NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆 JUARA 2 YAAW 2026 PERIODE 1 🏆

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Azalea keluar dari dapur sambil membawa piring, tetapi langkahnya melambat ketika mendengar percakapan ayah dan anak itu. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan dengan jantung berdebar, takut Enzo salah menanggapi.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Enzo menghela napas panjang, lalu meletakkan telapak tangannya di pundak Erza.

“Kamu berani, Kak” ucap pria itu pelan. “Dan benar kamu harus melindungi adikmu.”

Erza mendongak, matanya membulat.

“Tapi,” lanjut Enzo dengan nada lembut, “lain kali kamu bilang ke orang dewasa dulu. Jangan sampai kamu atau adikmu terluka.”

Erza mengangguk mantap. “Iya, Daddy.”

Enzo menarik Erza ke dalam pelukan hangat. Pelukan ayah yang jarang, tapi penuh makna. “Daddy bangga,” katanya lirih.

Azalea menahan napas. Dadanya menghangat, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan itu.

Elora bertepuk tangan kecil. “Daddy bangga sama Kak Erza!”

Enzo tersenyum, lalu menoleh ke Azalea yang masih berdiri di dapur. “Kamu bagaimana?”

Azalea mendekat perlahan. “Mereka kaget dan takut,” jawabnya jujur. “Tapi sudah tenang.”

“Mommy hebat,” sela Elora tiba-tiba. “Mommy peluk aku, terus bilang, “Ada Mommy, sekarang Elora sudah aman.”

Enzo menatap Azalea lebih lama dari biasanya.

“Apa yang kamu lakukan sama mereka?” tanyanya pelan.

Azalea tersenyum kecil. “Aku cuma bilang perasaan mereka wajar. Takut itu boleh. Marah itu manusiawi. Tapi kita harus belajar menenangkan diri.”

Enzo terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa sangat dalam. Selama ini, ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan ketegasan dan kontrol. Namun, Azalea memilih jalan lain, dia memeluk emosi, bukan menekannya.

“Kamu tahu caranya menghadapi anak-anak,” ucap Enzo lirih, hampir seperti gumaman.

Azalea menggeleng halus. “Aku hanya mendengarkan mereka.”

Mereka saling bertatapan sejenak. Tak ada kata cinta atau pun pengakuan. Namun, di antara mereka, ada rasa saling memahami yang tumbuh semakin kuat.

“Dinner siap!” seru Azalea akhirnya, memecah keheningan.

Mereka duduk bersama di meja makan. Elora masih sesekali mengulang cerita dengan gaya berlebihan, membuat Erza tertawa kecil. Enzo memperhatikan semuanya. Kedua anaknya tawa lepas, suara yang manja, gerak kecil yang dulu sering ia lewatkan.

Malam itu, sebelum makan malam dimulai, Enzo menyadari sesuatu dengan jelas. Ia bukan hanya bangga pada putranya yang berani melindungi adiknya. Ia juga kagum pada istrinya, wanita yang tidak hanya mengurus, tetapi membentuk jiwa buah hatinya yang sering dia abaikan.

Enzo merasa pulang ke rumah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali ke sesuatu yang bernama keluarga. Ini yang sempat hilang dalam hidupnya.

***

Langit sore tampak redup ketika Azalea berdiri di depan jendela kamar. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Kalender di dinding sudah menunjukkan hitungan hari menuju bulan Ramadan.

Hatinya terasa penuh. Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Tidak duduk lama di depan makam orang tua. Tidak membacakan doa di pusara kakaknya—Jasmine—yang wajahnya masih sering hadir dalam mimpinya.

Azalea berdiri di ambang pintu ruang kerja Enzo. Pria itu masih duduk di balik meja, memeriksa berkas-berkas dengan raut serius. Ketukan pelan di pintu membuat Enzo menoleh.

“Mas, boleh aku masuk? Aku ingin bicara sebentar,” tanya Azalea lembut.

