Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad
Kelelahan dan rasa sakit akhirnya mengalahkan ketakutan. Tio tertidur di dalam ceruk batu itu, bukan karena nyenyak, tapi karena tubuhnya menyerah pada ambang batasnya. Rasa dingin yang menusuk, denyutan di kaki kanan, dan gemericik air yang masih menetes dari celah-celah batu menjadi pengantar tidurnya yang paling menyiksa.
Ia tidur dengan posisi meringkuk, memeluk ransel basahnya seperti boneka kesayangan. Sesekali tubuhnya menggigil hebat, membangunkannya sejenak, lalu ia terlelap lagi karena kelelahan yang luar biasa. Dalam tidurnya yang tak nyenyak itu, Tio bermimpi.
Ia bermimpi sedang sarapan di rumah ibunya. Aroma nasi goreng dan telur mata sapi memenuhi ruangan. Ibunya tersenyum dari seberang meja, menyuruhnya makan yang banyak. Tio mengambil sendok, menyendok nasi goreng itu, tapi ketika nasi itu hampir masuk ke mulutnya, tiba-tiba semuanya menghilang. Ia berada di tengah kabut putih, sendirian, dingin, lapar.
Tio terbangun dengan napas memburu.
Pagi sudah tiba. Cahaya redup menembus kabut yang masih tebal, memberi sedikit penerangan pada ceruk batunya. Tio mengerjap-ngerjap, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan sirna saat ia benar-benar sadar. Tapi rasa sakit di kaki kanannya langsung menyambarnya begitu ia mencoba bergerak. Ini nyata. Semua nyata.
Perlahan, ia duduk bersandar di dinding batu. Tubuhnya terasa remuk redam—setiap otot, setiap sendi, setiap tulang seolah bergantian mengirim sinyal sakit. Tapi yang paling parah tetaplah kaki kanannya.
Tio menunduk, melihat pergelangan kakinya. Bengkak. Parah. Ukurannya hampir dua kali lipat dari kaki kiri, dengan warna kemerahan kebiruan yang mengerikan. Ia menyentuhnya perlahan, dan meski sentuhannya sangat lembut, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tungkai.
Ini bukan sekadar terkilir, pikirnya. Mungkin retak. Semoga tidak patah.
Ia tidak tahu pasti. Yang ia tahu, kakinya tidak bisa menopang berat badan sama sekali.
---
Untuk beberapa saat, Tio hanya duduk diam, memandangi langit-langit ceruk batu. Pikirannya kosong, atau lebih tepatnya terlalu penuh hingga tak mampu memproses satu pun. Ini adalah situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Tidak pernah.
Ia ingat semua teori yang ia pelajari. Buku-buku survival yang ia baca. Video-video YouTube yang ia tonton berjam-jam. Bahkan pelatihan tiga hari dari Wanadri—organisasi pencinta alam ternama—yang pernah ia ikuti lima tahun lalu. Semua teori itu sekarang berputar di kepalanya seperti kaset rusak: cari sumber air, buat tempat berteduh, cari makanan, jangan panik, prioritaskan, bertahan hidup.
Tapi teori-teori itu terasa begitu jauh. Begitu abstrak. Tidak ada satu pun yang memberitahunya bagaimana rasanya terbangun dalam kondisi seperti ini—sendirian, cedera, kehilangan hampir semua perlengkapan, dan tidak tahu persis di mana berada. Tidak ada satu bab pun dalam buku survival yang membahas tentang rasa sakit yang membuatmu ingin menyerah saja.
Sekarang bagaimana? Apa yang harus gue lakukan?
Pertanyaan itu terus berulang di kepalanya, tanpa jawaban.
---
Langkah pertama yang ia lakukan—satu-satunya yang masih bisa ia pikirkan—adalah menginventarisasi apa yang tersisa. Dengan tangan gemetar, ia meraih ranselnya yang basah dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu.
Sleeping bag. Basah kuyup, menggumpal tidak karuan. Bahkan jika dikeringkan, kemampuan isolasinya pasti sudah berkurang drastis. Tapi ini satu-satunya "selimut" yang ia punya.
