Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pertemuan Yang tak disengaja
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Liana, membiaskan cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas wajahnya. Hari ini terasa berbeda. Ada debaran aneh yang merayapi dadanya sejak ia membuka mata. Liana segera bangkit, merapikan tempat tidur, dan bergegas mandi. Ia memilih pakaian dengan lebih teliti dari biasanya—sebuah blus santai berwarna pastel dan celana jins yang nyaman. Ia ingin terlihat segar, tapi tidak berlebihan.
"Liana, sarapan dulu, Sayang! Nanti telat!" seru Ibu dari lantai bawah.
Liana menyambar tas ranselnya dan setengah berlari turun tangga. Di meja makan, Ayah sudah sibuk dengan kopi hitamnya sementara Ibu menyodorkan sepiring nasi goreng hangat.
"Semangat banget hari ini. Ada kuis?" tanya Ayah sambil melirik putrinya yang tampak berseri-seri.
Liana terkekeh sambil menyuap nasi gorengnya cepat-cepat. "Enggak, Yah. Cuma pengen berangkat lebih pagi aja. Takut busnya penuh."
Sebenarnya, ia takut terlambat untuk pendaftaran UKM sore nanti, padahal kelasnya sendiri baru dimulai jam sembilan. Setelah menghabiskan sarapannya dalam waktu singkat, Liana mencium tangan kedua orang tuanya.
"Liana berangkat ya, Yah, Bu! Doain lancar hari ini!"
"Hati-hati di jalan, jangan lari-lari!" pesan Ibu.
Liana melangkah keluar rumah dengan perasaan ringan. Udara pagi yang sejuk menyambutnya. Ia berjalan menuju halte bus yang berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya. Di kepalanya, ia sudah menyusun skenario apa yang akan ia lakukan jika bertemu Justin di kampus nanti. Tersenyum? Atau pura-pura cuek?
Sementara itu, di garasi rumah besar keluarga Adhinata, suasana jauh dari kata tenang. Justin berdiri di depan motor besar kesayangannya dengan kening berkerut. Ia sudah mencoba menekan tombol starter berkali-kali, namun mesinnya hanya mengeluarkan suara tersedak lalu mati total.
"Sial, mogok lagi," umpat Justin rendah.
Pak Jaka, supir keluarga yang sedang memanaskan mobil sedan mewah di sudut garasi, segera menghampiri. "Kenapa, Den? Motornya nggak mau nyala?"
"Kayaknya akinya soak, Pak," jawab Justin sambil menyeka tangannya yang sedikit terkena oli.
"Waduh, kalau gitu naik mobil aja sama saya, Den. Saya antar sampai depan gedung fakultas biar nggak capek."
Justin terdiam sejenak. Ia membayangkan mobil sedan hitam mengkilap itu berhenti di depan kampus, lalu semua mata mahasiswi akan tertuju padanya saat ia turun. Ia benci menjadi pusat perhatian. Baginya, kampus adalah tempat untuk belajar dan basket, bukan untuk pamer kekayaan orang tuanya.
"Nggak usah, Pak Jaka. Saya naik bus aja. Halte depan komplek kan deket," tolak Justin halus.
"Tapi Den, bus jam segini pasti penuh sesak. Nanti baju Den Justin kusut."
"Nggak apa-apa, Pak. Sudah biasa. Titip motor saya ya, nanti siang tolong panggil orang bengkel."
Justin menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, lalu berjalan kaki menuju halte bus di luar gerbang komplek. Ia mengenakan jaket hoodie hitam dan celana kargo senada. Meski penampilannya sederhana, aura kepemimpinannya tetap terpancar kuat.
Bus kota berwarna biru tua itu berhenti dengan suara rem yang mendecit di halte tempat Liana menunggu. Liana segera naik dan beruntung mendapatkan tempat duduk di barisan kanan, tepat di samping jendela. Bus mulai bergerak perlahan, membelah kemacetan pagi kota yang mulai padat.
Dua halte kemudian, bus kembali berhenti. Liana sedang asyik menatap jalanan sampai pintu bus terbuka dan sesosok laki-laki tinggi masuk.
Jantung Liana serasa berhenti berdetak sesaat.
Justin.
Laki-laki itu masuk dengan wajah datar, seolah-olah tidak ada ratusan pasang mata yang diam-diam mencuri pandang padanya. Beberapa mahasiswi di dalam bus mulai berbisik-bisik, tapi Justin tidak peduli. Ia terus berjalan ke bagian paling belakang bus yang masih kosong. Ia duduk di sana, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dan langsung mengeluarkan ponsel. Ia memasang earphone—mungkin untuk menghindari kebisingan dunia luar.