Enzo meletakkan berkasnya. “Masuk.”

Azalea duduk di kursi di hadapannya. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tetapi ada kegugupan kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Mas Enzo, sebelum Ramadan, aku ingin pulang kampung,” ucap Azalea perlahan.

Enzo mengangkat alis. “Pulang kampung?”

“Iya,” Azalea mengangguk. “Aku ingin ziarah ke makam Ayah, Ibu, dan Kak Jasmine.”

Nama itu meluncur pelan, namun cukup membuat Enzo terdiam sesaat. Azalea melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, “Aku juga ingin mengajak Erza dan Elora. Supaya mereka tahu siapa ibu kandung mereka. Supaya mereka mengenal asal-usulnya.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Enzo menyandarkan punggungnya ke kursi. Dadanya terasa penuh. Ada keinginan kuat untuk ikut melihat makam Jasmine, berdiri di hadapan kenangan yang selama ini ia simpan sendiri. Namun bayangan jadwal kerja yang menumpuk segera menyergap.

“Aku ingin ikut,” katanya jujur. “Tapi pekerjaanku sedang tidak bisa ditinggal.”

“Aku mengerti,” potong Azalea lembut. “Aku tidak memaksa Mas untuk ikut.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Enzo memejamkan mata sesaat, menimbang. “Baiklah. Aku minta sopir mengantar kalian. Aku ingin memastikan kalian aman dalam perjalanan.”

Azalea tersenyum tipis, meski ada kecewa yang tak sepenuhnya tersembunyi. “Terima kasih, Mas.”

Azalea memberi tahu Erza dan Elora tentang kepergian ke kampung halamannya. Kedua anak kecil itu sangat gembira karena akan mendatangi tempat yang sering diceritakan selama ini oleh sang ibu.

“Ayo, kita siapkan barang kalian yang akan dibawa," ajak Azalea. Erza dan Elora bersemangat untuk membantu.

Namun, suasana berubah tegang ketika Mami Elsa mengetahui rencana tersebut.

“Tidak!” suara Mami Elsa meninggi. “Azalea, kamu tidak boleh membawa Erza dan Elora ke kampung!”

Azalea terkejut, tapi berusaha tenang. “Nyonya, itu kampung halaman saya. Saya hanya ingin berziarah dan memperkenalkan mereka—”

“Tidak ada acara begituan!” Mami Elsa memotong dengan nada tinggi. “Kampung itu kumuh, perjalanannya jauh dan melelahkan. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Apa kamu mau bertanggung jawab! Anak-anak masih kecil!”

“Nyonya,” Azalea menahan napas, “mereka anak-anak yang kuat. Saya akan menjaga mereka sebaik mungkin.”

“Menjaga?” Mami Elsa berdiri. “Kamu pikir aku tega membiarkan cucu-cucuku jauh dari rumah?”

Debat semakin panas. Nada Mami Elsa keras, sementara Azalea berusaha bertahan dengan suara yang mulai bergetar.

“Aku ibu mereka sekarang, Nyonya,” ucap Azalea akhirnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku tidak berniat membawa mereka pergi selamanya. Hanya sebentar. Aku ingin mereka tahu, kalau punya keluarga yang juga layak diziarahi.”

Keheningan mendadak pecah oleh suara kecil. “Oma ....” Erza maju, menggenggam tangan Azalea. “Kami mau ikut Mommy ke sana.”

Elora mengangguk cepat. “Kami nggak mau jauh-jauh dari Mommy Azalea.”

Hati Azalea mencelos. Ia menunduk, memeluk keduanya. “Mommy tidak akan lama,” bisiknya.

Mami Elsa terdiam, wajahnya mengeras. Dia benci melihat kedua cucunya dekat dengan wanita yang dianggap kampungan.

Saat itulah Enzo melangkah maju. “Mi,” katanya tegas namun lembut. Semua mata tertuju padanya. “Mami tenang saja. Mereka akan baik-baik saja, karena aku juga akan ikut.”

