Di kejauhan, alat sensorik milik para penjaga masih menjerit nyaring, mendeteksi aura Daefiel yang belum sepenuhnya meredup di reruntuhan.
Tiga penjaga akademi muncul dari balik pepohonan. Mereka mengenakan jubah baja ringan dan membawa lampion sihir yang memancarkan cahaya kekuningan. Dengan sigap, mereka mengepung Lucien, namun wajah mereka tampak kebingungan.
“Berhenti!” perintah salah satu penjaga sambil mengangkat alat pelacak yang berkedip merah. “Lucien Vlad? Apa yang kau lakukan di sini pada jam seperti ini? Dan apa yang terjadi dengan manamu?”
Lucien menghentikan gerakannya. Ia mengatur napas agar terdengar berat seperti orang yang baru selesai berlatih keras. Wajahnya tetap tenang, tanpa celah untuk kecurigaan.
“Aku sedang mengasah teknik pedangku,” jawabnya dingin. Ia menyarungkan pedang dengan gerakan lambat, memastikan seluruh perhatian tertuju padanya. “Aku tidak bisa tidur. Latihan fisik adalah cara terbaik membuang energi yang tersisa.”
Penjaga yang memegang alat pelacak melangkah maju. Layarnya masih menunjukkan lonjakan energi besar dari arah belakang Lucien—arah reruntuhan tempat Daefiel berada.
“Alat ini mendeteksi aura yang sangat besar dan tidak stabil,” ujarnya curiga. “Namun kau terlihat sangat tenang, Tuan Muda Vlad. Mengapa auramu bisa meluap hingga tingkat ini?”
Lucien menatap alat itu sekilas, lalu kembali menatap penjaga tersebut dengan keyakinan yang nyaris tak tergoyahkan. “Itulah alasan aku berlatih malam ini. Teknik baru dari keluargaku menuntut pengeluaran energi ekstrem. Auraku cenderung meledak saat aku mencapai batas fisik. Bukankah tujuan latihan adalah menaklukkan batas itu?”
Para penjaga saling berpandangan. Reputasi keluarga Vlad dan kekuatan Crimson Crest yang terkenal liar bukanlah rahasia. Mereka mulai mengaitkan cahaya putih yang terlihat sebelumnya dengan latihan brutal Lucien.
“Begitu rupanya,” gumam salah satu penjaga, meski nada curiga belum sepenuhnya hilang. “Namun aura sebesar itu bisa memicu alarm seluruh akademi. Segera kembali ke asrama sebelum dewan turun tangan.”
“Aku mengerti,” sahut Lucien singkat. Dari sudut matanya, ia melirik ke arah reruntuhan, berharap Vivienne telah berhasil menenangkan Daefiel.
Para penjaga baru melangkah beberapa meter ketika suara melengking alat pelacak itu mendadak berhenti. Sunyi. Keheningan yang tiba-tiba itu justru membuat mereka berhenti dan berbalik serentak.
“Cepat sekali?” salah satu dari mereka mengerutkan dahi. “Bagaimana kau bisa menghilangkan aura sebesar itu dalam hitungan detik tanpa sisa mana?”
Lucien melipat tangannya di dada, memasang ekspresi datar yang paling meyakinkan. “Itulah inti latihanku. Melepaskan energi sebesar mungkin, lalu menariknya kembali ke inti mana secepat kilat. Jika aku tidak bisa melakukannya, aku tak layak menjadi pewaris Crimson Crest.”
Para penjaga terdiam, menimbang penjelasan itu. Akhirnya pemimpin mereka mengangguk tipis. “Kontrol yang mengesankan, Tuan Muda Vlad. Namun jangan ulangi di luar jam resmi. Kami tidak ingin alarm memicu kepanikan. Kembalilah ke asramamu.”
“Tentu.”
Lucien menunggu hingga cahaya lampion mereka benar-benar menghilang di balik bukit asrama. Begitu situasi aman, ia berbalik dan berlari menuju reruntuhan pilar.
Sesampainya di sana, pemandangan yang ia lihat terasa ganjil. Daefiel masih terduduk di posisi semula, namun tubuhnya kini diselimuti asap putih tebal yang mengepul dari kulitnya, seolah ia sebongkah logam panas yang baru saja dicelupkan ke air es. Auranya memang telah menghilang, tetapi sisa panas tubuhnya menciptakan uap yang tinggi.
Vivienne berdiri di depannya, tangan bergerak cepat merapalkan mantra. “Aqua Levitas!” Seruan itu memanggil aliran air jernih yang melayang di udara sebelum disiramkan perlahan ke tubuh Daefiel.
Sssshhh!
Suara desis uap terdengar saat air menyentuh kulitnya yang membara. “Aku harus memadamkan asap ini, Lucien!” seru Vivienne tanpa menoleh. “Jika asapnya membubung tinggi, penjaga bisa melihatnya meskipun alat mereka tak berbunyi!”
Daefiel tampak mengenaskan. Matanya setengah terbuka, napasnya berat, seragamnya basah oleh keringat dan sihir air. Ia terlalu lelah bahkan untuk melontarkan komentar jahilnya.
“Bagus, terus dinginkan dia,” perintah Lucien sambil memeriksa denyut nadinya. “Daefiel, kau berhasil menutup auramu. Tapi tubuhmu membayar mahal karena memaksakan itu. Jangan bicara. Fokus pada napasmu.”
Perlahan, asap putih menipis seiring suhu tubuh Daefiel menurun. Di tengah kegelapan reruntuhan, ketiganya terengah-engah, menyadari bahwa latihan pertama mereka hampir saja berakhir sebagai bencana yang mengundang dewan akademi turun tangan.