Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Helikopter Airbus H160 milik Keluarga Lin membelah awan dengan suara dengungan turbin yang konstan, suara yang menurut Xue Xiao sangat menggangu. Di dalam kabin yang mewah, hembusan AC yang sejuk meniup rambut panjang Xue Xiao yang terurai, namun pemuda itu tetap bergeming. Ia duduk bersila di sudut terjauh, memejamkan mata, dan mengabaikan tatapan semua orang yang tertuju padanya.
Sementara itu, Lin Qingyan duduk tepat di seberang Xue Xiao. Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari sosok pria yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Ia merasa aneh, sebagai putri mahkota Keluarga Lin, ia terbiasa menjadi pusat perhatian. Para pria biasanya akan berlomba-lomba pamer dan menyenangkannya dengan kata-kata pujian, menunjukkan kekayaan, atau setidaknya mencoba mencuri pandang. Namun Xue Xiao? Pria ini memperlakukannya seolah-olah ia hanyalah udara kosong.
Setiap kali Qingyan mencoba membuka percakapan, seperti menanyakan apakah suhu kabin sudah nyaman atau menawarkan air mineral premium, Xue Xiao hanya menjawab dengan gumaman dingin atau bahkan tidak merespons sama sekali. Ada sebuah tembok es yang tak kasat mata namun sangat tebal di antara mereka.
Mengapa dia begitu dingin? pikir Qingyan. Ia melihat jari-jari Xue Xiao yang panjang dan kuat sesekali mengetuk lututnya dengan irama yang tenang. Ada aura kesepian yang mendalam di balik wajah tampannya, sebuah jenis luka yang membuat Lin Qingyan semakin penasaran, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan terhadap pria mana pun sebelumnya.
Di sudut lain, Kapten Arga memperhatikan interaksi sepihak itu dengan rahang yang mengeras. Ia bisa melihat rasa penasaran di mata Lin Qingyan, dan itu membuatnya merasa terancam. Baginya, Xue Xiao hanyalah barang antik yang kebetulan punya manfaat. Arga berulang kali memeriksa jam tangan taktisnya, menghitung waktu hingga mereka mendarat di Shanghai, di mana ia akan kembali menjadi penguasa medan.
"Master Xue... lihatlah ke luar," bisik Lin Qingyan lembut.
Xue Xiao perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke arah jendela kecil di sampingnya. Di bawah sana, hutan berkabut yang menjadi rumahnya selama lima tahun telah menghilang, digantikan oleh hamparan abu-abu yang luas. Dan di ufuk timur, sebuah pemandangan yang belum pernah ia bayangkan muncul.
Shanghai.
Dari ketinggian, kota itu tampak seperti kumpulan pedang baja raksasa yang menusuk langit. Oriental Pearl Tower berdiri megah dengan bola-bola raksasanya, sementara Shanghai Tower meliuk tinggi menembus awan. Jutaan lampu mulai menyala seiring senja yang turun, menciptakan sungai cahaya yang lebih terang daripada formasi bintang mana pun di Alam Abadi.
Xue Xiao terdiam. Hatinya bergetar, namun wajahnya tetap datar. Ia melihat ribuan semut logam, itu adalah mobil yang bergerak di jalur-jalur rumit. Peradaban ini tidak memiliki energi spiritual, namun mereka mampu membangun kota dari beton dan kaca yang bahkan para kultivator tingkat tinggi pun akan kesulitan untuk menirunya tanpa sihir.
"Ini adalah Lujiazui, pusat jantung ekonomi kami," jelas Qingyan dengan sedikit rasa bangga. Ia lalu menujuk kesuatu tempat,"Di sanalah kakekku berada."
Xue Xiao hanya melirik sekilas lalu kembali menutup mata. "Banyak bangunan, namun sedikit kehidupan. Udara di sini penuh dengan racun yang membahayakan kesehatan, tidak hanya itu, baunya juga sangat menggangu. Ini adalah tempat di mana jiwa-jiwa menjadi tumpul karena kebisingan, dan kesehatan yang buruk karena racun yang tersebar di udara."
Jawaban itu membuat Qingyan terdiam tak bisa berkata-kata. Ia menyadari bahwa standar keindahan Xue Xiao sangat unik dan jauh melampaui kemewahan materi.