Mami Elsa menoleh cepat. “Enzo?”

“Aku ikut Azalea dan anak-anak ke kampung,” ulang Enzo mantap. “Aku akan menjaga mereka. Dengan begitu, Mami tidak perlu khawatir.”

Azalea menatap Enzo, kaget. “Mas Enzo, tapi pekerjaanmu—”

“Aku akan atur,” jawab Enzo tanpa ragu. “Keluarga juga tanggung jawabku.”

Mami Elsa menghela napas panjang, mukanya semakin kusut. “Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu kepada kedua cucuku!"

Enzo mengangguk. “Aku janji jaga mereka, Mi.”

Azalea menahan tangis haru. Ia menatap Enzo dengan mata penuh terima kasih. Erza dan Elora bersorak kecil, memeluk kaki Enzo dan Azalea bersamaan.

1
Someone
👍💪
Someone
💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah inilah kenapa jangan makan uang haram, atau ngambil suami orang, jadi nggak berkah kan idup nya 🙏☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah setidaknya lea dr keluarga baik2 bukan hasil anak gundik yg ngerebut kebahagiaan keluarga orang kayak yg ngatain 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bayangin aja udah sejahat apa dia sm lea tp suami nya lea mutasi dia aja masih baik banget di boyong se-nadia & nadin nya 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
udah kalah di duit kalah juga dr dia ngetreat lea di masalalu, kok bisa semantep itu ngajak rujuknya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ada manusia manusia modelan begini di muka bumi ini sih wkwk suka banget ngasih kesimpulan dr apa yg di liat trus di omong2in ke orang2 😩 capek2 di buat dr debu sm Tuhan masa fungsi nya cuma ghibah 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ih makasih lho mbak nad udah ngambil cowo medhit nan kikir ini wkwk kalo bisa jangan di lepas ya biar jd ladang pahala mbak nad seumur hidup biayain laki medhit ini 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sumpah ini kalo enzo ketemu sm reza pasti otak dia bayangin sekecil apa punya reza 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
random sih tp lucu banget "berdiri mami elsa yg duduk di kursi roda" 😅 bayangin berdiri sambil duduk 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ternyata oma elsa kalo waras bijak banget, bangga deh oma 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
paham sih enzo ngalamin kayak birthday blue karena ngingetin dia sama hr kematin mendiang isteri, tapi di sisi nya si anak dia juga berhak di rayakan walapun hr lahir nya juga harus membersamai hr meninggal nya ibu nya, toh ga ada manusia di dunia ini yg pengen hr lahirnya juga jd hari kematian orang yg di sayang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Aah i see, dia jd trauma sama orang2 dr kampung atau di anggap miskin karena di anggap selalu jadiin "nikah sm orang kaya" sebagai jalan pintas bahkan sampe jd simpenan. Tapi semoga di bisa liat ketulusannya lea sama keluarga dia ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
yeee bilang aja situ medhit, orang isteri sendiri masa di bilang numpang hidup 😒 lah ibu mu juga numpang idup dong dr bapak mu 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
oalah pantesan, akhirnya terjawab sudah pertanyaan ku wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah jd beneran mertua nya jasmine sm adek nya jasmine ga kenal? 😅 penasaran banget pas nikahan dulu emang si jasmine ga ngenalin keluarga nya apa gimana
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok kenalan lagi sih emang pas kakak lu dilamar sampe nikahan ni keluarga ga saling kenalan kah? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hah gimana sih bukannya ini mama mertua nya jasmine kakak nya lea kan? emang dia pas nikahan jasmine sm enzo ga ketemu sama keluarga menantu nya sampe adek dr menantu nya ga ngenalin? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo emang si reza sama nadia selingkuh ya udahlah ya tapi masalahnya ini dia pake jabatan nya dia buat bikin orang yg ga ada masalah personal sm dia jd ga bisa kerja, bener2 ya 😒
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!