NovelToon NovelToon
Mustika Terkutuk

Mustika Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ancaman

Tok.. tok... tok...

Sugeng mengetuk pintu rumah itu setelah menaruh sesuatu di amben papan tersebut.

Si Mbah yang sedang menonton televisi mengecilkan volume tvnya sembari menoleh ke arah pintu, ia tetap duduk tak beranjak berdiri.

"Siapa itu apa Wanto? Tapi kalau Wanto dia selalu nyapa dulu." Batin Mbah Suro.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan kembali terdengar, Mbah Suro semakin mengerutkan keningnya, "ngga ada suara yang kedengaran, apa medi? Tapi aku ngga merasakan apapun."

"Siapa?" Ucap Mbah sedikit berteriak.

Sugeng tak menjawab, ia terus saja mengetuk pintu itu hingga Mbah Suro keluar dari rumah. Mbah Suro tolah toleh melihat keluar rumah dan tidak melihat siapapun.

"Hmm... Mbah ini ternyata ngga bisa lihat aku, sialan padahal aku udah cape cape pake topeng ninja buat babat alas." Gerutu Sugeng dalam hatinya.

Mbah Suro melihat sebuah plastik asoy bening yang tergeletak di amben terasnya, dengan penuh curiga ia mendekati plastik itu dan mengambilnya, belum sempat ia membuka terdengar suara yang begitu berat.

"Duduk Mbah..!!" Ucap Sugeng dengan suara yang dibuat buat.

Mbah Suro bingung, tolah toleh ia hendak masuk ke dalam rumah.

"Saya bilang duduk, saya mau ngomong..!!" Bentak Sugeng.

Mbah Suro dengan perasaan takut dan sedikit bingung secara perlahan duduk di permukaan amben yang di lapisi tikar anyaman tersebut.

"Si.. siapa kamu? Tunjukan wujudmu!" Ujar Mbah Suro sembari tolah toleh mebcari sumber suara.

"Ada yang mau saya tanyakan sama Mbah, apa permintaan Wanto kepada Mbah?"

Mbah Suro mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak menyangka sosok ini bisa mengetahui bahwa Wanto meminta pertolongan kepada dirinya.

"Kamu Jin atau manusia? Tunjukan wujudmu!"

"Dengarkan aku mbah, mbah ngga berhak bertanya. Mbah cukup jawab pertanyaanku. Aku bisa aja bunuh Mbah sekarang juga. Kita ngga usah debat masalah itu, jadi jawab pertanyaanku." Ujar Sugeng.

"Apa urusanmu? Siapa kamu? Apakah kamu pelaku yang membunuh perewangku dan mengambil uang Wanto?"

"Saya tau mbah punya dua cucu perempuan, kalau mbah bersihkeras ngga mau dengerin ucapanku, besok pagi mbah bisa lihat mayat dua cucu mbah itu. Malam ini juga saya akan bunuh mereka, kalau mbah ngga mau dengerin saya. Apa mbah masih mau tanya tanya lagi? Kalau itu mau mbah saya pamit sekarang." Ucap Sugeng.

"Ja.. jangan saya mohon..."

"Dengerin saya bertanya! Jawab pertanyaan saya tadi..."

"Iya 2 hari yang lalu Wanto kemari, dia minta Mbah buat nyari siapa pelakunya, tapi mbah ngga bisa karena ada hal ghaib yang melindungi pelaku... namun Mbah bisa tau orang itu apabila mbah melakukan ritual di malam jum'at kliwon ini dan Wanto membawa persyaratan yang mbah berikan."

"Mbah udah tua, ngga usah ikut campur masalah orang. Aku tahu Wanto sedang perjalanan kemari, katakan kepadanya bahwa pelaku yang sudah mengambil uangnya sudah pergi dari sini. Dia keluar kota dan meninggal karena kecelakaan.

Mbah ngga perlu ikut campur, inget cucu mbah. Jika mbah bersihkeras melakukan ritual di malam jum'at kliwon ini semua cucu akan saya bunuh. Itu di plastik hadiah buat mbah, anggap aja itu etikat baik dari saya. Dan jangan macam macam." Jelas Sugeng lalu pergi meninggalkan Mbah Suro yang duduk terdiam di tempat.

