NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langkah yang semakin dalam

Ruang rapat Aurora Capital perlahan kembali sepi setelah para tamu dari Kusuma Group meninggalkan gedung.

Beberapa staf mulai membereskan dokumen di atas meja panjang. Proyektor dimatikan, kursi-kursi dirapikan kembali seperti semula.

Namun Alya masih duduk di kursinya.

Laptopnya sudah tertutup, tetapi pikirannya masih berada di dalam pertemuan tadi.

Ia mengingat setiap kalimat yang diucapkan Agung, setiap pertanyaan yang muncul dari manajer Kusuma Group, dan bagaimana diskusi itu berkembang.

“Alya.”

Suara Daniel membuatnya menoleh.

Direktur itu berdiri di dekat pintu sambil menatapnya dengan ekspresi puas.

“Kamu masih memikirkan rapat tadi?”

Alya berdiri dari kursinya.

“Sedikit.”

Daniel berjalan mendekat.

“Aku sudah lama bekerja dengan banyak analis.”

Ia menyilangkan tangannya.

“Tidak banyak yang bisa tetap setenang kamu ketika berbicara di depan orang seperti Agung Kusuma.”

Alya tersenyum tipis.

“Saya hanya menjelaskan apa yang saya lihat dari data.”

Daniel tertawa kecil.

“Jawaban yang sederhana.”

Ia lalu menepuk bahu Alya ringan.

“Teruskan seperti ini. Aku ingin kamu tetap berada di tim proyek ini.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Ketika ia keluar dari ruang rapat, Dina langsung menghampirinya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

“Kamu luar biasa tadi!” bisiknya.

Alya sedikit terkejut.

“Kenapa?”

Dina memegang lengannya.

“Agung Kusuma jarang memuji orang secara langsung.”

Alya mengangkat alis.

“Benarkah?”

Dina mengangguk cepat.

“Benar! Bahkan beberapa manajer senior sering hanya mendapat komentar singkat darinya.”

Alya hanya tersenyum kecil.

Ia tidak terlalu memikirkan pujian itu.

Namun ia tahu satu hal.

Langkah kecil yang ia ambil mulai membawa dirinya semakin dekat dengan lingkaran dalam dunia Kusuma Group.

Sementara itu, di dalam mobil yang meninggalkan gedung Aurora Capital, Agung duduk di kursi belakang sambil melihat beberapa dokumen di tangannya.

Di kursi depan duduk salah satu manajernya, Bima.

“Bagaimana menurut Anda tentang pertemuan tadi?” tanya Bima.

Agung menutup dokumen itu.

“Cukup baik.”

Bima menoleh sedikit.

“Analis mereka cukup tajam.”

Agung mengangguk pelan.

“Alya.”

Ia menyebut nama itu dengan nada datar.

Bima berkata, “Dia menemukan beberapa risiko yang bahkan tidak kita bahas dalam proposal.”

Agung bersandar di kursinya.

“Itu justru bagus.”

Bima terlihat sedikit heran.

“Bagus?”

Agung menatap keluar jendela mobil.

“Jika mereka bisa melihat kelemahan proyek ini sejak awal, berarti mereka juga bisa membantu memperbaikinya.”

Bima mengangguk mengerti.

Namun ia masih bertanya,

“Apakah Anda ingin menemuinya lagi dalam pertemuan berikutnya?”

Agung menjawab singkat,

“Jika dia tetap berada di tim proyek itu, tentu saja.”

Namun bagi Agung, Alya tetap hanya seorang analis dari perusahaan partner.

Tidak lebih dari itu.

Sore hari di kantor Aurora Capital terasa lebih santai setelah pertemuan besar itu selesai.

Sebagian besar staf mulai kembali ke pekerjaan rutin mereka.

Dina masih terus membicarakan rapat tadi.

“Aku hampir tidak percaya kamu berdebat soal data langsung dengan tim Kusuma Group.”

