NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KATA YANG TERLONTAR

"Cukup! Jangan pernah lagi sebut nama bajingan itu di rumah ini!"

Suara Datuk Sulaiman menghantam dinding, membuat udara ruang tengah seperti retak.

"Dia perusak! Penyebar fitnah! Orang kampung itu bodoh karena percaya padanya!"

Halimah terpaku.

Bukan karena bentakan—tetapi karena nama yang diludahi ayahnya.

*Bajingan. *

Kata itu jatuh tepat di atas kenangan masa kecilnya.

Ia ingat tangan yang dulu menuntunnya menyeberang jalan.

Ia ingat suara tenang yang menyuruhnya pulang sebelum senja.

Ia ingat Datuk Maringgih—lelaki yang dulu hadir sebagai pelindung, bukan musuh.

Jika dia bajingan…

lalu siapa lelaki yang selama ini Halimah kenal?

---

Pagi itu seharusnya biasa saja. Matahari bersinar cerah, ayam berkokok di kejauhan, dan hidangan sarapan sudah tersedia di meja.

Tapi pagi ini berbeda.

Semuanya dimulai dari pertanyaan Usman yang polos.

"Ayah, kemarin di sekolah teman-teman bilang, Datuk Maringgih orang baik. Katanya ia bantu petani. Kok Ayah bilang dia jahat?"

Sendok di tangan Datuk Sulaiman berhenti.

Hening.

Siti menatap suaminya waspada. Zubaidah ikut diam, berusaha tidak bersuara. Hasan, adik Usman, ikut membeku dengan sendok di tangan.

Hanya Halimah yang tetap tenang—tapi di dalam dadanya, degup jantungnya mulai bertambah cepat.

Datuk Sulaiman meletakkan sendok. Perlahan. Terlalu perlahan.

Lalu ia berdiri.

"Cukup!"

Suaranya menggelegar. Memecah keheningan pagi.

"Jangan pernah lagi sebut nama bajingan itu di rumah ini!"

Halimah tersentak. Bukan karena kerasnya suara ayahnya, tapi karena kata itu.

Bajingan.

Datuk Sulaiman melanjutkan, suaranya semakin tinggi. Wajahnya merah padam.

"Dia perusak! Penyebar fitnah! Orang kampung itu bodoh karena percaya padanya!"

Usman menangis. Hasan ikut menangis. Keduanya tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya tahu ayah mereka marah—sangat marah.

Siti segera meraih kedua putranya. "Sudah, sudah. Kalian makan dulu."

Zubaidah ikut menenangkan, mengelus punggung Usman.

Tapi Halimah tidak bergerak.

Ia terpaku di tempat duduknya. Matanya menatap ayahnya—Datuk Sulaiman, lelaki yang selama ini ia kenal sebagai pelindung keluarga. Lelaki yang selalu tersenyum padanya saat kecil.

Kini lelaki itu meludahi nama seseorang.

Seseorang yang dulu... dulu pernah hadir dalam hidupnya.

---

Halimah memejamkan mata. Dan kenangan itu datang.

Ia berusia 10 tahun. Pulang dari rumah temannya, hari mulai senja. Jalanan sepi. Ia berjalan sendiri, sedikit takut.

"Halimah."

Suara itu lembut. Ia menoleh. Datuk Maringgih duduk di atas kudanya, tersenyum.

"Mau pulang? Ayo, kuantar."

Ia mengulurkan tangan. Halimah meraihnya. Tangan itu hangat, kuat, tapi lembut. Datuk Maringgih membantunya naik ke atas kuda, duduk di depannya.

"Hati-hati, pegang erat," kata Datuk Maringgih.

Sepanjang jalan, Datuk Maringgih bercerita tentang kuda kesayangannya. Tentang bagaimana ia merawatnya setiap hari. Halimah tertawa ketika kuda itu mengibaskan ekor.

Sesampainya di rumah, Datuk Maringgih menurunkannya dengan hati-hati.

"Kalau sudah senja, jangan jalan sendiri, ya. Panggil aku atau suruh ayahmu jemput."

Halimah mengangguk. "Terima kasih, Datuk."

Datuk Maringgih tersenyum. Lalu pergi.

Halimah melambai sampai kuda itu hilang di ujung jalan.

---

Mata Halimah terbuka.

Kenangan itu masih jelas. Masih hangat. Masih terasa nyata.

Dan sekarang ayah menyebutnya bajingan.

Bagaimana bisa?

Datuk Sulaiman masih berdiri. Napasnya memburu. Matanya liar menatap semua orang di ruangan itu.

"Kalian harus paham," katanya, suaranya lebih pelan tapi tetap keras. "Datuk Maringgih itu musuh kita. Ia ingin menghancurkan keluarga ini. Ia ingin kita miskin, terpuruk, terusir dari kampung ini."

Siti mengangguk pelan. "Kami paham, Abang."

Zubaidah ikut mengangguk. "Kami percaya Abang."

Tapi Halimah diam. Ia tidak mengangguk. Tidak bicara.

Datuk Sulaiman menatapnya. "Halimah, kau dengar?"