Liana terpaku. Ia tidak berani menoleh ke belakang sepenuhnya, jadi ia hanya mengamati pantulan Justin dari kaca jendela bus di sampingnya.
"Kok bisa ya? Dia beneran naik bus?" batin Liana heran. Seorang anak orang kaya yang biasanya naik motor mahal atau mobil mewah, kini duduk di bus yang sama dengannya.
Selama perjalanan dua puluh menit itu, Liana tidak bisa fokus pada apa pun. Ia merasa seolah-olah ada arus listrik yang mengalir di udara bus itu. Ia ingin menyapa, tapi untuk apa? Mereka bahkan belum saling kenal. Justin tampak sangat asyik dengan dunianya sendiri di kursi paling belakang.
Saat bus akhirnya berhenti tepat di depan gerbang Universitas Cakrawala, Liana bangkit dari duduknya. Ia turun melalui pintu depan, sementara Justin turun dari pintu belakang. Mereka berjalan di trotoar yang sama, menuju arah yang sama: Gedung Fakultas Ekonomi.
Liana berjalan beberapa meter di belakang Justin. Ia memperhatikan punggung tegap itu sekali lagi. Punggung yang kemarin ia lihat basah kuyup di bawah hujan, kini terlihat gagah di bawah sinar matahari pagi.
"Justin!"
Sebuah suara nyaring memanggil dari arah tangga fakultas. Liana melihat seorang laki-laki berambut agak berantakan berlari menghampiri Justin. Itu Raka.
"Woi, tumben amat lo naik bus? Motor lo mana?" tanya Raka sambil merangkul pundak Justin.
"Mogok," jawab Justin singkat sambil terus berjalan masuk ke lobi fakultas.
"Gaya banget lo, CEO naik angkutan umum. Eh, bab kuliah Pak Bram bentar lagi mulai, lo udah bikin tugasnya belum?"
Suara mereka perlahan menjauh saat mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Liana berdiri mematung di tengah lobi, matanya masih terpaku pada punggung Justin yang perlahan menghilang di belokan koridor. Rasanya aneh, melihat sisi lain dari Justin yang manusiawi di dalam bus tadi membuat perasaan Liana semakin dalam.
"LIANA!"
Sebuah tepukan keras di pundak membuat Liana melonjak kaget. Ia berbalik dan menemukan Dhea yang sedang nyengir lebar sambil menenteng botol minum.
"Gila lo! Bengong aja di tengah jalan. Lagi ngeliatin apaan sih? Sampai dipanggil tiga kali nggak denger," cerocos Dhea.
Liana mengelus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar—entah karena kaget atau karena Justin. "Ah, masa sih? Gue cuma... lagi mikirin kuis hari ini."
"Halah, bohong lo. Mata lo tadi melotot ke arah tangga. Ngeliatin Kak Justin sama Raka ya?" goda Dhea sambil menyenggol lengan Liana. "Satu fakultas ini mah rejeki nomplok, Li. Kita bisa sering-sering cuci mata."
Liana merona merah. "Apaan sih, Dhe. Udah yuk masuk kelas, nanti telat lagi."
"Eh, jangan lupa ya! Sore ini pendaftaran basket. Gue udah bawa sepatu olahraga di tas. Awas ya kalau lo tiba-tiba mundur!"
Liana tersenyum penuh arti. "Nggak akan, Dhe. Gue justru nggak sabar nunggu sore."
Sambil berjalan berdampingan dengan Dhea menuju ruang kelas, Liana menoleh sekali lagi ke arah tangga yang dinaiki Justin tadi. Ia tahu, perjalanan di bus tadi hanyalah sebuah kebetulan, tapi baginya, itu adalah tanda bahwa semesta sedang mulai memutar skenario yang ia harapkan.
Di dalam kelas yang dingin karena AC, pikiran Liana tetap terbang ke Gedung Olahraga kampus. Ia membayangkan wajah Justin yang akan mewawancarainya nanti sore. Dingin, tegas, dan mungkin akan sangat mengintimidasi. Tapi Liana sudah bertekad. Jika ia bisa melewati perjalanan bus yang canggung tadi, ia pasti bisa melewati sesi wawancara nanti.
Karena di setiap detik yang ia lalui hari ini, bayangan Justin tidak pernah benar-benar pergi dari kepalanya.