NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:85.9k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. AIB BERNAMA LIORA

Tidak ada yang lebih sunyi dari pada pagi di rumah Montclair, kecuali kamar di sayap timur, tempat Lady Liora Montclair tinggal.

Kamar itu besar, tetapi dingin. Dindingnya tinggi, jendelanya lebar, namun tirai jarang dibuka. Cahaya pagi hanya menyusup sebagai garis pucat yang jatuh di lantai batu, memantul di kaki ranjang kayu tua yang sudah lama kehilangan kemewahannya. Di sanalah Liora duduk, punggungnya sedikit membungkuk, napasnya teratur tetapi berat, seolah setiap tarikan udara harus melalui lapisan beban yang tak terlihat.

Gaun tidurnya terlalu sempit di bagian pinggang. Jahitannya menekan kulitnya, meninggalkan bekas merah yang tak sempat memudar sebelum hari berganti. Ia tahu gaun itu sengaja dipilihkan, bukan karena tak ada yang lebih longgar, melainkan karena memang tidak ada yang peduli.

"Bangun sudah siang, Nona! Mau sampai kapan kau tidur!"

Suara itu datang tanpa ketukan.

Pintu kamar terbuka kasar, menabrak dinding hingga bergetar.

Seorang pelayan perempuan masuk dengan langkah keras, wajahnya masam, matanya memandang Liora seolah ia sedang melihat noda yang sulit dibersihkan.

"Apa kau pikir ini penginapan murah?" pelayan itu melanjutkan. "Sarapan sudah lewat."

Liora mengangkat kepala perlahan. Rambut merahnya terurai kusut, belum disisir. Matanya tak menantang, tak pula memohon. Hanya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang setiap hari diperlakukan seperti beban.

"Aku akan turun sebentar lagi," jawab Liora pelan.

Pelayan itu mendengus. "Tentu. Seperti biasa. Selalu 'sebentar lagi'. Benar-benar membuang waktu orang."

Pelayan melirik tubuh Liora dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan jijiknya. "Mungkin kalau Nona tidak makan sebanyak itu, bangun dari tempat tidur pun tak akan sesulit ini."

Kalimat itu dilempar begitu saja, seperti batu kecil yang sudah terlalu sering mengenai kulit yang sama. Tidak berdarah. Tidak lagi terasa baru. Tapi tetap menyakitkan.

Liora tidak menjawab.

Ia menunggu sampai pelayan itu pergi, sampai langkah kaki menjauh dan pintu ditutup kembali, kali ini dengan hentakan yang sengaja diperkeras.

Barulah napasnya goyah.

Ia berdiri, berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Di atasnya ada secangkir teh hangat dan sepiring roti manis yang terlihat masih baru. Harumnya lembut, terlalu manis untuk selera pagi. Liora menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Roti itu selalu ada.

Setiap pagi.

Dari tangan yang sama.

Liora memecah roti itu menjadi dua, mengamatinya seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu, dengan ragu, ia menggigit sedikit.

Rasanya ... aneh. Tidak buruk. Tapi ada pahit samar di balik manisnya.

Seperti biasa.

Liora menelan, meski ada perasaan tak nyaman menggelitik di dadanya. Sudah bertahun-tahun ia merasa tubuhnya semakin berat, geraknya melambat, pikirannya sering kabur. Tabib keluarga berkata itu karena ia terlalu banyak makan dan jarang bergerak.

Padahal Liora tidak pernah makan berlebihan.

Ruang makan keluarga Montclair sudah ramai ketika Liora akhirnya turun. Meja panjang dari kayu ek dipenuhi piring perak dan gelas kristal, namun suasananya dingin. Tidak ada tawa. Tidak ada sapaan.

Count Bernard Montclair duduk di ujung meja, posturnya tegak, wajahnya keras seperti pahatan batu. Di sebelahnya, Countess Irene Montclair, istri kedua Count itu mengaduk teh dengan gerakan anggun, matanya hanya sesekali terangkat, bukan ke arah Liora, melainkan ke arah kursi kosong di seberang.

Kursi itu segera terisi.

"Maafkan aku," suara ceria itu memecah keheningan. "Aku terlambat."

