NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

“Kamu apa-apaan sih? Ngapain bentak aku?” Naya melotot pada Ardan, tidak terima pria itu membentaknya.

Tatapan Ardan jatuh pada kemeja yang dikenakan Naya. Kemeja pria. Terlalu besar untuk tubuh mungilnya, lengannya digulung asal, kerahnya sedikit terbuka. Bukan miliknya. Jelas bukan.

“Harusnya aku yang nanya kamu pakai kemeja siapa? Kamu nggak pulang dari tadi malam, terus pas pulang udah pakai baju cowok aja.” suara Ardan tajam dan menuduh.

Naya menarik napas. “Bukan urusanmu.”

Ardan tertawa pendek, sinis. “Bukan urusanku?” Ia melangkah mendekat. “Kamu pulang pagi-pagi, pakai kemeja cowok, dan kamu bilang itu bukan urusanku?”

“Ardan,” Tuan Tuqman menatap Ardan tajam, memperingatkan supaya dia tidak melewati batas. Di sisi lain Irania tampak senang melihat perdebatan Naya dan Ardan.

“Tunggu sebentar, om,” potong Ardan tanpa menoleh. Matanya tak lepas dari Naya. “Aku cuma mau tahu. Kamu dari mana, Nay?”

Naya mengepalkan tangan. Kepalanya masih sedikit berat, emosinya belum stabil. “Bajuku kotor. Dicuci. Itu saja.”

“Dicuci di mana?” desak Ardan. “Hotel? Apartemen? Atau..” matanya menyipit, “rumah cowok yang kamu temui semalam?”

“Kamu tidak punya hak menginterogasiku.” Naya membalas, suaranya meninggi.

Irania mendekat, menatap Naya dari ujung kepala sampai kaki. “Naya, kamu tahu kelihatannya seperti apa?” katanya dingin. “Ini tidak pantas. Di depan ayahmu.”

“Aduhhh, kakak dan kak Ardan kenapa ribut? Ini masih pagi, lho. Kita sarapan dulu, gimana?” kata Rima polos, matanya berkedip-kedip lucu seperti anak kecil yang tidak paham situasi.

“Jadi benar kamu udah ada pria lain? Udah tidur juga sama dia?” Dengus Ardan, menatap Naya hina.

Tangan Naya terkepal erat, ingin sekali berteriak bahwa Ardan adalah yang paling hina karena sudah berselingkuh.

Namun Naya tidak mau ikut tersulut, ia menghela nafas panjang lalu menatap Ardan lurus-lurus. “Hubungan kita sudah selesai. Apapun yang kulakukan setelah itu bukan urusanmu.”

“Kalau bukan urusanku, kenapa kamu pulang ke rumah ini dengan bukti di badanmu?” Ardan menunjuk kemeja itu. “Kamu pikir aku bodoh?”

“Ardan. Sudah, jangan berdebat lagi.” Tuan Tuqman segera menengahi, walaupun dia juga penasaran kemana Naya pergi tadi malam.

“Maaf, Om. Tapi saya tidak terima dipermainkan.”

“Berhenti menyudutkanku, Ardan. Atau aku akan membuka rahasia yang selama ini kamu kira tersimpan rapi.” Desis Naya, ia menabrak keras bahu Ardan saat melewatinya untuk naik ke lantai dua.

Naya masuk ke kamarnya dengan kepala yang kembali berdenyut pusing, bukan karena efek mabuk tadi malam melainkan karena keberadaan Ardan di rumah ini yang entah sejak kapan membuatnya tidak nyaman.

Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan dress rumahan sederhana, Naya turun ke ruang kerja ayahnya. Akhir pekan ayahnya tidak akan ke kantor, ayahnya akan berada di ruang kerja seharian.

“Papa,” panggil Naya setelah menutup kembali pintu ruang kerja ayahnya. “Aku mau mengatakan sesuatu.”

“Ada apa, Naya?” Tanya Tuan Tuqman tanpa mengalihkan perhatian dari laptop.

Naya duduk di sofa single dekat lemari arsip. Cukup lama ia terdiam hingga akhirnya menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan.

