NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Kecoa, Sang Musuh Bersama

Wisma Lavender mungkin terlihat seperti istana yang tenang, anggun, dan penuh estetika dari luar, namun di baliknya, sebuah teror bisa muncul dari celah yang paling sempit sekalipun. Bagi para penghuninya, ada hirarki ketakutan yang nyata: mulai dari skripsi yang tertunda karena revisi dosen yang tak masuk akal, inspeksi mendadak Oma Rosa yang bisa menemukan debu seukuran mikron, hingga tagihan listrik yang membengkak akibat AC yang menyala non-stop. Namun, ada satu entitas yang kekuatannya melampaui segala logika ketakutan tersebut. Sebuah makhluk kecil, berwarna cokelat mengkilap, memiliki antena panjang yang bergerak-gerak secara provokatif, dan yang paling mengerikan—ia memiliki kemampuan untuk lepas landas dan terbang secara acak.

Arka sedang berada di kamarnya, mencoba mengejar ketertinggalan tidurnya yang sangat berharga setelah begadang semalaman membantu Sari merapikan tumpukan berkas hukum yang membosankan. Ia baru saja mencapai fase tidur yang sangat nyenyak, mimpi di mana ia berada di sebuah pulau terpencil tanpa gangguan WiFi, saat sebuah teriakan melengking yang sanggup memecahkan kaca jendela membelah keheningan koridor lantai dua.

"ARKAAAAAAA! TOLOOOONG! ADA MONSTER DI KAMARKU! CEPAT KE SINIIII!"

Suara itu milik Fanya, mahasiswi psikologi yang biasanya dikenal sebagai pribadi yang paling kalem, tenang, dan selalu berbicara dengan nada yang diatur sedemikian rupa untuk menenangkan orang lain. Mendengar teriakan yang terdengar seolah-olah ada perampokan bersenjata atau pembunuhan sedang terjadi, Arka langsung meloncat dari kasurnya dengan refleks yang luar biasa. Dengan nyawa yang masih tertinggal di bantal dan rambut yang mencuat ke segala arah, ia berlari keluar kamar hanya dengan kaos singlet putih dan celana pendek garis-garis.

Di depan kamar nomor empat, Fanya berdiri dengan posisi yang sangat tidak biasa: ia bertengger di atas kursi belajar yang ia seret ke koridor, wajahnya pucat pasi seperti kertas, menunjuk-nunjuk ke arah kegelapan di dalam kamarnya dengan tangan yang bergetar hebat. Tak lama kemudian, pintu-pintu kamar lain terbuka secara dramatis. Gendis muncul dengan masker wajah charcoal yang masih basah dan tampak menyeramkan, Rara keluar dengan kuda-kuda karate yang kaku, dan Lulu muncul sambil memegang kalkulator—mungkin berniat menghitung kerugian moral jika terjadi kerusakan.

"Ada apa?! Ada maling masuk lewat jendela?!" tanya Arka dengan napas terengah-engah, matanya liar mencari ancaman fisik.

"Lebih buruk dari maling, Arka! Maling setidaknya punya pola perilaku yang bisa diprediksi!" isak Fanya, air mata ketakutan hampir menetes. "Dia... dia di sana. Di atas plafon, tepat di atas ranjangku. Dia menatapku dengan mata jahatnya yang hitam dan berkilat-kilat!"

Arka melongokkan kepalanya ke dalam kamar Fanya yang beraroma terapi lavender. Di sudut plafon yang putih bersih, terlihat seekor kecoa berukuran jumbo, mungkin seukuran jempol kaki Arka, sedang berdiam diri dengan sangat tenang. Antenanya bergoyang-goyang lambat, seolah sedang melakukan pemindaian radar untuk menentukan target serangan berikutnya.

"Cuma kecoa, Fanya..." Arka menghela napas lega yang sangat dalam, bahunya merosot seketika. "Gue pikir ada pembunuh bayaran atau apa. Ini mah tinggal dipukul pakai sandal juga beres, nggak perlu teriak kayak kiamat sudah dekat."

"Jangan remehkan dia, Arka! Lu nggak lihat tatapannya yang penuh kebencian itu?" Gendis memperingatkan dengan suara tertahan dari balik maskernya yang mulai retak. "Itu bukan kecoa biasa. Itu Periplaneta americana yang sudah terpapar polusi Jakarta dan bermutasi menjadi predator cerdas. Dia punya aura intimidasi yang sangat kuat, gue bisa merasakannya dari sini!"

"Apalagi kalau dia sudah masuk ke mode 'tempur' dan mengembangkan sayapnya," tambah Rara yang entah sejak kapan sudah berdiri berlindung di belakang Arka, menjadikan punggung Arka sebagai tameng.

"Kalau dia terbang secara zig-zag, kita semua di sini tamat. Nggak ada yang bisa selamat dari lintasan terbangnya yang nggak logis itu."