Sera Montclair masuk dengan senyum manis. Rambut pirangnya tertata sempurna, gaunnya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuh rampingnya. Ia menunduk hormat pada kedua orang tuanya sebelum duduk, seolah seluruh ruangan diciptakan untuk menyambutnya.

Countess Irene tersenyum. Senyum yang tidak pernah Liora dapatkan.

"Tidak apa-apa, Sera. Kau selalu tepat waktu dalam hal yang penting," kata Countess Irene.

Liora menunduk, fokus pada piringnya. Roti yang sama, teh yang sama. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat cangkir.

"Liora."

Suara ayahnya membuatnya berhenti.

"Ya, Ayah?" jawabnya cepat.

"Aku mendengar kau membuat keributan lagi dengan pelayan kemarin," kata Count Bernard.

Liora terdiam. Ia menatap Count Bernard dengan mata membesar sedikit. "Aku tidak-"

"Kaus selalu membuat ulah!" potong sang Count dingin. "Kau membuat pelayan itu menangis. Katanya kau melempar piring."

Sera menghela napas kecil, penuh kepura-puraan. "Kakak, kau seharusnya lebih sabar. Mereka hanya menjalankan tugas."

Liora menoleh. "Aku tidak melempar apa pun," katanya, kali ini sedikit lebih tegas. "Piring itu jatuh karena tanganku terpeleset."

"Karena terlalu banyak makan," Countess Irene menyela tanpa menatapnya.

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Count Bernard mengangguk seolah itu sudah cukup sebagai kesimpulan. "Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengar alasan. Kau mempermalukan keluarga ini setiap hari, Liora. Kapan kau akan bersikap layaknya putri Count? Contoh adikmu, Sera. Dia menjaga tubuh dan juga citranya di depan bangsawan lain. Tidak sepertimu yang justru menjadi aib keluarga ini."

Liora mengepalkan jarinya di bawah meja. Kukunya menekan telapak tangan sendiri. Ia ingin bicara. Ingin menjelaskan. Ingin sekali saja didengar.

Tapi ia tahu.

Ia selalu tahu.

Di meja ini, suaranya tidak pernah didengar

Sampai sesuai yang besar terjadi ....

Kabar itu datang menjelang siang, dibawa oleh utusan istana dengan pakaian resmi berwarna biru tua dan lambang kekaisaran di dada.

Seluruh keluarga Montclair berkumpul di ruang tamu utama. Pelayan berdiri di sisi ruangan, kepala tertunduk. Udara terasa tegang, seolah dinding-dinding tua itu ikut menahan napas.

"Dengan ini," kata sang utusan lantang, membuka gulungan perkamen, "atas perintah kaisar Victor Aurelius, diumumkan perjodohan antara Keluarga Montclair dan Keluarga Ravens."

Jantung Liora berdegup keras.

Nama itu ...

tidak mungkin.

"Putri dari keluarga Count Montclair," lanjutnya, "akan dipersunting oleh Duke Alaric Ravens, Jenderal Agung Kekaisaran."

Ruangan mendadak riuh. Countess Irene menutup mulutnya, pura-pura terkejut. Count Bernard berdiri sedikit dari kursinya, wajahnya tegang.

Sera menoleh cepat, ke arah Liora.

Tatapan itu tajam. Bukan terkejut.

Melainkan ... marah.

"Ini kehormatan besar," Count Bernard berkata akhirnya, suaranya bergetar antara bangga dan takut. "Putri kami-"

"Putri yang mana?" sang utusan menyela sopan namun tegas. "Kaisar menunggu jawaban segera."

Sera berdiri lebih dulu.

"Ayah," kata Sera lembut tapi pasti. "Aku tidak bisa."

Semua mata tertuju padanya.

"Apa maksudmu?" Countess Irene berbisik panik.

"Aku tidak akan menikah dengan pria yang dikenal kejam dan dingin," lanjut Sera, suaranya jernih. "Aku masih muda. Aku ... takut. Aku juga sedang naik-naiknya di sosialita bangsawan, aku tidak mau membuang usaha kerasku untuk bisa sampai di sana."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Liora merasa pandangan itu beralih padanya, satu per satu, seperti pisau yang diarahkan tanpa perlu diangkat.

Count Bernard menoleh. Lama. Sangat lama.

"Kalau begitu," kata sang Count akhirnya, suaranya rendah, berat.