“Nanti malam Lucio akan datang ke rumah kita, dia akan melamarku.”

Seketika Tuan Tuqman berhenti bekerja, ia menatap Naya tajam. Lantas buru-buru berdiri dan menghampiri Naya yang berwajah pucat.

“Lucio? Maksudmu Lucio Morgan Altarex? Pria yang kemarin datang ke ruangan ini?”

Naya mengangguk.

“Jangan main-main, Naya. Sejak kapan papa setuju kamu menikah dengan dia?” Tanya Tuan Tuqman dingin.

Ia tahu, ayahnya tidak akan menyetujuinya, tetapi Naya tidak pernah menduga reaksi ayahnya sedingin ini.

“Papa–”

“Nggak, Nay. Papa nggak setuju.” Potong Tuan Tuqman.

“Aku menyukainya pa,”

“Kamu boleh menyukai siapapun, tapi bukan dia, Naya.” Tuan Tuqman benar-benar marah sekarang. “Dia pria mengerikan, hidupmu tidak akan bahagia sama dia. Papa lebih setuju kamu bersama Ardan.”

Apa Lucio benar-benar semengerikan itu sehingga bahkan ayahnya pun takut dengannya? Tapi Naya jelas tidak punya pilihan untuk menolak, jika ia menolak, maka ayahnya akan dibunuh.

*

Namun siapa yang bisa menolak seorang Altarex? Bahkan Tuan Tuqman yang tadi pagi sangat menentangnya pun malam itu menyambut kedatangan Lucio dengan senyuman lebar dan wajah teramat ramah.

“Silahkan masuk, Lucio.” Tuan Tuqman mempersilahkan Lucio masuk. Rima yang sudah mendengar kabar mengenai kedatangan Lucio sudah berdandan cantik atas perintah sang ibu. Siapa tahu Lucio berubah pikiran dan melamarnya.

“Tidak perlu repot-repot, saya rasa anda sudah tahu tujuan saya datang kemari.” Namun Lucio bukan orang yang mudah tergerak hanya karena kecantikan, buktinya dia hanya memberi pandangan sekilas ke Rima. Lucio duduk di ruang tamu, menatap langsung pada Tuan Tuqman.

Naya duduk di samping ayahnya dengan wajah masam, ia sadar sesekali tatapan Lucio berhenti padanya tetapi Naya memilih mengabaikannya.

“Ah, iya, Naya sudah cerita. Katanya kamu akan menikahi Naya, namun ini terlalu terburu-buru. Naya haru saja mengakhiri hubungannya dengan pria yang dia cintai selama delapan tahun.” Tuan Tuqman berusaha keras merangkai kalimat sebaik mungkin supaya Lucio tidak tersinggung oleh penolakan.

Lucio masih menunggu, Tuan Tuqman berdehem singkat dan melanjutkan. “Maksudku kamu tidak harus menikahi Naya yang baru saja putus. Adiknya, Rima, sudah lama sendiri. Dia calon istri yang cocok untukmu.”

“Papa, Tuan ini kan ingin menikahi kak Naya, bukan aku. Kenapa papa menawarkan aku?” Kata Rima malu-malu, pipinya bersemu merah. Tapi sebenarnya ia sudah membayangkan pernikahan megah dan menjadi nyonya Altarex jika Lucio setuju menikah dengannya.

‘lagipula Naya terlalu jelek untuk bersanding sama dia, aku lebih pantas.’ ejek Rima dalam hati.

“Benar, Tuan Lucio, Rima lebih cocok untukmu dibandingkan Naya. Setahuku Naya hanya menginginkan Ardan sejak dulu, aku takut hubungan kalian terjalin karena Naya butuh pelampiasan.” Irania pun melanjutkan.

Naya mencibir, ia juga sebenarnya tidak tertarik menikah dengan Lucio. Tetapi melihat pasangan ibu dan anak ini begitu menginginkan Lucio, Naya jadi ingin mendapatkannya. Ia ingin melihat seperti apa wajah iri kedua wanita ini jika ia berhasil menikahi Tuan muda Altarex yang di impikan oleh sebagian besar para gadis.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!