Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: "Perjalanan ke Laut Hindia dan Pertemuan dengan Ratu Karang"
Setelah meninggalkan lokasi pertempuran di sekitar piramida Aquarius, kapal Pelangi Bahari segera menuju arah Laut Hindia untuk mencari Batu Laut. Perjalanan tidak mudah—cuaca semakin buruk dan arus laut menjadi sangat tidak menentu, seolah-olah alam sendiri sedang mencoba menghalangi mereka. Selain itu, perangkat komunikasi kapal masih tidak bisa berfungsi dengan baik karena gangguan energi yang berasal dari arah piramida. Bahkan sistem navigasi yang biasanya sangat akurat mulai menunjukkan koordinat yang salah, membuat Mira harus bergantung pada pengalaman lama sebagai kapten dan bintang-bintang yang muncul sesekali di antara awan gelap.
"Saya merasa ada sesuatu yang mengikuti kita," ujar Bara sambil melihat ke belakang kapal dari menara pengawas, tangannya erat-erat menggenggam rel pengaman karena kapal terus terombang-ambing. "Saya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kabut laut yang tebal, tapi saya merasakan adanya keberadaan yang kuat—seolah-olah ada sekelompok makhluk besar yang berenang di bawah kita."
Lyra segera mendekat dan melihat ke arah yang ditunjuk Bara. Setelah beberapa saat merenung sambil merasakan getaran energi di dalam air, dia mengangguk dengan wajah yang serius. "Itu adalah pasukan Zoran yang sedang mengejar kita. Mereka telah mendapatkan sebagian energi dari kristal dan sekarang bisa menggunakan kekuatannya untuk melacak kita ke mana pun kita pergi. Bahkan mereka bisa mengendalikan beberapa makhluk laut besar untuk membantu mereka dalam pengejaran ini."
Untuk menghindari pelacakannya, Mira memutuskan untuk mengarahkan kapal ke daerah yang dikenal dengan nama Laut Karang Beracun—daerah yang penuh dengan terumbu karang tersembunyi dan arus yang sangat berbahaya, sehingga hampir tidak ada kapal yang berani masuk ke sana. Daerah ini sudah lama dilarang masuk karena banyak kapal yang hilang tanpa jejak di sana, namun Mira tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyembunyikan jejak mereka dari Zoran. "Jika kita bisa melewati daerah itu, mungkin kita bisa berhasil menyembunyikan jejak kita dari mereka," katanya sambil melihat peta laut yang sudah aus dengan cermat, jari telunjuknya menunjuk pada area yang tidak tercatat dengan jelas di peta.
Setelah beberapa jam berlayar melalui daerah yang penuh bahaya, dengan Bara dan Toni yang terus-menerus memperingatkan tentang terumbu karang yang hampir menyentuh bagian bawah kapal, mereka akhirnya mencapai pusat Laut Karang Beracun. Di situlah mereka melihat pemandangan yang luar biasa—terumbu karang yang membentuk pola seperti bintang delapan, dengan cahaya kebiruan yang memancar dari tengahnya bahkan di siang hari. Air di sekitar area tersebut sangat jernih, sehingga mereka bisa melihat ribuan jenis ikan warna-warni yang berenang dengan damai di antara terumbu karang. Lyra dengan senang hati berkata, matanya bersinar dengan harapan, "Ini adalah tempat tinggal Ratu Karang—salah satu pemimpin suku Aquarius yang paling tua dan kuat. Dia mungkin bisa membantu kita menemukan Batu Laut. Saya tidak menyangka masih bisa melihat tempat ini lagi setelah sekian lama."
Sebelum mereka bisa mendekat lebih jauh, seekor ikan paus raksasa muncul dari bawah air dengan sangat perlahan, sehingga tidak menyebabkan gelombang besar yang bisa membahayakan kapal. Dari punggung ikan paus tersebut, muncul sosok wanita yang mengenakan mahkota dari terumbu karang dengan ornamen bunga karang yang indah, dan rambutnya yang panjang terbuat dari rumput laut yang berwarna hijau tua dengan aksen warna biru muda. Wajahnya yang penuh kedalaman dengan garis-garis halus di sekitar mata menunjukkan bahwa dia telah hidup selama berabad-abad, namun masih terlihat anggun dan kuat.
