Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Azalea keluar dari dapur sambil membawa piring, tetapi langkahnya melambat ketika mendengar percakapan ayah dan anak itu. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan dengan jantung berdebar, takut Enzo salah menanggapi.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Enzo menghela napas panjang, lalu meletakkan telapak tangannya di pundak Erza.
“Kamu berani, Kak” ucap pria itu pelan. “Dan benar kamu harus melindungi adikmu.”
Erza mendongak, matanya membulat.
“Tapi,” lanjut Enzo dengan nada lembut, “lain kali kamu bilang ke orang dewasa dulu. Jangan sampai kamu atau adikmu terluka.”
Erza mengangguk mantap. “Iya, Daddy.”
Enzo menarik Erza ke dalam pelukan hangat. Pelukan ayah yang jarang, tapi penuh makna. “Daddy bangga,” katanya lirih.
Azalea menahan napas. Dadanya menghangat, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan itu.
Elora bertepuk tangan kecil. “Daddy bangga sama Kak Erza!”
Enzo tersenyum, lalu menoleh ke Azalea yang masih berdiri di dapur. “Kamu bagaimana?”
Azalea mendekat perlahan. “Mereka kaget dan takut,” jawabnya jujur. “Tapi sudah tenang.”
“Mommy hebat,” sela Elora tiba-tiba. “Mommy peluk aku, terus bilang, “Ada Mommy, sekarang Elora sudah aman.”
Enzo menatap Azalea lebih lama dari biasanya.
“Apa yang kamu lakukan sama mereka?” tanyanya pelan.
Azalea tersenyum kecil. “Aku cuma bilang perasaan mereka wajar. Takut itu boleh. Marah itu manusiawi. Tapi kita harus belajar menenangkan diri.”
Enzo terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa sangat dalam. Selama ini, ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan ketegasan dan kontrol. Namun, Azalea memilih jalan lain, dia memeluk emosi, bukan menekannya.
“Kamu tahu caranya menghadapi anak-anak,” ucap Enzo lirih, hampir seperti gumaman.
Azalea menggeleng halus. “Aku hanya mendengarkan mereka.”
Mereka saling bertatapan sejenak. Tak ada kata cinta atau pun pengakuan. Namun, di antara mereka, ada rasa saling memahami yang tumbuh semakin kuat.
“Dinner siap!” seru Azalea akhirnya, memecah keheningan.
Mereka duduk bersama di meja makan. Elora masih sesekali mengulang cerita dengan gaya berlebihan, membuat Erza tertawa kecil. Enzo memperhatikan semuanya. Kedua anaknya tawa lepas, suara yang manja, gerak kecil yang dulu sering ia lewatkan.
Malam itu, sebelum makan malam dimulai, Enzo menyadari sesuatu dengan jelas. Ia bukan hanya bangga pada putranya yang berani melindungi adiknya. Ia juga kagum pada istrinya, wanita yang tidak hanya mengurus, tetapi membentuk jiwa buah hatinya yang sering dia abaikan.
Enzo merasa pulang ke rumah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali ke sesuatu yang bernama keluarga. Ini yang sempat hilang dalam hidupnya.
***
Langit sore tampak redup ketika Azalea berdiri di depan jendela kamar. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Kalender di dinding sudah menunjukkan hitungan hari menuju bulan Ramadan.
Hatinya terasa penuh. Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Tidak duduk lama di depan makam orang tua. Tidak membacakan doa di pusara kakaknya—Jasmine—yang wajahnya masih sering hadir dalam mimpinya.
Azalea berdiri di ambang pintu ruang kerja Enzo. Pria itu masih duduk di balik meja, memeriksa berkas-berkas dengan raut serius. Ketukan pelan di pintu membuat Enzo menoleh.
“Mas, boleh aku masuk? Aku ingin bicara sebentar,” tanya Azalea lembut.
Enzo meletakkan berkasnya. “Masuk.”
Azalea duduk di kursi di hadapannya. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tetapi ada kegugupan kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Mas Enzo, sebelum Ramadan, aku ingin pulang kampung,” ucap Azalea perlahan.
Enzo mengangkat alis. “Pulang kampung?”
“Iya,” Azalea mengangguk. “Aku ingin ziarah ke makam Ayah, Ibu, dan Kak Jasmine.”
