NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Xie Wuyou yang Kembali

Dunia seakan berhenti berputar.

Suara pertempuran yang tadi menggelegar, dentingan pedang, teriakan prajurit—semuanya lenyap seketika. Hening. Hening yang begitu mencekam, lebih menakutkan daripada raungan perang itu sendiri.

Di gerbang kota, sosok itu berdiri tegak. Xie Wuyou.

Pria itu tidak terlihat berbeda dari saat terakhir kali Fengyin melihatnya—atau lebih tepatnya, saat terakhir kali pria itu mengakhiri hidup Fengyin di kehidupan sebelumnya. Jubah ungu dengan sulaman naga emasnya masih terlihat begitu megah, begitu bersih, seolah debu dan darah pertempuran ini tidak berani menempel padanya. Wajahnya tampan, hampir seperti dewa, tapi matanya... matanya dingin. Dingin seperti jurang yang tak berdasar.

Dia tidak berjalan cepat. Dia melangkah pelan, satu per satu. Setiap kali kakinya menyentuh tanah berbatu, orang-orang di sekitarnya seolah tersedot udaranya, mundur tanpa sadar, memberi jalan baginya seolah-olah dia adalah raja dari segalanya.

Meng Tianxiong, yang tadi masih berusaha bangun, kini gemetar hebat. Bukan karena lukanya, tapi karena ketakutan. Dia menunduk dalam, kepalanya hampir menyentuh tanah.

"Pemimpin..." suara Meng Tianxiong parau, penuh rasa bersalah dan gentar. "Maafkan hamba... hamba gagal..."

Xie Wuyou tidak menatapnya. Matanya terkunci sempurna pada sosok kecil di seberang sana. Pada Fengyin.

"Kau memang selalu mengecewakan, Tianxiong," kata Xie Wuyou pelan. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di setiap sudut alun-alun. "Kau punya api, kau punya kekuatan, tapi kau tidak punya mata. Kau tidak bisa melihat apa yang ada di hadapanmu."

Akhirnya, Xie Wuyou tersenyum. Senyum tipis yang tidak sampai ke mata.

"Dan lihatlah... anak kecil ini hampir membunuhmu. Sungguh memalukan."

Fengyin berdiri mematung. Tangannya yang tadi siap menyerang kini terasa berat, kaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya terdengar di telinga sendiri. Dug... dug... dug...

Ingatan kembali menyerbu.

Gambar pedang menembus dadanya. Rasa sakit yang menghancurkan. Suara tawa pria ini saat dia meregang nyawa. Kegelapan yang menelan segalanya.

"Kau..." Fengyin memaksakan suaranya keluar, suaranya serak dan bergetar. "Kau... pembunuh..."

Xie Wuyou terkekeh. "Oh? Masih ingat? Bagus. Sangat bagus. Ingatan yang kuat adalah tanda dari jiwa yang kuat. Sayangnya... kekuatan itu harusnya milik Kaisar, bukan mainan anak kecil yang hilang."

Dia berhenti tepat sepuluh langkah di depan Fengyin. Jarak yang cukup dekat untuk merasakan aura mematikan yang keluar dari tubuh pria itu. Aura itu begitu padat, begitu berat, seolah-olah ada gunungan batu besar yang menindak bahu setiap orang yang ada di sana.

"Fengyin... atau apa pun nama yang kau pakai sekarang," kata Xie Wuyou, matanya menyipit, memancarkan cahaya ungu yang samar. "Dua tahun lalu aku membiarkanmu hidup. Aku pikir kau hanya serangga kecil yang akan mati sendiri di alam liar. Tapi ternyata... kau tumbuh cukup menarik."

"Kau datang untuk membunuhku lagi?" tanya Fengyin, mengerahkan seluruh keberaniannya. Dia tahu perbedaan kekuatan ini sangat jauh. Meng Tianxiong saja sudah sulit, tapi Xie Wuyou... ini adalah level yang berbeda. Ini adalah monster yang sebenarnya.