"Saya adalah Ratu Marina dari suku Karang," ujarnya dengan suara yang seperti ombak yang sedang bergulir dan memukul pantai, lembut namun penuh kekuatan. "Saya telah menunggu kedatanganmu, Lyra dari suku Aquarius utama, dan juga kamu, orang-orang dari dunia atas yang berani membantu kita dalam waktu yang sulit ini. Saya tahu tentang rencana Zoran untuk mengambil alih Kristal Keseimbangan dan juga tentang Batu Laut yang kamu cari. Bahkan saya telah memantau perkembanganmu sejak kamu memasuki wilayah laut kita."
Mira dan kru kapal segera turun dari kapal dan menyapa Ratu Marina dengan hormat. Mereka menjelaskan tentang situasi yang sedang terjadi di piramida Aquarius, bagaimana Zoran telah mengambil alih sebagian energi kristal, dan betapa pentingnya mereka menemukan Batu Laut sesegera mungkin sebelum dia bisa mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Ratu Marina mengangguk dengan wajah yang semakin serius saat mendengar cerita mereka, kemudian menghela napas panjang sebelum berbicara lagi, "Saya sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi. Zoran telah mencoba menghubungi saya beberapa kali untuk meminta bantuan dalam rencananya, tapi saya selalu menolaknya. Saya tahu bahwa kekuatan yang dia inginkan hanya akan membawa kehancuran bagi semua makhluk di dunia ini."
Ratu Marina kemudian mengatakan bahwa Batu Laut memang berada di daerah ini, tersembunyi di dalam ruang tersembunyi di bawah terumbu karang berbentuk bintang delapan. Namun untuk mendapatkannya, mereka harus melewati ujian khusus yang dirancang oleh nenek moyang suku Karang untuk menguji kesetiaan, keberanian, dan kesediaan mereka untuk menerima masa lalu. "Ujiannya ada di dalam gua bawah laut yang terletak tepat di bawah terumbu karang ini," jelas Ratu Marina sambil menggerakkan tangannya perlahan, membuat air di sekitar mereka bergerak membentuk gambar gua yang dalam. "Di dalamnya, kamu akan dihadapkan pada ketakutan terbesarmu dan juga pada kenangan dari masa lalu yang mungkin kamu coba lupakan selama ini. Hanya mereka yang bisa menerima diri mereka sendiri sepenuhnya, baik sisi baik maupun buruknya, yang bisa mendapatkan akses ke Batu Laut. Karena Batu Laut hanya akan merespon orang yang benar-benar bersih hati dan tidak memiliki niat tersembunyi."
Tanpa ragu, Juna, Rina, Lyra, dan Mira memutuskan untuk menjalani ujian tersebut. Mereka memasang peralatan diving yang telah diperbaiki dan diperkuat setelah perjalanan sebelumnya, lalu menyelam ke arah gua yang ditunjukkan oleh Ratu Marina. Saat mereka masuk ke dalam gua, cahaya kebiruan mulai menyala perlahan-lahan dari dinding-dinding gua yang terbuat dari batu kapur yang keras dan dihiasi dengan lukisan tentang sejarah suku Aquarius dan hubungan mereka dengan dunia atas pada masa lalu. Lukisan tersebut menunjukkan bagaimana kedua dunia pernah bekerja sama untuk menjaga keseimbangan alam, bagaimana mereka saling membantu saat terjadi bencana, dan bagaimana mereka akhirnya harus terpisah karena kesalahpahaman dan hasrat kekuasaan sebagian orang.
