NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IMPIAN YANG MULAI TERBENTUK

Seminggu setelah percakapan malam itu...

Wei Chen duduk di gubuknya dengan selembar kertas lusuh dan arang.

Di atas kertas itu, dia menggambar. Bukan sketsa biasa — tapi diagram. Alur. Rencana.

Di bumi, dia selalu punya rencana. Rencana jangka pendek, jangka panjang, rencana cadangan. Itu yang membuat perusahaannya bertahan di tengah persaingan ketat.

Di sini, dia akan melakukan hal yang sama.

Tujuan utama: menyembuhkan Mei Ling.

Tujuan antara: mengumpulkan uang dan sumber daya untuk riset pengobatan kutukan.

Cara: mendirikan perusahaan dagang yang bisa bersaing dengan klan-klan lokal.

Tantangan: modal minim, koneksi nol, pesaing sudah mapan.

Wei Chen menatap diagram itu. Di bumi, dia memulai dari lebih kecil. Tapi di sini, tantangannya berbeda. Sistemnya berbeda.

Tapi prinsipnya sama.

Identifikasi masalah. Analisis pasar. Cari celah. Bangun keunggulan kompetitif.

Dia tersenyum tipis. Bisnis tetaplah bisnis.

 

Pintu gubuk terbuka. Mei Ling masuk dengan sepiring ubi rebus.

"Masih bangun?" Dia meletakkan piring di samping Wei Chen. "Sudah larut."

"Aku sedang berpikir."

Mei Ling melihat kertas di tangannya. Diagram dengan tulisan-tulisan aneh — campuran bahasa Indonesia, Inggris, dan istilah-istilah yang tidak dia mengerti.

"Apa ini?" tanyanya.

"Rencana."

"Rencana apa?"

"Rencana masa depan."

Mei Ling duduk di sampingnya. Mencoba membaca. Tapi tidak mengerti.

"Kau bisa baca tulis?" tanya Wei Chen.

"Sedikit." Dia tersenyum malu. "Ibu mengajari waktu kecil. Tapi sudah lama tidak praktik."

Wei Chen mengangguk. Di desa seperti ini, pendidikan formal hampir tidak ada. Orang lebih butuh kerja daripada baca tulis.

"Mau belajar lagi?" tanyanya.

Mei Ling menatapnya. "Kau mau ajar?"

"Bisa."

Mei Ling tersenyum — senyum lebar yang membuat wajahnya bersinar.

"Mau."

 

Malam-malam berikutnya, Wei Chen mengajari Mei Ling membaca dan menulis.

Bukan dengan metode formal — dia tidak punya buku pelajaran. Tapi dengan praktik. Menulis nama. Menulis benda-benda di sekitar. Menulis kalimat sederhana.

Mei Ling murid yang cepat. Mungkin karena motivasi, mungkin karena bakat. Dalam seminggu, dia sudah bisa membaca tulisan sederhana dan menulis namanya dengan rapi.

Suatu malam, setelah latihan, Mei Ling bertanya.

"Chen, di tempat asalmu, apa semua orang bisa baca tulis?"

"Hampir semua."

"Wanita juga?"

"Juga."

Mei Ling diam. Lalu, "Aku ingin ke sana suatu hari."

Wei Chen menatapnya. "Ke mana?"

"Ke tempat asalmu." Matanya berbinar. "Lihat dunia yang kau ceritakan."

Wei Chen diam. Dia tidak tahu harus bilang apa. Tidak ada jalan kembali ke bumi. Tapi melihat binar di mata Mei Ling, dia tidak punya hati untuk mematahkannya.

"Suatu hari," katanya akhirnya. "Mungkin."

Mei Ling tersenyum. Percaya.

 

Dua minggu kemudian, Wei Chen mulai merealisasikan rencananya.

Langkah pertama: memperluas usaha.

Dia bicara dengan Toke Wijaya. "Toke, aku punya usul."

Toke Wijaya mendongak dari buku catatannya. "Usul apa?"

"Kita buka cabang di kota."

Toke Wijaya tertawa. "Kau gila? Modal kita pas-pasan. Pesaing di kota banyak. Kita bisa bangkrut."

"Kita bisa." Wei Chen tidak terpengaruh. "Tapi kalau tidak coba, kita tidak akan pernah tahu."

Toke Wijaya menggeleng. "Alasanmu bagus, Nak. Tapi aku sudah tua. Tidak berani ambil risiko besar."

Wei Chen diam. Lalu, "Kalau begitu, aku buka sendiri."

Toke Wijaya terkejut. "Sendiri? Dengan modal apa?"

"Aku punya tabungan. Hasil kerja setahun." Wei Chen menatapnya. "Aku minta izin, Toke. Bukan minta modal."

Toke Wijaya diam lama. Lalu menghela napas.

"Kau benar-benar aneh, Nak." Dia tersenyum tipis. "Tapi aku suka semangatmu. Kalau kau butuh bantuan — jaringan pemasok, kenalan di kota — aku bantu."