Halimah menunduk. "Ya, Ayah."

"Apa kau paham?"

Hening.

Datuk Sulaiman menunggu. Semua mata tertuju pada Halimah.

"Halimah?"

"Ya, Ayah. Aku paham."

Tapi matanya tidak bertemu dengan mata ayahnya. Dan itu lebih keras dari seribu kata.

---

Sarapan berakhir dengan dingin.

Usman dan Hasan dibawa Zubaidah ke kamar untuk berganti pakaian. Siti sibuk membereskan meja. Datuk Sulaiman duduk di ruang tamu, masih dengan wajah merah.

Halimah berdiri di ambang pintu dapur. Ia melihat ayahnya dari kejauhan.

Siapa lelaki ini? pikirnya. Di mana ayah yang dulu menggendongku waktu kecil? Di mana ayah yang selalu bilang, "Jangan benci siapa pun, Nak"?

Ia teringat percakapan beberapa tahun lalu.

"Ayah, kenapa Datuk Maringgih baik sekali?" tanyanya waktu itu.

Datuk Sulaiman tersenyum. "Karena ia memang orang baik, Nak. Ia kawan ayah. Dulu ia pernah tolong ayah waktu susah."

"Susah apa, Ayah?"

"Waktu ayah hampir bangkrut. Ia kasih uang tanpa minta imbalan."

Halimah menganga. "Wah, baik sekali."

"Ya. Makanya, kalau kau lihat dia, sapa. Hormati."

Janji itu. Nasihat itu. Kini seperti abu yang ditiup angin.

---

Siti mendekati Halimah. "Nak, kamu kenapa? Dari tadi diam saja."

Halimah menatap ibunya. "Ibu, apa Ibu benar-benar percaya Datuk Maringgih sejahat itu?"

Siti tertegun. Ia melirik ke arah ruang tamu, memastikan Datuk Sulaiman tidak mendengar.

"Nak, jangan bicara seperti itu. Ayahmu—"

"Aku hanya bertanya, Bu." Potong Halimah lembut. "Apa Ibu percaya?"

Siti diam. Lama.

"Aku percaya pada ayahmu," katanya akhirnya. Tapi suaranya tidak mantap.

Halimah tahu. Ibunya juga ragu. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.

"Terima kasih, Bu." Halimah tersenyum tipis. Lalu pergi ke kamarnya.

---

Di kamar, Halimah duduk di tepi tempat tidur.

Pikirannya kacau.

Datuk Maringgih bajingan?

Lalu siapa lelaki yang dulu menuntunku pulang? Siapa yang dulu selalu bawa kue untuk kami? Siapa yang dulu ayah puji sebagai kawan baik?

Ia ingat kejadian beberapa minggu lalu. Waktu Salim hampir dibunuh. Waktu Datuk Maringgih turun dari kereta, menghentikan semua. Waktu para centeng berlutut ketakutan.

Orang jahat tidak akan melakukan itu.

Orang jahat tidak akan dibela seluruh kampung.

Lalu... siapa yang sebenarnya jahat di sini?

Pertanyaan itu mengerikan. Karena jawabannya mengarah pada satu orang.

Ayahnya sendiri. Datuk Sulaiman.

---

Halimah menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena sadar.

Ayahku telah berubah. Atau mungkin... selama ini aku tidak mengenalnya.

Ia ingat bisikan-bisikan di pasar. Tentang penyiksaan. Tentang petani yang dipukuli. Tentang istri Salim yang ditarik rambutnya.

Selama ini ia tutup telinga. Selama ini ia berkata, "Ayah pasti punya alasan."

Tapi sekarang...

Alasan apa yang bisa membenarkan semua itu?

Air mata mengalir di pipinya. Ia menangis dalam diam.

Di luar, suara ayahnya masih terdengar—berbicara pada Samsul, mungkin merencanakan sesuatu. Suara itu asing. Suara yang tidak ia kenal.

Halimah berbaring. Memeluk bantal erat-erat.

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membenci ayahku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa percaya semua fitnah ini.

Ia memejamkan mata. Tapi tidur tak kunjung datang.

---

Malam turun. Rumah itu sunyi.

Datuk Sulaiman sudah tidur. Siti dan Zubaidah juga. Usman dan Hasan sudah lelap sejak magrib.

Hanya Halimah yang masih terjaga.

Ia duduk di dekat jendela kamarnya. Memandang langit malam yang gelap tanpa bintang.

Pikirannya kembali pada Datuk Maringgih. Pada tangan yang dulu menuntunnya. Pada suara yang dulu menyuruhnya pulang sebelum senja.

Jika ayah benar... kenapa hatiku menolak percaya?

Ia berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

Jika Datuk Maringgih jahat... kenapa kenangan itu selalu baik?

Jika ayah benar... kenapa aku merasa dia yang salah?

Ya Allah, beri aku petunjuk.

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berdesir.

Tapi di dalam hatinya, satu hal mulai mengeras:

Suatu hari, ia harus tahu kebenaran. Apa pun risikonya.

---

[Bersambung...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!