Sementara helikopter itu mulai terbang rendah, di sebuah kantor mewah di distrik finansial, seorang pria paruh baya bernama Zhao Feng sedang menyesap cerutu mahalnya. Ia adalah kepala Keluarga Zhao, rival bebuyutan Keluarga Lin. Di depan layarnya, titik merah yang melambangkan helikopter Lin Qingyan sedang terpantau oleh radar.
"Jadi, gadis kecil itu benar-benar kembali?" Zhao Feng tersenyum licik. "Dia pikir dengan membawa dokter liar bisa menyelamatkan si tua Lin Jianhua?"
Tanpa disangka oleh Lin Qingyan, ternyata ia selalu dalam pengawasan Zhao Feng. Dapat dipastikan bahwa ada lalat diantara kelompoknya yang ikut penjelajahan kali ini.
"Kami sudah menyiapkan penyambutan di atap gedung, Tuan," lapor seorang asisten berbaju hitam. "Pihak keamanan rumah sakit sudah kami infiltrasi. Jika si tua itu menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, kita akan memastikan dia tidak akan pernah bangun lagi." ucap asisten itu sambil membuat gerakan memotong leher.
Keluarga Zhao tidak bisa membiarkan Lin Jianhua pulih. Jika sang Harimau Tua bangun, semua rencana mereka untuk mencaplok saham farmasi Lin-Corp akan hancur total. Mereka sudah menyiapkan rencana pembunuhan yang rapi, melibatkan penembak jitu dan sabotase sistem medis.
Helikopter akhirnya mendarat di helipad pribadi di atas atap The Peninsula Shanghai yang menghadap langsung ke Bund. Angin kencang menerpa rombongan saat mereka keluar.
Xue Xiao melangkah keluar, rambut panjangnya berkibar liar. Ia mengenakan jubah kulit binatangnya yang sederhana, terlihat sangat kontras dengan pemandangan pencakar langit yang ultra-modern. Arga segera maju, mencoba memandu Lin Qingyan dengan protektif.
Namun diabaikan oleh Lin Qingyan, dan justru ia berinisiatif mengundang Xue Xiao. "Master Xue, silakan lewat sini," ajak Qingyan.
Tiba-tiba, Xue Xiao berhenti. Ia merasakan aura niat membunuh yang berasal dari tempat yang berbeda, yang pertama berasal dari Arga di dekatnya, dang satunya berasal dari gedung di kejauhan. Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba ia merasakan getaran udara yang tidak alami. Seketika tatapan matanya menajam, menatap ke arah gedung seberang yang berjarak tiga ratus meter.
"Master?" Qingyan bingung.
"Ada lalat yang mencoba menyengat," ucap Xue Xiao dingin.
Tanpa peringatan, sebuah peluru kaliber .50 meluncur dengan kecepatan supersonik menuju kepala Lin Qingyan. Arga baru saja akan bereaksi, namun gerakannya terlalu lambat.
Bang!
Xue Xiao hanya mengangkat dua jarinya, menangkap peluru panas itu tepat satu sentimeter di depan kening Lin Qingyan. Logam peluru itu penyok di antara jepitan jarinya seolah-olah hanya gumpalan tanah liat.
Lin Qingyan membeku, napasnya tertahan. Ia menatap Xue Xiao dengan mata yang penuh ketakutan sekaligus kekaguman yang tak terlukiskan. Arga terpaku, tangannya yang memegang pistol Glock gemetar hebat. Ia menyadari bahwa semua pelatihan militer yang ia banggakan tidak ada artinya di depan pemuda ini.
Xue Xiao melemparkan peluru penyok itu ke lantai dengan suara dentingan logam yang dingin. "Senjata tersembunyi kalian cukup menarik, tapi cara kalian bertarung sangatlah pengecut."
Ia kemudian menatap Lin Qingyan dengan tatapan yang tetap membeku. "Bawa aku ke kakekmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main dengan sampah-sampah ini."
Lin Qingyan hanya bisa mengangguk patuh, sementara di dalam hatinya, ia merasa bahwa sejak saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia benar-benar telah membawa sesosok dewa ke tengah-tengah kekacauan manusia.