NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Arya duduk santai di sofa ruang tengah, menatap Raya yang masih terlihat kesal akibat kejahilannya tadi. Dia tersenyum kecil, menikmati ekspresi wajah wanita itu yang terlihat berusaha menahan emosi.

Sementara itu, Bu Atika masih sibuk membahas rencana untuk sesi foto keluarga mereka.

"Baiklah, Arya, jangan lupa kabari Ibu kapan kalian mau foto, ya. Ibu ingin memastikan semuanya berjalan dengan sempurna," kata Bu Atika penuh semangat.

Arya mengangguk santai. "Tentu, Bu. Saya akan mengurus semuanya. Raya juga pasti tidak sabar untuk foto keluarga, kan?" katanya, melirik ke arah Raya yang langsung melotot tajam.

Raya menghela napas panjang, berusaha meredam emosinya. "Saya tidak pernah bilang setuju, kan?" gumamnya pelan, namun cukup jelas didengar oleh Arya.

Bu Atika tertawa lembut, lalu menepuk tangan Raya. "Ah, Nak, tidak perlu malu-malu. Ini adalah momen istimewa untuk keluarga kita. Nanti kalau foto-foto sudah jadi, pasti kamu akan menyukainya."

Raya hanya bisa tersenyum terpaksa. Dia tahu percuma melawan keinginan Arya dan ibunya yang tampaknya sudah sangat bersemangat dengan rencana ini.

Arya akhirnya bangkit dari duduknya, merapikan jasnya dengan gerakan santai. "Baiklah, Ibu, Raya. Aku harus pergi ke kantor sekarang. Ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikan."

Bu Atika mengangguk. "Baik, hati-hati di jalan, nak. Jangan lupa makan siang dan jangan terlalu memforsir diri."

Arya tersenyum menenangkan. "Tenang saja, Bu. Saya akan menjaga diri. Raya, jangan merindukanku, ya," godanya, mengedipkan mata nakal.

Raya mendengus, berusaha mengabaikan ucapan iseng itu. "Pergilah, jangan buang-buang waktu dengan bicara yang tidak perlu."

Arya terkekeh kecil, lalu melangkah keluar.

Namun, sebelum benar-benar pergi, dia kembali berbalik dan menatap Raya dengan intens. "Jangan terlalu lama memikirkan aku, nanti kangen."

"Pergi!" seru Raya dengan kesal, sementara Bu Atika hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Setelah Arya pergi, Raya masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh pria itu. Bu Atika menatapnya dengan senyum penuh arti.

"Kalian berdua terlihat sangat cocok, ibu yakin kalian memang jodoh. Nama kalian saja sama empat huruf dengan huruf yang sama Raya Arya," kata Bu Atika pelan.

Raya menoleh, mencoba memaksakan senyum manisnya, "Heheheh, iya Bu."

Bu Atika tersenyum lembut. "Baiklah, sekarang kamu makan buah ini. Buah ini penting untuk kamu dan bayimu."

"Makasih ya Bu. Ibu memang yang terbaik, hmmm seandainya saja mereka juga memperlakukan aku seperti Ibu."

"Mereka siapa?"

Seketika Raya tersadar jika dia sudah salah berucap. "Em itu, keluargaku dulu."

"Keluargamu, memangnya mereka memperlakukan mu dengan buruk Nak?"

"Hmmm, setelah Ibuku meninggal. Papa menikah lagi dan aku di tinggal sama Kakek dan Nenek. Tetapi mereka tidak menyayangiku karena aku bukan cucu yang dia harapkan. Makanya aku berharap saat aku menikah nanti aku mendapatkan keluarga yang benar-benar menyayangiku dan menerima anakku apapun jenis kelaminnya."

Bu Atika menggenggam sayang tangan Raya.

"Dengar Nak, penderitaanmu telah berakhir. Allah mempertemukan mu dengan Arya itu karena Allah ingin membuatmu bahagia. Ibu akan menyayangi mu dan bayi ini," Bu Atika mengelus perut Raya sambil tersenyum, "Apapun jenis kelaminnya entah dia perempuan atau laki-laki dia adalah darah daging keluarga Wijaya dan kami menyambutnya dengan penuh cinta. Ibu janji Nak."

Mendengar itu, Hati Raya benar-benar terharu.

