Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Sore itu suasana di lobi Ocean Blue masih cukup ramai.
Beberapa karyawan yang hendak pulang terlihat berjalan keluar masuk gedung, sementara resepsionis masih sibuk melayani beberapa tamu.
Namun, tiba-tiba perhatian banyak orang teralihkan pada satu hal. Sebuah paket bunga mawar merah yang sangat besar. Bunga itu diletakkan di meja depan lobi. Kelopak mawar merahnya segar dan tersusun rapi, bahkan ukurannya hampir menutupi sebagian meja resepsionis.
Beberapa karyawan langsung berhenti berjalan hanya untuk melihatnya.
“Wow … besar sekali.”
“Ini untuk siapa?”
“Lihat kartunya!”
Salah satu resepsionis akhirnya membaca kartu kecil yang terselip di tengah bunga.
Matanya langsung melebar.
“Untuk … Tasya.” Ucapan itu langsung membuat beberapa orang saling berpandangan.
“Tasya?”
“Yang baru masuk hari ini?”
“Bukannya dia yang langsung jadi kepala IT?”
Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh lobi. Tepat saat itu pintu kaca gedung terbuka. Tasya berjalan masuk dari arah lift. Ia baru saja turun dari lantai atas dan hendak pulang.
Begitu melewati meja resepsionis, salah satu resepsionis langsung memanggilnya.
“Nona Tasya?”
Tasya berhenti dan menoleh.
“Iya?”
Resepsionis menunjuk ke arah bunga besar itu.
“Ini untuk Anda.”
Tasya mengerutkan kening.
“Untuk saya?”
Ia mendekat sedikit, lalu langsung menggeleng.
“Saya tidak memesan bunga.”
Namun resepsionis menunjuk kartu kecil itu.
“Ada nama Anda di sini.”
Tasya akhirnya mengambil kartu tersebut. Begitu matanya membaca nama pengirim wajahnya langsung berubah.
Suasana lobi berubah menjadi lebih ramai dengan bisik-bisik.
“Tuan Alex Roman Vasillo?”
“Yang dari perusahaan Vasillo?”
“Serius?”
“Itu rival kita!”
Beberapa karyawan bahkan menatap Tasya dengan ekspresi penuh penasaran.
Di saat yang sama pintu lift kembali terbuka.
Seorang pria tinggi keluar dengan langkah tenang. Ia baru saja turun dari lantai atas. Namun, langkahnya berhenti begitu melihat kerumunan kecil di lobi. Tatapan Dion lalu jatuh pada buket mawar merah besar itu.
Kemudian perlahan berpindah pada Tasya yang masih memegang kartu tersebut.
Dion berjalan mendekat.
“Ada apa?”
Salah satu karyawan langsung menjawab dengan nada penuh gosip.
“Direktur … bunga ini untuk Nona Tasya.”
Dion mengerutkan kening sedikit.
“Dari siapa?”
Tasya masih diam. Namun seorang resepsionis dengan polos menjawab,
“Dari … Alex Roman Vasillo.”
Sekejap suasana terasa sedikit menegang. Tatapan Dion perlahan berubah. Matanya kembali melihat buket mawar merah itu.
Suasana lobi yang tadi hanya dipenuhi bisik-bisik tiba-tiba berubah menjadi riuh. Nama yang tertulis di kartu itu seperti petir yang menyambar seluruh ruangan.
“Tuan Alex Roman Vasillo?!”
“Serius dari Vasillo Group?!”
“Itu perusahaan rival kita!”
“Kenapa dia kirim bunga ke karyawan Ocean Blue?” Beberapa karyawan lain kembali berbisik.
Bisik-bisik berubah menjadi suara yang semakin jelas. Beberapa karyawan bahkan mulai menatap Tasya dengan curiga. Salah satu dari mereka akhirnya berkata dengan nada sinis,
“Jangan-jangan…”
“Dia mata-mata dari Vasillo.” Ucapan itu membuat beberapa orang langsung saling pandang.
“Iya juga.”
“Masuk hari pertama langsung jadi kepala IT.”
“Sekarang dapat bunga dari Tuan Alex Roman Vasillo.”
“Bukankah itu terlalu mencurigakan?”
Tasya langsung mengangkat wajahnya.
“Apa?” Nada suaranya jelas tidak terima.
“Aku bukan mata-mata siapa pun.”
Namun, tuduhan itu sudah terlanjur menyebar di antara para karyawan.
“Lalu kenapa CEO dari perusahaan rival kirim bunga ke kamu?”
“Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?”
“Jangan-jangan kamu sengaja masuk ke sini.”
Tasya menggenggam kartu bunga itu dengan kuat.
“Aku tidak ada hubungan apa pun dengan perusahaan itu.”
Namun, suara-suara curiga masih terdengar. Di tengah keributan itu sebuah suara tegas tiba-tiba memotong semuanya.
“Cukup!"