Wei Chen mengangguk. "Terima kasih, Toke."

 

Malam harinya, Wei Chen menghitung uang tabungannya.

Bekerja setahun di toko, plus hasil jualan kecil-kecilan, dia punya sekitar 200 koin perak. Tidak banyak. Tapi cukup untuk modal awal.

Mei Ling duduk di sampingnya, melihat tumpukan uang itu.

"Ini untuk buka usaha?" tanyanya.

"Iya."

"Aku bisa bantu?"

Wei Chen menatapnya. "Kau mau?"

"Mau." Matanya tegas. "Aku tidak mau cuma numpang. Aku mau kerja."

Wei Chen berpikir. Di bumi, dia selalu bekerja sendiri. Tapi di sini... mungkin perlu partner yang bisa dipercaya.

"Kau bisa jadi mitraku," katanya akhirnya.

"Maksudnya?"

"Kita kerja sama. Untung dibagi. Rugi ditanggung bersama."

Mei Ling diam. Lalu tersenyum. "Aku setuju."

Mereka bersalaman — formal, tapi hangat.

Dan di malam itu, Garuda Trading lahir. Bukan sebagai perusahaan besar, tapi sebagai mimpi dua orang di gubuk kecil.

 

Langkah pertama: mencari tempat.

Wei Chen pergi ke kota Rembang sendiri. Menyusuri pasar, gang-gang kecil, sampai menemukan sebuah kios kosong di pinggir pasar. Kecil, agak kumuh, tapi lokasinya strategis.

Pemiliknya — seorang tua renta — minta sewa 10 koin perak per bulan. Wei Chen menawar. Dapat 8 koin.

Langkah kedua: stok barang.

Dia beli barang-barang kebutuhan sehari-hari — beras, gula, garam, minyak — dari pemasok Toke Wijaya dengan harga khusus. Juga barang-barang unik yang tidak biasa dijual di pasar — alat-alat sederhana hasil modifikasinya.

Langkah ketiga: promosi.

Di bumi, dia punya tim marketing. Di sini, dia cuma punya Mei Ling.

Mereka berkeliling desa-desa dekat kota, menawarkan barang. Mulut ke mulut. Janji kualitas. Janji harga miring.

Mei Ling awalnya malu. Tapi Wei Chen memaksanya bicara.

"Kau harus belajar," katanya. "Suatu hari, kau yang akan urus ini semua."

"Aku?" Mei Ling terkejut. "Aku tidak bisa."

"Bisa. Aku ajar."

Perlahan, Mei Ling mulai percaya diri. Dari malu-malu, jadi berani menawar. Dari cuma di belakang, jadi di depan.

Suatu hari, setelah berhasil menjual 50 kilo beras ke satu desa, dia tertawa.

"Aku bisa!" serunya.

Wei Chen tersenyum. Melihat Mei Ling bahagia — itu... anehnya, membuatnya bahagia juga.

 

Tiga bulan kemudian...

Garuda Trading mulai dikenal.

Bukan besar. Tapi cukup untuk hidup. Pendapatan stabil. Pelanggan tetap mulai bertambah.

Wei Chen dan Mei Ling bergantian jaga toko. Dia di kota, dia di desa. Kadang ketemu, kadang tidak. Tapi setiap malam, kalau bertemu, mereka selalu duduk bersama. Bicara. Tertawa. Kadang diam.

Suatu malam, Mei Ling bertanya.

"Chen, kenapa kau mau semua ini? Kenapa kau kerja keras untuk... untuk aku?"

Wei Chen diam. Memikirkan jawaban.

"Aku tidak tahu," katanya jujur. "Aku hanya... tidak mau kau pergi."

Mei Ling tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca.

"Aku juga tidak mau pergi."

Mereka diam. Malam semakin larut. Tapi tidak ada yang mau tidur.

"Chen... boleh aku tanya sesuatu?"

"Hm."

"Di tempat asalmu... kau pernah punya seseorang? Seseorang yang kau sayang?"

Wei Chen menggeleng. "Tidak."

"Kenapa?"

"Sibuk. Tidak punya waktu." Dia menatap bulan. "Mungkin juga... tidak pernah bertemu orang yang tepat."

Mei Ling menunduk. "Kalau di sini?"

Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling merah di bawah cahaya bulan.

"Aku... tidak tahu." Jujur. Tapi di dadanya, ada getaran aneh.

Mei Ling tersenyum — senyum getir yang biasa.

"Itu jawaban diplomatis."

"Aku selalu diplomatis."

Mereka tertawa kecil. Lalu diam lagi.

Di dalam hati Wei Chen, sesuatu bergolak. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan selama 40 tahun.

Mungkin ini yang disebut... cinta.

Tapi dia belum siap mengakuinya. Bahkan pada dirinya sendiri.

 

Chapter 7 END.

 

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!