Arka memutar bola matanya, merasa level absurditas di rumah ini baru saja naik satu tingkat lagi. "Oke, oke, tenang semuanya. Mana sandal? Biar gue selesaikan konflik diplomatik ini dalam lima detik."

Fanya dengan ragu-ragu menyodorkan sebuah sandal rumah berbulu warna merah muda dengan hiasan kelinci yang tampak sangat tidak efektif dan terlalu imut untuk digunakan sebagai senjata pembunuh. Arka menerimanya dengan tatapan sangsi. Dengan langkah yang dipaksakan berani, ia masuk ke kamar Fanya, melangkah perlahan menuju sudut ruangan. Para gadis berkumpul di ambang pintu, berdesakan sambil menutup sebagian wajah mereka, menonton dengan napas tertahan seolah-olah sedang menyaksikan ahli penjinak bom yang sedang memotong kabel terakhir.

Arka mengangkat sandalnya tinggi-tinggi. Ia membidik dengan saksama, mengunci target pada titik tengah tubuh si serangga. Namun, tepat saat sandal bulu itu hampir menyentuh sasaran, si musuh bersama itu tampaknya memiliki sensor bahaya yang luar biasa. Ia memutuskan untuk menunjukkan kemampuan aslinya yang paling ditakuti umat manusia.

Werrrrrrr!

Kecoa itu lepas landas dengan suara kepakan sayap yang terdengar seperti mesin jet mini di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia tidak sekadar terbang, ia melakukan manuver udara yang sangat provokatif.

"DIA TERBANG! DIA TERBANG! SEMUANYA TIARAAAAP!" jerit Lulu sambil menutupi kepalanya dengan kalkulator.

Kekacauan pecah seketika di koridor Wisma Lavender. Fanya melompat dari kursi di koridor dan berlari secepat kilat menuju kamar Sari, memohon perlindungan hukum. Gendis yang panik menabrak bingkai pintu hingga sebagian masker hitamnya menempel di kayu jati, meninggalkan jejak horor. Rara, sang atlet yang biasanya gagah berani di atas matras, langsung mencengkeram kaos singlet Arka dan bersembunyi di balik punggungnya, menjadikan tubuh kurus Arka sebagai perisai manusia satu-satunya.

Kecoa itu berputar-putar di udara dengan rute yang sangat acak dan tidak terduga. Ia menukik rendah ke arah Gendis, membuat gadis itu melakukan gerakan tarian darurat yang belum pernah ditemukan dalam sejarah koreografi dunia. Makhluk itu seolah tahu siapa yang paling takut padanya. Kemudian, dengan sombongnya, makhluk itu hinggap di atas lemari buku Fanya, menatap Arka dengan antena yang bergetar cepat seolah menantang untuk duel babak kedua.

"Arka, lakukan sesuatu yang heroik sekarang!" perintah Sari yang tiba-tiba muncul dari kegelapan koridor sambil membawa botol semprotan disinfektan ukuran besar. "Ini bukan lagi masalah pribadi Fanya, ini sudah menjadi ancaman stabilitas keamanan dan kenyamanan nasional Wisma Lavender!"

Arka merasakan beban berat di pundaknya. Harga dirinya sebagai satu-satunya laki-laki di rumah tersebut sedang dipertaruhkan di depan penonton yang sangat menuntut. Ia melepaskan sandal bulu Fanya yang tidak berguna, meraih sebuah buku tebal—sebuah ensiklopedia psikologi yang beratnya cukup untuk melumpuhkan tikus—dan mulai mengejar kecoa itu. Terjadi pengejaran epik di dalam ruangan seluas tiga kali empat meter itu. Arka melompat ke atas kasur yang empuk, berguling di bawah meja rias yang penuh botol parfum, dan hampir saja menabrak manekin milik Gendis yang entah mengapa ada di sana dalam posisi yang menyeramkan.

"Kenapa makhluk ini cuma ngejar gue?!" teriak Arka sambil menunduk menghindari tukikan sang kecoa yang hampir mengenai telinganya.

"Karena dia mengenali dominasi, Arka! Kamu adalah ancaman terbesar baginya! Kamu adalah predator puncak di kamar ini!" seru Chika dari jarak aman di ujung koridor, memberikan narasi dengan nada ala komentator sepak bola atau National Geographic.

Setelah lima menit penuh aksi akrobatik yang melibatkan keringat dan teriakan, kecoa itu akhirnya melakukan kesalahan fatal: ia mendarat di lantai ubin yang licin untuk beristirahat. Arka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata dan presisi seorang penembak jitu, ia menjatuhkan sandal merah muda milik Fanya—yang tadi ia ambil kembali—tepat di atas tubuh makhluk itu dengan kekuatan penuh.

Plak!

Hening. Sunyi senyap seketika menyelimuti lantai dua Wisma Lavender. Para gadis perlahan-lahan mengeluarkan kepala mereka dari balik pintu, lemari, atau punggung satu sama lain. Arka masih tetap menekan sandal itu ke lantai dengan kakinya, napasnya memburu dan dadanya naik turun.