Sugeng sengaja membuat langkah kakinya terdengar, agar semakin meyakinkan bahwa ia sudah pergi dari sana.

Mbah Suro perlahan membuka plastik hitam yang ternyata uang senilai 10 juta.

Sugeng kini bersembunyi balik pohon menunggu kedatangan Wanto.

Tampak Mbah Suro mengajak Wanto masuk ke dalam rumahnya.

"Ini mbah aku bawa rokok, gula sama kopi buat mbah. Sama ini syarat yang mbah minta kemarin." Ujar Wanto.

Mbah Suro hanya diam tidak menjawab, tampak wajah ketakutan dan kekhawatiran terpabcar jelas dari ekspresinya.

"Emm... jadi gimana mbah? Apakah mbah bisa cati tahu siapa pelakunya malam ini juga?"

"Bi.. bisa." Jawab Mbah Suro kemudian pergi menuju dapur dan membuatkan teh manis untuk Wanto.

Lalu sang mbah pamit, "mbah bawa syaratnya ini ke kekamar. Sebentar ya kamu tunggu dulu di sini." Ucap Mbah Suro.

"Oh iya mbah silhahkan, saya tunggu di sini." Ucap Wanto.

Sugeng memicingkan matanya.

"Mau apa mbah itu? Kalau dia ngasih tau terpaksa dua orang ini saya bunuh semua." Batin Sugeng..

Mbah Suro yang berada di kamarnya duduk di pinggir dipan kamar tempat tidurnya. Perlahan ia membuka plastik yang berisi kunci lemari yang sempat di sentuh sugeng, dupa, dan beberapa lembar daun pisang raja.

Ia menaruh kantung plastik tersebut secara perlahan dan menyalakan sebatang rokok. Mbah Suro tidak melakukan ritual apapun, ia hanya duduk melamun sembari merokok.

Setengah jam kemudian Mbah Suro keluar dari rumahnya dan menemui Wanto.

"Gimana mbah? Apa mbah sudah tau siapa pelakunya?" Tanya Wanto. .

"Pelakunya sudah mati, dia ada di luar kota. Mungkin setelah kejadian dia langsung kabur ke kota, dia meninggal karena kecelakaan motor." Jawab Mbah Suro.

Wanto hanya terdiam.

"Pelakunya kira kira warga di sekitar tempat saya bukan mbah?" Tanya Wanto.

"Bukan, dia bukan berasal dari sini kalian tak mengenalnya. Menurut mbah masalah ini tidak perlu di perpanjang. Pelaku itu sudah menerima karmanya."

Sugeng merasa lega Mbah Suro tak memberitahu siapa pelakunya dan mungkin saja Mbah Suro tak mencari tahu siapa pelakunya.

"Oyaudah mbah saya pamit dulu, ini ada sedikit rejeki buat beli rokok." Ucap Wanto.

"Ngga usah beneran, saya ngga mau nerima. Makasih udah di kasih rokok sama kopi tadi."

"Matursuwun mbah, kalau begitu saya pamit dulu."

"Iya iya... hati hati."

Setelah Wanto pulang Sugeng merasa tenang karena tak membunuh siapapun.

Tidak lama kemudian suara bising motor terdengar, Sugeng memperhatikan siapa yang datang dan ternyata itu adalah Budi anak Mbah Suro yang datang bersama dengan dua anak perempuannya.

Budi dan Wanto sempat berpapasan di halaman rumah.

1
Tini Nurhenti
se7 geng,kek Q bgt
Tini Nurhenti
lanjut thor
Tini Nurhenti
s7 geng
Tini Nurhenti
hadir thor,nyimak dlu seru thor up nya byk jdi smgat bacanya.😄😄💪💪
bedul: siap, udah 56 bab terjadwal
total 1 replies
Afri
semoga ceritanya bagus .. aku suka yg misteri gini thor
bedul: siap, baca sampe selesai ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!