Nama itu meluncur pelan, namun cukup membuat Enzo terdiam sesaat. Azalea melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, “Aku juga ingin mengajak Erza dan Elora. Supaya mereka tahu siapa ibu kandung mereka. Supaya mereka mengenal asal-usulnya.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Enzo menyandarkan punggungnya ke kursi. Dadanya terasa penuh. Ada keinginan kuat untuk ikut melihat makam Jasmine, berdiri di hadapan kenangan yang selama ini ia simpan sendiri. Namun bayangan jadwal kerja yang menumpuk segera menyergap.
“Aku ingin ikut,” katanya jujur. “Tapi pekerjaanku sedang tidak bisa ditinggal.”
“Aku mengerti,” potong Azalea lembut. “Aku tidak memaksa Mas untuk ikut.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Enzo memejamkan mata sesaat, menimbang. “Baiklah. Aku minta sopir mengantar kalian. Aku ingin memastikan kalian aman dalam perjalanan.”
Azalea tersenyum tipis, meski ada kecewa yang tak sepenuhnya tersembunyi. “Terima kasih, Mas.”
Azalea memberi tahu Erza dan Elora tentang kepergian ke kampung halamannya. Kedua anak kecil itu sangat gembira karena akan mendatangi tempat yang sering diceritakan selama ini oleh sang ibu.
“Ayo, kita siapkan barang kalian yang akan dibawa," ajak Azalea. Erza dan Elora bersemangat untuk membantu.
Namun, suasana berubah tegang ketika Mami Elsa mengetahui rencana tersebut.
“Tidak!” suara Mami Elsa meninggi. “Azalea, kamu tidak boleh membawa Erza dan Elora ke kampung!”
Azalea terkejut, tapi berusaha tenang. “Nyonya, itu kampung halaman saya. Saya hanya ingin berziarah dan memperkenalkan mereka—”
“Tidak ada acara begituan!” Mami Elsa memotong dengan nada tinggi. “Kampung itu kumuh, perjalanannya jauh dan melelahkan. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Apa kamu mau bertanggung jawab! Anak-anak masih kecil!”
“Nyonya,” Azalea menahan napas, “mereka anak-anak yang kuat. Saya akan menjaga mereka sebaik mungkin.”
“Menjaga?” Mami Elsa berdiri. “Kamu pikir aku tega membiarkan cucu-cucuku jauh dari rumah?”
Debat semakin panas. Nada Mami Elsa keras, sementara Azalea berusaha bertahan dengan suara yang mulai bergetar.
“Aku ibu mereka sekarang, Nyonya,” ucap Azalea akhirnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku tidak berniat membawa mereka pergi selamanya. Hanya sebentar. Aku ingin mereka tahu, kalau punya keluarga yang juga layak diziarahi.”
Keheningan mendadak pecah oleh suara kecil. “Oma ....” Erza maju, menggenggam tangan Azalea. “Kami mau ikut Mommy ke sana.”
Elora mengangguk cepat. “Kami nggak mau jauh-jauh dari Mommy Azalea.”
Hati Azalea mencelos. Ia menunduk, memeluk keduanya. “Mommy tidak akan lama,” bisiknya.
Mami Elsa terdiam, wajahnya mengeras. Dia benci melihat kedua cucunya dekat dengan wanita yang dianggap kampungan.
Saat itulah Enzo melangkah maju. “Mi,” katanya tegas namun lembut. Semua mata tertuju padanya. “Mami tenang saja. Mereka akan baik-baik saja, karena aku juga akan ikut.”
Mami Elsa menoleh cepat. “Enzo?”
“Aku ikut Azalea dan anak-anak ke kampung,” ulang Enzo mantap. “Aku akan menjaga mereka. Dengan begitu, Mami tidak perlu khawatir.”
Azalea menatap Enzo, kaget. “Mas Enzo, tapi pekerjaanmu—”
“Aku akan atur,” jawab Enzo tanpa ragu. “Keluarga juga tanggung jawabku.”
Mami Elsa menghela napas panjang, mukanya semakin kusut. “Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu kepada kedua cucuku!"
Enzo mengangguk. “Aku janji jaga mereka, Mi.”
Azalea menahan tangis haru. Ia menatap Enzo dengan mata penuh terima kasih. Erza dan Elora bersorak kecil, memeluk kaki Enzo dan Azalea bersamaan.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi