NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Vegetasi di Ambang Jendela

Melbourne tidak pernah meminta maaf atas cuacanya. Pagi itu, kota ini menyambut Alya kembali dengan langit sewarna timah yang menggantung rendah di atas atap-atap Victoria di Carlton. Angin musim dingin yang menyelinap dari arah Port Phillip Bay membawa bau garam yang tajam, bertabrakan dengan aroma aspal basah dan sisa pembakaran mesin trem 96 yang baru saja melintas. Alya turun dari taksi dengan lutut yang masih kaku karena penerbangan delapan jam dari Jakarta. Di tangan kanannya, gagang koper terasa dingin, sementara di paru-parunya, udara Melbourne yang tipis dan beku terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk.

Dia berhenti sejenak di depan gedung apartemen bata merah lantai tiga itu. Trotoarnya masih retak di titik yang sama—titik di mana sebulan lalu roda koper Arka tersangkut dan mereka tertawa karena merasa seperti amatiran di negeri orang. Alya menarik napas panjang. Ada rasa asing yang ganjil. Jakarta dengan segala hiruk-pikuk auditasinya, aroma disinfektan hotel, dan kemacetan yang mencekik, baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu. Sekarang, dia berdiri di depan pintu kayu tua yang catnya mengelupas di bagian sudut, merasa seperti penyusup di hidupnya sendiri.

Kunci berputar dengan bunyi klik yang berat. Saat pintu terbuka, hal pertama yang menyergap Alya bukan hanya kehangatan dari pemanas ruangan yang bekerja keras, tapi aroma eucalyptus dan kopi yang baru saja diseduh. Bau itu seperti pelukan yang tak kasat mata.

Arka tidak ada di ruang tamu. Dia sedang di dapur, membelakangi pintu. Bahunya yang lebar terbungkus kaus abu-abu tipis yang sudah agak melar di bagian leher—kaus yang selalu dia pakai kalau sedang stres atau sedang ingin merasa benar-benar di rumah. Dia sedang menekan tuas French press dengan gerakan lambat, seirama dengan uap yang mengepul dari mug keramik di sampingnya.

"Chief," sapa Arka tanpa menoleh. Dia tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu Alya. Dia hafal irama langkah kaki Alya, hafal bagaimana bunyi gesekan jaket trench Alya saat bersentuhan dengan gagang pintu.

Alya tidak menjawab. Dia melepaskan tasnya begitu saja di atas karpet warna oats yang lelah itu. Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan seolah takut memecahkan keheningan pagi yang rapuh. Dia menyandarkan dahinya di punggung Arka, membiarkan kehangatan tubuh suaminya meresap melalui kain kaus. Di sana, di antara bunyi uap air dan detak jantung Arka, Alya merasa beban "Regional Lead" yang dia bawa dari Jakarta luruh satu per satu.

"Tanaman lidah mertuanya... masih hidup?" bisik Alya. Suaranya serak, sisa dari AC pesawat yang terlalu kering.

Arka berbalik perlahan, membawa dua mug kopi yang mengepulkan aroma pahit namun manis. Dia tidak langsung menjawab. Dia menatap wajah Alya—menatap lingkaran hitam di bawah mata istrinya, garis lelah di sudut bibir, dan sisa-sisa ketegangan yang masih tertinggal di bahu. Arka mengarahkan dagunya ke ambang jendela di sudut ruangan.

Di sana, di dalam pot bekas cat yang mereka temukan di gang belakang minggu kedua lalu, tanaman itu masih berdiri. Ujung-ujung daunnya memang sedikit menguning, tampak berjuang melawan udara musim dingin yang merembes dari sela-sela bingkai jendela kayu yang tidak rapat.

"Hampir mati dua minggu lalu," aku Arka, suaranya rendah dan tenang. "Tapi aku mulai bicara sama dia tiap jam tiga pagi kalau aku nggak bisa tidur. Aku kasih dia sisa air mineral, aku pindahin posisinya supaya kena sedikit cahaya matahari jam sepuluh. Kita punya sesuatu yang bertahan, Al. Meski dia harus berdarah-darah sedikit buat tetap tegak."

Alya menerima mug kopi itu. Kehangatan keramik di telapak tangannya terasa nyata, lebih nyata dari semua laporan efisiensi karbon yang dia susun di Jakarta. Mereka duduk di lantai—posisi yang menjadi default mereka karena sofa yang dipesan dari toko furnitur bekas belum juga dikirim. Mereka duduk bersandar pada dinding yang masih berwarna putih kusam, menghadap ke satu kotak pizza dingin dari Lygon Street yang dibeli Arka tadi malam sebagai bentuk antisipasi kepulangan Alya.

"Investor itu," Alya memulai, suaranya lebih stabil sekarang. "Pertemuan di Jakarta kemarin... apa akhirnya mereka setuju dengan roadmap yang kamu buat?"

Arka menghela napas, uap kopinya menutupi kacamata yang dia pakai. Dia melepas kacamatanya, mengusapnya dengan ujung kaus. "Mereka setuju sama angkanya, Al. Mereka suka proyeksi efisiensinya. Tapi mereka nggak suka lokasiku."

Alya terdiam. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Mereka mau aku di Sydney. Tiga hari seminggu. Minimal selama enam bulan ke depan untuk fase implementasi," lanjut Arka. Dia menatap ke luar jendela, ke arah kontainer sampah yang berjejer rapi di gang bawah. "Mereka bilang, founder nggak bisa bangun ekosistem dari jarak jauh. Mereka mau aku ada di sana, tatap muka, makan siang dengan klien, lembur di kantor mereka."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Alya membayangkan jadwal mereka: dia yang mungkin harus kembali ke Jakarta atau Singapura bulan depan, dan Arka yang akan terjebak di penerbangan Melbourne-Sydney setiap minggu. Mereka akan menjadi dua orang yang tinggal di satu apartemen di Carlton hanya untuk saling bertukar pesan "aku sudah mendarat" dan "jangan lupa kunci pintu".

"Lalu kamu bilang apa?" tanya Alya, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

Arka menoleh, menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan yang dalam dan ketegasan yang baru saja dia temukan. "Aku bilang, aku punya rumah di Carlton yang temboknya belum dicat hijau mint. Aku bilang, mimpiku bukan jadi orang paling kaya di industri logistik, tapi jadi orang yang bisa nyeduh kopi buat istrinya jam tujuh pagi di hari Senin."

Alya terpaku. "Bang... itu investasi besar. Itu kesempatan yang kita bicarakan waktu di Singapura dulu."

"Iya, itu kesempatan," Arka mengangguk. "Tapi setelah seminggu di Jakarta kemarin, pas kita cuma bisa ketemu di kafe Menteng selama satu jam dengan tas laptop di antara kita, aku sadar satu hal. Kita pindah ke Melbourne bukan buat jadi lebih sibuk di tempat yang berbeda, Al. Kita pindah ke sini buat membangun sesuatu bareng-bareng."

Arka meletakkan mugnya di lantai. "Aku tolak permintaan mereka. Aku pilih jalur pendanaan yang lebih kecil, yang lebih lambat, yang risikonya lebih tinggi karena kita nggak punya 'bekingan' besar di Sydney. Tapi dengan begitu, kantor pusatku tetap di sini. Di meja lipat yang goyang itu. Di samping kamu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Alya akhirnya jatuh juga, mendarat di permukaan kopinya. Dia merasa bersalah, namun sekaligus merasa sangat... diselamatkan. Ambisi adalah api yang menghangatkan mereka, tapi belakangan ini, api itu mulai membakar oksigen di ruangan mereka sampai mereka sulit bernapas.

"Kita payah ya?" Alya tertawa di tengah tangisnya, sebuah tawa yang pecah dan jujur. "Baru sebulan di sini, sudah mau menyerah sama jarak. Orang lain mungkin bilang kita nggak profesional, atau kita terlalu emosional."

"Mungkin," sahut Arka, tangannya meraih tangan Alya, jempolnya mengusap cincin di jari manis istrinya—cincin yang memantulkan cahaya pucat pagi Melbourne. "Tapi kita nggak menyerah sama jarak. Kita cuma lagi milih mana yang mau kita urus duluan. Dan malam ini, aku mau urus kita. Aku mau urus waras kita."

Mereka menghabiskan jam-jam berikutnya dengan hal-hal kecil yang tidak masuk dalam spreadsheet mana pun. Mereka merapikan rak buku Swedia yang sekrupnya masih diganti sendok teh—Arka bersikeras tidak akan menggantinya dengan sekrup asli sebagai pengingat akan "malam pertama yang kacau". Alya mulai membongkar kopernya, mengeluarkan bau Jakarta dan menggantinya dengan bau deterjen Melbourne yang segar.

