NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Tarian Bilah di Atas Sisa-Sisa Harga Diri

Pria tua itu menarik napas panjang, lalu memberi kode dengan kepalanya. "Jagat Mahesa tidak tinggal di menara. Dia tinggal di tempat di mana hukum tidak pernah menyentuh bumi. Dia memiliki bunker di bawah bekas fasilitas pengolahan limbah kimia di zona industri terbengkalai, Sektor 7. Tapi ingat, Sektor 7 adalah tempat di mana cahaya matahari pun takut masuk."

Arga mengangguk, lalu berbalik pergi. Namun sebelum ia menjauh, pria tua itu berseru pelan, "Tunggu! Jika kau pergi ke sana, berhati-hatilah dengan Kala Vira. Dia adalah anjing penjaga Mahesa. Jika kau bertemu dengannya, jangan mencoba beradu kekuatan. Lari, atau kau akan kehilangan kepalamu."

Arga tidak menjawab. Ia terus melangkah, memasuki lorong-lorong gelap pasar yang semakin mencekam.

Ia tahu, Kala Vira adalah nama yang ada dalam daftar musuh yang akan ia hadapi nanti. Tapi untuk saat ini, pikirannya hanya terfokus pada satu hal: Sari.

Saat Arga berjalan melewati barisan kios yang tutup, ia merasakan kehadiran seseorang. Bukan satu orang, melainkan aura yang sangat tenang, sangat kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Di ujung lorong, di bawah lampu jalan yang remang-remang, berdiri seorang pria dengan pakaian tradisional yang tidak lazim untuk Jakarta modern.

Pria itu mengenakan kain sarung sutra dan baju koko yang bersih, namun di pinggangnya terselip sebilah keris yang sarungnya dihiasi permata yang berpendar redup. Itu adalah Kala Vira.

"Aku tidak menyangka seekor tikus kotor seperti dirimu akan berani datang ke tempat ini," suara Kala Vira begitu lembut, namun membuat bulu kuduk Arga berdiri. "Tuan Mahesa sedang menunggumu, tapi dia tidak menyukai tamu yang datang dengan tangan kosong."

Arga menghentikan langkahnya. Ia merasakan Kala Vira bukan hanya sekadar pembunuh; dia adalah praktisi bela diri tingkat tinggi yang telah menyempurnakan seni membunuh hingga menjadi sebuah tarian.

"Aku datang bukan untuk menjadi tamu," balas Arga. "Aku datang untuk membakar rumahnya."

Kala Vira tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya yang gelap. "Mari kita lihat, apakah kau punya nyali untuk mendukung kata-katamu."

Kala Vira melesat. Gerakannya sangat halus, hampir tidak bergesekan dengan udara. Arga merunduk, namun ujung keris milik Kala Vira berhasil menyayat udara tepat di mana wajah Arga berada sedetik yang lalu. Arga merasakan hawa dingin dari bilah senjata itu.

Ini adalah ujian. Arga tidak bisa mengandalkan Mustika lagi. Ia harus bertarung dengan menggunakan setiap sel otot dan setiap strategi yang ia pelajari di jalanan.

"Ingat, Inang," bisik Macan Kencana di dalam batinnya. "Dia menggunakan tenaga dalam. Jika kau hanya melawan dengan otot, kau akan kalah. Gunakan resonansi tanah. Kau adalah pusat dari setiap gerakan di sekitarmu!"

Arga mengatur napasnya. Ia tidak lagi melihat Kala Vira sebagai musuh, melainkan sebagai sebuah energi yang bergerak. Ia mulai bergerak mengikuti ritme pria itu.

Pertempuran di lorong pasar gelap itu pun pecah. Arga harus bertahan hidup melawan salah satu pembunuh paling mematikan di negeri ini, sementara di kejauhan, Jagat Mahesa sedang mengamati segalanya melalui monitor, menunggu momen yang tepat untuk melenyapkan Arga dari muka bumi.

Lorong pasar gelap itu seolah menyempit, hanya menyisakan ruang antara Arga dan Kala Vira. Bau amis ikan dan sisa pembuangan limbah bercampur dengan hawa dingin yang memancar dari keris berukir di tangan Kala Vira. Pria itu tidak terburu-buru. Ia menari, langkahnya yang ringan seperti dedaunan kering yang tertiup angin, membuat Arga tampak seperti raksasa yang kaku dan lamban.

“Inang, fokus!” gertak Mustika Macan Kencana di dalam dada. “Dia sedang tidak mencoba membunuhmu. Dia sedang mempermainkanmu. Dia membiarkan celah terbuka bukan karena dia ceroboh, tapi karena dia ingin melihat bagaimana kau bereaksi terhadap umpan!”

Arga mengabaikan suara di kepalanya. Ia memfokuskan setiap sel saraf pada pergerakan otot betis Kala Vira. Setiap kali keris itu menyambar, Arga menghindar dengan selisih milimeter. Ia tidak lagi bertarung untuk menang; ia bertarung untuk belajar.

"Lambat," gumam Kala Vira. Ia mengayunkan kerisnya secara melingkar—gerakan yang disebut Pusaran Bayangan. Arga mencoba menangkis dengan tangan kosong, namun ia tersayat. Darah segar menetes ke lantai pasar yang becek.

