Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: HUJAN DI ATAS GENTENG TUA
Langit di atas Tebet seolah tumpah. Hujan turun dengan kemarahan yang jarang terlihat, menghantam atap seng kontrakan Gaara hingga suaranya memekakkan telinga. Di dalam rumah yang hanya diterangi lampu pijar kekuningan itu, Juliet duduk mematung di dipan kayu. Di tangannya, selembar foto dengan tanda silang merah di wajah Gaara mulai melekuk karena remasan jemarinya yang gemetar.
Gaara baru saja selesai membarikade pintu depan dengan balok kayu tambahan. Ia berbalik, melihat kegelisahan yang nyata di wajah Juliet. Pria itu menanggalkan kaos hitamnya yang basah kuyup, menampakkan punggungnya yang tegap dengan sisa-sisa luka gores dari pekerjaan siang tadi.
"Juliet," panggil Gaara lembut.
Juliet mendongak. Matanya yang jernih kini berkaca-kaca. "Dia tidak akan berhenti, Gaara. Adam... dia punya segalanya untuk menghancurkan kita. Kita hanya punya rumah kecil ini dan beberapa pot mawar. Bagaimana kalau..."
Gaara melangkah mendekat, lalu duduk di samping Juliet. Ia mengambil foto itu dari tangan Juliet, meremasnya menjadi bola kertas, dan melemparkannya ke sudut ruangan.
"Dengarkan aku," Gaara meraih kedua tangan Juliet, menggenggamnya erat. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan terasa begitu hangat dan kokoh. "Adam mungkin punya uang, tapi dia pengecut. Dia menyerang dari balik bayangan karena dia tahu, jika dia berdiri di depanku, dia akan hancur lagi. Aku tidak akan membiarkan satu helai rambutmu pun disentuh olehnya."
Juliet menatap mata gelap Gaara. Di sana, ia tidak menemukan ketakutan. Hanya ada tekad yang murni. Pelan-pelan, detak jantung Juliet yang tadinya berpacu liar mulai melambat.
"Aku takut kehilanganmu, Gaara," bisik Juliet lirih. "Dulu aku takut kehilangan hartaku, takut kehilangan namaku. Tapi sekarang... hanya kau yang tersisa. Jika kau pergi, duniaku benar-benar gelap."
Gaara terenyuh. Ia menarik Juliet ke dalam pelukannya. Juliet menyandarkan kepalanya di dada bidang Gaara, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan berirama—suara yang kini menjadi melodi favoritnya melebihi musik klasik mana pun yang pernah ia dengar di ruang dansa dulu.
Aroma tubuh Gaara yang maskulin, bercampur dengan bau hujan dan sedikit aroma tanah, merasuk ke indra penciuman Juliet. Ia merasa sangat aman di sini, di sebuah rumah yang bahkan tidak memiliki ubin marmer.
Gaara perlahan merenggangkan pelukannya, menangkup wajah Juliet dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi Juliet. Tatapannya mendalam, penuh dengan kerinduan yang selama ini ia tekan di bawah beban pekerjaan kasar.
"Kau tahu?" bisik Gaara, suaranya serak. "Saat pertama kali aku melihatmu di balkon rumah itu, mengenakan gaun sutra dan menatapku seolah aku adalah debu... aku membencimu. Tapi aku juga tidak bisa berhenti menatapmu. Kau terlihat seperti mawar yang sangat cantik, tapi sangat kesepian."
Juliet tersenyum tipis di tengah isaknya. "Dan sekarang? Apa aku masih terlihat seperti debu?"
Gaara menggeleng. "Sekarang kau adalah tanahku, Juliet. Tempatku berpijak. Tempatku pulang."
Gaara perlahan mendekatkan wajahnya. Juliet memejamkan mata, merasakan hembusan napas Gaara di bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, dunia di luar sana—hujan yang bising, ancaman Adam, dan bayang-bayang masa lalu—seolah lenyap. Ciuman itu tidak seperti ciuman formal yang pernah diberikan Adam padanya. Ciuman Gaara terasa jujur, penuh dengan rasa syukur, dan janji untuk saling melindungi.
Sentuhan tangan Gaara di tengkuknya terasa hangat, membuat aliran listrik halus merambat di sekujur tubuh Juliet. Di bawah atap yang sesekali bocor itu, mereka berdua berbagi kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan berlian karat tertinggi sekalipun.
Setelah beberapa saat, Gaara melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan dahinya ke dahi Juliet. Mereka terengah-engah dalam sunyi, hanya ditemani suara hujan yang mulai mereda menjadi rintik-rintik kecil.
"Aku mencintaimu, Juliet," ucap Gaara lirih namun tegas. "Bukan karena kau putri Pak Wijaya. Tapi karena kau adalah wanita yang berani mengotori tangannya demi merawat mawar bersamaku."
Juliet memeluk leher Gaara erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. "Aku juga mencintaimu, Gaara. Lebih dari apa pun."
Keesokan paginya, suasana damai itu terusik. Saat matahari baru saja mengintip dari balik awan mendung, pintu depan digedor dengan kasar.
Gaara segera melompat dari dipan, meraih linggis yang ia siapkan di bawah tempat tidur. Juliet berdiri di belakangnya dengan wajah pucat.