Tanpa sadar dia menangis. Membuat Bu Atika panik dan segera memeluknya. Bu Atika tertawa mendengar Raya menangis kayak anak kecil saking bahagianya.

Sementara itu, di perjalanan menuju kantornya, Arya bersandar di kursi mobil dengan ekspresi puas. Dia masih mengingat wajah kesal Raya saat dia menggoda wanita itu. Entah mengapa, ada perasaan menyenangkan setiap kali dia berhasil membuat Raya salah tingkah.

Sesampainya di kantornya, Arya melemparkan tubuhnya ke kursi kebesarannya dengan santai. Senyum tipis masih terukir di wajahnya saat dia mengingat kembali ekspresi kesal dan pasrah Raya saat ibunya menyetujui ide foto keluarga mereka.

Rasanya sangat menyenangkan melihat wanita itu tidak berkutik di hadapannya.

Irsyad, yang sedari tadi memperhatikan bosnya dengan penuh rasa ingin tahu, akhirnya membuka suara. "Bos, sepertinya Anda benar-benar jatuh cinta dengan wanita hamil itu. Saya bisa melihat senyum-senyum sendiri sejak tadi."

Arya yang tengah mengambil botol air mineral di mejanya seketika menghentikan gerakannya. Dia menatap Irsyad dengan ekspresi datar, mencoba menyembunyikan perasaan yang mungkin mulai tumbuh tanpa disadarinya.

"Omong kosong," Arya mengelak dengan nada tegas. "Aku hanya menjalankan kesepakatan kami. Tidak lebih."

Irsyad terkekeh pelan. "Oh ya? Tapi sepertinya bukan hanya sekadar kesepakatan. Anda bahkan mau repot-repot mencari tempat foto keluarga yang bagus. Itu bukan sesuatu yang dilakukan oleh seseorang yang hanya menjalankan kesepakatan biasa, bukan?"

Arya menegakkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya menajam ke arah Irsyad. "Aku hanya ingin memastikan semuanya terlihat meyakinkan. Daffa dan keluarganya harus percaya kalau aku dan Raya adalah pasangan bahagia. Foto keluarga akan menjadi bukti yang sempurna."

Irsyad mengangkat alisnya, masih tak percaya dengan alasan bosnya. Namun, dia tahu lebih baik tidak menantang Arya dalam kondisi seperti ini. "Baiklah, bos. Kalau begitu, saya akan mencari studio foto yang bisa datang ke rumah. Saya punya beberapa rekomendasi tempat terbaik."

Arya mengangguk puas. "Bagus. Pastikan fotografernya profesional. Aku tidak mau hasilnya terlihat biasa saja."

"Tentu saja, bos," Irsyad tersenyum jahil. "Lagipula, ini momen spesial, kan? Momen di mana bos bisa lebih dekat dengan calon istri dan calon anak."

Arya mendengus, melemparkan sebuah berkas ke arah asistennya yang langsung menghindar sambil terkekeh. "Keluar, sebelum aku benar-benar memecatmu."

Irsyad masih tertawa kecil saat berjalan keluar dari ruangan. Namun, setelah pintu tertutup, Arya kembali bersandar, matanya menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk. Kata-kata Irsyad memang mengganggunya. Benarkah dia mulai merasakan sesuatu untuk Raya? Ataukah ini hanya bagian dari permainannya?

Satu hal yang pasti, dia mulai menikmati kehadiran wanita itu dalam hidupnya.

Daffa melangkah masuk ke rumah dengan wajah yang penuh amarah. Hasil pertemuannya dengan Pak Adrian belum memberikan kepastian, dan pikiran tentang siapa yang telah bermain di belakang layar untuk menjatuhkan perusahaannya terus menghantuinya. Dia melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya ke sofa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Laras yang sedari tadi menunggu di ruang tamu langsung menghampiri suaminya dengan ekspresi penuh tuntutan.

"Gimana? Apa yang dikatakan oleh investor itu? Apa kita bangkrut?!" tanya Laras dengan nada panik, tangannya refleks memegang perutnya yang buncit.

Daffa menghela napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. "Belum. Aku masih berusaha agar mereka tetap percaya padaku. Aku yakin masih bisa menyelamatkan perusahaan."