Matras. Penyok di beberapa tempat, tapi masih utuh. Setidaknya untuk alas duduk atau tidur.
Jurnal kecil. Basah di bagian pinggir, tapi tulisannya masih bisa dibaca. Pensilnya masih ada, meski ujungnya patah.
Pisau serbaguna. Ini mungkin penyelamatnya. Masih utuh, masih tajam. Tio membuka lipatannya, memeriksa setiap fitur: pisau utama, gunting kecil, pembuka kaleng, obeng, dan penusuk. Semua berfungsi.
Dua batang energi bar. Masih terbungkus, masih kering. Cokelat dan kacang. Mungkin total 500 kalori.
Botol air. Setengah penuh. Mungkin sekitar 700 mililiter.
Itu saja.
Tio memandangi barang-barang itu, lalu menatap sekelilingnya. Ceruk batu ini mungkin bisa menjadi tempat berteduh sementara, tapi tidak untuk jangka panjang. Ia harus keluar, harus mencari pertolongan. Tapi bagaimana caranya dengan kaki seperti ini?
---
Rasa haus mulai menyerang. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya lengket. Tio mengambil botol air, membuka tutupnya, dan menyesap sedikit. Hanya sedikit. Ia harus menghemat. Tidak tahu kapan akan menemukan sumber air berikutnya.
Air itu terasa begitu berharga. Di kota, ia bisa membuka keran kapan saja, minum sebanyak yang ia mau, bahkan membuang air sisa cucian tanpa berpikir dua kali. Sekarang, seteguk air adalah perbedaan antara bertahan dan menyerah.
Ia menyesap lagi sedikit, lalu menutup rapat botolnya. Memasukkannya kembali ke ransel, di tempat yang aman.
---
Sekarang, masalah berikutnya: kaki.
Tio tahu, dari pengetahuannya yang terbatas tentang pertolongan pertama, bahwa cedera seperti ini harus diimobilisasi. Digerakkan sesedikit mungkin. Diberi tekanan untuk mengurangi bengkak. Tapi dengan apa? Perban medisnya ikut hilang bersama nesting dan perlengkapan lainnya.
Matanya jatuh pada bajunya sendiri. Ia mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu di balik jaket tipisnya. Tio mengambil pisau, mulai memotong kaosnya dari bagian bawah.
Pisau itu tajam. Sayatan demi sayatan, ia merobek kaosnya menjadi beberapa lembar kain. Tidak rapi, tidak seperti perban medis, tapi setidaknya ini kain yang cukup panjang untuk membalut.
Dengan hati-hati, Tio mulai membalut kaki kanannya. Ia melilitkan kain di sekitar pergelangan kaki yang bengkak, mencoba memberikan tekanan yang cukup—tidak terlalu longgar hingga tak berguna, tidak terlalu ketat hingga mengganggu sirkulasi darah. Ini teori yang ia ingat dari pelatihan Wanadri dulu. Apakah caranya benar? Ia tidak tahu. Tapi ini yang bisa ia lakukan.
Setiap kali tangannya menyentuh area yang bengkak, rasa sakit menjalar. Tio menggertakkan gigi, matanya berkaca-kaca, tapi ia terus melilitkan kain itu. Selesai. Kaki kanannya kini terbungkus kain abu-abu bekas kaosnya sendiri.
Ia duduk bersandar, menatap hasil karyanya. Jelek. Amatir. Tapi setidaknya ia sudah melakukan sesuatu.
---
Dan saat itulah, tanpa bisa ditahan lagi, tangisan pecah.
Tio tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis. Mungkin saat kecil, ketika jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah. Atau mungkin saat remaja, ketika patah hati pertama kali. Tapi setelah dewasa, ia terbiasa menahan semuanya. Pria tidak boleh menangis. Itu dogma yang tertanam sejak lama.
Tapi sekarang, di ceruk batu ini, sendirian di ketinggian 3.000 meter dengan kaki cedera dan perlengkapan minim, dogma itu runtuh.