"Buka! Ini dari pihak kelurahan!" suara seorang pria berteriak.
Gaara membuka pintu sedikit, tetap waspada. Di sana berdiri seorang pria berseragam cokelat bersama dua orang pria berjas hitam yang tampak tidak asing.
"Ada apa, Pak?" tanya Gaara.
"Begini, Mas Gaara. Ada pengaduan dari warga sekitar mengenai usaha lanskap kalian. Katanya limbah tanah dan pupuk kalian menyumbat saluran air gang. Selain itu, ada laporan bahwa tempat ini digunakan untuk kegiatan yang... tidak semestinya," ucap petugas kelurahan itu sambil melirik Juliet yang mengenakan kaos oblong besar.
Juliet mengepalkan tangan. "Limbah? Kami selalu membersihkan semuanya setiap sore! Dan kegiatan apa yang dimaksud? Kami bekerja secara legal!"
Salah satu pria berjas hitam melangkah maju. Ia tersenyum tipis—senyum yang sangat mirip dengan gaya bicara Adam. "Kami hanya menjalankan tugas, Nona. Klien-klien Anda di Tebet dan sekitarnya juga mulai membatalkan kontrak mereka pagi ini. Tampaknya ada kabar burung yang beredar bahwa bibit tanaman kalian membawa parasit yang bisa merusak struktur tanah rumah."
Gaara mengerti sekarang. Ini bukan soal kelurahan. Ini adalah sabotase sistematis. Adam sedang memotong nadi kehidupan mereka: pekerjaan.
"Siapa yang mengirim kalian?" desis Gaara, tangannya mencengkeram linggis lebih kuat.
"Kami hanya perwakilan dari firma hukum yang peduli pada ketertiban lingkungan," jawab pria berjas itu tanpa ekspresi. "Kami sarankan, sebaiknya kalian segera mengosongkan tempat ini sebelum ada tindakan lebih lanjut dari warga yang 'terprovokasi'."
Setelah orang-orang itu pergi, Juliet terduduk lesu di lantai. Ponsel lamanya berdering berkali-kali. Benar saja, tiga klien besar yang seharusnya mereka kerjakan minggu ini membatalkan pesanan secara sepihak.
"Dia benar-benar melakukannya, Gaara," ucap Juliet dengan suara bergetar. "Dia menghancurkan satu-satunya hal yang kita punya untuk bertahan hidup."
Gaara berdiri di ambang pintu, menatap pot-pot mawar mereka yang mulai tumbuh subur. Ia tidak tampak hancur. Justru, matanya menyala dengan api yang lebih besar dari sebelumnya.
"Dia pikir dia bisa mengunci kita di sudut gelap ini?" Gaara berbalik, menatap Juliet. "Dia salah besar. Dia baru saja memberi kita alasan untuk berhenti bermain kecil, Juliet."
"Apa maksudmu?"
"Kita akan pindah ke rumah Puncak yang diberikan ayahmu. Kita akan jadikan tempat itu pusat pertahanan kita. Di sana, kita punya lahan yang luas, kita punya sejarah, dan kita punya mawar-mawar aslimu. Kita akan bangun bisnis ini menjadi lebih besar hingga dia tidak bisa menyentuhnya lagi dengan trik-trik receh seperti ini."
Juliet menatap Gaara dengan ragu. "Tapi itu berarti kita masuk ke wilayah yang dia awasi."
"Biarkan dia mengawasi," tantang Gaara. "Kali ini, kita tidak akan lari. Kita akan memancingnya keluar dari persembunyiannya di Australia. Jika dia ingin perang, maka kita akan berikan dia perang di kebun mawar."
Gaara berlutut di depan Juliet, menggenggam tangannya lagi. "Kau siap? Ini tidak akan mudah. Kita mungkin akan kehilangan lebih banyak hal sebelum menang."
Juliet menatap mata pria yang baru saja memberikan ciuman penuh janji semalam. Ia teringat mawar Juliet Rose miliknya yang tetap bisa mekar meski akarnya sempat tercabut.
"Selama aku bersamamu," jawab Juliet mantap, "aku siap menghadapi duri apa pun."
Siang itu juga, mereka mulai mengemasi barang-barang mereka yang sedikit ke dalam mobil bak tua sewaan. Bu Ratna membantu dengan doa yang tak putus-putus. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan gang sempit Tebet, Juliet menoleh ke belakang sekali lagi.
Ia melihat sedan hitam yang sama terparkir di ujung jalan. Juliet tidak lagi menunduk. Ia menurunkan kaca jendela mobil bak itu, menatap langsung ke arah kamera pengintai yang ada di dalam sedan tersebut, dan memberikan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki.
"Ayo pergi, Gaara," ucap Juliet. "Kita punya kebun yang harus diselamatkan."
Perjalanan menuju Puncak dimulai. Di tengah kabut yang mulai menyelimuti pegunungan, benih-benih perlawanan baru saja ditabur. Adam mungkin memiliki uang dan kekuasaan, tapi ia tidak tahu satu hal: mawar yang tumbuh di tanah yang penuh air mata dan keringat adalah mawar yang paling sulit untuk dipatahkan.
...****************...