Semua orang langsung menoleh, Dion berdiri di tengah lobi. Tatapannya tajam menyapu seluruh karyawan yang tadi berbicara.
“Tidak ada yang berhak menuduh tanpa bukti.”
Suasana langsung menjadi sunyi. Dion melangkah mendekati Tasya. Lalu berkata dengan nada pasti,
“Tasya tidak mungkin menjadi mata-mata.”
Beberapa karyawan masih terlihat ragu.
“Tapi Direktur…”
“Bunga ini dari Tuan Alex Roman Vasillo.”
Dion menjawab tanpa ragu.
“Itu urusan pribadi.”
Ia menatap satu per satu karyawan yang tadi berbisik.
“Dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan di Ocean Blue.”
Suasana kembali sunyi, tidak ada yang berani membantah lagi. Dion lalu menoleh pada Tasya.
“Tasya.” Nada suaranya sedikit lebih lembut.
“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun pada mereka.”
Tasya terdiam beberapa detik. Tasya akhirnya menarik napas panjang. Suasana di lobi masih terasa canggung setelah keributan tadi.
Ia lalu menoleh pada Dion.
“Terima kasih, Direktur,” ucapnya pelan.
Dion menggeleng kecil.
“Kamu tidak perlu berterima kasih.”
Tasya mengangguk, lalu berkata,
“Kalau begitu … saya pulang dulu.”
Dion hanya mengangguk.
Tasya kemudian berjalan keluar menuju teras depan gedung Ocean Blue.
Di depan gedung, sebuah mobil hitam mencolok terparkir tepat di area utama.
Beberapa karyawan yang keluar kantor bahkan sengaja memperlambat langkah mereka untuk melihat mobil itu.
Mobil seperti itu jelas tidak biasa.
Dulu, Vasillo Group memang pernah bekerja sama dengan Ocean Blue. Namun, hubungan kedua perusahaan itu sudah lama berubah menjadi rivalitas dingin. Karena itu, kehadiran mobil itu di depan gedung terasa sangat mencurigakan. Tasya baru saja ingin berjalan melewatinya ketika pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun, yaitu Mario. Ia langsung menghampiri Tasya dengan langkah cepat.
“Nona Tasya.”
Tasya berhenti.
“Ada apa?”
Mario menunjuk ke arah mobil.
“Tuan Alex ingin berbicara dengan Anda.”
Tasya langsung menghela napas pelan.
“Sekalian beliau ingin mengantar Anda pulang.”
Tasya menggeleng tanpa ragu.
“Tidak perlu!”
Ia menunjuk ke arah parkiran.
“Aku membawa mobil sendiri.”
Mario mencoba tersenyum.
“Tapi Tuan Alex—”
“Aku tidak punya kepentingan dengan dia.” Potong Tasya dengan tegas.
Setelah mengatakan itu, ia langsung berbalik dan berjalan menuju mobilnya.
Mario berdiri canggung. Ia tahu ia tidak akan bisa membujuk wanita itu. Dan benar saja pintu mobil hitam itu kembali terbuka. Seseorang turun yaitu Alex. Pria itu berjalan dengan langkah tenang namun penuh tekanan.
Beberapa karyawan yang masih berdiri di sekitar langsung menahan napas. Tasya yang baru beberapa langkah berjalan bahkan belum sempat menoleh ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat dari lantai.
“Hey!” Tasya kaget.
Alex dengan santai menggendongnya di bahu seperti mengangkat karung beras.
“Tuan Alex! Turunkan aku!” Tasya langsung memukul punggungnya kesal.
Namun, Alex berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berkata datar,
“Mario,"
“Ya, Tuan.”
“Bawa pulang mobilnya.”
Mario bahkan tidak sempat bereaksi.
“Tuan?”
Alex tidak berhenti melangkah.
“Mobil Tasya. Bawa ke rumahnya.”
Mario akhirnya mengangguk cepat.
“Baik, Tuan.”
Sementara itu pemandangan itu disaksikan oleh hampir semua orang di teras gedung. Beberapa karyawan bahkan menutup mulut mereka karena kaget.
“Ya Tuhan…”
“Dia benar-benar menculiknya?”
“Dia Tuan Alex Roman Vasillo!”
“Siapa sebenarnya Tasya itu?!”
Di dekat pintu masuk Dion berdiri membeku. Tatapannya terkunci pada pemandangan di depan matanya. Tasya masih berusaha meronta di bahu Alex.
“Turunkan aku!”
Namun, Alex tetap berjalan menuju mobilnya tanpa peduli. Sebelum masuk ke mobil Alex sempat melirik ke arah gedung. Tatapan matanya bertemu dengan Dion yang berdiri di sana. Dua pria itu saling menatap beberapa detik. Tatapan yang jelas bukan tatapan biasa. Lalu Alex menyeringai tipis.
Dion, tak bisa melawan Alex, setelah menerima pesan singkat dari Tuan Rockhi memintanya tak membuat masalah dengan Vasillo.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal