Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rahasia di Balik Debu
Perjalanan malam dari Hotel Victoria kembali ke kediaman Kusuma terasa sangat panjang. Di dalam mobil Bentley yang dikemudikan pengawal pribadi Han Shixiong, keheningan menyelimuti ruang penumpang. Nadia memandang keluar jendela, melihat kilatan lampu-lampu jalan memantul dalam kelelapan yang sepi, perasaannya terombak-ombak dalam arus ribuan pertanyaan yang tak terjawab.
Sebaliknya, Arya duduk tenang. Matanya sesekali tertuju pada sebuah kotak mahoni di sampingnya. Di situlah teronggok ‘mangkuk rongsokan’ seharga satu miliar rupiah yang mengejutkan seisi hotel, tidak terkecuali istrinya sendiri.
"Arya..." Nadia akhirnya memecah keheningan, suaranya pelan tetapi penuh ketegasan. "Sejak kapan kau mengenal Tuan Han Shixiong? Mengapa beliau memperlakukanmu seperti dewa?"
Arya mengalihkan pandangannya dari kotak mahoni tersebut, lalu menatap lembut istrinya. Senyum tipis mengembang. "Kau mungkin tak akan mempercayai ceritanya, bahkan jika aku menjabarkannya dengan runut dari masa silam, Nadia. Tapi kau hanya perlu tahu satu hal—semua kekuasaan di kota ini, atau bahkan seluruh belahan dunia ini, bukan apa-apa bagiku jika dibandingkan dengan keselamatan dan senyummu."
Nadia tidak menanggapi dengan langsung. Pikirannya melayang pada saat Bima Mahendra ditolak dengan keras, pada hari dimana hutang miliaran tiba-tiba terbayar, dan kini, malam di mana sang suami menunjukkan dominasinya atas Dion Atmaja tanpa setetes pun amarah, hanya sebuah sikap keangkuhan dari seorang raja yang memegang kekuasaan tinggi.
"Lalu benda ini?" Nadia menunjuk kotak mahoni. "Ini sungguh mangkuk bersejarah yang membuatmu membayar sedemikian mahal?"
Arya terkekeh pelan. Ia menyentuh pinggiran kotak itu dengan penuh khidmat. "Sebuah mata rabun tak akan dapat membedakan mana emas murni dari batu kerikil yang tergeletak di debu, Nadia. Ini bukanlah mangkuk."
Mobil berhenti tepat di depan kediaman Kusuma. Arya segera turun, memberi isyarat kepada Nadia untuk mengikuti langkahnya, meninggalkan pertanyaan yang masih terngiang-ngiang di udara malam yang dingin. Rina rupanya pulang lebih dulu, dan seperti yang sudah diduga, wanita paruh baya itu tak menyempatkan diri menunggu atau memberikan sapaan hangat kepada mereka.
Di dalam kamar kecilnya yang temaram, Arya duduk bersila di hadapan mangkuk hitam yang tergeletak di atas lantai. Pintu dikunci rapat dari dalam.
Pancaran bulan purnama menembus sela-sela jendela, menerangi sisi-sisi retak mangkuk yang dipenuhi debu. Di matanya, bukan sekadar sebuah mangkuk retak, melainkan artefak legendaris dari kehidupan sebelumnya—Tungku Alkemia Sembilan Naga. Benda pusaka yang hanya tunduk pada pemilik aslinya, Kaisar Abadi, dirinya.
"Di dunia yang energinya serendah ini, benda ini sedang berhibernasi. Terkubur di dalam cangkang tanah," gumam Arya, senyum puas tak bisa ditutupinya. "Jika dunia persilatan di bumi tahu apa benda ini sesungguhnya, mereka akan merobek leher satu sama lain dalam perang tanpa akhir."
Tanpa membuang waktu, Arya memejamkan mata. Ia memusatkan aliran energi spiritual yang dikumpulkan dalam tiga tahap pertama dari Sembilan Transformasi Naga Langit. Perlahan, sebuah aura tipis keemasan mulai menyelubungi telapak tangannya. Arya kemudian menempelkan tangannya pada tepi mangkuk.
Satu detik... dua detik...
Srrrtt!
Aliran energi emas itu tiba-tiba merayap masuk ke celah-celah retakan mangkuk. Segera, sebuah dengungan rendah yang tak tertangkap telinga manusia biasa memenuhi ruangan, menggema langsung ke dalam jiwa.
Debu dan tanah yang menempel pada lapisan luar mangkuk mendadak retak, lalu mengelupas helai demi helai, layaknya kulit ular yang berganti.