"Liora."

Nama itu jatuh seperti vonis.

"Kau yang akan menikah dengan Duke Alaric Ravens," kata Count Bernard akhirnya.

Dunia Liora seakan berhenti berputar.

Ia berdiri perlahan. "Ayah?"

"Kau tidak punya pilihan," potong Count Bernard dingin. "Ini perintah Kaisar. Dan kau ... setidaknya buat dirimu berguna kali ini. Bayar apa yang sudah aku berikan untuk membesarkanmu."

Sera tersenyum kecil.

Hampir tak terlihat.

Dan untuk pertama kalinya hari itu ...

Liora Montclair benar-benar merasakan darah mendidih dalam dirinya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐭𝐚𝐦𝐚𝐭 😭😭😭
Lala Kusumah
yaaaaaa tamat, tapi gapapa happy ending, bahagianya 😍😍😍
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
Ir
sampai ketemu di next cerita calon bandit kerjaan 🤭🤭
Lala Kusumah
tegaaaanng pisan 🫣🫣😵‍💫😵‍💫
Jelita S
terimakasih thor atas ceritamu,,lnjut y cerita Elala🤣🤣
Miss Typo
keren 👍👍👍
Miss Typo
kok tau² tamat thor????
happy ending 👏👍

terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
Eli Rahma
ehhh,..beneran tamat nih thor..tp tar ada kelanjutanyya kan ..ttg para bocil..
Miss Typo
tunggu saat waktunya tiba Elara bisa mengendalikan sihir itu
Miss Typo
belum saatnya Elara menggunakan kekuatannya
Ir
hmm gampang ini mah kalo misal nya mau bikin Elara meratakan dunia pancing aja emosi nya pasti segel nya Arram bakalan hancur, jangan sampe aja di manfaatkan sama orang² jahat, sekarang tinggal Evan kak keajaiban apa yang Evan punya ga adil kalo Elara doang yang di spill 🤣🤣
Archiemorarty: Hahaha....Evan sama kayak bapak emaknya dia 🤭
total 1 replies
Jelita S
Lanjut thor
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞 𝟔 𝐭𝐡𝐨𝐫? 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐚𝐮𝐫𝐚 ...

𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁
Jelita S
wah msih lnjut rupanya sang penyihir hitam y
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚𝐬𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧?? 😕😕😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐲𝐠 𝐬𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐬 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐬 𝐧𝐠𝐨𝐛𝐫𝐨𝐥 𝐝𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫😭😭 𝐭𝐩 𝐩𝐚𝐬 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐓𝐊 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐝𝐞 𝐝𝐢𝐚 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐛𝐬 𝐥𝐡𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐥𝐬 𝐥𝐠 😕😕
total 2 replies
Ir
akhhh aku bari mau mikir monster selanjutnya Evan yang bikin kejutan, ternyata emak nya, ini dua bocil Alaric harus di ajarin mengendalikan diri ini, kalo engga hancur dunia
Archiemorarty: Baru tiga tahun udah duarrrr 🙄
total 1 replies
Ir
elara dapet ini pasti dari leluhur nya yang dulu² pasti kan, soalnya Alaric ga bisa sihir, Lior juga ga punya, kak pokoknya harus di jelasin sih dari mana Elara sama Evan dapet kekuatan itu
Archiemorarty: Ohoho...siap siap 🤭
total 1 replies
Miss Typo
di bab brpa tuh ya saat Alaric dan pasukannya menyerah monster hampir menyerah dan Liora datang bersama pasukannya membantu, trs ada anak yg bilang itu lho, bingung ngomongnya. matahari dan bulan kalau gak salah anak kembar Liora. berarti Elara matahari nya panas membara dengan sihir nya, apa Evan yg akan merendam nya saat Elara kehilangan kendali dari kekuatan sihirnya. aaahh gak tau lah 🤣
Archiemorarty: boleh boleh 🤭
total 3 replies
Miss Typo
berarti yg matahari Elara ya thor, wah kekuatan Elara keluar karna melihat kakaknya berdarah gak sadarkan diri karna monster itu, dan pas monster mendekat mau menyerang dia gak rela semua terluka seperti Rowan
Miss Typo: mantep nih 😁
total 2 replies
Jelita S
Liora selalu jdi penyelamat bagi keluarganya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!