NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA SEJOLI YANG TAK TERPISAHKAN

Suatu malam, Ziyo sudah tidur.

Rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Lampu ruang tamu hanya menyala redup dari sudut ruangan, menciptakan cahaya hangat yang lembut di dinding. Bayangan bergerak perlahan setiap kali mereka bergeser sedikit.

Rico duduk di kursi tunggal, santai, satu lengannya bersandar di sandaran kursi. Namun matanya mengikuti setiap langkah Anela yang berjalan melewatinya sambil membawa segelas air.

Anela tidak menyadari tatapan itu.

Setidaknya sampai ia melewati Rico.

Tiba-tiba tangan Rico terulur dan menangkap pergelangan tangannya.

“Eh—”

Anela kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat ke pangkuannya.

“Rico!”

Namun protes itu langsung berubah menjadi tawa ketika Rico memeluk pinggangnya erat agar tidak jatuh.

Tubuh mereka seketika terlalu dekat.

Anela masih tertawa kecil, mencoba menyeimbangkan gelas di tangannya.

“Kamu ini…,” gumamnya.

Rico hanya tersenyum. Wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter.

Lampu redup membuat mata Rico terlihat lebih gelap, lebih dalam.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Rico mendekat.

Ciuman itu datang perlahan.

Hangat.

Tidak terburu-buru, seolah mereka menikmati setiap detik dari kedekatan yang jarang mereka dapatkan saat rumah sedang ramai.

Anela menghela napas pelan ketika Rico menariknya sedikit lebih dekat. Tangannya tanpa sadar naik menyentuh rambut Rico, jemarinya bermain di sana sambil membalas ciuman itu dengan lembut.

“Kamu benar-benar tidak pernah bisa menunggu ya,” bisiknya di sela napas.

Rico tersenyum tipis.

“Sejak kapan aku pernah mencoba menunggu?”

Anela tertawa pelan, tapi tawanya cepat berubah menjadi napas yang lebih dalam ketika Rico menundukkan wajahnya ke lehernya.

Ciumannya berpindah perlahan ke sana.

Hangat. Pelan. Membuat Anela memejamkan mata.

“Rico…” bisiknya lembut.

Tangannya mencengkeram bahu Rico sekarang.

Kursi tunggal itu terasa semakin sempit ketika mereka bergerak sedikit. Tubuh mereka menyesuaikan posisi secara alami, saling mendekat tanpa perlu banyak kata.

Rico mengangkat wajahnya lagi dan menatap Anela.

Ada sesuatu di tatapan mereka saat itu—campuran tawa, kehangatan, dan kerinduan yang sudah terlalu lama tertahan.

Anela menyandarkan dahinya ke dahi Rico.

Napas mereka bertemu.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Lalu Anela mencium Rico lagi, kali ini sedikit lebih lama.

Kursi itu bergoyang pelan ketika mereka bergerak.

Di ruangan yang hanya diterangi lampu redup itu, dunia terasa menyusut menjadi hanya mereka berdua—napas yang semakin hangat, tangan yang saling mencari, dan kedekatan yang membuat waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.

Di luar kamar, rumah tetap sunyi.

Dan di kursi kecil ruang tamu itu, mereka tenggelam dalam kehangatan yang hanya mereka berdua pahami.

--------------

Rico baru saja kembali setelah mengantar Ziyo ke daycare. Udara pagi masih segar, dan sinar matahari masuk dari jendela ruang tamu, membuat lantai rumah tampak hangat.

Ia menutup pintu pelan.

“Anela?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Rico berjalan masuk ke ruang tengah, lalu berhenti.

Anela berdiri di dekat jendela.

Ia tidak mengenakan pakaian rumah seperti biasanya.

Lingerie hitam tipis membalut tubuhnya dengan elegan, kontras dengan cahaya pagi yang jatuh di kulitnya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan ada senyum kecil di wajahnya ketika ia menoleh.

Rico benar-benar terdiam beberapa detik.

“Ini… kejutan?” tanyanya akhirnya, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.

Anela berjalan mendekat perlahan.

“Hari ini kamu bangun pagi, antar Ziyo, bahkan sempat beli sarapan,” katanya pelan. “Aku pikir… kamu pantas dapat hadiah.”

Rico tertawa kecil, tapi matanya tidak lepas dari Anela.

“Hadiah seperti ini bisa bikin aku lupa waktu.”

Anela berhenti tepat di depannya.

Tangannya naik menyentuh dada Rico, jemarinya bermain di kerah kaosnya.

“Memang itu rencananya.”

