Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di sebuah rumah terpencil, Hana dikurung oleh seorang pria setengah baya bertubuh bongsor. Ia menyiksanya setiap hari sampai darah di tubuh gadis itu habis. Tak ada makanan, tak ada minuman, hanya siksaan yang ia dapatkan.
Malam itu, Hana meringkuk di sudut ruangan yang sempit dan kotor. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Pakaian yang dikenakan telah terkoyak oleh cambuk si lelaki tua. Ia menangis tanpa air mata. Kulit bibirnya pecah dan berdarah, telapak tangan dan kaki pun tak jauh beda. Kotoran berserakan, air seni menjadi pengharum ruangan sempit itu. Hana merasa jijik pada dirinya sendiri.
Kapan aku akan mati?
Hatinya melirih, perih dan hancur. Luka-luka di tubuhnya tak pernah sembuh, basah oleh darah dari luka baru yang ia dapatkan setiap harinya.
"Jika kalian memang tidak menginginkan aku, mengapa membawaku pulang dari desa? Menjodohkan aku dengan laki-laki yang sebenarnya tidak mencintai aku. Aku memang bodoh, kukira orang tua kandungku benar-benar ingin mengambilku. Ternyata aku hanya alat yang mereka gunakan. Nenek, aku ingin pulang," rintih Hana dengan suara lirih nyaris seperti bisikan.
Ia membenamkan wajah di atas lutut, perlahan-lahan tenaganya mulai habis. Di saat-saat terakhir itu, sayup-sayup ia mendengar suara orang berbincang di depan gubuk tersebut. Akan tetapi, Hana sudah tidak memiliki kekuatan untuk beranjak dari tempatnya. Hanya telinganya saja yang masih berfungsi.
"Sampai hari ini dia belum mati? Sekuat apa perempuan desa itu? Disiksa setiap hari, tidak diberi makan dan minum, tapi masih bisa bernapas sampai detik ini," ucap seorang wanita, suaranya penuh kebencian.
Hana mengernyit, suara itu tidak asing di telinganya.
"Bunuh saja, lalu buang jasadnya ke jurang di selatan kota. Biarkan dia membusuk di sana!" Suara seorang laki-laki menyambut, suara yang sangat akrab di telinga Hana.
Shopia, Evan, ternyata kalian yang merancang penculikan ku. Kalian juga yang menyuruh penculik menyiksaku. Shofia, kau mengambil posisiku, merebut orang tuaku, merebut tunangan ku. Kau merebut semua yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak rela! Aku tidak rela! Tuhan, aku sungguh tidak rela mati seperti ini!
Batin Hana menjerit, kemudian terkulai. Ia mati mengenaskan setelah satu Minggu lamanya mengalami siksaan dari penculik.
Shopia dan Evan memasuki tempat tersebut dengan perasaan kesal, dituntun oleh si penculik yang membukakan pintunya. Mereka saling menatap dan tersenyum melihat tubuh Hana yang terkulai di lantai. Shofia menggerakkan kepala, meminta si penculik untuk memeriksa.
Laki-laki bertubuh bongsor itu memeriksa napas Hana dan menggelengkan kepala. Sophia dan Evan meninggalkan tempat itu setelah memberikan uang pembayaran kepada si penculik.
"Lakukan sesuai perintah, buang jasadnya ke jurang!" titah Shopia yang diangguki si penculik.
Mereka pergi meninggalkan tempat terpencil itu dengan perasaan gembira. Si penculik membungkus tubuh Hana dengan selimut dan membawanya ke dalam mobil. Membuang jasad gadis malang itu ke jurang terdalam di selatan kota.
Tubuh Hana melayang di kegelapan jurang, tak ada yang tahu apa yang ada di dalam sana. Air matanya jatuh, terbang bersama angin.
Siapapun kau yang di sana, tolong aku! Tolong balaskan dendamku!
Batin Hana melirih sebelum jiwanya benar-benar pergi. Jatuh menghantam bebatuan basah di dasar jurang. Darah merembes di dasar jurang, mengalir bersama air beriak menuju ke dalam gua di mana sebuah tempat persembahan berada. Di sana sebuah patung perempuan agung dibangun, tersembunyi dari dunia.
Darah Hana terus mengalir hingga menyentuh kaki patung perempuan itu. Patung tersebut memancarkan cahaya, menerangi gua yang gulita.
*****
Di dunia lain, di waktu yang berbeda, seorang ratu yang perkasa baru saja kembali dari sidang istana. Membantu Kaisar menghukum para koruptor di kerajaan Amerta. Seorang perempuan agung yang dicintai rakyat, dan disegani para pejabat. Dihormati para jenderal, kesayangan sang Kaisar.
Ia berbaring di ranjangnya, melepas penat. Memejamkan mata untuk tertidur sejenak, ratu yang tenang dan bijaksana. Ia tak pernah menyangka takdir sedang menunggunya.
Siapapun kau yang di sana, tolong aku! Tolong balaskan dendamku!
Ratu yang sedang terpejam, membuka matanya segera. Ia melilau ke segala arah, tapi entah di mana berada. Itu adalah ruang hampa yang tak berbatas.
"Di mana ini?" Ia menatap dirinya sendiri yang melayang di ruang waktu.
"Tolong aku!" Suara rintihan itu kembali mengiang di telinganya.
"Siapa?"
Argh!
Ia menjerit saat sesuatu menariknya dengan cepat. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya tak dapat melihat apapun. Saat ia membuka mata, kelembapan gua menyambutnya. Di hadapannya terbaring tubuh Hana yang memiliki garis wajah serupa dengannya.
"Siapa dia?"
Lintasan kisah pun berputar di dalam sebuah layar di langit-langit gua. Kisah pilu seorang putri sah yang ditukar dan hidup di desa. Lalu dibawa kembali hanya untuk dijadikan alat. Ratu menggenggam tangannya sendiri, jiwanya diliputi amarah.
Lalu, jiwa Hana menarik jiwa sang ratu untuk menggantikannya kembali ke keluarga Haysa.
Ia membuka mata, bangkit perlahan.
"Karena kau memanggil jiwaku, maka aku akan membantumu. Entah dunia seperti apa yang kau tinggali ini, tapi dengan berbekal ingatanmu aku tidak perlu khawatir."
Ia melangkah keluar dari gua, meski tubuhnya masih berlumuran darah. Sebagian luka bahkan terlihat karena pakaian yang terkoyak. Ia tak peduli, satu tujuannya adalah kembali ke keluarga Haysa.
hai jalang gk tau diri lo