Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Badai di Ruang Sidang
Pagi itu, lantai tiga puluh lima Wiratama Tower terasa lebih mencekam daripada biasanya. Keheningan yang menggantung di lorong-lorong kaca itu seolah menyimpan badai yang siap meledak. Hana berdiri di depan cermin toilet, menatap pantulannya sendiri. Wajahnya sedikit pucat karena kurang tidur, namun matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia merapikan kerah blazernya, menghirup napas dalam-dalam, dan meyakinkan dirinya sendiri: Ini bukan tentang angka, ini tentang kebenaran.
Di ruang rapat utama, sepuluh orang pria dan wanita berwajah kaku sudah duduk melingkari meja jati besar. Mereka adalah para pemegang saham dan jajaran direksi. Di ujung meja, Adrian duduk dengan posisi tegak, wajahnya tidak terbaca, namun matanya terus mengawasi pintu.
Sandra berdiri di sudut ruangan, sesekali melempar tatapan sinis ke arah Hana saat ia masuk membawa tumpukan dokumen. Sandra tampak sangat percaya diri, sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Pak Hendra, Direktur Operasional yang selama ini dikenal sebagai "tangan kanan" yang tak tersentuh di perusahaan itu.
"Mr. Adrian, apakah kita benar-benar harus mendengarkan presentasi dari staf baru ini? Kita punya auditor eksternal yang jauh lebih kredibel daripada... mantan ibu rumah tangga yang vakum lima tahun," sindir Pak Hendra dengan nada meremehkan, memicu tawa kecil di antara beberapa peserta rapat.
Hana tidak membalas. Ia melangkah maju, meletakkan dokumennya di meja, dan menyambungkan laptopnya ke proyektor.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," suara Hana bergema, stabil dan tanpa keraguan. "Saya tidak akan membuang waktu Anda dengan perdebatan kredibilitas. Mari kita langsung bicara tentang selisih dana tiga miliar rupiah di proyek Grand Emerald."
Layar proyektor menampilkan diagram yang sangat rumit. Hana mulai membedah aliran dana itu satu per satu. Ia menunjukkan bagaimana uang perusahaan mengalir ke sebuah firma konsultasi fiktif yang baru berdiri enam bulan lalu.
"Firma ini tidak memiliki kantor fisik, tidak memiliki rekam jejak, namun menerima pembayaran rutin untuk 'biaya supervisi strategis'. Dan jika kita telusuri lebih jauh," Hana menekan tombol next, menampilkan sebuah foto dokumen akta pendirian perusahaan fiktif tersebut, "pemilik sah dari firma ini adalah sepupu dari sekretaris senior kita, Miss Sandra, dan semua dokumen pembayarannya disetujui secara pribadi oleh Pak Hendra."
Ruangan itu mendadak sunyi. Sandra yang tadinya tersenyum sinis, seketika mematung dengan wajah pucat pasi. Pak Hendra menggebrak meja dengan keras.
"Ini fitnah! Mr. Adrian, Anda membiarkan wanita ini menghina saya dengan data palsu?" teriak Hendra.
"Data saya tidak palsu, Pak," sahut Hana tenang. "Saya sudah memverifikasi alamat IP pengiriman invoice tersebut. Semuanya berasal dari komputer di lantai ini, tepatnya dari meja Miss Sandra pada jam-jam di luar jam kerja. Dan ini adalah bukti transfer baliknya ke rekening pribadi Anda di luar negeri."
Adrian menyilangkan tangannya di dada. Matanya menatap Hendra dengan dingin. "Saya sudah curiga selama setahun, Hendra. Tapi saya butuh seseorang yang punya 'mata' cukup jeli untuk menemukan lubang sekecil ini di tengah pembukuan yang sangat rapi. Hana baru melakukannya dalam empat puluh delapan jam."
Adrian berdiri, suaranya menggelegar di ruang rapat. "Hendra, Sandra, silakan tinggalkan ruangan ini sekarang juga. Tim hukum dan polisi sudah menunggu di lobi. Jangan mencoba menghapus apa pun, karena semua sistem sudah saya kunci sejak semalam."
Hana berdiri mematung saat melihat dua orang yang tadinya begitu berkuasa itu diseret keluar dengan kehinaan. Ada rasa puas yang aneh, namun ia tahu ini belum berakhir.
Sementara itu, di bawah gedung, sebuah mobil taksi berhenti dengan tergesa-gesa. Aris turun dengan pakaian yang sudah kusut. Ia tidak lagi peduli pada penampilannya. Pikirannya hanya satu: ia harus menghentikan Hana. Ia harus memaksa Hana mencabut laporan Pak Baskoro sebelum ia benar-benar masuk penjara.
Aris mencoba menerobos masuk melewati petugas keamanan di lobi.
"Maaf, Pak, Anda punya janji?" tanya petugas keamanan dengan tubuh tegap.
"Saya suaminya Hana Anindita! Dia bekerja di atas! Saya harus bicara sekarang, ini urusan hidup dan mati!" teriak Aris sambil mencoba merangsek maju.
"Istri Anda sedang dalam rapat penting, Pak. Mohon tunggu di area tunggu."