Setelah berjalan beberapa saat di dalam gua melalui lorong yang semakin menyempit, mereka tiba di ruangan besar yang memiliki empat pintu berbeda dengan simbol yang berbeda di atas masing-masing pintu. Setiap pintu menunjukkan bayangan yang berbeda—bayangan dari masa lalu mereka masing-masing yang muncul perlahan di permukaan pintu yang tembus pandang. Mira harus menghadapi kenangan tentang bagaimana dia kehilangan kapten lama dia, Pak Yanto, dalam kecelakaan laut yang sebenarnya bukanlah kecelakaan biasa. Saat dia memasuki pintunya, dia melihat kembali bagaimana kapal mereka waktu itu diserang oleh sekelompok orang yang ingin mencuri hasil penelitian mereka tentang sumber energi alam bawah laut, dan bagaimana Pak Yanto rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Mira dan kru lainnya. Hingga saat ini Mira masih merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya. Namun kali ini, dia bisa berbicara dengan bayangan Pak Yanto yang muncul di depannya, dan akhirnya dia bisa menerima bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahannya, dan bahwa Pak Yanto telah bangga dengan apa yang dia capai sebagai kapten kapal Pelangi Bahari.
Juna dihadapkan pada masa lalunya sebagai anak yang harus tinggal sendiri setelah orang tuanya hilang dalam ekspedisi laut saat dia masih kecil. Dia selalu merasa bahwa dirinya tidak cukup kuat untuk melindungi orang tuanya, dan rasa bersalah itu telah mengikutinya selama ini. Saat dia memasuki pintunya, dia melihat kembali momen saat orang tuanya pergi dan berjanji akan kembali dengan cerita menarik, namun kemudian tidak pernah lagi muncul. Namun dalam ujian ini, dia menemukan bahwa orang tuanya sebenarnya telah menemukan sesuatu yang sangat penting dan rela menghilang untuk melindungi dia dari bahaya yang mengintai. Dia akhirnya bisa memaafkan dirinya sendiri dan merasa bahwa dia harus melanjutkan pekerjaan orang tuanya dengan membawa kebaikan bagi dunia.
Rina harus menghadapi rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan temannya, Siti, saat mereka sedang melakukan penelitian di dasar laut beberapa tahun yang lalu. Saat itu mereka menemukan situs arkeologi kecil, namun tiba-tiba terjadi longsoran bawah laut yang membuat Siti terjebak dan tidak bisa keluar. Rina selalu merasa bahwa dia seharusnya bisa melakukan lebih banyak untuk menyelamatkannya. Dalam ujian ini, dia bisa berkomunikasi dengan ingatan Siti, yang memberitahunya bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahannya, dan bahwa Siti selalu bangga dengan kerja sama mereka dan penemuan-penemuan yang mereka hasilkan. Rina akhirnya bisa melepaskan rasa bersalah yang telah memberatkannya dan merasa lebih kuat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai ahli arkeologi laut.
Dan Lyra dihadapkan pada kenangan tentang bagaimana dia harus berperang melawan kakaknya sendiri, Zoran, untuk menyelamatkan sukunya. Dia selalu merasa sedih karena harus berlawan dengan orang yang dicintainya, dan sering bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang benar. Dalam ujian ini, dia melihat kembali momen saat dia harus mengambil keputusan sulit itu, dan menemukan bahwa kakaknya sebenarnya telah dicemari oleh kekuatan gelap yang berasal dari luar suku Aquarius. Dia akhirnya bisa menerima bahwa dia telah melakukan yang terbaik untuk melindungi sukunya, dan bahwa dia masih berharap bisa menyelamatkan kakaknya dari kekuatan gelap itu jika ada kesempatan.
Setelah masing-masing berhasil melewati ujian mereka dengan menerima masa lalu dan menemukan kekuatan baru dalam diri mereka, keempat pintu tersebut terbuka dan berkumpul menjadi satu ruangan besar yang penuh dengan cahaya kebiruan yang hangat. Di tengah ruangan tersebut, Batu Laut berada di atas panggung kecil yang terbuat dari batu kapur yang indah. Batu itu berukuran seperti bola bisbol, dengan warna biru yang sangat dalam seperti laut pada malam hari, dan memancarkan energi yang damai namun kuat yang bisa dirasakan oleh semua orang di dalam ruangan. Saat Mira menyentuhnya dengan hati yang tenang, informasi tentang lokasi kedua benda sakral—Permata Udara yang berada di puncak Gunung Mahameru di Himalaya—muncul di benaknya dengan jelas, beserta petunjuk tentang bagaimana menemukan jalur yang aman untuk mencapai sana.