Kalimat itu saja sudah cukup membuat napas Rico berubah.

Ia menarik Anela lebih dekat ke dalam pelukannya.

Ciuman mereka datang hampir seketika.

Pagi yang biasanya sibuk berubah menjadi sangat lambat. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kecil Ziyo berlari di rumah.

Hanya mereka berdua.

Ciuman itu semakin lama semakin dalam, penuh tawa kecil dan napas yang mulai tidak teratur.

Rico mengangkat Anela sedikit, membuatnya tertawa pelan ketika ia kehilangan pijakan sesaat.

“Rico…” bisiknya.

Namun protes itu terdengar lebih seperti undangan.

Mereka akhirnya berpindah ke kamar, dan waktu terasa berjalan jauh lebih cepat dari yang mereka sadari.

Jam demi jam berlalu.

Kadang mereka hanya berbaring sambil tertawa, kadang kembali saling mendekat seolah masih ada kerinduan yang belum selesai.

Rico bahkan sempat melihat jam sekali dan menghela napas.

“Kalau kita telat jemput Ziyo, kamu yang jelasin.”

Anela tertawa kecil di bahunya.

“Aku yang mulai, kan?”

Rico menggeleng sambil tersenyum.

“Dan aku yang tidak bisa berhenti.”

Setelah kejutan Anela dengan lingerie hitam yang membuat Rico hampir lupa bernapas, mereka akhirnya jatuh ke tempat tidur dengan tawa yang bercampur napas hangat.

Waktu terasa mengalir lambat.

Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela berubah sedikit demi sedikit, menandakan waktu berjalan, meski bagi mereka rasanya dunia hanya berhenti di kamar itu.

Beberapa saat setelah mereka berbaring kelelahan, Anela bersandar di dada Rico.

“Seharusnya kita berhenti,” gumam Rico sambil menatap langit-langit.

Anela mengangkat wajahnya.

“Kenapa?”

Rico melirik jam di meja samping tempat tidur.

“Kita punya… sekitar tiga jam sebelum jemput Ziyo.”

Anela tersenyum pelan.

“Masih banyak waktu.”

Senyum itu membuat Rico tertawa kecil.

“Kamu yang mulai semua ini.”

Anela mengangkat alis.

“Dan kamu yang tidak protes.”

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Anela mendekat lagi, mencium Rico dengan lembut—lebih santai, tapi sama hangatnya.

Ciuman itu pelan, namun cukup untuk membuat napas Rico berubah lagi.

“Anela…” katanya setengah tertawa.

Namun tangannya sudah kembali memeluk pinggang perempuan itu.

Pagi yang tadinya tenang kembali dipenuhi bisikan pelan, tawa kecil, dan kedekatan yang membuat waktu terasa semakin cepat.

Ketika mereka akhirnya berbaring lagi, Rico menutup mata sejenak.

“Kali ini benar-benar terakhir,” katanya.

Anela tertawa pelan di bahunya.

“Kamu bilang begitu tadi juga.”

Rico membuka satu mata.

“Dan kamu tidak percaya.”

Anela hanya tersenyum.

Beberapa saat mereka hanya berbaring, menikmati kehangatan kamar yang masih diterangi matahari pagi.

Namun keheningan itu tidak bertahan lama.

Anela yang bergerak lebih dulu, menyandarkan dagunya di dada Rico sambil menatapnya dengan senyum nakal yang membuat Rico langsung mengerti.

“Kamu serius?” katanya.

Anela mengangguk kecil.

“Kita masih punya waktu.”

Rico menghela napas panjang, lalu tertawa.

“Kamu berbahaya kalau sedang punya rencana.”

Anela mendekat lagi.

Kali ini lebih lambat.

Lebih santai.

Seolah mereka benar-benar menikmati pagi yang langka itu—pagi tanpa terburu-buru, tanpa suara langkah kecil di rumah.

Jam terus berjalan.

Ketika akhirnya mereka benar-benar bangun dari tempat tidur, sinar matahari sudah jauh lebih tinggi.

Rico melihat jam lagi dan langsung duduk tegak.

“Kalau kita telat jemput Ziyo…”

Anela tertawa sambil menarik selimut.

“Tenang. Kita masih sempat.”

Rico menggeleng sambil tersenyum.

“Lain kali jangan kasih hadiah seperti ini pagi-pagi.”

Anela hanya menatapnya dengan senyum yang sama menggoda.

“Kamu yakin?”

1
Sartini 02
semangat kak....👍
Nina Sani: makasih kakak say 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!