raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benih cahaya di rahim ratu
Pagi itu, Lembah Aethelgard diselimuti kabut sutra yang berkilau terkena cahaya matahari. Namun, bagi Vani, pagi yang indah itu terasa sedikit berbeda. Sejak terbangun, perutnya terasa diaduk-aduk. Rasa mual yang aneh menghimpit dadanya, membuat selera makannya pada sup gandum favoritnya hilang seketika.
Dengan langkah yang sedikit gontai, Vani memutuskan untuk pergi ke desa bawah. Di sana, terdapat sebuah gubuk kecil yang harum dengan aroma rempah kering—tempat tinggal seorang wanita tua bijak yang dikenal sebagai "Ibu Althea", penyembuh paling pintar di seluruh lembah.
Vani duduk di kursi kayu di dalam gubuk Althea. Sang penyembuh tua itu memegang pergelangan tangan Vani, memejamkan mata, dan merasaka denyut nadinya dengan sangat teliti. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara air mendidih di atas tungku.
Althea perlahan membuka matanya, sebuah senyum tulus merekah di wajahnya yang keriput.
"Baginda Vani... perutmu mual bukan karena racun, bukan pula karena salah makan."
"Lalu karena apa, Ibu?" tanya Vani cemas.
"Ada kehidupan baru yang sedang bersemi di dalam sana," ujar Althea lembut. "
Selamat, Baginda. Kau sedang mengandung benih dari Sang Raja Kegelapan. Kau akan menjadi seorang ibu."
Deg. Jantung Vani seakan berhenti berdetak sejenak. Rasa bahagia yang begitu masif menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas. Air mata bening mulai menggenang di sudut matanya.
"Aku... aku hamil? Ada bayi di sini?" Vani menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar.
"Ya. Dan dia akan menjadi anak yang luar biasa kuat," tambah Althea.
Vani pulang dengan langkah ringan, hampir seperti melayang. Sepanjang jalan, ia terus tersenyum sendiri. Ia ingin segera memberitahu Ferdi, namun suaminya itu sejak subuh sudah berangkat ke hutan pedalaman untuk menambah populasi sapi dan mencari bibit buah-buahan langka.
Sore tiba, langit berubah menjadi jingga keemasan. Vani sedang menyiram bunga-bunga di kebun depan sambil sesekali memetik stroberi yang sudah matang. Tiba-tiba, gerbang kayu terbuka. Ferdi muncul dengan napas terengah-engah.
Di pundaknya, ia memanggul seekor sapi liar yang besar, dan di tangannya terdapat keranjang penuh biji-bijian serta buah hutan. Namun, Vani segera melihat sesuatu yang tidak beres. Di lengan kiri Ferdi, terdapat bekas gigitan hewan kecil yang kemerahan dan sedikit bengkak.
"FERDIIIII!" teriak Vani, menjatuhkan alat penyiram bunganya. "Sudah kubilang hati-hati! Kenapa kau pulang dengan luka lagi?! Apa itu gigitan luwak hutan? Atau rubah?!"
Ferdi meletakkan sapi itu ke peternakan dengan gerakan kaku, lalu mendekati Vani sambil nyengir tipis. "Hanya gigitan tikus hutan raksasa, Vani. Tadi dia berebut buah beri denganku. Tidak sakit, sungguh."
"TIDAK SAKIT KATAMU?!" Vani berkacak pinggang, siap meledakkan omelannya. "Kau ini bodoh atau apa?! Kau itu Raja, tapi tingkahmu seperti anak kecil yang baru belajar berburu! Masuk! Aku harus bersihkan lukamu sebelum racunnya menyebar ke otak batumu itu!"
Ferdi hanya tertawa kecil, membiarkan istrinya mengomel panjang lebar tentang "prosedur keamanan di hutan". Ia mulai menurunkan biji-bijian dan buah-buahan dari keranjangnya ke atas meja kayu di teras.
Vani mengambil napas dalam-dalam. Amarahnya tiba-tiba surut, digantikan oleh kelembutan yang mendalam. Ia memegang tangan Ferdi,
menghentikan aktivitas suaminya yang sedang memilah biji-bijian.
"Ferdi... berhenti dulu. Ada yang harus aku katakan," suara Vani mendadak pelan dan bergetar.
Ferdi menoleh, keningnya berkerut heran melihat mata Vani yang berkaca-kaca. "Ada apa? Apa luka di lenganku ini membuatmu sesedih itu? Tenanglah, aku akan lebih hati-hati besok."
"Bukan itu, Ferdi," Vani meraih tangan besar Ferdi yang kasar dan penuh kapalan, lalu menempelkannya di perutnya sendiri. "Tadi aku ke tempat Ibu Althea... dia bilang... aku sedang hamil."
