Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Darah dan Lorong Putih
Sheena berlari keluar rumah tanpa alas kaki, mengabaikan teriakan panik orang tuanya. Air hujan yang mendingin tidak terasa lagi di kulitnya yang gemetar hebat. Ia masuk ke dalam mobil ayahnya, mencengkeram kemudi dengan tangan yang masih mengalami tremor akibat panic attack.
"Matthias... tolong, bertahanlah. Jangan mati dulu," bisiknya berulang kali seperti mantra di tengah isak tangis yang mulai pecah.
Pikirannya terus terngiang pesan suara terakhir Matthias. Anugerah terbaik, terindah... Kata-kata itu kini terasa seperti silet yang mengiris hatinya. Sheena menyadari betapa jahatnya ia saat mendengar pesan itu dengan rasa jijik, sementara saat itu Matthias mungkin sedang meregang nyawa di dalam rongsokan mobil.
Sesampainya di Oriental Mindoro Provincial Hospital, Sheena langsung menerjang masuk ke ruang UGD. Aroma disinfektan dan suara detak jantung dari monitor medis menyambutnya, menambah sesak di dadanya.
"Di mana korban kecelakaan dari perbatasan Calapan?!" Teriak Sheena pada perawat di meja administrasi.
"Baru saja masuk ke ruang trauma, Nyonya. Kondisinya sangat kritis," jawab perawat itu cepat.
Sheena berlari menuju lorong yang ditunjuk. Di sana, ia melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya. Matthias terbaring di atas brankar dengan tubuh yang hampir tak dikenali. Pria yang biasanya tampak begitu perkasa itu kini terlihat sangat kecil dan rapuh. Kemeja putihnya sudah berubah menjadi merah pekat karena darah. Pelipisnya sobek, dan dadanya tampak terhimpit oleh luka dalam.
"Matthias!" Teriak Sheena, namun langkahnya tertahan oleh petugas medis.
"Nyonya, Anda tidak bisa masuk! Pasien harus segera dioperasi!"
Sheena jatuh berlutut di lantai rumah sakit yang dingin. Ia melihat brankar Matthias didorong masuk ke dalam ruang operasi. Sesaat sebelum pintu tertutup, Sheena sempat melihat tangan Matthias yang terkulai lemas, dan di genggaman jemarinya yang pucat, masih terselip robekan sapu tangan biru yang sudah basah oleh darah dan air hujan.
Hati Sheena seolah ikut hancur di detik itu juga. Matthias bahkan tidak melepaskan sapu tangan itu sampai ia kehilangan kesadaran.
"Dokter, saya mohon... selamatkan dia," tangis Sheena pecah di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
Kini, Sheena hanya bisa menunggu di lorong putih yang sunyi, ditemani rasa penyesalan yang membakar jiwa. Ia adalah calon dokter, namun saat ini, ia hanyalah seorang istri yang ketakutan akan kehilangan satu-satunya pria yang mencintainya sedalam itu.
Suasana di lorong rumah sakit itu mendadak menjadi sangat padat dan menyesakkan. Ayah dan Ibu Sheena datang dengan wajah pucat, sementara dari arah pintu masuk utama, Ibu Matthias dan Neneknya—sang wanita tua yang biasanya terlihat sangat tegar—kini melangkah dengan tertatih, didampingi oleh beberapa pengawal.
Ibu Matthias langsung jatuh ke pelukan Ibu Sheena, tangis mereka pecah bersahutan. Namun, Sheena tidak memedulikan kehadiran mereka. Seluruh dunianya kini hanya terbatas pada jendela kecil di pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
Sebagai mahasiswi kedokteran semester akhir, mata Sheena tidak tertuju pada sosok Matthias yang sedang dikerumuni dokter, melainkan pada Monitor Bedside yang berada di samping brankar. Ia tahu persis fungsi setiap garis dan angka di sana.
Mata Sheena membelalak saat melihat grafik Electrocardiogram (EKG) pada monitor tersebut. Garis hijau yang tadinya membentuk gelombang naik-turun yang lemah, tiba-tiba mulai melambat... makin melambat... dan akhirnya—
PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII...
Suara desing panjang yang monoton itu menyayat udara. Garis di monitor itu berubah menjadi lurus sempurna. Asystole. Jantung Matthias berhenti berdetak.
"TIDAK! TIDAK!" Sheena berteriak histeris sambil memukul-mukul kaca jendela kecil itu. "MATTHIAS! BANGUN! JANGAN PERGI!"
Dokter di dalam mulai melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru). Sheena bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh besar Matthias terguncang setiap kali dokter menekan dadanya dengan kuat.
"Tidak boleh ada yang mengambil Matthias-ku! Tidak boleh!" Teriak Sheena lagi. Ia mencoba membuka pintu ruang operasi dengan paksa, seolah ingin masuk dan menggantikan peran dokter di sana. "Dia belum mendengar penjelasanku! Dia belum mendengar kalau aku memaafkannya! KEMBALIKAN DIA!"
Ayah Sheena dan Ibu Matthias segera memeluk tubuh Sheena, mencoba menariknya menjauh dari pintu.
"Tenang, Sheena! Tenang, Nak! Dokter sedang berusaha!" Ibu Matthias menangis sambil mendekap menantunya itu, meskipun hatinya sendiri hancur melihat kondisi putranya.
"Lepaskan aku! Kalian tidak mengerti! Garis itu lurus, Bu! Jantungnya berhenti!" Sheena memberontak dengan tenaga yang tidak masuk akal bagi tubuh sekecil itu. Ia tampak sangat frustasi, rambutnya berantakan, dan wajahnya basah oleh air mata. "Matthias, kumohon... jangan tinggalkan aku di kegelapan ini sendirian. Aku yang salah! Aku yang menyuruhmu pergi! Matthias!"
Nenek Matthias hanya bisa terduduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar yang memegang tasbih, bibirnya terus merapal doa di tengah teriakan frustasi Sheena yang memenuhi lorong rumah sakit yang dingin itu. Di dalam sana, perjuangan antara hidup dan mati sedang berlangsung, sementara di luar, Sheena sedang hancur berkeping-keping oleh rasa bersalah yang tak tertahankan.