"Rapat penting apa?! Dia itu cuma staf biasa! Dia pasti sengaja menghindar karena takut padaku!" Aris mulai berteriak-teriak, menarik perhatian banyak orang di lobi yang mewah itu. Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
Aris merasa harga dirinya diinjak-injak saat melihat tatapan kasihan dan jijik dari orang-orang berpakaian rapi di sekitarnya. "Hana! Keluar kamu! Jangan jadi pengecut! Kamu mau hancurkan bapak dari anakmu sendiri?! Hana!"
Di lantai atas, rapat baru saja ditutup. Para pemegang saham menyalami Hana dengan wajah kagum. Adrian mendekati Hana saat ruangan mulai sepi.
"Kamu melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa, Hana. Kamu baru saja menyelamatkan perusahaan ini dari kerugian yang lebih besar," ucap Adrian.
"Terima kasih, Mr. Adrian. Saya hanya melakukan tugas saya."
Tiba-tiba, seorang petugas keamanan masuk ke ruangan dengan wajah panik melalui interkom. "Mr. Adrian, maaf mengganggu. Ada seorang pria di lobi yang membuat keributan. Dia mengaku sebagai suami Ibu Hana dan menolak untuk pergi. Dia mulai mengganggu kenyamanan publik."
Hana memejamkan mata. Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya. Ia tahu Aris akan melakukan ini, tapi ia tidak menyangka suaminya akan serendah ini dengan datang ke kantor barunya hanya untuk membuat keributan.
"Biar saya urus," ucap Adrian singkat.
"Tidak, Mr. Adrian. Biar saya yang menemuinya," sela Hana. "Ini urusan saya. Saya tidak ingin dia merusak reputasi kantor ini lebih jauh."
"Saya ikut," tegas Adrian.
Hana turun ke lobi didampingi oleh Adrian. Begitu pintu lift terbuka, suara teriakan Aris langsung menusuk telinganya.
"Nah, itu dia! Hana! Beraninya kamu ya mengabaikan teleponku!" Aris berlari ke arah Hana, namun langkahnya terhenti saat melihat Adrian berdiri di samping Hana dengan aura yang sangat mengancam.
"Aris, pulanglah. Jangan bikin malu dirimu sendiri di sini," ucap Hana, suaranya sangat rendah, menahan tangis yang hampir pecah karena malu.
"Malu? Kamu yang bikin malu, Hana! Kamu melaporkan aku ke polisi, sekarang kamu mau jadi pahlawan di kantor mewah ini? Kamu pikir kamu siapa? Kamu itu cuma wanita yang aku pungut dari desa!" bentak Aris, tidak peduli pada orang-orang yang menonton.
"Cukup!" Adrian melangkah maju, berdiri tepat di depan Aris. "Tuan Aris, Anda sedang berada di properti pribadi saya. Perbuatan Anda masuk dalam kategori gangguan ketertiban umum dan pelecehan terhadap karyawan saya."
"Karyawan? Dia istri saya! Kamu jangan ikut campur, mentang-mentang kaya!"
"Dia bukan istrimu lagi sejak kamu menggunakan anakmu sebagai alat pemerasan," sahut Adrian dingin. "Petugas, silakan panggil polisi yang sudah ada di gedung ini untuk menangkap Pak Hendra tadi. Tambahkan satu orang lagi untuk pasal perbuatan tidak menyenangkan dan percobaan intimidasi."
Wajah Aris berubah menjadi pucat pasi. Ia melihat dua polisi berseragam berjalan ke arahnya. "Hana... Hana, jangan! Tolong, jangan biarkan mereka bawa aku!"
Hana menatap Aris untuk terakhir kalinya. Ia melihat pria yang dulu sangat ia cintai, kini tampak seperti orang asing yang sangat menyedihkan. "Kamu yang memilih jalan ini, Aris. Kamu pikir dengan membuat keributan di sini aku akan takut? Tidak. Kamu justru memberiku alasan lebih kuat untuk tidak pernah kembali padamu."
Aris diseret keluar dari lobi gedung, berteriak-teriak memanggil nama Hana sampai suaranya menghilang di balik pintu kaca. Hana menarik napas panjang, kakinya terasa lemas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adrian lembut, tangannya hampir menyentuh bahu Hana namun ia urungkan.
Hana mengangguk, menghapus satu tetes air mata yang jatuh di pipinya. "Saya baik-baik saja, Mr. Adrian. Sekarang saya tahu... bahwa memaafkan orang seperti dia hanya akan memberinya kesempatan untuk menyakiti saya lagi. Saya tidak akan melakukannya lagi."
Malam itu, berita tentang keributan di lobi gedung dan penangkapan Direktur Operasional Wiratama Tower menjadi pembicaraan hangat. Hana pulang ke kontrakannya, memeluk Gilang yang sudah tidur. Di rumah Aris, Ibu Salma jatuh pingsan berkali-kali saat mendengar anaknya benar-benar dibawa polisi. Maya hanya bisa menangis, menyadari bahwa kehidupan mewah mereka yang dibangun di atas pasir kebohongan, akhirnya benar-benar hanyut terbawa badai.