"Membunuh?" Xie Wuyou menggeleng pelan, seolah itu adalah ide yang sangat membosankan. "Tidak, tidak. Membunuhmu itu terlalu mudah. Terlalu murah. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang bukan milikmu. Kekuatan Jingjie Universal itu... itu milik Yang Dipilih Tuhan yang sesungguhnya. Milik Kaisar Xuancheng."

"Kaisar itu penipu!" seru Fengyin, rasa takutnya perlahan tergantikan oleh amarah. "Dia mencuri kekuatan itu! Dia membunuh orang-orang yang tidak bersalah! Dia bukan penyelamat, dia iblis!"

"Wahaha!" Xie Wuyou tertawa lepas, tawanya bergema membuat dinding kota bergetar. "Iblis? Pahlawan? Di dunia ini hanya ada yang kuat dan yang lemah, bocah. Yang kuat berhak menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Dan saat ini... Kitalah yang kuat."

Tangan Xie Wuyou terangkat perlahan. Tidak ada pedang di tangannya. Tidak ada energi yang terlihat menyala-nyala seperti Meng Tianxiong. Tapi justru itulah yang paling menakutkan.

"Serahkan kekuatan itu, atau aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa selain debu. Dan setelah itu, aku akan membakar desa kecilmu, dan sekolah naga biru yang menyedihkan ini sampai rata dengan tanah."

Ancaman itu diucapkan dengan nada santai, tapi Fengyin tahu pria ini tidak main-main. Dia benar-benar bisa melakukannya.

"Jangan harap!"

Fengyin tidak mau menunggu lagi. Bahkan jika lawannya adalah iblis, dia tidak bisa mundur. Di belakangnya ada Yuelan, ada Ye Xiang, ada teman-temannya.

"DIE!"

Fengyin meluncur maju dengan kecepatan maksimal. Tubuhnya berubah menjadi bayangan, menyisakan jejak angin di udara. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, menggabungkan semua yang dia pelajari dari Master Wei.

"Yǐngfēng Quán - Pukulan Penghancur!"

Tangannya menghantam ke arah dada Xie Wuyou dengan kekuatan penuh. Energi hitam putih meledak, menciptakan ledakan kecil di titik tumbukan.

Namun...

Plak.

Suara itu terdengar begitu ringan. Begitu tidak pantas.

Tangan Fengyin... ditahan. Hanya dengan satu jari.

Xie Wuyou menggunakan telunjuk dan jari tengahnya, menjepit pergelangan tangan Fengyin dengan mudah. Seolah-olah dia hanya menahan kepakan sayap kupu-kupu. Tidak ada guncangan. Tidak ada perlawanan berarti.

Wajah Fengyin memucat.

"Cukup kuat untuk ukuran anak kecil," bisik Xie Wuyou tepat di wajah Fengyin. Napasnya dingin. "Tapi masih jauh dari cukup."

Bugh!

Sebuah tinju mendarat di perut Fengyin secepat kilat. Tidak ada energi besar, tapi kekuatannya luar biasa padat.

Fengyin merasa tulang rusuknya remuk. Udara keluar dari paru-parunya seketika. Tubuhnya terlemah mundur, terguling di tanah, meluncur jauh hingga menabrak tiang batu besar.

Ugh...!

Darah menyembur keluar dari mulut Fengyin. Pandangannya kabur. Tubuhnya terasa mati rasa.

"Fengyin!" teriak Yuelan dari kejauhan, dia ingin berlari membantu tapi ditahan oleh Ye Xiang.

"Jangan! Kalau kau maju sekarang, kau hanya ikut mati! Perbedaan levelnya terlalu jauh!" seru Ye Xiang dengan wajah pucat. Dia sendiri pun gemetar, tangannya mencengkeram keris di pinggangnya tapi tidak berani bergerak sedikit pun.

Xie Wuyou berjalan mendekati Fengyin yang tergeletak lemah. Langkah kakinya terdengar seperti ketukan palu di hati semua orang yang menyaksikan.

Dia menunduk, menatap Fengyin yang berusaha bangun tapi terus jatuh kembali.

"Lihat? Begitulah adanya," kata Xie Wuyou merendahkan. "Kau bisa mengalahkan anjing-anjing kecil seperti Tianxiong, tapi di hadapan yang asli... kau hanyalah bayi yang menangis."