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar di Lembah Aethelgard. Ferdi membeku. Biji-bijian yang ada di genggaman tangannya jatuh berserakan ke lantai kayu tanpa ia sadari. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini melebar, menatap perut Vani dengan pandangan yang kosong namun penuh emosi.
"Hamil?" bisik Ferdi, suaranya parau. "Kau... mengandung anakku?"
"Iya, Ferdi. Kita akan punya anak. Kau akan menjadi seorang ayah," jawab Vani sambil terisak bahagia.
Air mata, sesuatu yang hampir mustahil keluar dari mata Sang Raja Kegelapan, tiba-tiba jatuh menetes di pipi Ferdi. Pria yang tak pernah gentar menghadapi pasukan dewa itu kini menangis seperti anak kecil. Ia langsung menarik Vani ke dalam pelukannya yang sangat erat namun hati-hati, seolah takut akan menghancurkan sesuatu yang rapuh.
"Terima kasih... terima kasih, Vani," isak Ferdi di bahu istrinya. "Aku... aku akan menjadi ayah. Aku akan memiliki keluarga yang nyata."
Vani membalas pelukan itu dengan tak kalah erat, ikut menangis bahagia di dada suaminya. Ferdi kemudian melepaskan pelukannya sedikit,
memegang wajah Vani dengan kedua tangannya, dan menatap matanya dalam-dalam. Tanpa kata-kata lagi, mereka saling mendekat dan menyatukan bibir dalam sebuah ciuman yang penuh dengan rasa syukur, cinta, dan janji suci. Ciuman itu terasa sangat manis di tengah suasana sore yang damai, mengunci komitmen mereka untuk menjaga kehidupan baru ini.
Malam Hari: Rencana Sang Ayah yang Bersemangat
Malam itu, Ferdi tidak bisa tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidur sambil mengamati Vani yang sudah terlelap. Pikirannya melayang jauh ke masa depan.
"Aku harus membangun rumah yang lebih besar," gumam Ferdi pada dirinya sendiri. "Gubuk ini terlalu sempit untuk seorang pangeran atau putri."
Ferdi mengambil selembar perkamen dan mulai menggambar denah dengan tangan gemetar karena semangat.
Ferdi: (Bicara sendiri dengan nada antusias yang jarang terlihat) "Besok... ya, besok pagi-pagi sekali. Aku akan memperluas sisi kanan rumah ini. Aku akan membangun kamar khusus untuk bayiku. Aku juga akan membangun tempat bermain di bawah pohon jati besar itu. Oh, dan kolam ikan! Anakku harus punya kolam ikan agar dia bisa belajar memancing bersamaku."
Vani tiba-tiba terbangun karena mendengar suara gumaman Ferdi. "Ferdi? Kenapa belum tidur? Kau sedang apa?"
Ferdi: (Menoleh dengan mata berbinar) "Vani! Lihat ini! Aku sudah merancang perluasan rumah kita. Aku akan membangunnya sendiri, tanpa sihir, agar setiap balok kayunya terasa seperti cintaku untuk anak kita. Aku akan membangun kolam ikan yang jernih di depan, dan taman bermain dengan ayunan dari kayu cendana!"
Vani: (Tersenyum geli sambil mengucek mata) "Sayang, bayinya bahkan belum sebesar biji jagung. Kau mau membangun ayunan sekarang?"
Ferdi: "Tidak ada kata terlalu cepat untuk menyambut anakku! Aku ingin saat dia lahir nanti, dia melihat bahwa ayahnya sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna. Dia tidak boleh kekurangan apa pun, tidak seperti masa kecilku yang penuh dengan kegelapan."
Vani: (Menarik tangan Ferdi agar kembali berbaring) "Iya, Ayah yang hebat. Tapi sekarang tidurlah. Kau butuh tenaga untuk menebang pohon besok pagi. Dan ingat, jangan berani-berani terluka lagi saat membangun rumah, atau bayinya akan lahir dengan ibu yang hobinya marah-marah!"
Ferdi: (Mengecup kening Vani) "Aku janji. Aku akan menjadi ayah yang paling hati-hati di semesta."
Malam itu, di bawah perlindungan bintang-bintang Aethelgard, dua jiwa tertidur dengan mimpi yang sama. Sebuah rumah yang lebih besar, kolam ikan yang tenang, dan suara tawa bayi yang akan segera memecah kesunyian lembah. Sang Raja Kegelapan kini telah menemukan tujuan hidupnya yang paling mulia: menjadi pelindung bagi sebuah kehidupan kecil yang disebut anak.