Laras mendengus kesal. "Masih bisa? Kalau sampai perusahaan benar-benar bangkrut, aku nggak akan bertahan di sini, Mas! Aku nggak mau hidup susah! Aku bawa anak kita pergi!"

Mata Daffa membulat tajam mendengar ancaman istrinya. "Laras, jangan bicara sembarangan! Ini bukan cuma tentang aku, ini tentang keluarga kita! Aku nggak mungkin menyerah begitu saja."

Laras melipat tangan di dadanya, bibirnya mencebik sinis. "Aku nggak peduli bagaimana caranya, yang penting Mas harus tetap kaya! Aku nggak mau anak kita lahir dalam keadaan melarat! Kalau Mas sampai gagal, jangan harap aku masih ada di sini!"

Daffa mengepalkan tangannya, berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang membara dalam dadanya. "Laras! Aku sudah bilang aku akan berusaha! Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja percaya padaku?!"

Dari kejauhan, Lestari yang baru keluar dari kamarnya mendengar pertengkaran mereka. Dia bersedekap, menatap keduanya dengan ekspresi penuh ejekan. "Hah... ternyata benar dugaanku. Perusahaan Kak Daffa benar-benar di ambang kehancuran, ya?"

Laras langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Jaga mulutmu, Lestari! Ini bukan urusanmu!"

Lestari terkekeh, melangkah mendekat dengan tatapan menyindir. "Bukan urusanku? Sejak kapan? Aku yang jadi pembantu di rumah ini, aku yang paling tahu semua kebiasaan kalian! Dan sekarang aku makin yakin kalau kamu ini nggak lebih dari wanita matre yang cuma bertahan selama uang masih ada!"

Laras mendengus tajam, wajahnya memerah karena amarah. "Jangan kurang ajar, Lestari! Kamu itu cuma numpang hidup di sini! Jangan sok bicara seperti itu!"

Lestari melipat tangan di dadanya, menatap Laras tanpa takut. "Numpang? Aku sih nggak keberatan kalau harus keluar dari rumah ini. Paling nggak, aku udah terbiasa hidup susah. Tapi kamu? Bisa apa kamu kalau nggak ada uang? Hidup manja di rumah ini, ngelunjak, main suruh-suruh aku kayak budak, sekarang panik sendiri karena takut jatuh miskin? Lucu banget!"

Laras hendak melangkah maju, tetapi Daffa dengan sigap menahan lengannya. "Cukup, Laras! Jangan memperkeruh suasana. Dan kamu, Lestari, jangan ikut campur!"

Lestari tersenyum tipis. "Aku nggak ikut campur, aku cuma menikmati drama kalian.

Rasanya sangat menyenangkan melihat orang-orang yang dulu merendahkanku sekarang panik karena takut kehilangan harta."

Laras mendelik tajam. "Bajingan! Kalau aku nggak sedang hamil, aku pasti sudah menampar mulut tajammu itu!"

Lestari mendekat ke arah Laras dengan wajah penuh ejekan. "Oh ya? Sayang sekali, ya. Tapi setidaknya aku bisa melihat kamu tersiksa dalam kepanikan. Itu sudah cukup menghiburku."

Daffa memijat pelipisnya, merasa kepalanya semakin berat. "Lestari, masuk ke kamar! Laras, kamu juga diam! Aku sudah cukup pusing tanpa harus mendengar pertengkaran kalian!"

Lestari tertawa kecil sebelum akhirnya melangkah ke kamarnya, meninggalkan Daffa dan Laras dalam ketegangan. Sementara itu, Laras masih berdiri dengan wajah merah padam, geram karena tidak bisa membalas ucapan Lestari.

Daffa menghela napas panjang. "Laras, dengarkan aku baik-baik. Aku nggak akan membiarkan kita jatuh miskin. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Tapi tolong, jangan beri aku beban tambahan dengan ancamanmu. Aku butuh kamu untuk percaya padaku."

Laras mendengus dan membuang muka. "Terserah! Aku cuma mau lihat hasilnya! Kalau sampai gagal, aku nggak akan tinggal diam."

Daffa hanya bisa menatap istrinya dengan perasaan campur aduk. Sementara itu, di dalam kamar, Lestari menyeringai kecil, merasa sedikit puas karena berhasil membuat Laras merasakan tekanan yang selama ini dia rasakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!