"Sekarang kamu telah mendapatkan Batu Laut, kamu harus segera pergi ke Himalaya," kata Ratu Marina yang tiba-tiba muncul di dalam gua tanpa menggunakan alat bantu apapun, menunjukkan bahwa dia memiliki kekuatan khusus yang memungkinkannya untuk bernapas dan bergerak bebas di dalam air. "Zoran sudah mengetahui bahwa kamu berada di sini dan akan segera datang ke daerah ini dengan pasukannya yang semakin banyak. Dia telah menyewa beberapa pemburu bayaran dari dunia atas untuk membantunya, sehingga dia kini memiliki kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Kami suku Karang akan mencoba menghalanginya sebisa mungkin dengan menggunakan kekuatan terumbu karang dan makhluk laut yang setia kepada kami, tapi kamu harus bergerak cepat sebelum mereka bisa menemukan cara untuk melewati pertahanan kami."
Setelah mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Ratu Marina dan suku Karang, mereka segera kembali ke kapal dan mulai berlayar menjauh dari Laut Karang Beracun dengan kecepatan maksimum. Namun sebelum mereka bisa menjauh terlalu jauh, kapal Zoran beserta armadanya yang terdiri dari tiga kapal besar muncul dari balik kabut laut dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kapal-kapal tersebut memiliki desain yang canggih dengan teknologi gabungan antara dunia atas dan kekuatan gelap dari Kristal Keseimbangan, membuatnya jauh lebih cepat dan kuat dari kapal biasa. "Kamu tidak bisa melarikan diri lagi!" teriak suara Zoran melalui speaker kapal yang terdengar sangat jelas bahkan di tengah suara angin dan ombak. "Serahkan Batu Laut sekarang juga, atau saya akan menghancurkan kapal kamu dan semua orang di dalamnya! Saya tidak akan memberikan kesempatan lagi seperti yang saya lakukan sebelumnya!"
Saat itu juga, arus laut mulai menjadi sangat ganas dan badai besar muncul tiba-tiba di langit yang tadinya sudah cukup gelap. Kapal Pelangi Bahari terombang-ambing hebat dan hampir hanyut ke arah terumbu karang yang tajam di sebelah kanan kapal. Beberapa bagian lambung kapal mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat benturan dengan ombak besar dan batu yang terbawa arus. Namun dengan bantuan energi dari Batu Laut yang mulai beraksi saat merasa adanya bahaya, Lyra berhasil mengontrol arus laut sebentar dengan mengarahkan energi tersebut ke arah tertentu, membuat jalur aman bagi kapal untuk melarikan diri ke arah laut lepas. Dia harus menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk melakukan ini, sehingga setelah itu dia merasa sangat lelah dan harus beristirahat.
"Kita harus segera menuju Himalaya," kata Mira dengan napas tersengal-sengal setelah berhasil keluar dari daerah bahaya, tangannya masih erat menggenggam kemudi kapal yang terus bergetar. "Kita tidak punya waktu lagi untuk bermain-main. Semua yang kita cintai—baik di dunia atas maupun bawah laut—ada di taruhan sekarang. Kita harus menemukan Permata Udara sebelum Zoran bisa mendapatkannya terlebih dahulu."
Kru kapal mengangguk dengan wajah yang penuh tekad dan mulai mempersiapkan kapal untuk perjalanan panjang menuju daratan, dengan beberapa dari mereka mulai memperbaiki kerusakan kapal sambil yang lain mempersiapkan persediaan makanan dan bahan bakar yang cukup untuk perjalanan. Mereka semua tahu bahwa tantangan yang akan datang akan jauh lebih sulit dari sebelumnya, namun mereka juga merasa lebih kuat karena telah berhasil melewati ujian di Laut Karang Beracun dan mendapatkan dukungan dari suku Karang. Di kejauhan, mereka bisa melihat kilatan cahaya merah dari arah Laut Karang Beracun, menunjukkan bahwa pertempuran antara suku Karang dan pasukan Zoran telah dimulai, membuat mereka semakin termotivasi untuk berhasil dalam misi mereka...