Air mata mengalir deras. Isak tangisnya bergema di ruang sempit itu, bercampur dengan suara tetesan air dari celah batu. Ia tidak peduli lagi. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang akan tahu. Ia membiarkan dirinya menangis—melepaskan semua ketakutan, semua kepanikan, semua penyesalan yang selama ini ia tahan.
"Gue bodoh," isaknya di antara tangis. "Gue bodoh banget."
Dan tiba-tiba, ingatan itu datang. Kata-kata yang selalu diucapkan orang-orang ketika ia pamit mendaki sendirian. Ibunya, teman-temannya, bahkan Pak Giman di basecamp kemarin.
"Sendirian? Hati-hati, Le. Gunung itu tidak kenal ampun."
"Lo pikir lo jago? Jagoan banyak yang mati di gunung."
"Sebaik-baiknya, seminimal mungkin itu ada teman. Jangan solo."
Ia selalu mengabaikannya. Selalu meremehkannya. Gue tahu kemampuan gue. Gue bukan pemula. Gue bisa handle sendiri.
Sekarang, ia di sini. Terluka. Sendirian. Tanpa kepastian.
Tio terisak lebih keras. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, menghakimi, menyesakkan. Mereka benar. Mereka semua benar. Dan gue... gue terlalu arogan untuk dengerin.
---
Tangisnya mereda perlahan, menyisakan kelelahan yang lebih dalam. Tio menyeka wajahnya dengan lengan jaket yang basah. Matanya sembab, hidungnya mampet, tapi setidaknya ada sedikit kelegaan setelah menangis. Seperti beban yang sedikit terangkat.
Sekarang bagaimana?
Pertanyaan itu kembali, dan kali ini ia harus menjawabnya.
Ia mengeluarkan jurnal dan pensil patah. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menulis:
"Hari 4. Kaki kanan bengkak parah. Tidak bisa jalan. Sisa air setengah botol. Dua energi bar. Tidak tahu di mana aku. Tidak tahu harus ke mana. Aku takut. Tapi aku masih hidup. Masih hidup."
Ia berhenti menulis, memandangi kata-kata terakhir itu. Masih hidup. Ya, itu fakta. Ia masih hidup. Dan selama masih hidup, masih ada harapan. Masih ada kemungkinan.
Tio menambahkan satu baris lagi di bawahnya:
"Aku tidak tahu caranya. Tapi aku harus bertahan. Untuk ibu. Untuk diriku sendiri. Aku harus."
Ia menutup jurnal, menyimpannya kembali di ransel. Lalu ia memandang ke luar ceruk. Kabut masih tebal, tapi tidak separah kemarin. Mungkin nanti siang akan mulai cerah. Mungkin ia bisa melihat sesuatu—jalur, lembah, apa saja yang bisa memberinya petunjuk arah.
Tapi untuk sekarang, ia harus diam. Menghemat energi. Menghemat air. Menunggu.
Tio meringkuk lagi di sudut ceruk, memeluk ranselnya. Rasa sakit di kakinya masih berdenyut, tapi setidaknya sudah terbungkus. Rasa lapar mulai merayap, tapi ia tahan. Belum waktunya makan energi bar. Nanti. Saat benar-benar butuh.
Ia memejamkan mata, bukan untuk tidur, tapi untuk merenung. Pikirannya melayang ke rumah, ke ibunya yang mungkin belum tahu ia dalam bahaya. Ke kota, ke kehidupan yang ia tinggalkan. Ke semua pilihan yang membawanya ke titik ini.
Gue akan keluar dari sini, katanya dalam hati. Gue nggak tahu caranya, tapi gue akan keluar.
Di luar, kabut mulai bergerak, sedikit menipis di beberapa tempat. Sinar matahari samar mencoba menembus. Hari baru telah dimulai. Hari pertama dari perjuangan yang tidak pernah ia bayangkan.
Tio membuka mata, menatap langit yang mulai cerah. Untuk pertama kalinya sejak jatuh, ada sedikit cahaya di dalam dirinya—bukan keyakinan, bukan kepastian, tapi tekad.
Tekad untuk bertahan.