Di luar, hari mulai beranjak siang. Matahari sesekali mengintip dari balik awan, menyinari debu-debu yang menari di udara apartemen mereka. Alya mengambil ponselnya, melihat notifikasi grup kerja yang masuk bertubi-tubi soal audit vendor karbon. Dia membacanya, lalu dengan sadar menaruh ponsel itu di atas rak buku, layar menghadap ke bawah.

Dia mendekati ambang jendela, menyentuh daun lidah mertua yang menguning itu. "Kita harus beli pot yang lebih besar," gumam Alya.

Arka berdiri di sampingnya, merangkul bahunya. "Dan tanah yang lebih bagus. Tanah di sini beda sama di Jakarta, Al. Kita harus belajar cara memupuknya dari awal lagi."

"Sama kayak kita?"

"Sama kayak kita."

Alya teringat pesan ibunya di grup keluarga. Tentang memotong daun yang kuning supaya yang baru bisa tumbuh. Dia menyadari bahwa sebulan terakhir mereka terlalu fokus untuk tetap "hijau" sampai lupa bahwa ada bagian dari diri mereka yang memang harus gugur agar mereka bisa beradaptasi dengan tanah baru ini. Mereka bukan lagi Alya dan Arka versi Jakarta yang serba cepat dan taktis. Mereka adalah Alya dan Arka versi Carlton yang sedang belajar bahwa kebahagiaan kadang-kadang hanyalah sebuah meja lipat yang stabil dan janji untuk tidak pergi sebelum kopi habis.

Malam harinya, suhu turun drastis. Bunyi angin yang menderu di gang belakang terdengar seperti siulan hantu. Namun, di dalam unit 3B, udaranya hangat. Mereka memesan fish and chips dari kedai di sudut jalan, memakannya langsung dari kertas pembungkusnya sambil menonton video kucing di YouTube—sesuai janji yang pernah mereka buat saat mereka hampir pecah karena stres.

"Besok jam berapa orientasi tim kamu?" tanya Arka saat mereka sudah bersiap tidur, selimut wol tebal membungkus mereka berdua.

"Jam sembilan," jawab Alya, matanya sudah setengah terpejam. "Tapi aku sudah bilang sama bosku, aku nggak akan ambil proyek luar kota lagi sampai kuartal depan. Aku mau fokus di sini dulu. Di tim pusat."

Arka mengeratkan pelukannya. "Baguslah. Karena besok pagi, setelah aku selesai meeting lewat Zoom, kita punya misi penting."

"Apa?"

"Beli cat warna hijau mint. Dan kuas. Dan tangga kecil."

Alya tersenyum dalam gelap. Dia membayangkan tembok ruang tamu mereka yang kusam akan berubah warna. Dia membayangkan bagaimana sinar matahari pagi akan memantul di warna hijau pucat itu, memberikan ilusi bahwa mereka tinggal di tengah hutan kecil, bukan di apartemen lantai tiga di atas gang sampah.

"Masih milih aku?" bisik Arka, mengulang pertanyaan yang sama yang dia tanyakan Sabtu subuh itu.

Alya tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kayu putih dari rambut Arka, aroma kopi yang masih tertinggal di ruangan, dan aroma masa depan yang meski tidak pasti, setidaknya akan mereka hadapi berdua.

"Bukan cuma milih kamu, Bang," jawab Alya pelan. "Aku milih untuk pulang ke kamu. Tiap hari. Di mana pun koordinat kita berada."

Di luar, trem 96 terakhir untuk malam itu melintas. Bunyi relnya yang beradu menjadi musik pengantar tidur bagi dua orang pengembara yang akhirnya berhenti berlari. Di ambang jendela, tanaman lidah mertua itu tampak sedikit lebih tegak, seolah tahu bahwa mulai besok, dia tidak akan lagi kekurangan air atau kasih sayang.

Komitmen, pikir Alya sebelum benar-benar terlelap, memang bukan soal janji besar di depan pelaminan. Komitmen adalah keberanian untuk menolak dunia demi bisa mengecat tembok bersama orang yang kamu cintai. Dan di Melbourne yang dingin ini, itu sudah lebih dari cukup.dingin gaa.

izinnnn ajukhjkhu*trimakasih telah membaca

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!