"Kau terlalu mengandalkan otot dan amarah," lanjut Kala Vira. Ia berhenti sejenak, sengaja membiarkan Arga mengatur napas. "Di dunia yang kau masuki, otot hanya akan membawamu ke kuburan lebih cepat. Lihat ini."

Tanpa peringatan, Kala Vira menerjang, bukan untuk membunuh, melainkan untuk menusukkan gagang kerisnya ke titik saraf di bawah tulang rusuk Arga. Arga terhuyung, udara di paru-parunya seolah tersedot keluar. Namun, saat tubuhnya akan jatuh, Kala Vira menahan bahunya dengan satu tangan—sebuah gerakan yang sangat lembut namun sangat kuat.

"Kau menahan bebanmu pada tumit," ujar Kala Vira, suaranya kini terdengar seperti instruktur yang kecewa. "Saat kau bertarung, kau harus menyatu dengan gravitasi, bukan melawannya. Pindahkan berat badanmu ke depan, biarkan musuhmu yang menanggung beban itu."

Arga terbelalak. Kenapa dia memberitahuku ini?

"Jangan salah sangka," Kala Vira menyeringai tipis. "Aku hanya tidak ingin bosan melihat mangsa yang mati dalam tiga detik. Aku ingin melihat apakah kau layak menjadi sesuatu yang lebih besar sebelum aku merobek jantungmu."

Arga tidak menjawab. Ia mencoba memproses apa yang dikatakan Kala Vira. Ia memindahkan berat badannya ke depan, sedikit membungkuk. Saat Kala Vira kembali menyerang dengan tikaman lurus yang mematikan, Arga tidak lagi mundur. Ia mengikuti aliran gerakan itu, memutar tubuhnya tepat di samping bilah keris, dan menggunakan sisa tenaga di lengannya untuk mendorong siku Kala Vira.

Kontak. Kala Vira sedikit terdorong ke samping. Itu adalah keberhasilan pertama Arga. Meski kecil, itu adalah perubahan drastis.

"Itu dia," bisik Kala Vira, matanya berkilat penuh minat. "Tapi kau masih terlalu emosional. Setiap gerakanmu memiliki ambisi. Ambisi itu adalah celah. Buang ambisimu. Jadilah air."

Pertarungan berlanjut. Ini bukan lagi sekadar duel hidup mati, melainkan sebuah simfoni kekerasan di mana Kala Vira dengan sengaja "mengoreksi" setiap kesalahan teknis Arga. Setiap kali Arga melakukan kesalahan, ia akan menerima luka—goresan di pipi, tusukan di bahu, tendangan di paha. Namun, di balik rasa sakit itu, Arga mulai memahami pola: membaca aliran energi lawan.

“Dia sedang melatihmu untuk menjadi pembunuh yang lebih baik agar nantinya dia bisa membunuhmu dengan lebih memuaskan,” bisik Macan Kencana. “Dia menciptakan monster, Inang. Sadarilah itu!”

Arga mengabaikan peringatan itu. Ia tidak peduli jika dia sedang dibentuk menjadi monster. Yang ia pedulikan adalah Sari. Ia butuh kekuatan ini.

Di sebuah ruangan gelap di bunker bawah tanah Sektor 7, Jagat Mahesa memperhatikan layar monitor. Ia melihat Arga yang kini mulai bisa mengimbangi gerakan Kala Vira.

"Menarik," gumam Jagat Mahesa. "Dia tidak menggunakan Mustikanya. Dia belajar secara insting. Lanjutkan, Kala. Hancurkan kemanusiaannya sedikit demi sedikit, sampai yang tersisa hanyalah pisau tajam yang bisa kukendalikan."

Kembali ke lorong pasar, Arga kini terengah-engah. Bajunya koyak, tubuhnya penuh goresan. Namun, matanya tidak lagi panik. Ia menatap Kala Vira dengan ketenangan yang menakutkan. Ia baru saja menguasai satu teknik dasar: sinkronisasi ruang. Ia tidak lagi melawan gravitasi, ia menggunakannya.

"Kau belajar dengan cepat," puji Kala Vira, kali ini suaranya mengandung nada hormat yang tipis. "Tapi pelajaran ini harus diakhiri. Tuan Mahesa tidak menyukai tamu yang terlalu lama berdiam di satu tempat."

Kala Vira menarik kerisnya kembali ke posisi kuda-kuda. Kali ini, auranya berubah. Tekanannya begitu kuat hingga debu di lantai pasar bergetar.

Arga tahu, ini adalah serangan pamungkas. Ia tidak akan selamat dari yang satu ini dengan teknik dasar. Ia harus menggunakan sesuatu yang lain. Ia harus memilih: menggunakan Mustika dan mengorbankan sisa umurnya, atau menggunakan teknik yang baru saja ia pelajari dengan risiko kematian.

Arga menutup matanya. Ia merasakan aliran darahnya, detak jantungnya, dan resonansi tanah di bawah kakinya.

Aku adalah Arga. Aku adalah penyintas. Dan aku tidak akan mati di sini.

Saat Kala Vira melesat maju dengan kecepatan cahaya, Arga melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak menyerang, ia tidak menghindar. Ia justru melangkah masuk ke dalam jarak serang yang paling mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!