Cahaya terang seketika meledak dari benda tersebut, memancarkan sembilan aura emas berbentuk naga yang meliuk-liuk di udara. Retakan-retakan tadi tergantikan dengan corak halus yang bersinar, membentuk formasi ukiran kompleks yang menggambarkan sembilan naga yang tengah melilit pilar langit. Mangkuk jelek yang dikira rongsokan itu kini menjelma menjadi sebuah tungku kecil yang elegan dan memancarkan wibawa ilahi.
"Akhirnya kau kembali padaku, kawan lama," ucap Arya. Rasa letih menyengat otot-ototnya, membuktikan betapa besar energi yang terkuras hanya untuk membangunkan artefak ini.
Keesokan paginya, langit terlihat cerah. Di dapur, Arya kembali mengenakan apron kusamnya. Namun, kali ini, ia sedang sibuk menyiapkan ramuan. Ia tidak memasak sarapan biasa. Di atas kompor, sebuah panci kecil berisi ramuan dari beberapa bahan langka—Ginseng 10 tahun, jamur Lingzhi, dan beberapa akar herba yang ia minta Han Shixiong carikan semalam—tengah direbus.
Semua bahan itu kemudian ia saring dan ia tuang ke dalam Tungku Alkemia Sembilan Naga. Ia memusatkan sedikit energi spiritual ke dasar tungku, menggantikan api duniawi dengan api jiwanya sendiri. Aroma herbal yang tadinya tajam, perlahan berubah menjadi wangi yang sangat murni, menenangkan, dan manis—seperti embun pagi.
Arya tersenyum memandang hasil racikannya: sebotol cairan keemasan yang jernih, yang ia namakan Eliksir Penjaga Jiwa.
Beberapa saat kemudian, Nadia berjalan masuk ke dapur dengan pakaian kerja yang rapi. Lingkaran hitam masih samar terlihat di bawah matanya akibat kelelahan bekerja berjam-jam di perusahaan.
Arya menyodorkan secangkir teh biasa yang diam-diam telah dicampurkan beberapa tetes eliksir tersebut.
"Minumlah. Ini akan membantumu lebih rileks," kata Arya lembut.
Nadia memandangnya sekilas, lalu menyesap teh tersebut tanpa curiga. Seketika, matanya melebar. Ia merasakan kehangatan luar biasa yang meresap ke dadanya, seolah-olah seluruh beban dan kelelahan yang membebani pikirannya dalam sebulan terakhir menguap ke udara. Kulit wajahnya yang sedikit pucat seketika merona kembali, lebih bercahaya dari sebelumnya.
"A-apa ini, Arya? Rasanya aneh, tapi... menyegarkan," tanyanya heran.
Arya hanya tersenyum simpul, lalu mengusap rambut Nadia dengan pelan—sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan selama tiga tahun terakhir. "Hanya teh herbal biasa. Bekerjalah dengan baik hari ini, Nadia. Ada badai yang sedang mengincar, tetapi tak ada yang bisa menyentuhmu."
Di tempat lain, di sebuah ruang rawat VVIP di Rumah Sakit Pusat Emerald, suara monitor detak jantung berdengung lemah. Seorang lelaki paruh baya terbaring pucat dengan beberapa selang menempel di tubuhnya. Itu adalah Darma Kusuma, ayah Nadia, yang telah koma selama setahun akibat penyakit misterius yang perlahan menggerogoti organ dalamnya.
Pintu terbuka dengan kasar. Rina berjalan masuk dengan ekspresi kesal, disusul oleh paman tertua Nadia, Burhan, yang menatap dingin ke arah sang kakak yang tak berdaya.
"Bagaimana, Rina? Kapan kita bisa mencabut ventilatornya?" desis Burhan. "Perusahaan kini sedang dalam masa emas, tapi jika Darma terbangun, semua kekuasaan kita akan kembali berada di bawah telapak tangannya."
Rina mendengus tajam. "Jangan khawatir. Dokter dari luar negeri yang aku sewa sudah memastikan racunnya bekerja dengan sempurna. Tak sampai minggu depan, dia akan menemui ajalnya secara alami."
Mereka berdua tak menyadari, dari balik jendela koridor, Arya tengah berdiri memandang mereka. Pandangannya dingin membeku, tajam menembus kaca. Tangannya perlahan merogoh saku, menggenggam erat botol Eliksir Penjaga Jiwa yang baru saja diraciknya.
"Mereka yang berani menyentuh keluargaku... tak akan menemukan tempat sembunyi, bahkan di neraka sekalipun."