NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - GEMA DARI KEDALAMAN

Kota Takhta Langit mungkin tampak seperti permata di atas awan, namun Kaelan tahu bahwa setiap cahaya yang terang selalu melemparkan bayangan yang sangat gelap. Mengikuti bisikan informasi dari Hanzo dan getaran frekuensi rendah yang ia tangkap dengan Domain Kesunyian, Kaelan memisahkan diri dari rombongan saat tengah malam tiba.

"Rian, tetaplah di penginapan Klan Bayangan Jatuh. Elara, jaga pintu belakang," perintah Kaelan.

Kaelan menyelinap melalui sistem drainase kota yang terbuat dari marmer namun dialiri air yang berbau tembaga—bau darah yang dicuci secara sistematis. Ia turun lebih dalam, melewati fondasi kota hingga mencapai "Penjara Sumur Langit". Ini bukan penjara bagi pencuri biasa, melainkan tempat penyimpanan bagi subjek eksperimen Aliansi yang masih hidup namun dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan di laboratorium permukaan.

Suhu udara turun drastis saat Kaelan menyentuh dinding batu penjara. Ini bukan karena tekniknya, melainkan karena kesedihan yang membeku di tempat ini selama puluhan tahun.

"Siapa di sana?" sebuah suara parau terdengar dari sel paling ujung yang tertutup jeruji besi hitam setebal lengan manusia.

Kaelan mendekat. Di dalam sel itu, ia melihat sosok pria tua dengan rambut yang sudah menyatu dengan lantai kotor. Rantai besar mengikat pergelangan tangan dan lehernya, namun yang paling mengerikan adalah sebilah pedang besar yang ditancapkan menembus bahunya ke dinding—sebuah segel energi untuk menahan Qi-nya.

"Aku mencari jawaban tentang Gerbang Rembulan," ucap Kaelan, suaranya bergema di lorong sunyi itu.

Pria tua itu mengangkat wajahnya. Matanya yang buta tampak bersinar saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh Kaelan. "Hawa dingin ini... murni namun beracun. Kau adalah salah satu dari anak-anak yang mereka kirim ke lubang itu, bukan? Anak yang selamat dari Rahim Batu."

Kaelan tertegun. "Bagaimana kau tahu?"

"Karena akulah yang menciptakan teknik Pernapasan Bulan Dingin yang kau gunakan," pria itu tertawa pahit, suaranya seperti gesekan batu nisan. "Namaku adalah Penatua Agung Wu, mantan pemimpin Sekte Gerhana Biru sebelum Aliansi mengkhianati kami dan mengubah sekte itu menjadi pabrik pembunuh."

Wu menceritakan bahwa Gerbang Rembulan bukanlah dimensi energi, melainkan sebuah makam purba di bawah Kota Takhta Langit yang berisi sisa-sisa "Manusia Rembulan" pertama. Aliansi ingin membangkitkan kembali pasukan dari masa lalu tersebut menggunakan darah subjek yang telah bermutasi seperti Kaelan.

"Mereka tidak butuh kau hidup, Nak," Wu memperingatkan. "Mereka hanya butuh jantungmu untuk diletakkan di altar gerbang itu sebagai kunci. Jika gerbang itu terbuka, seluruh kota ini—tidak, seluruh dunia ini—akan membeku dalam kegelapan abadi."

Tiba-tiba, Domain Kesunyian Kaelan menangkap langkah kaki yang teratur. Pasukan elit "Penjaga Sumur" sedang menuju ke arah mereka.

"Ambil ini," Wu memuntahkan sebuah kristal kecil berwarna biru gelap dari mulutnya. "Ini adalah Inti Bulan Sejati. Jika kau mengonsumsinya, teknikmu akan mencapai tingkat puncak, tapi risikonya adalah jiwamu bisa membeku selamanya. Pilihannya ada di tanganmu."

Kaelan menerima kristal itu tepat saat pintu baja penjara diledakkan dari luar. Lima sipir dengan zirah pelat berat dan cambuk api muncul di ujung lorong.

"Subjek 07 ditemukan di area terlarang! Eksekusi di tempat!" raung pemimpin sipir.

Kaelan menelan kristal itu tanpa ragu. Ia merasakan ledakan energi yang begitu dingin hingga jantungnya seolah-olah berhenti berdetak sesaat. Rambut putihnya mulai berpendar dengan cahaya perak yang menyilaukan, dan aura di sekelilingnya berubah menjadi badai salju yang mengamuk di dalam ruang sempit penjara bawah tanah itu.

"Kalian ingin jantungku?" Kaelan menarik kedua belati hitamnya yang kini diselimuti api es biru. "Datang dan ambil jika kalian bisa melewati badai ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!