Alya tertawa kecil.

“Aku tidak berdebat.”

“Ya, tapi kamu berani menyampaikan pendapat.”

Alya membuka laptopnya lagi.

“Kalau kita tidak jujur dengan analisis kita, tidak ada gunanya melakukan pekerjaan ini.”

Dina menghela napas panjang.

“Kamu benar-benar berbeda dari analis lain.”

Alya tidak menjawab.

Ia kembali fokus pada catatan-catatan yang harus ia perbaiki setelah rapat tadi.

Beberapa data perlu diperbarui.

Beberapa asumsi perlu dihitung ulang.

Proyek ini jelas belum selesai.

Namun justru itu yang membuatnya semakin menarik.

Malam hari ketika Alya kembali ke apartemen, Raka sudah duduk di sofa sambil membaca sesuatu di tablet.

Ia mengangkat kepala ketika pintu terbuka.

“Bagaimana rapatnya?”

Alya meletakkan tasnya di meja.

“Lebih serius dari yang kubayangkan.”

Raka tersenyum tipis.

“Itu dunia mereka.”

Alya berjalan ke dapur kecil dan mengambil segelas air.

“Agung datang langsung bersama timnya.”

Raka tidak terlihat terkejut.

“Tentu saja.”

Alya duduk di kursi di depannya.

“Dia memperhatikan semua detail.”

Raka menatapnya dengan serius.

“Orang seperti dia tidak akan membangun perusahaan sebesar itu tanpa memperhatikan detail.”

Alya memikirkan kata-kata itu.

Ia mengingat bagaimana Agung memperhatikan setiap grafik yang muncul di layar.

Setiap angka.

Setiap kemungkinan.

“Dia tidak seperti yang kubayangkan dulu,” kata Alya pelan.

Raka mengangkat alis.

“Maksudmu?”

Alya bersandar di kursinya.

“Dulu aku hanya melihatnya sebagai seseorang yang menghancurkan hidup kakakku.”

Ia menatap gelas air di tangannya.

“Sekarang aku melihatnya sebagai seseorang yang memimpin dunia yang sangat besar.”

Raka terdiam beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan,

“Kadang orang memang lebih rumit dari yang kita pikirkan.”

Alya tidak membantah.

Ia tahu perjalanan ini akan membuatnya melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.

Namun satu hal tidak berubah.

Ia masih berjalan menuju tujuan yang sama.

Hari-hari berikutnya Alya semakin sibuk dengan proyek kerja sama antara Aurora Capital dan Kusuma Group.

Beberapa rapat kecil diadakan untuk membahas detail teknis.

Beberapa dokumen baru terus berdatangan.

Nama Alya mulai semakin sering disebut dalam diskusi internal tim.

Bahkan beberapa manajer senior mulai meminta pendapatnya tentang berbagai aspek proyek.

Bagi Dina, perubahan itu terasa luar biasa.

“Kamu benar-benar naik cepat,” katanya suatu sore.

Alya hanya tersenyum.

“Aku hanya melakukan pekerjaanku.”

Namun jauh di dalam hatinya, Alya tahu setiap langkah ini bukan kebetulan.

Ia memang bekerja keras.

Namun di saat yang sama, ia juga bergerak lebih dalam ke dunia yang dulu terasa begitu jauh.

Suatu malam ketika ia pulang agak larut, Alya kembali berdiri di depan jendela apartemen.

Lampu kota terlihat seperti lautan cahaya yang luas.

Raka berdiri di belakangnya sambil memegang dua cangkir kopi.

Ia menyerahkan satu kepada Alya.

“Kamu terlihat lelah.”

Alya menerima kopi itu.

“Sedikit.”

Raka berdiri di sampingnya.

“Kamu tidak harus memaksakan diri terlalu keras.”

Alya tersenyum kecil.

“Kadang perjalanan panjang memang harus dimulai dengan langkah-langkah kecil yang konsisten.”