Dia mengangkat tangannya lagi, kali ini energi ungu pekat mulai berkumpul di telapak tangannya. Energi itu terasa begitu jahat, begitu korup.

"Selamat jalan, bocah. Mungkin di kehidupan selanjutnya, kau bisa belajar untuk tidak menjadi sombong."

Fengyin menutup matanya. Dia tidak bisa bergerak. Dia tidak bisa menghindar. Ini akhirnya? Dia baru hidup sepuluh tahun di dunia ini, dan sekarang dia harus mati lagi?

Tidak... Aku belum selesai... Aku belum membalas dendam... Aku belum melindungi mereka...

Tepat saat energi itu siap meledak dan menghancurkan Fengyin...

Ting...

Sebuah suara lonceng kecil terdengar pelan, namun menembus segala suara.

Tangan Xie Wuyou berhenti tepat di udara. Dia menoleh ke arah pinggangnya, di mana sebuah alat komunikasi giok bersinar lemah.

Wajah Xie Wuyou berubah sedikit. Dia menurunkan tangannya perlahan. Ada kilatan kesal di matanya, tapi juga... kepatuhan.

"Hmm..." Xie Wuyou mendengus kasar. "Sialan. Tepat sekali waktunya."

Dia menatap Fengyin lagi, lalu tersenyum miring.

"Kau beruntung, bocah. Kaisar memanggil. Semua pasukan harus kembali ke Ibu Kota segera untuk Persiapan Upacara Penyucian Jiwa. Urusan sampah seperti kau... bisa ditunda."

Xie Wuyou melangkah mundur, lalu berbalik badan menghadap pasukan Sekte Naga Hitam yang masih gemetar.

"Tarik pasukan! Kita pulang!" perintahnya tegas.

"Tap-tapi Pemimpin! Musuh masih ada!" teriak salah satu komandan.

"DIAM! Lakukan perintah!" bentak Xie Wuyou. Aura nya meledak sesaat, membuat semua orang terduduk.

Dia kembali menatap Fengyin untuk terakhir kalinya.

"Simpan nyawamu untuk saat ini, Fengyin. Berlatihlah sekuat tenaga. Karena saat kita bertemu lagi... aku tidak akan sebaik ini. Aku akan merobek tubuhmu dan mengambil kekuatan itu dengan paksa."

"Dan ingat... kematian adalah hal termudah yang bisa kuberikan padamu. Ada hal yang jauh lebih buruk daripada mati."

Xie Wuyou berbalik, melangkah pergi meninggalkan alun-alun yang hancur itu. Meng Tianxiong dengan susah payah bangun, melotot penuh kebencian pada Fengyin sebelum akhirnya ikut berlari mengejar tuannya.

Pasukan Sekte Naga Hitam mundur dengan cepat, meninggalkan kota yang hangus dan berantakan.

Hening kembali menyelimuti tempat itu. Tapi kali ini, bukan hening ketakutan. Tapi hening kelegaan yang luar biasa.

Fengyin masih terbaring di sana, napasnya tersengal-sengal, darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya terasa hancur lebur. Tapi dia masih hidup.

Dia masih hidup.

Yuelan dan Ye Xiang segera berlari menghampirinya, diikuti oleh murid-murid Cānglóng Pài yang lain.

"Fengyin! Kau tidak apa-apa?!" Yuelan langsung memeluk bahu temannya, air matanya jatuh melihat kondisi Fengyin yang mengenaskan.

Fengyin membuka matanya perlahan, menatap langit yang mulai bersih dari asap.

"Aku... aku baik-baik saja..." bisiknya lemah. "Mereka... pergi..."

"Ya, mereka pergi," kata Ye Xiang, mengelap keringat dingin di dahinya. "Kita selamat. Untuk kali ini."

Tapi Fengyin tahu. Pertarungan ini belum berakhir. Ini baru babak awal. Xie Wuyou masih ada. Kaisar Xuancheng masih ada.

Dan mereka akan kembali.

Lebih kuat. Lebih kejam.

[ Bersambung... ]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!