"Sudah... sudah mati?" bisik Fanya dengan suara yang sangat ragu, masih enggan turun dari tempat persembunyiannya.

Arka mengangkat sandal itu secara perlahan, menciptakan ketegangan dramatis. Di bawahnya, sang musuh bersama telah kehilangan bentuk aslinya, berubah menjadi bercak cokelat gepeng yang tidak lagi memiliki aura intimidasi. "Ya. Teror sudah berakhir. Dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik... atau lebih buruk, gue nggak peduli."

Sorakan kemenangan yang meriah pecah di seluruh koridor. Gendis yang sangat lega hampir saja memeluk Arka sebelum ia teringat bahwa wajahnya masih berantakan karena masker yang retak. Fanya kembali ke kamarnya dengan wajah penuh syukur yang amat dalam, menatap Arka seolah-olah laki-laki itu baru saja mengalahkan naga api yang mengancam desanya.

"Terima kasih banyak, Arka. Kamu beneran pahlawan tanpa tanda jasa hari ini," ucap Fanya tulus, suaranya kembali lembut. "Aku nggak tahu harus tidur di mana malam ini kalau monster itu masih berkuasa di plafon."

"Sama-sama, Fanya. Tapi tolong, lain kali kalau ada 'monster' lagi, jangan teriak seolah-olah ada pembunuh berantai ya. Jantung gue juga punya limit," Arka menyeka keringat dingin di dahinya dengan lengan singletnya.

Lulu mendekat dengan ekspresi bisnisnya, sambil mengetuk-ngetuk kalkulator. "Arka, atas jasa luar biasa dalam pembersihan hama darurat dan pemulihan ketertiban umum, kamu secara resmi mendapatkan poin 'Penyelamat Lingkungan'. Sebagai imbalannya, aku akan memotong biaya iuran kebersihan kamu bulan ini sebesar sepuluh ribu rupiah."

"Hanya sepuluh ribu?!" Arka protes keras, tidak percaya dengan kompensasi yang diterima. "Gue hampir kena serangan jantung, melakukan aksi parkour di kamar orang, dan mempertaruhkan nyawa demi kecoa terbang itu!"

"Sepuluh ribu itu sudah sangat signifikan bagi anggaran kita, Arka. Itu setara dengan dua porsi bubur ayam lengkap tanpa kerupuk di depan gang," sahut Lulu dengan nada tegas yang tidak bisa diganggu gugat.

Saat para gadis kembali ke kamar masing-masing dengan rasa aman yang baru, Arka berjalan gontai kembali ke kamarnya. Ia menatap telapak tangannya yang masih sedikit gemetar. Di rumah ini, ia telah bertransformasi menjadi banyak peran dalam waktu singkat: mulai dari tukang angkat galon, teknisi WiFi darurat, penyelundup kucing, asisten hukum Sari, dan sekarang... pembasmi hama profesional.

Ia duduk di pinggir kasur, menatap langit-langit kamarnya sendiri dengan rasa waspada yang baru, memastikan tidak ada antena misterius yang bergerak di sudut plafonnya. Menjadi satu-satunya laki-laki di Wisma Lavender ternyata bukan hanya soal kekuatan fisik untuk mengangkat beban berat, tapi lebih kepada kesiapan mental tingkat tinggi untuk menghadapi segala jenis absurditas dan teror—mulai dari yang berbentuk pasal hukum yang kaku hingga yang berbentuk serangga kecil bersayap dengan pola terbang yang kacau.

"Satu giga per detik," gumam Arka pada dirinya sendiri, sebuah senyum getir sekaligus bangga muncul di wajahnya yang kuyu. "Ternyata kecoa terbang jauh lebih mengerikan daripada sidangnya Sari di subuh hari."

Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya yang lelah untuk melanjutkan mimpi yang terputus, terdengar ketukan pelan yang sangat sopan di pintunya. Itu Manda, dengan wajah yang tampak sangat bersalah namun penuh harapan.

"Arka... maaf mengganggu lagi. Tapi di kamarku ada laba-laba. Kakinya panjang-panjang banget dan dia diam saja di atas bantal. Kamu... sedang sibuk nggak ya?"

Arka menghela napas panjang yang sangat berat, menutup wajahnya dengan bantal sambil mengerang kecil. Hari ini memang benar-benar bukan harinya untuk beristirahat. "Berapa kakinya, Manda? Kalau cuma delapan dan dia nggak punya sayap jet, tunggu lima menit lagi! Gue butuh waktu buat memproses trauma kecoa tadi!"

Kehidupan di Wisma Lavender terus berputar dengan dinamikanya yang aneh, dan bagi Arka, setiap detik adalah babak baru dalam pertempuran melawan kegilaan hidup yang dikelilingi oleh lima belas gadis unik dengan segala ketakutan dan permintaan mereka yang tak pernah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!