Raka memandang kota di kejauhan.

“Kamu sudah melangkah cukup jauh.”

Alya tidak menjawab.

Ia hanya meminum kopinya perlahan.

Di dalam hatinya ia tahu perjalanan ini masih sangat panjang.

Pertemuan dengan Agung.

Proyek kerja sama ini.

Semua itu mungkin baru permulaan.

Namun satu hal terasa semakin jelas sekarang.

Ia sudah berada di dalam lingkaran permainan besar.

Dan setiap hari yang berlalu akan membawa dirinya semakin dekat dengan pusat cerita yang belum sepenuhnya terbuka.

Alya masih berdiri di dekat jendela apartemen ketika Raka kembali duduk di sofa.

Lampu kota di luar terlihat seperti lautan cahaya yang tidak pernah benar-benar padam. Dari ketinggian itu, semuanya tampak damai, seolah kehidupan di bawah sana berjalan tanpa masalah.

Namun Alya tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik setiap gedung tinggi dan kantor mewah, selalu ada keputusan-keputusan besar yang bisa mengubah hidup banyak orang.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Raka akhirnya.

Alya menoleh sedikit.

“Proyek ini.”

Raka mengangkat alis.

“Yang dengan Kusuma Group?”

Alya mengangguk.

Ia meminum sedikit kopi sebelum berkata pelan,

“Semakin aku mempelajarinya, semakin aku sadar proyek ini bukan hanya soal energi.”

Raka terlihat tertarik.

“Lalu soal apa?”

Alya menatap lampu kota lagi.

“Pengaruh.”

Raka tidak langsung menjawab.

Namun ia tahu Alya benar.

Perusahaan seperti Kusuma Group tidak pernah bergerak hanya untuk keuntungan sederhana.

Selalu ada rencana jangka panjang di balik setiap proyek besar.

“Kamu sudah mulai memahami cara mereka berpikir,” kata Raka.

Alya tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Ia kemudian menoleh kepadanya.

“Menurutmu Agung benar-benar percaya dengan kerja sama ini?”

Raka berpikir sejenak.

“Agung bukan tipe orang yang bergerak tanpa perhitungan.”

Ia menyesap kopinya.

“Kalau dia menawarkan proyek ini ke Aurora Capital, berarti dia melihat sesuatu yang menguntungkan.”

Alya mengangguk pelan.

Percakapan itu membuat pikirannya semakin terbuka.

Selama ini ia hanya melihat Kusuma Group sebagai target dalam rencananya.

Namun sekarang ia mulai melihat gambaran yang lebih besar.

Sebuah jaringan bisnis yang luas.

Keputusan yang memengaruhi banyak pihak.

Dan orang-orang yang bergerak di dalamnya dengan perhitungan yang sangat matang.

Alya kembali memandang kota.

Perjalanan yang ia jalani ternyata jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan di awal.

Namun justru itu yang membuatnya semakin yakin.

Ia tidak boleh terburu-buru.

Ia harus terus melangkah perlahan.

Memahami setiap bagian dari dunia yang sedang ia masuki.

Karena hanya dengan begitu ia bisa benar-benar berdiri sejajar dengan orang-orang yang selama ini berada jauh di atas.

Di belakangnya, Raka memperhatikan Alya dengan tenang.

Ia bisa melihat perubahan dalam diri wanita itu.

Bukan hanya wajahnya yang berbeda sekarang.

Cara berpikirnya juga semakin tajam.

Dan perubahan itu mungkin akan membawa mereka berdua menuju sesuatu yang bahkan belum mereka bayangkan sebelumnya.

Malam semakin larut.

Lampu-lampu kota tetap menyala.

Dan tanpa disadari siapa pun, langkah-langkah kecil yang diambil Alya malam itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang perlahan membuka banyak rahasia di balik dunia Kusuma Group.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!